Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (32)


__ADS_3

Masih berkecambuk dengan pikirannya, Aryan memasukkan semua berkas penting kedalam tas kantornya, pikirannya masih tetap pada obrolan disarapan pagi. Namnun aktivitasnya terhenti ketika matanya tertuju kepada Berlian, perempuan itu sedang asik bermain air kolam renang. Itu terlihat sangat jelas dari lantai dua.


Aryan berjalan menuruni tangga membawa tas kantornya. Abraham sudah lebih dulu berangkat, karena ia sudah berjanji akan mengantarkan Gena kekampusnya. Sedangkan Udayana, ia pasti sedang berada dikamarnya, sibuk dengan ponsel, apalagi kalau bukan mengabari seluruh gengnya tentang pesta yang akan digelarnya.


Tas kantornya ia serahkan kepada Adi, sopir pribadinya. "Tunggu sebentar, saya ada urusan." Ucap Aryan.


"Baik pak," mengambil tas kantor Aryan dan meletakkan dikursi penumpang. Sembari menunggu tuannya dengan urusan pribadinya, Adi berjalan mendekati pos satpam bertemu dengan Pak Seno yang bertugas menjaga keamanan rumah Mahesvara.


Sedangkan Aryan berjalan masuk kedalam rumah lagi, kakinya melangkah membawa diri kepintu belakang. Berhenti, tepat pada saat matanya tertuju kepada Berlian, Aryan berjalan mendekati.


Suara ketukan sepatu pantofel terdengar berjalan semakin mendekat mengalihkan perhatian Berlian.


"Belum berangkat?" Tanyanya ketika melihat Aryan sudah berdiri di dekatnya.


"Kenapa kamu menyetujui itu?" Berlian mengrenyitkan dahi.


"Terserah gue lah." Jawab Berlian acuh, mengerti dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Aryan.


"Aku sudah berusaha Berlian, meyakini Mama untuk tidak mengadakan acara ini." Tegas Aryan menjelaskan.


"Apa perduli lo?"


"Aku perduli. Sangat perduli," Berlian bangkit dari duduknya dan menatap Aryan tajam. "Rekan bisnis papa, teman-teman mama, teman-teman aku semua Fake."


"Fake?"


"Semua palsu Berlian, mereka cuma mau pamer disana?"


"Terus apa hubungannya sama gue?"


"Aku gak mau aja kamu ketemu sama orang-orang disana? Bahaya, kamu harus ingat trauma yang kamu alami Berlian,"


"Kenapa bawa-bawa trauma gue? Gue bisa kontrol diri gue sendiri." Berlian sedikit tidak terima.


"Aku cuma,"


"Mau lo apasih?" Berlian memotong.


"Kamu yang maunya apa? Seenaknya nerima tanpa bilang sama aku," Aryan mulai meninggikan nada suaranya.


"Kenapa gue harus bilang sama lo?"


"Kamu kan tahu sendiri, kamu gak bisa ketemu sama orang banyak, jadi aku..."

__ADS_1


"Gak usah sok perduli sama gue," Berlian setengah berteriak.


"Aku memang perduli sama kamu,"


"Asal lo tau, gue nerima ini. Karena gue ngerasa bersalah sama nyokap bokap lo, tahu gak?"


"Mereka bohong Berlian, Jangan percaya. Mereka udah ngerencanain ini, biar kamu mau," Aryan benar-benar kesal dengan kedua orang tuanya. Apalagi melihat Berlian yang tidak mau mengerti.


"Diam!!!" Berlian sudah tidak perduli lagi dengan perbuatan orang lain. Aryan melirik kearah beberapa pekerja pria yang bertugas membersihkan kebun dan taman belakang. Terlihat Pak Hendra datang dan memerintahkan mereka untuk perpindah tempat.


Pak Hendra tahu, situasi yang sedang terjadi antara Aryan dan Berlian.


"Berhenti bersikap seolah-olah lo perhatian sama gue, Berhenti bersikap baik sama gue," Aryan menatap Berlian lurus.


Aryan tidak sedang berpura-pura perduli, ia memang perduli. Aryan tidak sedang berpura-pura baik, ia memang baik. Untuk Berlian, kenapa Berlian tidak bisa melihat itu.


"Lo sama gue, harus sama-sama tahu batasan. Hubungan kita cuma sebatas kesepakatan aja. Jadi lo gak usah akting didepan orang-orang, seakan-akan kita. Dua orang yang saling bahagia karena sebuah perjodohan," ucapan Berlian hampir memecah keheningan. Para pegawai yang mendengar saling melempar pandang, saling bertanya dengan apa yang di dengarnya.


Pak Hendra mencegah mereka untuk membuka mulut, mereka harus tetap diam dan pura-pura tidak mendengar itu. Mereka mengangguk patuh.


"Berlian." Memberanikan mendekati dan menggenggam tangan Berlian. "Berhenti bersikap tidak tahu kalau aku perduli sama kamu," Berlian diam. "Aku tahu, hubungan kita hanya sebatas kesepakatan. Tapi dikesepakatan itu, kamu gak bilang kalau aku gak boleh memberikan perhatian dan rasa peduli aku sama kamu," Skak. Berlian benar-benar dibuat terdiam.


Melepaskan genggamannya dan mengelus puncak kepala Berlian. "Oke, kita akan pergi kepesta itu. Dengan syarat kamu harus tetap ada didekatku."


