
Tidak semua hal harus sesuai sama keinginan kamu.
Kutipan itu yang pernah Aryan baca dibuku, dan ia terapkan sekarang, Aryan tidak ingin egois lagi menginginkan Berlian menjadi miliknya seutuhnya.
Aryan harus membuang keinginannya agar Berlian melihat kearahnya. Aryan masih menatap Berlian dengan serius, kenapa ia harus bertindak bodoh menyakiti Berlian karena tidak bisa mendapatkannya? Seharusnya ia lebih bisa bersikap bijaksana dalam menjalin hubungan ini.
Pandangannya turun kebawah, wanita itu sudah menghabiskan semangkuk bubur buatan Bu Nuri, mungkin dia memang benar-benar kelaparan.
"Kenapa musti ditahan kalau emang laper?" mengambil alih mangkuk dipangkuan Berlian.
"Tadi emang gak laper kok."
"Sini," meminta sendok yang masih dijilat oleh Berlian karena tersisa bekas bubur. Berlian menyodorkan kepada Aryan.
Aryan menaruh mangkuk kembali keatas nampan dan ia pindahkan keatas nakas, Aryan merapikan selimut.
"Istirahat, kamu kelihatan kurang tidur."
Aryan menoleh kebelakang, ujung kaos oblongnya ditarik oleh Berlian. "Maaf," Berlian menunduk. "Maaf soal semalem."
Aryan menghela nafas, ia taruh kembali nampan diatas nakas.
"Udah ya, kan kamu sendiri yang bilang kalau kamu mau anggep malam itu gak ada." mengelus puncak kepala Berlian.
"Jangan pernah ngomong sama aku kayak gitu lagi," meremas ujuk kaos Aryan. "Aku gak suka, itu terdengar kasar."
Aryan mengangguk. "Iya, Janji dan maaf."
Berlian mendongak. "Aku maafin," Berlian melebarkan tangannya, membuat Aryan bergerak memeluk Berlian.
"Ini terakhir Berlian, jangan buat aku ngerasa kamu kasih harapan palsu," melepaskan pelukan dan membawa nampan keluar kamar.
Udayana dan Bu Nuri masih setia menunggu didepan. Melihat Aryan keluar kamar, Udayana menghampiri.
"Dimakan sama Berlian?" pura-pura tidak tahu itu lebih baik.
"Kenapa Mama tanya? kan Mama lihat sendiri Berlian makan buburnya," Udayana terdiam, ia tertangkap basah habis mengintip. Aryan menyerahkan nampan kepada Bu Nuri, lalu ia naik menuju kamarnya.
Aryan merebahkan diri, menutup mata sejenak menggunakan punggung tangannya. Melupakan kejadian itu ya? sejujurnya Aryan tidak bisa. Tapi lagi-lagi ia harus menomor duakan keegoisannya. Aryan menghela nafas panjang. "Farrel, beban yang lo kasih terlalu berat buat gue."
"Berlian bukan beban yang gue titipin sama lo, dude," Aryan membuka mata.
Shit,
"Menurut gue, Berlian itu impian. Gue selalu bermimpi bisa dapetin Berlian, gue selalu bermimpi bisa bantu Berlian keluar dari masalahnya." Aryan bangkit dari sekedar tidurannya.
Shit,
"Dan ternyata impian gue itu bukan Berlian, tapi lo. Seharusnya dari dulu gue cari lo aja, lo itu ibarat pemicu kebahagiaan Berlian."
"Stop." Aryan memejamkan matanya dan memijit pelipisnya. Sudah beberapa kali ia melihat bayangan itu, Farrel.
Aryan sudah mengatakan pada Berlian soal ketidak perduliannya saat berhalusinasi tentang Farrel. Namun sekarang apa?
__ADS_1
Apa dia juga sedang berhalusinasi sekarang?
Aryan menoleh melihat kearah kursi kerjanya, pria itu membuat kursinya berputar. Lalu berhenti dan menatap Aryan dengan wajah manisnya.
"Kenapa?" tanyanya.
Aryan menunduk, lalu mengusap wajahnya. Saat membuka mata-"Astaga," Aryan terlonjak kebelakang, karena terlalu kaget melihat sosok yang tadi duduk dikursi kerjanya kini berpindah berjongkok dihadapannya.
"Kenapa gue tanya?"
Aryan menutup telinga menggunakan kedua tangannya. "Pergi."
"Gak, enak aja. Lo harus dikasih pelajaran karena udah ngebiarin Berlian tergeletak dilantai rooftop kehujanan sampai demam tinggi." Aryan bangkit mengambil handuknya, sepertinya ia harus mandi untuk menenangkan pikiran.
"Hey, berhenti menghindar. Gue mau kasih pelajaran sama lo."
Setelah melepaskan seluruh pakaiannya Aryan menghidupkan Shower.
"Bro, lo pasti denger suara gue kan."
Aryan menunduk, matanya melihat derasnya air shower mengalir.
"Gue bisa masuk tanpa minta izin sama lo." Aryan diam. Ini sudah lama, kenapa bayangan itu muncul lagi.
