
Tampaknya cuaca pagi ini bisa di bilang bersahabat. Sangat cerah, Berlian menghirup udara segar yang jarang sekali ia temui di ibu Kota. Berlian melirik Aryan yang duduk fokus di belakang kemudi, kali ini ia berniat membawa Aryan menuju cafenya.
"Disitu tuh, kayaknya kosong tuh..." di barisan jejeran mobil yang terparkir Berlian menunjuk temoat kosong untuk memarkirkan mobil miliknya sendiri, karena cafenya terletak di tengah-tengah antara gedung Bank dan Distro khusus pria membuat mereka harus mencari tempat parkir yang tidak terlalu jauh dari cafe.
Mereka berdua sama-sama keluar mobil dan berjalan beriringan menuju Cafe. "Kenapa jauh banget parkir mobilnya?"
"Gak terlalu jauh kok, halaman cafe itu kecil banget, kurang cukup untuk parkir mobil. Gue buat untuk tempat parkir kendaraan roda dua aja, banyak juga kok yang parkir, lagian ada penjaganya juga jadi gak khawatir hilang." Menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum menyebrang, "jalan kaki sedikit doang kok, sekali-lagi olahraga kan?"
"Bukan mobil yang khawatirkan, tapi kamu."
"Kok gue?" menoleh saat Aryan mendorong punggungnya untuk melangkah menyusuri zebra cross.
"Memangnya kamu enggak capek harus jalan kaki setiap berangkat ke Cafe?"
Berlian tersenyum, "ya ampun Aryan, aku kan pakai sneakers dan itu nyaman banget."
"Kamu lagi gak promosi, Berlian."
"Emang gak lagi promosi kok, nah itu cafe gue," Aryan menatap gedung yang berdiri kokoh di hadapannya, Cafe bernuansa warna cokelat dan hitam.
"Jelas banget kalo ini punya kamu."
"Hah, kok lo ngomong gitu?"
"Warna kesukaan kamu," Berlian menatap Aryan, laki-laki itu masih menatap gedung cafe miliknya.
"Lo tau dari mana, warna favorite gue?" Tatapan Aryan beralih menatap perempuan yang masih setia menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Um.. Charlote,"
"Huh, sejauh mana sih kalian ngobrol. Sampai warna favorite gue pun lo tau,"
"Berlian kita gak masuk?" Takut kalau Berlian bertanya lebih jauh, Aryan semakin tidak tahu harus menjawab bagaimana.
"Ohh iya lupa..."
********
Triing.....
Aryan menatap terkejut melihat laki-laki berwajah tampan tapi terlihat songong berlari kencang menuruni tangga menghampirinya dan memeluk Berlian erat. "Akhirnya lo datang juga baby, gila yah gue seneng banget pagi ini." Merangkul bahu Berlian untuk membawanya menaiki lantai atas, namun berhentinya langkah Berlian membuat Angga menatap heran, "kenapa berhenti?"
Berlian tidak menjawab.
Angga melihat ke arah belakang, rangkulannya mengendur saat matanya menatap tangan laki-laki yang sedang menggenggam tangan Berlian, erat. Hal itu tentu saja membuat Angga berbalik menatap penuh laki-laki tersebut, "siapa ya? kenapa pegang-pegang tangan Berlian." Tidak mendapat jawaban, Angga bergerak melepaskan genggaman itu namun tidak bisa, "lepas gue bilang,,,,"
Berlian ikut berbalik dan menatap keduanya, tangannya mulai terasa sakit saat Angga berusaha keras melepaskan kuatnya genggaman tangan Aryan.
"Sakit,,,,," rengekan Berlian mampu melepaskan genggaman tangan Aryan.
"Berani-beraninya lo nyakitin Berlian gue.."
"Berlian guee???" Aryan mengulangi ucapan Angga. "Berlian gue???" menatap Berlian,
Berlian mendorong bahu Angga untuk menjauh, "Angga, dia......"
"Siapa lo????" Angga kembali mengulangi pertanyaannya.
