Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (103)


__ADS_3

Sejujurnya, kakinya sudah sangat kaku untuk berjalan lebih jauh lagi. Tapi mengingat Aryan yang masih kuat berjalan, Berlian ikuti saja. Ia merasa tidak enak, karena hari ini adalah hari pertama Aryan keluar rumah.


Namun Aryan. Pria itu sama sekali tidak merasa lelah atau apapun. Langkahnya lebar membuat Berlian kewalahan untuk mengiringi.


"Mau pulang aja?" Aryan mengerutkan dahi. "Kamu kenapa?" menatap Berlian yang membungkuk.


Berlian mendongak, tapi tangannya tetap bertumpu pada kedua lututnya. "Capeeekkk." Putus asa menerjang.


Langkahnya mundur ketika Aryan tiba-tiba berjongkok dihadapannya dan membelakangi dirinya. "Kamu ngapain?"


Aryan menoleh kebelakang. "Gendong. Aku tahu, kamu dari tadi nahan buat terus jalan. Padahal aku gak ngerasa ngajak kamu pergi. Tapi karena aku pria yang baik, aku bermurah hati mau menggendongmu."


"Jadi, kamu gak ikhlas bawa aku pergi?"


Aryan berdiri. "Ehh, kenapa berdiri?"


"Lama. Kaki aku pegel."


"Jongkok lagi, aku udah mau naik tadi."


Hal itu membuat Aryan jongkok lagi dihadapan Berlian, dengan debaran dihati yang tidak bisa ia tahan, Berlian naik kepunggung Aryan dan memeluk leher pria itu kuat.


Aroma harum dari sampo Aryan terhirup, tanpa sadar tangannya mengelus rambut Aryan dengan lembut. Lalu ia peluk kembali dengan senyuman yang lebar tidak terkontrol.


"Gimana kalau kamu yang malah naksir aku duluan?" ucapnya sembari melangkah menuju eskalator. "Sikap kamu, kadang buat aku ngerasa risih."


Berlian memajukan kepalanya menatap Aryan, ia sandarkan kepalanya pada bahu Aryan dan menatap pria itu lekat. "Kalau aku udah naksir gimana?"


"Sadar hey.. Kamu harus cari tunangan kamu yang hilang." Langkahnya menuju parkiran dan membuka pintu mobil, mendudukkan Berlian dengan pelan.


Tapi ia tidak beranjak pergi. Karena Berlian memeluknya erat dari belakang. "Sepertinya, sebentar lagi dia akan kembali."


"Kamu yakin?" mengelus punggung tangan Berlian yang masih melingkar dilehernya. "Kalau gitu, lepas. Kita lanjut perjalanan."


"Ketaman dipusat kota, aku mau cari buku."


********


Ramai, seperti biasanya.


Aryan dan Berlian jalan beriringan, tanpa sepatah katapun yang terucap dari mulut masing-masing.


"Aku mau cari yang disana, kalau kamu bosen dan gak suka. Boleh pulang, aku bisa pulang sendiri nanti."


Berlian menoleh, tangannya digenggam. Erat. "Maaf, kalau ucapanku tadi malah bikin kamu gak enak hati. Tapi jangan diam, itu cukup mengganggu."


"Ar, bisa jangan buat bingung orang. Kamu selalu ngerasa aku ganggu, tapi kamu selalu cari aku. Kamu ngerasa aku bikin kamu risih, tapi kamu malah ngerasa keganggu dengan diamnya aku." Melepaskan tangan Aryan. "Padahal aku diem aja, karena aku mau kamu itu gak risih sama aku."

__ADS_1


Aryan menggaruk pelipisnya dan melangkah maju. "Bukan gitu...."


"Okay. Bisa kita saling biasa aja. Aku pergi cari buku, kalau mau nunggu bisa lakukan hal lain. Kalau gak mau, pulang aja. Aku akan pulang sendiri nanti." Berjalan jauh, menghindari Aryan.