Tanpa mendengar jawaban dari Berlian, Aryan sudah mengambil kesimpulan bahwa Berlian menerima syarat itu. Aryan berbalik dan pergi meninggalkan Berlian.


********


Butik dengan puluhan baju di penuhi beberapa orang, Udayana sudah menyewa ruang VIP untuk dia dan calon menantunya. Berlian yang duduk di temani Gena menggeleng pusing melihat Udayana yang terus mondar mandir di depan mereka. Sibuk memilih pakaian yang cocok untuk Berlian kenakan saat malam pesta tiba.


Udayana membawa Gena untuk bertugas memberikan saran dalam pemilihan gaun, Udayana terlihat sangat bahagia saat ini. Apapun yang wanita itu katakan dan inginkan tidak ditolak oleh Berlian, ia takut akan membuat mood Udayana menjadi buruk.


"Sabar kak," Gena menenangkan, karena sudah melihat wajah kesal Berlian.


Mereka berdua terkejut saat Udayana tiba-tiba berteriak heboh ketika Berlian sudah mencoba memakai pakaian yang dipilih oleh Udayana.


"Mantuku cantikkan?" Tanyanya kepada para pelayan.


Mereka mengangguk, karena setelah beberapa kali melihat dalam gambar diartikel. Ini pertama kalinya bagi mereka melihat seorang Berlian Wijaya secara langsung. Benar-benar sangat cantik.


"Cantik sekali Nyonya, apapun yang dikenakan Nona Berlian. Semua terlihat bagus, apa kita bungkus saja semua," Udayana memecahkan tawanya, Pandai sekali mereka merayu.


"Tidak, aku akan tetap pilih satu saja." Mereka mengangguk, sedikit kecewa karena rayuan mereka tidak mempan untuk Udayana. "Dimana Vitania?" Udayana bertanya kepada salah satu pegawai dibutik.

__ADS_1


"Sedang dalam perjalanan, Nyonya." Udayana berkeliling lagi melihat-lihat pakaian, mana tahu ada yang cocok untuk Berlian.


"Tante, kita beli ini aja. Berlian udah oke kok." Menggerakkan jari telunjuknya didepan wajah Berlian.


"Tunggu sang pemilik datang ya sayang," Gena menarik tangan Berlian untuk duduk.


Berlian menautkan alisnya menatap Gena, "Tenang, setelah pemilik datang. Mereka berdua akan lebih heboh dari ini."


Tring. . . . .


Lonceng pintu berbunyi.


"Selamat datang..." Kedua wanita itu saling berteriak dan berlari mendekat, berpelukan seperti seorang kerabat yang sudah lama tidak bertemu. "Apa kabar jeng??" mereka kembali berpelukan.


"Aku baik," membalas pelukan erat wanita itu.


"Mana menantu?" Udayana menunjuk Berlian yang langsung berdiri, membungkuk sedikit.


"Hallo tante.." Wanita itu berjalan mendekat dan memeluk Berlian.


"Aku Vitania, Berlian,"


Berlian meraih uluran tangan Vitania. "Hallo, tante Vitania."


Wanita itu menilik kain Sari yang dipakai oleh Berlian, "cantik, kamu cocok sekali memakai Sari itu. Terlihat seperti asli wanita India."


"Terima....."


"Ah. . . Tunggu sebentar," Vitania memotong ucapan terima kasih Berlian, dia bergerak memerintahkan pegawainya untuk mengambilkan satu rancangannya yang tersimpan.


Pegawai wanita itu berjalan cepat, menenteng patung yang memakai pakaian Sari khas India.


"Sebetulnya ini baru contoh untuk di pasarkan bulan depan, tapi sepertinya aku harus mempercayakan ini kepada Berlian." Udayana tertawa bangga mendengar itu.


"Coba sayang, mana tahu ada kebesaran atau kekecilan," Berlian menghela nafas letih, padahal ia sedari tadi hanya melepas dan memakai pakaian. Tapi itu benar-benar membuatnya kelelahan.


"Sudah tidak usah dicoba, aku membuat ukuran sesuai menantuku. Pasti pas juga untuk menantumu, Yana." Udayana mengangguk nurut saja mendengar itu. "Kalau ada yang kurang, sebelum ketempat acara bisa mampir dulu kesini." Berlian tersenyum berterima kasih, untungnya wanita ini sedikit pengertian dibandingkan Udayana. "Ah. . . . Aku punya setelan tuxedo khusus untuk Aryan, pas pula warnanya senada dengan kain Sari punya Berlian," satu pegawai lagi datang menenteng setelan tuxedo dalam bungkusan plastik dan menaruhnya diatas meja.


"Makasih loh jeng." Mereka berpelukan lagi. "Kamu datangkan jeng?" Vitania mengangguk.


"Pasti aku datang, mungkin sedikit telat. Karena aku punya jadwal padet," Memasang wajah kecewa.


"Pokoknya harus datang, kamu harus melihat mantuku pakai rancanganmu." Sudah keberapa kalinya Berlian melihat kedua wanita itu saling berpelukan.

__ADS_1


Gena menarik Berlian untuk mundur dan dia berbisik di telinga Berlian. "Padahal baru beberapa hari yang lalu mereka bertemu, belum lagi tadi pagi mereka baru menghabis waktu ditelepon." Berlian tersenyum kecil mendengar celoteh kesal Gena.


...☘️☘️...


__ADS_2