Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (55)


__ADS_3

"Tadi mami sudah berteriak panggil kamu untuk tidak masuk ke kamar, tapi terlambat karena kamu sudah masuk tanpa mendengar teriakan indah mami. Terus mami harus bagaimana?" Berlian melotot menatap mamanya yang mengeluarkan kalimat demi kalimat tanpa rasa berdosa.


"Seharusnya mami kejar Berlian dong!!!"


"Ya sudah sih Berlian, lagian Aryan itu kan tunangan kamu juga, apa yang menjadi masalah?"


"Apa yang menjadi masalah? astaga mami.."


Basagita meraih gelas berisi air putih dingin kalu menegaknya hingga habis karena terlalu lelah memahami sikap berlebihan putrinya, "sudah jangan di ambil pusing sampai berlebihan seperti itu."


"Berlebihan? mamiii,,, ini tidak akan menjadi berlebihan kalau posisi Berlian itu tidak sedang membuka baju." Ucapnya sembari mengeram kesal karena mamanya belum juga memahami.


"Yaudah sih Bee, memangnya kenapa kalau ada Aryan di kamar lo sewaktu lo lagi buka baju? menurut gue fine fine aja kok,"


Basagita mengangguk, "betul sekali kata adik kamu."


Astaga, pernyataan macam apa itu pikir Berlian. Chacha benar-benar minta untuk tidak di kasih nyawa lagi sepertinya dan untuk mamanya Berlian sudah kehabisan akal. "Ini masalah buka baju loh?" Ucap Berlian ulang.


Basagita menghentikan tugasnya memotong buah. Menatap putrinya dengan heran. "Sayang, apa sih masalahnya? Ini cuma tentang kamu buka baju saja kan? Kok di permasalahin sih?"


Kenapa Basagita malah terlihat cuek, kali ini Berlian yang menatap mamanya heran.


"Berlian ini anak gadis mami loh,"


"Lah, siapa bilang kamu bukan anak gadis mami??"


"Berlian heran deh, kenapa reaksi mami biasa aja sewaktu ada laki-laki di kamar Berlian."


"Sayang mami, Aryan itu tidak akan berani macam-macam sama kamu, paham?"


"Siapa yang tahu kalau Aryan tidak akan macam-macam pada Berlian?"


"Mami percaya sama calon menantu mami yang ganteng itu,"


"Mamiii......"


"Berlian, Stop ngomong asal. Aryan bukan tipe laki-laki yang seperti itu, dia tidak akan berani menyentuh kamu kalau bukan kamu duluan yang menyentuhnya,"


"Huhhh.... " Berlian tidak memiliki kata-kata untuk melawan.


"Bener kata mami, Bee,"


Berlian melotot menatap adiknya. "Lo kan juga tadi lihat gue masuk kamar, kenapa lo diem aja?" Ucap Berlian mendelik ke arah Chacha. Padahal posisinya Chacha dan Berlian itu sempat berpapasan tadi.


"Gue lagi gak connect, Sorry." Bahkan ketika mengucapkan maaf saja Chacha tetap tampak tidak merasa berdosa. "Lagian salah lo juga kenapa buka baju sembarangan.."


"Sembarangan????????" Ucapan macam apalagi ini astaga.


"Iya sembarangan?"


"Cha lo mikir gak, gue buka baju itu di kamar gue sendiri bukan di kamar orang lain."


"Iya gue tahu kok, posisinya sekarang itu. Lo harus ambil pelajaran dari itu, berubah buat gak sembarangan buka baju walaupun itu di kamar lo sendiri."


"Mii, jadi ini salah Berlian?" Basagita mengangguk. Membenarkan kesalahan yang di luar nalar Berlian.


"Salah Berlian kalau Berlian buka baju di kamar Berlian sendiri?"


Basagita mengangguk. "Iya, salah kamu, ada tempat khusus untuk ganti baju kenapa kamu buka baju di luar."


"Kenapa mami baru nyalahin Berlian sekarang? Dari dulu kemana aja? Waktu Berlian selalu kayak gitu,"


"Karena waktu itu kamu gak salah sayang"


Ini gimana sih, Berlian menggaruk kepalanya.


"Pokoknya, Berlian.... "


"Chacha...." Berlian yang akan melontarkan kekesalannya terhenti karena melihat keberadaan Aryan tengah memanggil Chacha.


"Iya mas?"


Apa? Tunggu!? Mas?? Chacha manggil Aryan Mas? What the hell.

__ADS_1


"Minjem charger dong. Lupa bawa karena tadi buru-buru, perasaan masih full batrainya tapi kok ini ponselnya mati ya?" Sepertinya Aryan tidak mendengar keluh kesah Berlian.


