
Berlian terbangun dan melihat jam dinding dengan mata menyipit. Jam menunjukkan pukul lima pagi.
Berlian mengucek matanya lalu berjalan keluar dari kamar menuju dapur, rasanya ia baru saja bekerja keras hingga membuat kerongkongannya mengering, dia sangat membutuhkan air dingin saat pagi ini.
Saat sedang menegak satu botol berisi air putih dingin suara berisik dari arah tangga terdengar, dia biarkan untuk sejenak, namun karena suara yang semakin mengganggunya minum, membutnya penasaran dan berjalan menghampiri.
Udayana dan bu Nuri sedang berdiri di dekat tangga, entah apa yang sedang mereka diskusikan yang jelas wajah mereka begitu khawatir, Berlian berjalan semakin dekat dan menyapa keduanya. "Tante, bu Nuri.."
"Hah Berlian!!!" Mereka sama terkejutnya dengan kehadiran Berlian. "Astaga, kamu ngapain disini??" Udayana langsung menarik tangannya untuk menjauh dari tangga, "jelaskan sama tante apa yang kamu lakukan pagi-pagi di sini."
Berlian mengrenyit heran, sembari mengangkat botol berisi air dingin Berlian menjawab pertanyaan Udayana, "habis mengambil air dingin tante, Berlian ke hausan."
"Kan sudah di sediakan Ara air putih di kamar mu, sayang." Berlian tergelak lagi saat Udayana menariknya semakin menjauh.
Berlian di buat kebingungan. "Berlian mau air dingin tante," menatap Udayana penuh curiga.
Wajah Udayana terlihat sangat gugup dan resah menatap dirinya. "Gak baik sayang, pagi-pagi minum air es,"
"Berlian minum air dingin tante, enggak pakai es kok." Mengangkat botol tinggi-tinggi, agar memperjelas pandangan Udayana yang terus saja mendesaknya, "memangnya ada apa sih tante?"
Melihat wajah Udayana dan bu Nuri semakin khawatir membuatnya kebingungan bukan main, di pagi hari ini apa yang membuat mereka berpikir untul membut sebuah drama aneh. "Kamu mendengar obrolan kami tadi?" Berlian menggeleng. "Jangan bohong, Berlian."
Berlian tersenyum tipis, "untuk apa Berlian bohong, memang Berlian tidak mendengar apa-apa kok." Mengangkat tangannya, "sumpah!!!"
"Kamu kenapa samperin kami??"
"Ya karena obrolan tante sama bu Nuri itu kedengeran sampai ke dapur, makanya Berlian samperin."
Udayana memandang bu Nuri, "hah? seriusan? padahal kita ngomongnya sambil bisik-bisik ya bu?"
"Iya bu," jawab bu Nuri yanh sejak tadi hanya diam menyimak dengan memasang mimik wajah gugup.
Berlian menggeleng, berbisik apanya? padahal suara gaduh mereka terdengar jelas sampai dapur, hanya saja obrolan mereka samar terdengar. Berlian meraih tangan Udayana dan menatap bu Nuri bergantian dengan serius, "ada apa sih tante-ibu??"
"Apa kita beritahu Berlian saja bu?" Menatap bu Nuri yang berjalan mendekat.
"Saya sih terserah ibu saja baiknya bagaimana."
Kembali menatap Udayana, Berlian tampak kebingungan. "Karena kamu sudah terlanjut disini, tante akan beritahu sebuah rahasia."
"Rahasia??" Berlian bergerak mendekat, "rahasia apa tante.."
"Tapi kamu janji jangan beritahu siapapun." Berlian mengangguk, "ini soal Aryan, Berlian....."
"Aryan kenapa tante?" mengatakan sesuatu tentang Aryan membuat perasaannya semakin penasaran, bahkan dia sempat memotong ucapan Udayana.
Udayana maju sedikit dan berbisik ditelinga Berlian, "kamu jangan marah ya?" melihat Berlian mengangguk Udayana memajukan badannya lagi. "Aryan mabuk?" setelah membisikan itu Udayana bergerak menjauh dan menutup kedua telinganya.
Berlian mengerutkan dahinya, bu Nuri juga melakukan hal yang sama, menutup mata dan telinga menunggu respon Berlian.
"Ohhh..." Jawabannya semakin membuat mereka berdua terkejut, dan saling pandang.
"Kok kamu gak shock? Kaget? Atau jantungan gitu?"
Berlian tertawa kecil. "Kenapa harus shock tante, semalam Aryan sudah menemui Berlian. Makanya Berlian tau dia mabuk,"
Mata Udayana membelalak lebar bergerak langsung menutup mulut Berlian. "Hati-hati, nanti ada yang dengar," Berlian mengangguk. Lalu, Udayana menggoncang tubuh Berlian, kekiri dan kekanan. "Kamu tidak kenapa-kenapa kan sayang?"
"Bagaimana maksudnya tante?"
