Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (92)


__ADS_3

"Sayang. Sampai kapan kamu pura-pura tidur begitu, ayo makan siang bersama." Berlian membuka matanya dan menatap Samuel.


"Kalau Berlian sudah makan, apa Daddy akan pergi?"


Samuel mengerutkan dahinya. "Memangnya kenapa?"


"Kalau karena makan bisa buat Daddy pergi, Berlian akan makan."


"Waahhh, kamu tidak ingin melihat Daddy ya?" berjalan mendekat dan ikut berbaring dikasur. "Kamu itu ya, padahal Daddy selalu merindukan kamu. Baru bertemu sebentar, kamu sudah mengusir."


"Bukan itu maksud Berlian," menatap Samuel sekilas lalu ia kembali terpejam. "Berlian lebih suka sendiri."


"Hadeh, , sudahlah. Daddy akan makan siang bersama Juna saja, Daddy pergi dulu." Samuel sudah berdiri, kini ia menatap Berlian dengan iba. Hidup Berlian seakan-akan hampa, tidak terasa apa-apa. "Kamu tahu Mr.Smith, beliau ulang tahun besok."


"Terus?"


Samuel melemparkan undangan. "Itu Mr.Smith sendiri yang ingin mengundangmu, dia ingin berkenalan denganmu."


"Are you crazy Dad? Daddy mau ngenalin Berlian sama bapak-bapak." apa Samuel setega itu. "Berlian memang belum sepenuhnya Move on. Tapi jangan sakiti hati Berlian dong Dad, dengan mengenalkan pria tua."


"Oh my. Kamu ingat Clara putri Mr.Smith dia ingin bertemu denganmu. Makanya Mr.Smith mengundangmu. "


"I don't Care," Berlian membuka mata. "Berlian gak butuh siapa-siapa, dan Daddy gak perlu repot-repot ngembaliin Berlian seperti semula, Berlian nyaman dengan keadaan begini."


"Heeeyy, , , Daddy sama sekali gak nyaman melihatmu begini, Mami kamu, Chacha, Angga. Mereka semua menginginkan Berlian mereka kembali." tidak ingin berdebat lebih panjang, Samuel langsung keluar saja meninggalkan Berlian. Bahkan menutup pintu dengan kasar.


"Ada apa Pak?" Juna menghampiri sembari membawa air putih dingin.


"Kamu pria yang kuat Juna, meladeni Berlian yang aneh itu." menepuk bahu Juna pertanda bangga.


Juna tersenyum malu. "Saya merasa senang bisa ditugaskan untuk menjaga Nona."


"Hem.. yasudah mari kita makan siang bersama."


"Baik Pak. " menuruni anak tangga, lalu berjalan menuju dapur. Bi Riem sudah menyiapkan banyak makanan.


********


"Permisi Non," Bi Riem masuk membawa sekotak buh segar yang sudah dicampur mayones dan yogurt. "Saya bawain salad buah, Non Berlian kan belum makan dari pagi."


"Taro situ aja Bi." tangannya mengayun lembut memainkan alat musik piano.


"Iya Non." menaruh salad buah dimeja bundar dekat piano.


"Bi."


Bi Riem menoleh. "Iya Non, ada yang bisa saya bantu?"


"Mau makan salad bareng?"

__ADS_1


"Hah?" Berlian berdiri dan meraih kotak salad, Bi Riem berjalan mengikuti Berlian keruang Tv.


"Ayo dimakan Bi." Bi Riem menyantap dengan ragu-ragu, apa boleh seperti ini. "Bi, Berlian boleh minta pendapat gak sih?"


Bi Riem tampak terkejut, setelah dua tahun menemani Berlian, ini kali pertamanya ia berkomunikasi dengan baik. "Oh, boleh aja Non."


"Bibi udah tahu masalah Berlian kan?" Bi Riem mengangguk. "Menurut dari yang Bibi dengar, Berlian harus seperti apa?"


"Hah, waduh. Ehm," Bi Riem menetralkan suaranya. "Ee begini Non, dari yang saya dengar, kita cuma mendapat dari satu cerita, dan Non belum mendengar apapun dari pria itu. Kalaupun cerita itu benar adanya, Non gak seharusnya hidup seperti ini."


"Lalu, Berlian harus hidup seperti apa?"


Bi Riem menatap Berlian. "Hidup seperti Berlian yang dulu, tidak perduli dengan hal apapun dan tetap baik-baik saja," Bi Riem meraih tangan Berlian. "Maaf Non, Memang berat saat kita berusaha melupakan apa saja yang berhubungan dengannya. Tapi berusahalah, yakinkan diri Non untuk tidak menyangkut pautkan hari ini dengan hari lalu."


Berlian tertawa. "Waah, Bibi bisa membuat sebuah novel."


