Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (89)


__ADS_3


"Es teh." Berlian mendorong botol Es teh dari hadapannya.


"Sorry, aku tolak."


"Why? bukannya kamu suka Es teh," kakinya menghalangi Berlian untuk pergi. "Bisa ngomong sebentar?"


"Bisa lain kali aja? aku mau cari Aryan." Berlian tersentak ketika tangannya digenggam.


"Tolong, aku pengen ceritain sesuatu sama kamu Berlian."


Berlian tersenyum, ia harus menjaga sikapnya. "Maaf Zivana, aku mau cari Aryan."


Lengan Berlian dicegah oleh Zivana, tampak mata wanita dihadapannya ini sehabis menangis. "Please, aku tahu sesuatu. Dan kamu juga harus tahu ini"


"Soal apa?"


"Ikut aku kemobil yah??" Zivana memohon, bahkan tangannya sudah menggenggam tangan Berlian.


Karena menjadi wanita yang berhati baik itu sangat menyulitkan. Berlian tidak bisa menolak, ia berjalan dibelakang Zivana. Mengikuti arahan wanita itu untuk mengikutinya masuk kedalam mobil. Berlian lebih kuat dari yang diduga, ia bisa saja menendang Zivana kalau sampai wanita itu berbuat macam-macam.


Berlian menoleh kebelakang, Aryan tidak akan mencarinya kan? masalahnya, ia tidak membawa ponsel, jadi tidak bisa menghubungi Aryan.


"Ayo masuk Berlian, kita duduk belakang ya. Biar lebih leluasa." membukakan pintu untuk Berlian, waah pikiran Berlian mulai kemana-mana.


Berlian melongok. Bisa saja sudah ada orang jahat didalam, dia akan dibunuh.


"Gak ada siapa-siapa kok, aku cuma mau ngobrol berdua sama kamu."


"Pria itu siapa?" menunjuk dengan dagunya. "Aku lihat dari tadi dia mengikutimu."


"Dia pengawal yang ditugaskan untuk menjagaku, perintah Devan." Berlian mengangguk lalu masuk kedalam mobil.


Zivana menyodorkan minuman tadi. "Ambil aja Berlian, aku gak senekat itu mau racuni kamu. Malahan disini aku mau nyelametin kamu."


"Nyelametin aku?"


"Berlian," Zivana menggenggam tangan Berlian lagi. "Kamu tahu kan? kalau aku sama Aryan itu saling mencintai."


"Hah."


"Tapi itu dulu, aku mau ceritain semuanya."


"Soal apa?"


"Aryan dan cintamu?


Berlian melebarkan matanya. "Cinta?"


"Aku ini anak panti asuhan Berlian, setelah kepoin media sosial kamu, ternyata kamu sahabatan sama Angga. Dulu aku satu panti sama Angga dan Farrel, kami lumayan dekat." Zivana menghela nafas.

__ADS_1


"Farrel? kamu kenal Farrel."


"Hem. Aku lanjutin cerita ya? waktu itu aku diangkat anak oleh keluarga Atmaja. Yah, walau tidak mewah tapi mereka memperlakukanku bak putri Raja. Aku bahagia." tersenyum menatap Berlian.


"Aku semakin bahagia sewaktu bertemu dengan Aryan, dia pria yang baik, yang sayang sama aku, yang bener-bener gak pernah mandang aku berasal dari mana. Kami menjalin hubungan cukup lama." Zivana meneguk air putih disampingnya.


"Aku tahu makanan kesukaan Aryan, minuman kesukan Aryan, hobi Aryan. Aku tahu semuanya, waktu itu ada yang aneh, aku denger berita kalau Aryan dan Devan berantem dikantin, dan itu soal memperebutkan aku."


"Aku sempet marah dan menemui Devan, mengatakan kalau aku tidak menyukainya. Tapi Devan malah membuat Aryan dan kelurganya semakin sulit. Waktu itu aku gak sengaha denger kalau Aryan dan Devan memutuskan untuk balapan motor dengan aku menjadi taruhannya." Berlian masih mendengarkan, ia hanya butuh penjelasan soal Farrel, tapi tidak berani memotong.