Hanya sedikit kesal, seharusnya Aryan tidak bersikap seperti itu.


Aryan duduk termenung disebuah kursi. Matanya tertuju pada punggung kecil Berlian, wanita yang membuatnya frustasi semenjak bertemu. Aryan tidak terlalu suka wanita seperti Berlian, cerewet.


Tapi, semua yang ada pada Berlian. Aryan merasa menyukai wanita itu. Dari mata, hidung, bibir yang tipis, apalagi saat terus bergerak untuk sekedar bertanya dan cerita pada dirinya. Membuat Aryan lebih fokus pada titik itu.


Aryan menoleh, melihat sebuah food truck menjual burger. Sebaiknya ia membeli makanan saja untuk Berlian, yah sekedar untuk melepas kecanggungan yang dibuatnya sendiri.


Food truck ini yang cukup ramai dari truk lainnya. Penjualnya cukup tua namun tetap lihai dalam membolak-balikkan daging dan memotong roti lalu menata sayur-sayuran dengan waktu yang singkat. Setelah lama mengantri, tiba giliran Aryan.


"Pesan apa Mas? burger atau hot dog?" tanyanya sembari membersihkan sisa bahan untuk membuat burger tadi.


"Burger pak, satu."


"Isi daging atau sosis Mas?"


Aryan melihat kearah Berlian lagi, apa yang wanita itu suka? "Daging saja Pak. Sekalian minumannya dua ya?"


Selagi menunggu sang penjual membuatkan pesanannya, Aryan melihat sekeliling dan duduk dikursi yang disediakan, matanya menatap tempat duduk dihadapannya, sepasang anak remaja tengah duduk asik bercanda gurau.


Melihat keduanya saling menggenggam tangan. Aryan membulatkan matanya ketika anak laki-laki itu mencium punggung tangan anak perempuan dihadapannya. "Kamu itu berharga buat aku, dari siapapun." Aryan menahan tawanya, ia sempat menggeleng geli.


Ngingg.....


Ngingg....


Kepalanya mendengung lagi, sebuah ingatan kecil muncul. "Dari pada cerita romantis, gue lebih suka horror. "


"Beliin gue burger aja gih."


Sekali lagi, Aryan memukul kepalanya.


"Ini menyangkut masa depan dan lo yakin sama ucapan lo?" Aryan mengangguk yakin, setelah lama mereka saling diam, wanita dihadapannya mengacungkan jari kelingkinya. "Janji?" Aryan mengangguk, dan mereka berdua saling menautkan jari kelingking sebagai tanda perjanjian. "Oke. In my opinion, this will be better. Gue terima lo"


"Mas." Aryan tersentak hingga berdiri. "Ini, pesanannya sudah siap?"


Mengusap wajahnya dengan kasar. "Loh, Mas ini yang dulu itu kan?"


"Hah? gimana?"


"Dua tahun lalu, Mas juga beli di food truck saya. Bahkan Mas pergi tanpa mengambil kembaliannya, saya cari-cari loh." Ucapan pria paruh baya itu membuat Aryan mengerutkan dahinya.


"Saya gak ngerasa pernah beli disini?"

__ADS_1


Pria tua itu menepuk bahu Aryan. "Gak mungkin saya lupa sama wajah tampan Mas nya. Satu burger isi daging dan dua cup es teh. Dulu juga pesan itu."


Karena merasa tidak pernah melakukan hal itu, Aryan tersenyum saja dan tangan pria paruh baya itu mendorong tangan Aryan yang hendak menyerahkan selembar uang. "Tidak usah, berkat uang Mas yang dulu itu. Saya bisa belikan istri saya makan siang. Soalnya hari itu saya sama sekali belum dapat penglaris."


"Ee Pak, gakpapa terima aja."


"Duh, gak usah. Makasih ya sudah datang." Aryan membalas mengangguk ketika pria tua itu sudah masuk kedalam truknya karena sudah ada yang memanggil untuk memesan.