Tatapan Aryan membuat Angga kesal, "tunangan Berlian," namun jawaban Aryan membuat tatapan kesal itu berubah ceria.
"Apaa?? tu-nangan Berlian, maksudnya lo ini Aryan?" Aryan melotot kaget ketika laki-laki tidak di kenal seenaknya memukul bahu Berlian hingga terguncang, "kenapa gak bilang kalau lo mau bawa dia Bee,"
Berlian mengelus bahunya, "sakit bego."
"Gue Angga," mereka bersalaman, "sahabat Berlian, selama Berlian libur, gue yang urus ini cafe, kami buka bisnis bersama."
"Oh, halo.."
"Woy gaiss, kakak ipar datang nih," Salsa yang sedang melayani tamu, Jenar yang sedang berada di kasir, dan Dito yang berada di balik bar mini sama-sama melihat ke arah mereka bertiga. Terlihat Angga merangkul Aryan yang tampak masih kebingungan.
Jenar, Dito, dan Salsa langsung berlari mendekat penasaran dengan sosok Aryan.
"Apaaa boss?" Dito bertanya ulang.
"Kakak ipar nih, baik-baik kalian sama dia," Jenar, Dito dan Salsa bergantian bersalaman dengan Aryan.
__ADS_1
"Wah asli ternyata," ucap Dito.
"Emang menurut lo dia palsu." Jawab Berlian.
"Kita kira, foto lo tunangan editan doang," ucap Jenar asal.
"Enak aja, gue nerimanya penuh pertimbangan tauk!!" Aryan tersenyum.
"Ahh senyumnya manis banget," ucap Jenar kagum.
"Jenar, jaga mata."
"Yaah, gue kapan jadi nomer satunya kalau di sekeliling gue ganteng semua. MasyaAllah"
"Disekeliling lo ganteng semua, siapa maksud lo?" Berlian menatap Dito.
"Si bos, kan cakep tuh"
"Tengkyu dude. Gaji lo gue naikin 100 ribu rupiah,"
"Boss ganteng," ucap Jenar, jiwa iri dengki melihat Dito naik gaji dengan mudah.
"Engga adaa!!!" Menepis tangan Jenar yang hampir meraihnya.
"Angga ganteng? Halu lo,"
"Tega banget lo Bee?" Berlian hanya melengos menatap wajah pura-pura memelas.
"Ternyata asli lebih ganteng ya?" Berlian menepuk tangan Salsa yang hampir mencoba menyentuh pipi Aryan.
"Enak aja, jangan sentuh-sentuh, punya gue," bahkan kalimat ceplos Berlian mampu membuat semuanya terbelalak kaget, perempuan itu belum menyadari ucapannya, dia langsung menarik tangan Aryan san membawanya masuk ke dalam ruang kerjanya.
Melihat itu Angga tersenyum kecil, semoga satu per satu doanya terkabul tentang kembalinya kebahagiaan Berlian,
********
Setelah di perintah oleh Berlian untuk duduk di sebuah sofa panjang, matanya berkeliar meneliti ruangan kerja Berlian. Tidak hanya di luar saja yang tersusun buku dalam jumlah banyak, namun di dalam ruangan Berlian juga sangat banyak buku yang berjejer dengan urutan warna yang membuat mereka terlihat menarik. Mungkin itu kenapa cafe ini di beri nama 'Cafe Book'.
"Tunggu sini, gue mau nemui Angga, tadi dia kayaknya ada yang mau di omongi penting." Aryan mengangguk melihat kepergian Berlian, namun tiba-tiba saja dia berbalik dan menunjuknya dengan menggunakan notebook. "Jangan pergi kemana-mana, lo bisa habis deket-deket sama mereka,"
Aryan mengangguk tersenyum.
Namun, tatapannya terhenti pada sebuah foto berbingkai kayu yang cukup besar terpampang jelas di dinding belakang meja kerja Berlian.
Sebuah foto Berlian dan seluruh anggota di Cafe termasuk Angga. Seperti sebuah foto keluarga.