"Aku menemui Aryan dan marah padanya, tapi dia bilang. 'Zee, tolong percaya sama aku, aku akan memenangkan balapan itu. dan mempertahankan kamu. Karena rasa percayaku yang besar, aku datang untuk menyemangati Aryan. Ternyata disana ramai, Devan dan segerombol temannya, Reza, Raisa, dan yang lain-lain."


"Zaskia?"


"Dia gak tahu, karena waktu itu dia lagi di Paris. Kalaupun sampai dia tahu, balapan itu akan dihentikan dan kalau sampai dihentikan itu tandanya Aryan kalah dan aku harus menjadi milik Devan."


"Walaupun Aryan tetap ikut balapan, Devan tetap menang?" tanya Berlian.


"Yah, seperti yang terlihat. Aku menjadi milik Devan, pria yang tidak pernah mencintaiku, Aku sempat menangis malam itu, karena sampai Devan datang digaris finish Aryan tidak terlihat."


"Tapi itu terbentur dengan kedatangan polisi, Devan menarikku untuk naik keatas motornya, dan Raisa berboncengan dengan Reza. Semua lari berpencar, hanya kami berempat yang pergi bersamaan. Devan membawa kami ketempat Aryan."


"Lalu dimana Aryan?"


"Masih diarena balapan. Aku sempat menangis karena hanya ambulance yang terlihat disana."


Berlian menyentuh bahu Zivana. "Aryan kecelakaan?"


"Aryan menabrak seseorang. Dan kamu tahu Berlian? yang ditabrak Aryan itu Farrel." Zivana menangis karena sejak dia mulai bercerita, wanita itu memang menahan air matanya untuk tidak jatuh.


"Aku sama sekali gak inget wajah Farrel, karena tertutup lumuran darah. Aku baru tahu kemarin, fotomu dan foto Farrel dimedia sosial milik Angga, dan aku ingat Farrel yang ditabrak Aryan itu Farrel sahabatku."


"Ahhaha. Omong kosong macam apa itu? kamu mempermainkan nyawa orang Zivana."


"Aku gak bohong. Aku saksi, kenapa Aryan begitu setia menerimamu? karena Aryan tidak ingin membuatmu semakin terluka, karena sudah kehilangan Farrel. Dia meninggalkanku karena dia sudah berjanji sama Farrel untuk menjagamu." Zivana semakin menangis.


"Aku menangis waktu Aryan memintaku untuk menunggu, dia ingin mencarimu. Bahkan dia sudah mencarimu sampai Jerman, maybe even the whole world he explored. Dia mau jelasin semuanya diawal, tapi ternyata setelah bertemu denganmu, dia jatuh cinta sama kamu."


Zivana semakin terisak. "Dia janji bakal ambil aku lagi dari Devan. Tapi setelah lama menunggu, Aryan malah cuekin aku dan gak perduli lagi sama aku. Aku udah nemuin Aryan, dia malah ngusir aku. Berlian? aku bolehkan minta hakku, aku sudah menunggu terlalu lama, waktu aku datang menemui Arayn. Dia malah bilang ingin melepaskan aku dan mempertahankan kamu dengan gak bilang soal kecelakaan itu." Zivana meraih tissue.


"Sewaktu aku tahu Aryan akan bertunangan dengan wanita yang pacarnya ditabrak olehnya. Aku berniat menceritakan semuanya sama kamu, tapi selalu ketahuan sama Devan karena pengawal sialan itu. Dan berujung aku disiksa sama Devan," Zivana membuka turtlenecknya. "Ini bekas cekikan tangan Devan, dia itu Psyco. Aku gak sanggup dan selalu meminta Aryan cepat-cepat ambil aku, tapi dia bilang dia udah jatuh cinta sama kamu, waktu dia di Jakarta kami bertemu di Taman." Berlian ingat, waktu itu yang ia juga sempat gila mengejar Aryan.