"Non," wajah Bi Riem murung. "Kita memang baru berkomunikasi hari ini, tapi menjalani dua tahun bersama Non saya merasa sangat nyaman. Luka memang susah sembuh Non, mungkin bisa sembuh tapi tidak pulih dengan sempurna selalu meninggalkan bekas. Tapi kalau kita hanya memikirkan satu luka, kita bakal mendapatkan luka lainkan. Jadi lebih baik kita memperhatikan sekitar dan melupakan luka itu, dan hal itu gak akan buat kita mendapatkan luka lain."


Bi Riem menatap keluar pintu, Samuel sudah berdiri disana. "Ah, maaf Non saya permisi dulu, saya belum jemur baju."


Berlian mengangguk membiarkan percakapan penuh motivasi ini pergi. Berlian mengukir sebuah senyuman. "Gak salah Daddy nyuruh Bibi itu kerja disini."


********


Berlian menghentikan permainan pianonya, semakin kesini ia semakin mahir. Setelah mandi, ia memutuskan untuk turun mengambil air mutih. Ia melihat Juna sedang menatap mesin pemanas air.


"Lagi buat apa Mas?" Juna menoleh.


"Daddy sudah pulang?"


"Belum Non, ada diruang kerja." Berlian meninggalkan dapur dan melupakan niatnya mengambil air putih dingin.


Mencari dimana biasanya Samuel melakukan tugasnya. Berlian mengetuk pintu bercat abu-abu.


"Masuk saja Jun, taruh saja disitu. Terima kasih."


Berlian tersenyum. "Ini Berlian Daddy."


Samuel menoleh. "Eh sayang, haha maaf Daddy gak tahu. Ini sedang mengurus Hotel diJerman."


"Hem. . Daddy lagi sibuk ya? yasudah nanti aja."


"Eits mau kemana?" Berlian berbalik. "Kamu mau ngomong sesuatu sama Daddy?"


"Berlian mau dateng keacara Mr.Smith."


Samuel melebarkan matanya dan menatap Berlian takjub. "Really Baby."


Berlian mengangguk. "Of Course. Berlian mau keluar dari rumah, kulit Berlian perlu terkena sinar matahari kan?"

__ADS_1


"Oh ya silahkan, Junaaa..."


Juna masuk membawa secangkir cokelat panas. "Iya Pak, ini sudah siapkok."


"Antar Berlian keliling kota. Kalau bisa, seluruh penjuru Kanada kamu telusuri."


"Sekarang Pak."


Samuel menatap tajam. "Yaiya dong Jun, ini." memberikan credit card kepada Berlian. "Beli pakaian apa saja yang kamu suka untuk acara besok malam."


"Oke. Ayo Mas."


********


"Ngelihat Mas Juna yang sekarang beda banget ya sama yang dulu." Juna tersenyum.


"Iya Non, alhamdulilah banget. Ini semua berkat Non Berlian." melihat kearah Nona yang duduk disampingnya, Berlian menolak untuk duduk dibelakang.


Mereka berkeliling kota, Juna membawa Berlian kebutik. Juna lebih dulu keluar lalu membukakan pintu. "Ini langganan Bapak, kita kebutik yang satunya. Khusus wanita."


Karena lebih tahu, Juna berjalan didepan mengawal Berlian.


"Hai ganteng.." wanita anggun datang menghampiri Juna dan merangkul lengan Juna. "How are you, Baby."


"Fine. Aku bawa pelanggan untukmu." mengerahkan wanita itu untuk menghadap kebelakang.


"Who is he?" menatap cemberut kearah Berlian. "Is she your wife?"


Juna tertawa menatap Berlian. "Saya bilangnya udah punya pacar Non." Berlian tertawa. "No. she is..."


"Yes, i am his wife."


Wanita itu menutup mulutnya, karena saking terkejutnya. "Nona, kenapa???"


"Juna, even though i am like you."


Jun menatap Berlian dengan wajah menyedihkan lalu pergi mengikuti wanita itu. "No Calista. She is the daughter of Mr.Samuel."


Sedangkan Berlian, tanpa dosanya dia malah tertawa melihat Juna mengejar wanita itu. Sungguh menggelikan. Lebih baik ia memilih pakaian yang cocok untuk pesta ulang tahun Mr.Smith saja.


Bruukk.....


"Ups Sorry." Berlian menatap kebawah, gaun yang tergeletak dilantai.


"It's Okay. Very pretty dress." memberikan gaun yang jatuh didekat kakinya.


Wanita itu tersenyum dan meraih gaunnya. "Thank you Miss."


"Nonaa,,, gaunnya sudah disiapkan. Mari saya antar." Berlian menatap wanita yang berdiri tidak jauh darinya.

__ADS_1


"Excuse me." wanita itu tersenyum dan melihat Berlian yang sudah masuk kedalam ruangan khusus.


__ADS_2