Aryan mengira bayangan itu hanya sekelebat bayangan yang hadir dimimpi. Tapi kenapa sekarang muncul lagi, bahkan kali ini mereka berinteraksi.
"Bro, gue masuk ya. Kita harus bicarakan ini." Aryan menutup kedua telinganya lagi, tolong jangan ganggu.
Aryan keluar dari kamar mandi dan melihat sekeliling kamarnya. Bayangan pria itu tidak ada lagi. Aryan langsung berjalan menuju kasurnya dan merebahkan diri.
*******
"Berlian udah sehatan?" melihat Berlian duduk didapur memperhatikan Bu Nuri memasak kue.
"Sudah Tante." Udayana tersenyum bahagia.
"Syukurlah," mengelus puncak kepala Berlian. "Berlian lihatin aja ya, jangan bantu-bantu kan belum pulih total."
Berlian mengangguk. Berlebihan sekali calon mertuanya ini.
"Eh Aryan. Mau kemana kamu? kan weekend, mau keluar?" Aryan menoleh dan menghampiri dapur. Mengelus puncak kepala Berlian sebentar lalu berjalan kearah lemari es menghampir sebotol minuman dingin.
"Aryan ada janji Ma."
"Janji. Sama siapa?"
"Temen, Aryan pergi dulu." melambaikan tangan kearah Berlian lalu berjalan cepat.
"Hei, Aryaaan. Dasar anak ganteng itu, temen yang mana coba?" Berlian tersenyum mendengar makian sekaligus pujian dari Udayana.
********
__ADS_1
"Betul Pak, sebagai seseorang yang sangat digantungkan oleh istri Bapak, Cobalah untuk membantu istri Bapak berdamai dengan kejadian traumatis yang dialami oleh istri Bapak."
"Iya Bu, saya akan coba bantu."
"Untuk Ibu, coba pikirkan bahwa Ibu harus bisa menghadapi dan melawan rasa takut itu untuk bisa mengembalikan kualitas hidup Ibu sendiri." wanita paruh baya itu mengangguk.
"Bu, terimakasih. Saya akan tetap berada disamping istri saya sebisa mungkin." Dokter cantik itu tersenyum ramah. Lalu mengantar sepasang suami istri paruh baya sampai didepan pintu ruangannya.
"Dokter Raisa," merasa namanya terpanggil, ia menoleh.
"Hai Jen, Ada apa?"
"Aku membawa pasien untukmu." menunjuk pria dibelakangnya dengan bahunya.
"Aryan."
"Kalian saling mengenal?"
"Kami berteman sewaktu SMA," Aryan meringis karena mendapat pukulan dari Jen. "Sakit Jen."
"Kalau kenal, kenapa musti minta aku yang anterin kamu kedia sih. Bikin sebel." Aryan memang menjengkelkan, menganggu pekerjaannya saja.
Raisa dan Aryan sama-sama tertawa. "Maaf Jen, aku cuma memastikan kalau Raisa benar-benar sudah pulang ke Indonesia atau belum. Lagian aku malas mengantri. Aku sudah telefon kamu Sa, tapi gak aktif."
"Aku baru sampai seminggu yang lalu, Ar. Ponsel ku rusak, nanti aku kasih nomerku yang baru," mengajak Aryan masuk. "Tunggu Dokter Jen, kenapa kamu ikut masuk? kamu tidak ada pasien?"
"Tidak ada. Aku penasaran kenapa Aryan hanya mau menemuimu saja, padahal aku sudah merekomendasikan Dokter psikolog yang lain di Rumah Sakit ini." menatap keduanya bergantian, Jen curiga.
"Karena aku menyimpan rahasia besar milik Aryan," Aryan tertawa. "Benarkan Aryan?" Aryan mengangguk lalu beberapa menit kemudian ia tertawa lagi.
"Aku mau masuk." pinta Jen.
Aryan merebahkan diri disofa panjang, dan Jen duduk disofa lainnya. Menatap Dokter Raisa dan Aryan bergantian.
"Bagaimana kabarmu Aryan?"
"Aku baik,"
"Rahasia apa yang kamu tahu Sa," Raisa menjulurkan lidahnya. "Hey, aku akan mencari tahu." Aryan dan Raisa tertawa lagi.
"Kamu sudah menemukan wanita itu?"
"Wanita itu? siapa?" Jen tidak ditanggapi.
"Sudah, sekarang kami sudah bertunangan," Raisa mengangguk.
"Itu bagus."
Jen mendekat. "Ooh, namanya Berlian, sangat cantik orangnya, aku pernah bertemu dua kali."
"Aku tahu," Raisa menjulurkan lidahnya lagi. "Aku sudah pernah melihatnya sebelum kamu tahu dia."
"Sok hebat." Jen menanggapi ketus.
__ADS_1
Aryan menggeleng pelan, selalu saja mereka berdebat setiap kali bertemu. Mereka berdua ini kakak adik yang tidak akur dan selalu beradu mulut jika bertemu, tapi selalu terlihat bersama dan terkadang kompak dimanapun tempatnya.
Jangan lupa Like, Love sama *coment***nya ya guys**.....