"Kalau gak di pakai coba matiin datanya aja. Folge mir (ikuti aku).."Chacha berjalan membantu Aryan menunjukan tempat biasa dirinya mengisi daya ponsel, sedangkan Berlian memasang wajah tidak tahu apa-apa.


Basagita menatap putrinya sejenak, dan melirik Aryan dan Chacha yang belum kembali. "Udaahh, pokoknya inti dari pembicaraan kita adalah kamu yang salah. Oke?"


Berlian diam saja.


"Bantu mami siapin piring ya sayang, mami mau panggil Aryan sama Chacha dulu," Berlian bangkit dan menuruti perintah mamanya, sedangkan Basagita sudah berjalan keluar mencari keberadaan putri dan calon menantunya.


********


Setelah selesai makan malam, Chacha mengajak Aryan menonton TV kabarnya EXO boyband asal korea akan tampil di TV malam ini. Aryan yang tidak tahu menau ikut saja.


Berlian sendiri sibuk membaca buku tapi tetap duduk di dekat Chacha dan Aryan yang bergantian menyuapi buah ke dalam mulut masing-masing.


"Tante Gita malam-malam gini mau kemana?" Melihat Basagita yang sudah berubah penampilan.


"Mau ketemu temen, tante pergi dulu ya?" Melenggang pergi sembari memainkan kunci mobil di sela-sela jarinya.


"Ketemu pacarnya," ucap Chacha berbisik. "Bilangnya sih ketemu temen," Aryan tertawa kecil. Terlihat ponselnya bergetar dan menyala di samping TV Aryan bangkit dan meraih ponselnya. Panggilan masuk dari Zivana, Aryan melihat kearah Berlian yang fokus membaca novel, langsung melepas charger dari ponsel.


Bukannya tidak tahu atau tidak lihat, Berlian sedang berakting pura-pura tidak peka saat ini. Melirik Aryan berjalan menaiki tangga menuju kamar dengan ponsel tertempel di telinga. Berlian yang penasaran langsung menyusul, ia berdiri menguping di depan pintu kamar.


"Gak kedengeran lagi...." Berlian bergerak kesana kemari mencoba mencari suara yang ingin Berlian dengar.


Tiba-tiba pintu terbuka membuat Berlian mundur terlonjak kaget.


"Eh, Berlian, kenapa berdiri di depan pintu?" Aryan sama terkejutnya melihat Berlian.


"Nothing..." Aryan tersenyum. "Uum, telepon dari siapa?" Berlian langsung bertanya to the point.


"Temanku,"


"Lo kok pake jaket?"


"Aku keluar sebentar, boleh pinjam mobil kan?"


Padahal Berlian belum mengizinkan namun Aryan sudah berjalan melewatinya tanpa menjelaskan apapun yang ingin Berlian dengar.


Berlian langsung berlari mengikuti Aryan keluar rumah, di lihatnya laki-laki itu sudah masuk ke dalam mobil.


********


Mesin mobil sudah ia hidupkan, namun saat tiba-tiba tunangannya masuk dan menutup pintu mobil dengan kasar membuatnya terkejit bukan main. "Berlian, bikin kaget saja."


"Lo mau kemana sih?"


Aryan menatap Berlian heran ketika perempuan itu sudah siap memakai sabuk pengaman dan menatapnya datar. "Ketemu sama teman," Bukankah Aryan sudah menjawab itu tadi, Berlian memicingkan matanya menatap Aryan.


"Siapa temen lo?" Aryan membalas tatapan Berlian, sebenarnya ada apa dengan perempuan ini.


"Temen yang di Jakarta dong."


"Ck, gue itu tanya namanya bukan letak rumahnya, Aryan!!!" ucapnya dengan nada tinggi membuat Aryan sedikit tersentak.


"Ya pokoknya temen? Memangnya kamu akan tau kalau aku kasih tahu?" Aryan sangat bingung dengan maksud Berlian.


"Gue ikut."


Aryan mengerutkan keningnya. "Aku gak bisa bawa kamu kesana."


Matanya melotot. "Kenapa?"


"Aku gak izinin kamu buat ikut,"


Berlian bersandar melipat kedua tangannya di dada dan memandang lurus, "okey, cuma ada dua pilihan, gue ikut atau lo gak boleh bawa mobil gue."


"Oh gitu. Ya sudah, kalau begitu aku tidak jadi pinjam mobil, aku bisa panggil taxi saja." keluar mobil dan menunduk menatap Berlian sebelum menutup pintu, "aku pergi."


Ada gejala aneh dalam dirinya, melihat Aryan berjalan menuju gerbang yang cukup jauh dari halaman rumah buru-buru iankeluat dan bergegar mengejar Aryan. "Ar, tungguuuuu??"