Tidak ia pikirkan lagi soal pria penjual burger itu, ia melangkahkan kakinya menuju wanita yang sudah memeluk beberapa tumpuk buku tebal dihadapan jajaran buku. "Aku....."


Berlian menoleh.


Ngingg......


"Aryan, kamu kenapa?" Aryan berlutut sembari menutup kedua telinganya, dengingan terus berbunyi keras menabrak gendang telinganya. Sakit, sangat sakit. "Aryaan-Aryaaann." Panggilnya beberapa kali.


"Sakit."


Wajah Berlian berubah panik. Aryan terus memukul kepalanya. "Aryaan, Heeii jangan pukul kepalamu."


Berlian langsung berlutut dihadapan Aryan, beberapa orang juga ikut panik melihat seorang pria yang baru datang tiba-tiba memekik kesakitan. Dengan gesit tangannya langsung meraih kedua telinga Aryan, mencegah Aryan untuk memukul kepalanya lebih keras. "Hentikan Aryaan."


"Lepasssss." tenaga pria itu lebih kuat, tepisannya membuat Berlian hampir terjengkang. Untung ada wanita dibelakang Berlian menahan.


"Anda tidak apa Nona?" tanyanya lembut.


Berlian menggeleng. "Tidak, terima kasih." ia berjongkok lagi dijadapan Aryan, dan memeluk tubuh pria itu. "Aku mohon Aryan, Please jangan sakiti diri kamu."


Mungkin satu-satunya obat kesadaran Aryan adalah dirinya. Pelukan kuat Berlian membuatnya berhenti memukuli kepalanya, dan melepaskan pelukan Berlian setelah merasa dengingan itu tidak lagi menyakitinya.


Berlian mendongak. Menatap beberapa pria yang mungkin bisa membantunya. "Tolong, bantu saya memapah dia kedalam mobil."


Beberapa pria membantu Aryan berjalan menuju mobil, sedangkan Berlian membawa beberapa buku yang sudah dibayarnya dan berlari lebih dulu menuju mobil. "Tolong pelan-pelan, jangan sampai kepalanya terbentur." Berlian memperingatkan orang-orang yang membantu Aryan masuk kedalam mobil.


Setelah melihat Aryan telah bersandar dan mulai memijat pelipisnya, Berlian berterima kasih kepada dua orang pria yang membantunya. "Terima kasih Mas, maaf merepotkan."


"Eh gak papa Mba, sama-sama." ikut mengangguk sopan, dan berjalan menjauh.


Berlian kembali menuju mobil, dengan pintu masih terbuka. "Kamu gak apa-apa? apa masih sakit? perlu kita ke Rumah Sakit? atau aku panggil Jen atau Dokter Raisa kesini aja?"


"Stop. Aku gak papa, bisa kita pulang. Maaf sepertinya kamu yang menyetir." Ucapnya sembari menutup mata untuk menenangkan pikirannya soal potongan ingatan yang muncul.


Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang lembut dan basah mengenai bibirnya. Matanya melebar ketika melihat Berlian sedang menciumnya, pintu belum tertutup. Tubuhnya membeku, tidak bisa marah, menolak, ataupun membalas.


Berlian melepaskan kecupan lama itu, bibirnya mengukir senyuman hangat menatapnya. Kepala kembali maju dan bibirnya kembali mengecup singkat.


"Kecupan ini untuk kesembuhanmu." ucapnya setelah kecupan yang kedua. "Ini untuk harapan agar kamu secepatnya ingat lagi." ucapnya setelah kecupan ketiga.

__ADS_1


Berlian keluar mobil dan menutup pintu, lalu berjalan memutari mobil untuk duduk dihadapan kemudi.


Kenapa Berlian melakukan itu, dan kenapa Aryan diam saja. Bahkan ia masih pada posisi terkejut oleh perlakuan Berlian barusan sampai Berlian menjalankan mesin mobil, keluar dari area taman.


__ADS_2