Saat asik menatap foto itu. Pintu terketuk, Aryan melihat seorang perempuan membawa minuman kopi dingin menaruh diatas meja, Aryan ingat dia adalah Jenar, pegawai terlama Berlian.
"Mas Aryan, ini di minum dulu, Berlian sama Angga bakal lama. Soalnya meeting penting."
********
"Aryan" Berlian menggoyangkan bahu Aryan yang tertidur dimeja kerjanya. "Sorry lama, Yuk makan siang" Aryan melihat kearah jam ditangannya, terkejut karena sudah jam 12 siang. Apa dirinya tidur sangat lama.
Setelah menunggu para pegawainya membereskan pekerjaan mereka dan menutup pintu Cafe, Berlian membawa mereka menuju rumah makan, untuk mengisi perut yang kosong.
"Akhirnya, kita ketemu juga sama tunangan Berlian" Angga menyodorkan gelas keatas. "Cherss" Berlian tertawa melihat Angga berlagak seperti sedang memegang minuman bir padahal saat ini mereka sedang berada dalam rumah makan padang didepan Cafe yang ciri khas minumannya adalah es teh.
Tapi, mereka tetap menyambut gelas Angga yang melambung diatas. "Yeeyy, jadi kita libur dong boss?" Angga menatap Salsa yang bertanya polos.
"Kenapa libur??" Tanya Angga.
"Lah kan kita perlu ngadain pesta penyambutan Kakak ipar" Angga berdecak.
"Salsa, adik kecil ku. Kamu pasti sangat membutuhkan liburan ya?" Salsa mengangguk. Sebagai pegawai termuda Salsa memang anak yang baru merasakan bekerja setelah lulus sekolah menengah atas.
"Besok malam kita pesta, dan besoknya baru kita libur" Jenar dan Dito bertepuk tangan bahagia.
"Jadi paginya tetep kerja bos??" Angga mengelus kepala Salsa.
"Kamu pilih deh, Mau kerja-pesta-libur sehari atau libur-pesta-kerja-kerja" Jenar menyikut lengan Salsa.
"Sa kamu nurut aja, ini bos bener nih" Salsa langsung tersenyum dan menatap Angga bangga. Salsa hanya cengengesan karena memang anaknya yang polos.
"Pokoknya besok kita puasin malam buat berpesta. Wohooooo" Mereka tertawa bersama. Berlian melihat Aryan yang terus menatap layar ponselnya yang hidup.
__ADS_1
"Permisi sebentar ya, saya mau angkat telepon" Angga menatap Berlian didepannya. Berlian melihat Aryan yang tampak berbicara serius dengan seseorang ditelepon.
********
"Kalian jadi mau pergi malam ini?" Pertanyaan itu Basagita lontarkan kepada Berlian dan Aryan yang sudah bersiap-siap.
"Iya mi, Angga mau ngadain party katanya," Basagita menjawab dengan manggut-manggut. Aryan langsung berpamitan kepada Basagita yang duduk di depan TV.
"Tante, maaf sepertinya ada kemungkinan kami akan menginap,"
"Ohh Oke aman. Have fun ya buat kalian berdua, hati-hati di jalan sayang." Basagita melambaikan tangan kepada Aryan dan Berlian sembari ikut berjalan keluar mengantarkan.
Aryan melihat kearah Berlian yang sedang menyisir rambutnya dengan jari-jari sambil memandangi kaca tengah mobil.
"Berlian, kamu gak mau ganti baju dulu?" Membuat Berlian melihat bajunya. Deanna Off Shoulder Crop Top berwarna hitam. Pakaian ini sedang trend di gunakan artis dan selebgram, dengan celana jeans hitam dan sepatu putih.
"Kenapa?" Berlian merasa pakaian yang dirinya kenakan baik-baik saja.
"Itu terlalu terbuka," Berlian menunjukan jaket denim yang di duduki.