Teriakan Berlian membuatnya menghentikan langkah dan berbalik menatap Berlian, perempuan itu berlari dengan tergesa-gesa ke arahnya, bahkan Aryan berjalan mendekati agar Berlian tidak semakin lelah mengejarnya. "Hey,,, jangan lari kamu bisa capek,"

__ADS_1


"Jangan pergi...."


"Kenapa n? Aku kan tidak jadi pinjam mobil." Aryan menjadi sedikit kesal dengan tingkah Berlian, tapi tidak bisa ia luapkan.


"Bukan itu,,,"


"Terus?"


"Lo gak boleh pergi kemana pun kecuali kalau gue ikut," Aryan memilih berjalan semakin dekat, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena kebingungan.


"Ini gimana sih maksudnya, Sumpah aku bingung.." Aryan memang sangat tidak mengerti yang dimaksud oleh Berlian.


Berlian mengangkat bahunya dan melipat kedua tangannya di depan dada.


"Yaudah aku gak jadi pergi," Berlian menyungging senyuman. "Aku telepon temen dulu buat batalin janji." Berlian mengangguk sembari tersenyum lebar melihat Aryan berjalan menjauh.


********


"Haha gimana? gue kan yang lebih penting?"


"Tunggu deh Bee, menurut gue ya lebih pentingan tu cewek lah." Berlian meremas ponselnya. "Gini ya Bee, kalo dia emang jadiin lo prioritasnya pasti lo di bawa. Nah karena dia lebih milih batalin berarti dia masih sayang nyawa tu cewek."


Berlian terdiam. Mencoba mencerna ucapan Angga yang ada benarnya.


"Lo dimana?" Tanya Angga.


"Di kamar mami."


"Bee lo yakin, kalau tu cewek juga ada di Jakarta?" semula Berlian juga ragu, tapi mengingat Aryan dengan tegas memintanya untuk tidak ikut membuat Berlian sangat yakin kalau Zivana juga berada di kota yang sama dengannya.


"Tunggu deh. Gue cari tau dulu.." Berlian mematikan sambungan telepon dan mencari nomor telepon sang information di kontak ponselnya.


Panggilan terjawab cepat.


"Sorry kia, gue ganggu lo malem-malem,"


"Gue belum tidur Bee, lagi nunggu Reza pulang dari main game. Kenapa?" Berlian mencoba menceritakan permasalahan yang sedang di alami. "Gue coba cari tau dulu, entar gue kasih tau deh.."


"Tapi jangan kasih tau Reza atau Aryan ya?" Zaskia mengiyakan permintaan Berlian. Tidak lama bagi Berlian meminta Zaskia mencari informasi untuknya, sahabat tunangannya itu sangat bisa di andalkan.


Pesan masuk.


Zaskia_Aliena : Dia emang lagi di Jakarta dua hari sebelum Aryan ke Jakarta. Dia ke Jakarta awalnya cuma nganter Devan ke international airport, tapi dari hari itu dia belom balik. Kemungkinan besar emang dia sih orang yang mau ditemui Aryan, soalnya gue dapet informasi ni kalo Zee nginep di hotel Mahesvara.


Melotot mendengar kalimat terakhir Zaskia, Berlian kembali menelpon Angga dan mengatakan informasi yang dia dapat.


"Kan bener kata gue. Hati-hati Bee, tu cewek rada bahaya nih kayaknya."


"Oke, Yaudah gue matiin deh.."


"Bee gila lo mau matiin dia," Berlian berdecak dengan otak Angga yang tidak paham.


"Teleponnya woy." Berlian langsung mematikan sambungan telepon dan keluar dari kamar mamanya dan melihat Chacha yang sudah tertidur dengan TV yang masih menyala. Berlian langsung menaiki tangga dan mengetuk pintu kamarnya yang di tinggali oleh Aryan.


"Kenapa?"


"Gue penting gak?" Aryan mengerutkan keningnya, sikap Berlian malam ini sangat aneh menurutnya.


"Penting dong." Jawab Aryan.


"Seberapa penting?"


"Ya penting banget, Berlian kamu kenapa sih? ada masalah?" Aryan bertanya bingung.


"Kalau gue penting turuti permintaan gue kali ini aja."


Aryan berdiri mendekat menatap Berlian lekat. "Apa itu?"


"Kemanapun lo pergi, gue harus ikut."


"Berlian, kamu sadar gak sih. Malam ini kamu itu terlihat sangat aneh"


Berlian mengangkat bahunya. "Gue punya firasat buruk kalau lo pergi tanpa gue,"

__ADS_1


"Oke, aku turutin itu.." Aryan mengiyakan permintaan Berlian, mereka bersalaman untuk menyepakati permintaan Berlian. Karena memang itukan tujuan dirinya pergi kesini, untuk selalu berada di dekat Berlian.


...☘️☘️...


__ADS_2