"Aku menjerit tidak terima, aku kira dengan aku menangis Aryan bakal luluh, ternyata tidak. Aryan bersi teguh mempertahankan kamu." Zivana menatap Berlian dengan mata mulai sembab. "Apa yang kamu lakukan kalau jadi aku Berlian? seharusnya aku ingat, bahwa pria hanya setia dimulut saja. Tapi karena rasa sayangku begitu besar, aku melupakan kalimat itu."


"Lalu Farrel? dia dimana?"


"Dia sudah meninggal, Berlian."


"Meninggal?"


"Bayangan yang selalu hadir dihadapanmu itu, Arwah Farrel."

__ADS_1


Berlian menoleh. "Dari mana kamu tahu kalau aku selalu berhalusinasi soal Farrel."


"Itu bukan halusinasi, dia datang buat kasih tahu kamu kalau Aryan itu pria jahat," sesenggukan menangis. "Aryan juga dihantui arwah Farrel."


"Aryan juga?"


"Iya. Hari ini Aryan menemui Dokter psikolog di Rumah Sakit tempatku bekerja. Aku gak sengaja nguping, yang aku denger Aryan tetep gak mau ngasih tahu kamu. Padahal Dokter sudah memperingatkan dia," memang sekarang Zivana masih mengenakan jas putih. "Makam Farrel ada di Jakarta."


"Kenapa tidak ada yang memberi tahu, berita atau apapun? aku sudah mencari dipanti, gak ada yang tahu juga."


"Memang, Tante Udayana membuat semuanya bungkam."


"Apaa? Tante Yana?"


"Karena takut kamu melaporkan kasus itu lagi, Makanya Tante Udayana berusaha baik dan sayang sama kamu. Dia terus memaksa kamu mau bertahan sama Aryan."


"Jadi semuanya itu cuma sandiwara."


Zivana mengangguk. "Betul."


"Sorry, Zivana. Aku gak bisa percaya sama kamu." lagi-lagi Zivana menarik tangan Berlian agar tidak keluar mobil.


"Kamu bisa tanya sama mereka semua, mulai dari Devan, Reza atau sekalian tanya Aryan."


********


"Kamu berharga dari siapapun." Aryan menghembuskan nafasnya, ia menoleh melihat sepasang kekasih mungkin masih anak SMP, kalimat itu yang diucapkan oleh anak laki-laki itu kepada anak perempuan yang sedang digenggam tangannya.


Astaga, masih kecil kenapa bisa terlintas kalimat begitu? kamu berharga dari siapapun. Bagus juga.


Aryan tersenyum simpul. Oke, bisa ia gunakan nanti. "Mas kembaliannya gak ada, mau tunggu sebentar biar saya cari tukerannya."


"Ambil saja Pak. Saya lagi buru-buru." belum sempat Bapak penjual berterima kasih, Aryan sudah jauh berjalan.


Matanya mengitari tempat pameran buku, tidak ada Berlian, sekali lagi kepalanya berputar mengitari taman. Berlian memang tidak ada,


Tangan satunya merogoh ponsel didalam saku jaketnya. Menekan nomor Berlian, dalam satu sampai tiga panggilan tidak terjawab. Pada panggilan ke empat terjawab.


"Berlian...."


"Aryaan, ini Mama nak. Kamu dimana?"


"Loh, Berlian udah sampai rumah ya Ma?"


"Ponsel Berlian ketinggalan, dia bilang tadi mau ketaman terus pulang sama kamu."


"Iya Ma, tadi udah sama Aryan. Tapi Aryan tinggal ke toilet sebentar, pas Aryan kembali Berliannya udah gak ada."


"Loh kamu gimana sih? terus gimana.... Ehh sayang ku udah pulang, Aryan nyariin.... Berlian, sayang kamu kenapa?...."


Aryan mengerutkan keningnya. "Berlian kenapa Ma? Berlian udah pulang?" berjalan cepat menuju parkiran.

__ADS_1


"Sudah, tapi dia kelihatan aneh,"


"Aryan pulang sekarang." walaupun tidak tenang, tapi ia tetap akan berkendara dengan baik.


__ADS_2