"Aman, gue bawa jaket kok," Aryan hanya menggeleng, ia sangat tidak menyukai Berlian menggunakan pakaian yang memperlihatkan perutnya. Itu sungguh menggoda bagi kaum pria disana, terutama Aryan sendiri.
Aryan mengarahkan kemudi mobil mengikuti location yang di berikan oleh Angga.
********
Berlian merasa bahagia malam ini. Sebelum masuk, Aryan langsung membantu Berlian memakai jaketnya.
"Ribet lo," Aryan tersenyum.
"Pasti disana bakal ramai."
"Lah urusannya sama gue?"
"Gak ada sih,"
Salah satu penjaga pintu bergerak mendekati Berlian dan Aryan, "Tuan Aryan dan nona Berlian??" Tanyanya.
"Ya," jawab mereka bersamaan. Lalu penjaga itu membukakan pintu dan mengarahkan keduanya menuju Angga yang tengah asik berbincang dengan para gadis yang menggelayut manja kepada laki-laki itu. Yah, walaupun otak Angga sedikit miring, tapi wajah tampannya dapat menutupi itu. Membuat beberapa perempuan mau tidur dengannya, itulah yang membuat Berlian membenci sahabatnya ini. Angga melambaikan tangan kearah Berlian dan Aryan, lalu bangkit dan menghampiri mereka berdua.
"Mereka lagi pada joget tuh," Angga menunjuk Salsa, Jenar, dan Dito diteras dansa. "Bee sini," Berlian bergerak mendekatkan diri kedekat Angga.
"Apaa?"
"Si Salsa cakep juga pake baju sexy gitu,"
"Kampret, gue kira apaan," Menatap gadis lugu yang sepertinya sudah mabuk berat. Gadis itu memang terlihat menggemaskan sejak awal memperkenalkan diri untuk bekerja dengannya.
"Jangan macem-macem deh."
"Kagaklah," Berlian menggeleng, pasalnya Salsa itu sangat polos anaknya. Tidak tega kalau model laki-laki semacam Angga mendekatinya.
"Hai, dude. How are you?" Aryan membalas tosan Angga.
"Fine, Bilang aja kalau mau ke club, ngapain pake acara bilang bikin pesta segala " Angga tertawa mendengar protesan dari Aryan.
"Sorry bohong dikit, kalau enggak gini. Berlian bakal dekem di rumah terus. Ohiya gue lupa," Berlian mengalihkan pandangan ke arah Aryan. "Gue punya tamu special buat kalian, Yuk ikut gue " Aryan menarik Berlian dan mengikuti Angga yang terus menggoda pelayan sexy di club. Angga menujuk sepasang kekasih yang sedang bercumbu disofa panjang.
"Sorry, tuan dan nyonya tolong berhenti sebentar tamu utama sudah datang." Sepasang itu langsung melepas cumbuan dan menatap Berlian yang terkejut.
"Kiaa, Rezaa,,,"
Zaskia langsung berlari memeluk Berlian erat. "Berlian gue kangennn."
Berlian mengangguk. "Gue juga," Zaskia mengajak Berlian duduk di samping Zaskia dan Reza, sedangkan Aryan memilih duduk di sebrang Berlian.
"Guys, nikmati ini. Gue yang bayar, dan gue mau kesana bentar," pamit Angga yang berjalan sambil melambaikan tangan.
"Kia semalem kita baru teleponan loh, kok kalian udah sampek sini aja?"
"Iya, tiba-tiba dapet telepon dari Angga. Katanya mau ngadain acara buat kalian, makanya gue langsung cuss kesini," Berlian sangat senang memiliki teman baru semacam Zaskia. Anak yang sangat humble dan mudah mengerti situasi Berlian.
"Lo kenal sama Angga?"
"Enggak sih, tapi Reza pernah satu grup game gitu. Mereka kenalan disitu terus banyak cerita, entah deh kayak jodoh gitu, ternyata dia sahabat lo Bee,"
__ADS_1
Berlian tersenyum dan mengangguk mengerti. "Nih minum," Zaskia menyodorkan minuman kepada Berlian.
...☘️☘️...