"Aryan itu suka gak ke kontrol kalau lagi mabuk, walaupun kalian sudah bertunangan bukan berarti Aryan boleh sembarang ngapa-ngapain kamu Berlian. Yakan bu Nur??" wanita yang senantiasa berdiri di belakangnya mengangguk.
Berlian menggeleng. "Aryan gak ngapa-ngapain kok tante," Udayana menghela napas lega. Berlian membatalkan niatnya untuk mengadu tentang Aryan semalam.
"Syukurlah,," Udayana mengelus dadanya.
"Terus kenapa tante sama bu Nuri ada disini?"
__ADS_1
"Kami khawatir kalau om bakal tau. Om paling anti kalau anggota keluarga ada yang mabuk," Berlian merasa tersindir sendiri mendengar ucapan Udayana. "Kamu inget kan cerita tante soal Aryan dulu?" Dia mengagguk lagi. "Kamu harus jaga rahasia ini, bahaya kalau sampai om tau?"
"Bahaya kenapa Mah?"
"Papaaaaaaaa!!!!!" Udayana refleks teriak dan berlari memeluk Abraham, pria itu sama kagetnya dengan Berlian dan bu Nuri.
"Ehh kenapa Mah?"
Masih memeluk Abraham erat. "Gak apa-apa,"
"Sedang membicarakan apa di pagi buta ini? kenapa Berlian ada di luar dan bu Nuri sampai ada di rumah utama?"
"Emmm..... Saya,,, sa-yaa...."
Berlian maju, "bu Nuri, Berlian yang panggil om, tiba-tiba ingin minum es."
"Haihhh, pagi-pagi jangan minum dingin, ayo masuk kamar dan kembali tidur." Berlian mengangguk, "lalu apa yang berbahaya tadi?"
"Ini loh pa, stok kopi hitam kita habis dan bu Nuri lupa untuk beli,"
Abraham tertawa dan mengelus puncak kepala istrinya. "Ohoo, Gak apa-apa. Kopi instan juga boleh kok bu,"
"Maafkan saya pak."
"Tidak apa bu, kalau gitu buatkan saja sekarang, antar ke ruang kerja saya ya? ada yang mau saya kerjakan soalnya pagi nanti ada meeting."
"Baik pak," bu Nuri hendak pergi namun Udayana menarik lengannya. "Kenapa bu?"
"Biar saya saja yang bikinkan. Pah, ayo temenin mama buat kopi untuk papa." Sebetulnya Abraham sedikit heran dengan tingkah istrinya. Tapi ia maklumi karena merasa mungkin istrinya masih merasakan rindu setelah beberapa hari berpisah.
"Non Berlian, lanjutkan tidur saja lagi," mengangguk menyetujui, Berlian dan bu Nuri berpisah, membiarkan sepasang suami istri itu melanjutkan dramanya di pagi buta.
********
"Om-tante, Berlian boleh izin pulang besok gak? Soalnya ada yang perlu Berlian kerjain,"
Abraham menghentikan suapannya. "Penting banget?"
Abraham mengangguk santai. "Jangan besok dong? Lusa ya?"
"Gak bisa tante,"
"Pokoknya lusa," Berlian mengambil nafas pelan, dirinya lupa bahwa sedang berhadapan dengan wanita egois, ya calon mertuanya itu.
Berlian kembali menatap Abraham, berharap pria itu dapat membantunya. "Iya lusa aja gimana?" Berlian menghela nafas kesal, Abraham sama sekali tidak membantu. Bisa di tebak, Berlian hanya mampu mengiyakan bukan? Tidak mungkin Berlian membantah. Apalagi membantah ucapan dari seorang Udayana.
"Iya kak. Jangan besok, kakak sudah punya jadwal buat anter Gena kuliah setiap hari." Ah iya, Berlian sempat lupa. Bahwa Gena sudah ia masukkan kedaftar wanita menyebalkan setelah Udayana. Jadi, sudah pasti ia akan bertingkah menyebalkan sekarang.
"Loh, Loh, sejak kapan Berlian nganter kamu sayang?" Menatap Gena yang duduk disebelah Berlian.
"Baru beberapa kali kok Ma" Udayana mengangkat tangannya tinggi.
"Hentikan, itu bahaya buat kalian berdua. Biar nanti mama carikan kamu supir untuk antar jemput,"
Gena menggeleng. "Gak usah ma, Gena seneng di anter kak Berlian,"
"Berlian juga gak keberatan kok tante," Udayana bersikukuh menolak.
"Atau suruh saja Bimo yang jemput kamu,"
"Itu lebih gak usah!!" Rupanya seluruh keluarga sudah tahu mengenai Bimo kekasih Gena. Berlian mengira itu menjadi sebuah rahasia.
Ponsel di samping lengan Abraham bergetar. "Ahh.. Ini telpon penting, sudah. Papa ke atas sebentar," Abraham pergi masuk ke dalam ruang kerjanya membiarkan istri, anak dan calon menantunya berdebat. Jika ia ikut mencampuri, sudah pasti Udayana akan marah padanya.
