Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (99)


__ADS_3

Aryan membuka mata, mengucek dengan pelan dan ia pasang telinga tajam-tajam. Aryan mendengar piano yang ia biarkan terpajang dibawah tangga telah berbunyi.


Tepukan tangan heboh terdengar. "Kak Berlian udah mahir main pianonya." Berlian tersenyum dan melihat kearah Gena.


"Waktu di Kanada, karena gak ada kesibukan. Daddy manggil salah satu pianis untuk ajarin Kakak," Gena tersenyum girang. Berlian menatap kearah Abraham dan Udayana yang duduk disofa menatap kearahnya. "Ada satu lagu yang buat Berlian selalu nyaman. Om pasti tahu."


"Oh ya? coba mainkan."


Berlian berbalik lagi menghadap piano, jarinya mulai ia gerakkan sesuai alunan yang ia inginkan. (Mohabbatein - theme tune) terdengar Abraham tertawa, tapi itu tidak membuat Berlian menghentikan permainannya.


Berlian mendongak, Aryan berjalan pelan menuruni anak tangga. Berlian tersenyum sekilas saat melihat pria itu.


"Waaahh....." Abraham bertepuk tangan keras. "Kamu tahu lagu itu Berlian? Om jadi heran sebetulnya kamu ini keturunan Jerman atau India sih?"


Berlian tersenyum. "Berlian dikasih tahu sama tunangan Berlian Om. Dia itu jago banget piano loh Om."


Tentu saja, ucapan Berlian membuat ketiganya saling pandang. Ah benar, Berlian sedang berakting menjadi orang lain disini.


"Haha, tunanganmu adalah pria yang manis Berlian." Abraham mendongak melihat kearah Aryan. "Hey pria es, ayo turun dan dengarkan Berlian memainkan piano. Dulu sewaktu dia bertunangan, dia sempat menyanyikan sebuah lagu."


"Paa... " Udayana mengikut suaminya, bisa saja Abraham tidak terkontrol.


"Engga, Aryan mau ambil susu hangat."


"Biar Bu Nur yang mengantarkan nanti sayang. Mama yang akan memberitahu Bu Nur." Aryan mengangguk dan kembali naik keatas.


"Aryan gak pernah keluar Tante?" Udayana menggeleng.


"Mau kemana juga, lebih baik dia dirumah. Pergi keluar akan membuatnya ketakutan karena tidak mengingat apapun."

__ADS_1


"Sudah, ayo sayang kita berangkat." memanggil Gena dan mengajaknya untuk segera berangkat kekampus.


"Semangat Gena, jangan lupa untuk memberitahu Bimo ya?" Gena mengangguk sembari mencium kening Udayana dan berjalan mengikuti Abraham.


"Kamu mau ikut Tante, mau ke salon." Udayana menawarkan.


"Berlian dirumah aja Tante."


Udayana berdiri dan bersandar pada piano. "Tante gak nyangka, kamu masih pakai cincin itu."


Berlian melihat jarinya yang masih bertengger pada tuts piano, mengelus cincin dijari manisnya. "Pas diKanada, Berlian sibuk tidur mana sempet buka cincinnya, pas waktu itu pergi sambil emosi juga gak kepikiran mau ngelempar kehadapan Aryan, kayak difilm-film."


Udayana tertawa mendengar ucapan Berlian. "Tante, maafin Berlian ya," meraih tangan Udayana. "Seharusnya Berlian gak pergi, mungkin hal ini gak akan terjadi sama Aryan."


"Ini semua bukan salah kamu kok sayang, Aryan sudah mendapat imbasnya karena gak jujur sama kamu dan Tante sudah mendapat imbasnya dengan melihat Aryan seperti ini, itu juga karena Tante gak bisa bersikap dewasa,"


Udayana mengelus pipi Berlian. "Ya sudah kamu dirumah saja," Udayana maju dan berbisik pelan ditelinga Berlian. "Ganggu Aryan lebih menyenangkan."


"Siap Tante." bergerak hormat.