Karena sarapan sudah siap, Berlian dan Gena bertugas membantu membersihkan meja makan, mereka tetap melakukan itu walaupun sudah ada yang bergerak membersihkan.
Bersandar pada lemari es, Berlian menatap Ara yang terlihat lebih cantik dari pelayan lainnya sedang mencuci piring. "Ara, kamu sudah berapa lama kerja di sini?"
__ADS_1
"Baru dua tahun nona,"
"Lama juga,"
Ara tersenyum tipis, "iya nona,"
Berlian melihat Udayana meneguk jus buah di dekat mereka, di bergerak mendekati, "tante.." Udayana mendongak menatapnya, "Berlian bisa kok kalau cuma nganterin Gena ke kampus, soalnya Berlian suka kesepian setelah semua orang di rumah ini pergi,"
"Apa tidak apa-apa kalau kamu bepergian dengan mobil sendirian?" tanyanya,
Berlian mengangguk, "emm,, tante tidak perlu khawatir...."
"Beneran???"
"Iya tantee......"
"Baiklah, tante izinin tapi dengan syarat langsung pulang ya sayang?" Berlian mengangguk dan tersenyum bahagia.
"Aryan belum turun Tante??"
Udayana menggeleng. "Belum, Ah bu Nuri" Udayana bangkit dan meraih nampan yang di bawa Bu Nuri. "Biar saya saja yang kasih buat Aryan"
"Apa itu tante?" Tanya Berlian.
"Teh Jahe Non, buat penghilang pengar," Udayana melotot menatap Bu Nuri.
"Jangan keras-keras bu"
Bu Nuri memukul mulutnya pelan. "Maaf bu, mulut saya suka kelepasan."
"Biar Berlian aja yang anter itu tante," Wanita menyebalkan itu tersenyum lebar.
"Ide bagus,,," dia langsung memberikan nampan kepada Berlian, Udayana hanya basa-basi tadi, kira-kira bagaimana respon Berlian. Ternyata, calon menantunya ini benar-benar mengerti dan cepat tanggap.
********
Entah apa yang ada dalam benaknya, Berlian juga terlalu lama menatap daun pintu yng belum dia ketuk sejak tadi, matanya menatap gelas kaca berisi teh jahe penghilang pengar menurut bu Nuri, bisa jadi akan dingin kalau dia masih ingin berlama-lama menatap pintu berwarna abu-abu gelap tersebut.
Tangannya sudah mengepal sejajar dengan kepalanya, siap mengetuk, namun kembali dia pikirkan.
Sebelum kembali mengetuk, Berlian memukul kepalanya untuk menyadarkan. "Sadar Berlian, lo gak perlu pikirkan soal semalam."
Tok.. Tok...
Tidak ada jawaban dari dalam hingga membuatnya berinisiatif langsung masuk saja. Ada kemungkinan laki-laki itu belum bangun karena masih pusing akibat mabuk semalam. Saat di dalam, terlihat kasur Aryan sudah rapi dan lampu sudah menyala. Berarti, laki-laki itu sudah bangun. Lalu dimana?
"Ar....." Panggilnya lirih, "Aryaaaannnnn???!!!" Berlian sedikit menaikan intonasi suaranya. "Gue masuukk,,," tidak ada jawaban.
"Berlian......"
"Iya," Berlian melihat ke sumber suara dan.. "Aryaannnn" Secepat kilat berbalik. "Gila ya lo, mau mati apa? bego banget jadi cowok, kalau......."
Dia lupa sedang di kamar siapa? tentu saja Aryan akan melakukan apa saja karena ini sedang di kamarnya sendiri, kenapa juga Berlian harus melihat Aryan dalam keadaan hanya mengenakan handuk dan Berlian sempat melihat roti sobek Aryan sebelum mengalihkan pandangannya. Waah, sepertinya ini menjadi sarapan terbaik Berlian.
"Iya maaf, aku pakai baju dulu...."
"Gak usah,"
"Hahh" Aryan sedikit skeptis dengan ketidak bolehan Berlian.
"Ehh maksudnya. Gue keluar, cuma mau ngasih teh jahe ini aja kok. Kata bu Nuri buat penghilang pengar." Ucapnya, masih memunggungi Aryan.
"Oh iya, letakkan di atas nakas," Berlian berjalan ke kiri dan tetap memunggungi Aryan. Setelah menaruh teh jahe di atas nakas, Berlian kembali menuju pintu dengan berjalan ke kanan dan tetap memunggungi Aryan.
Saat tangannya sampai meraih handle pintu, Berlian bergegas keluar dan menutup pintu dengan cepat. Aryan yang menyaksikan itu, malah tertawa tanpa adanya rasa bersalah.
...☘️☘️...
__ADS_1
ARYAN TARA MAHESVARA