********


Menatap layar ponselnya yang sudah mati, lalu ia hidupkan kembali dan memikirkan jawaban apa yang pas untuk ia balas. Aryan benar-benar dalam situasi yang tidak pas.


"Sandra ini siapa sih?" matanya menyipit tajam, melihat profil seorang wanita yang mengirim pesan kepadanya beberapa menit yang lalu.


Aryan sama sekali tidak mengenali wanita ini. Kenapa ia bisa menyimpan nomor wanita yang tidak ia kenal.


Sandra : "Pak, kapan sih bapak kembali bekerja. Saya pusing nih ngurusin semua tugas Bapak yang deadline."

__ADS_1


Tangan Aryan bergerak untuk membalas. "Bapak ndas mu, saya lebih pusing mikir kamu ini siapa?" tapi kemudian ia menghapus pesan yang akan ia kirim.


"Gak usah dibales aja lah."


Pintu terketuk membuat Aryan menoleh ke arah pintu, lalu ia bergerak dan membukanya. kalau Aryan sempat menghitung, sudah lebih dari lima kali ia menarik nafas panjang. Aryan lelah harus mengurusi ponselnya yang tiba-tiba terisi nomor wanita yang tidak dikenalnya. Lalu dirumahnya, ia kedatangan tamu wanita yang sangat-sangat mengganggu.


"Susu cokelat sama roti panggang selai cokelat dataang..." lagi-lagi Berlian nyelonong masuk tanpa permisi.


"Bisa gak, gak usah nyelonong masuk gitu aja. Kamar itu ruang privasi, gak sembarang orang bisa masuk seenaknya."


Berlian menaruh nampan diatas meja kecil dekat sofa panjang. "Aku bukan orang sembarangan kok."


"Bisa keluar sekarang? atau aku teriak."


Hal itu membuat Berlian tersenyum geli. "Teriak aja."


Masih menatap Berlian dengan sinis. "Maaaaaa," tidak ada jawaban, Aryan kembali berteriak kencang. "Mamaaaaaa....."


"Tante Yana pergi kesalon, Om kekantor, Gena kekampus, Bu Nuri sama Pak Hendra lagi belanja perlengkapan dapur. Yang lain ada ditaman belakang, gak tahu lagi ngapain? Gak mau teriakin satu-satu?" Aryan mendengus kesal. "Hobi banget sih, gelap-gelapan. Sinar matahari pagi itu bagus tauk."


Berlian berjalan kearah tirai lebar yang menutupi pintu Balkon. Matanya menangkap sebuah vas bunga kecil. "Waah, ini bunga baru apa yang dulu tumbuh subur lagi?" Berlian menggigit bibir bawahnya, kelepasan.


"Dulu?? kamu tahu bunga itu?" Aryan maju mendekati Berlian. "Kenapa kamu tahu bunga itu? bunga itu gak pernah pindah dari kamar ini."


"Bukan aku aja, semua orang juga tahu karena bunga ini terpajang sama pinggiran balkon. Dari kolam juga kelihatan kok."


"Oh, yaudah sekarang keluar."


Berlian mendengus kesal. "Iya ini juga mau pergi, lagian nih ya, aku juga gak tertarik sama kamu. Nih," Berlian mengacungkan jari-jarinya dihadapan Aryan. "Aku udah punya tunangan, walaupun gak tahu dia sekarang dimana. yang jelas aku sama sekali gak tertarik sama kamu." mengelus cicinnya.

__ADS_1


"Udah ngomongnya? sana curhat disosmed atau ke acara reality show sekalian. Kali aja tunangan kamu lihat jangan disini, karena disini itu kamar pribadi." Berlian mendelik sinis menatap Aryan. Ucapannya benar-benar menusuk ya. "Keluar sana."


Berlian berjalan keluar dan menghentakkan kaki dengan keras, lalu membanting pintu dengan kasar. Bahkan saking kerasnya sampai membuat Aryan melotot melihat pintu yang sudah tertutup.


__ADS_2