Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (70)


__ADS_3

Ting..... Tong.....


"Bi, tolong bukakan pintu. Ada tamu itu?" ucap Nyonya Mahaprana, tangannya masih sibuk membolak balik majalah kecantikan.


Ting..... Tong....


Suara bel kembali terdengar, kepala Disa sudah melongok kebelakang. Kenapa pelayannya belom ada yang keluar untuk membukakan pintu. Dengan sangat terpaksa ia mengambil sandal bulunya dan berjalan menuju pintu utama. Dilihatnya sebentar siapa tamu malamnya ini.


"Eeh Sayang, ada apa?" melihat Zivana berdiri dihadapannya, matanya masih terlihat sembap walau tertutupi oleh kacamata bulat.


"Maa, Evan ada?" tanyanya kepada Nyonya Mahaprana ini, Evan adalah panggilan keluarga untuk Devan Evano Mahaprana.


"Ada, masuk sayang. Dia ada dikamarnya, langsung naik aja" mengajak Zivana untuk masuk, dan langsung memerintahkan Zivana naik menuju kamar Devan.


Setelah melihat Zivana naik, ia kembali menghapiri sofa, meraih majalah kecantikannya lalu ia kembali melanjutkan membacanya yang sempat tertunda tadi. "Maaf Bu, saya tadi lagi blender jus ini. Jadi gak denger belnya bunyi" ucap Bi Muni sembari membawa segelas jus tomat untuk Disa.


Meraih gelas dan menghisap sedikit. "Gak masalah, itu Zee kok" Bi Muni izin untuk kembali kedapur.


"Siapa Ma, kelihatannya ada tamu?" Pak Mahaprana menghampiri sang istri,


"Menantumu" tanpa melihat suaminya duduk disebelahnya.


Zivana sudah tidak canggung lagi, masuk kedalam rumah Devan seenaknya. Sedari dulu hingga kini, ia selalu diterima dengan lapang dada oleh keluarga Mahaprana. Nyonya Mahaprana sangat menyukai Zivana sewaktu pertama bertemu, apalagi saat Devan mengatakan bahwa Zivana adalah kekasihnya. Wanita itu senang bukan main.


Disa selalu membawa Zivana kemanapun, saat ia kesalon, saat ia sedang ingin berbelanja, saat ia sedang kesepian dirumah. Nyonya besar itu selalu mengajak Zivana untuk menemani, Zivana tipe anak yang penurut dan lembut.


Anak yang pendiam dan tidak banyak bicara, ia begitu menyayangi Zivana. Namun setelah pertemuan tidak terduganya, pertemuan antara Disa, Zivana dan Udayana.


Perang dingin itu mulai tercipta, Perang yang membuat Disa dan Udayana tidak bisa akrab lagi, perang yang membuat mereka saling sindir saat bertemu disebuah acara.


Udayana mengatakan kalau Zivana meninggalkan Aryan karena saat itu keluarga Mahesvara sedang berada dibawah. Dan wanita itu menyumpahi keluarga Mahaprana, bahwa mereka akan merasakan ditinggalkan oleh Emas mereka saat mereka terjatuh.


Awalnya Disa menyangkal itu. Namun setelah ia menimang lagi. Dia benar-benar ingat, bahwa sebelum Devan mengatakan Zivana adalah kekasihnya, Zivana pernah sesekali dibawa oleh keluarga Mahesvara menghadiri pesta-pesta tertentu, hanya saja Disa tidak terlalu perhatian. Setelah mendengar dari mulut Devan sendiri, ia menantang putra Mahesvara untuk balapan dan hadiah kemenangannya adalah Zivana. Disa, mulai tidak bersimpati lagi pada Zivana.


Hanya karena Tuan Besar Mahaprana mengatakan, ia akan tetap memilih Zivana sebagai calon menantunya apapun yang terjadi. Disa, tidak berani berkutik setelah suaminya itu berucap demikian.


"Haah, kenapa lagi Zee" Devan menghampiri Zivana, wanita itu berdiri diambang pintu. Menatap Devan dengan mata sayu,


Devan memeluk Zivana. "Kenapa kamu? aku sudah bilangkan? Jangan campuri urusan Aryan dan Berlian, atau kamu akan sakit sendiri" Zivana maju sedikit memeluk tubuh Devan erat, tangan satunya menutup pintu kamar.


"Van" mengecup pipi Devan. "Rebut Berlian dari Aryan"


"Gak bisa, Aryan sudah berjanji akan melindungi Berlian" masih memeluk tubuh Zivana, merasakan kecupan wanita itu berulang-ulang.

__ADS_1


"Berlian tidak perlu perlindungan, wanita itu sudah ada yang melindungi. Papanya seorang pengusaha Hotel terkenal di Kanada, Papanya memerintahkan seorang pengawal untuk menjaganya. Huum, rebut Berlian?" ucapnya lagi, masih dengan mengecup pipi Devan.


"Gak bisa Zee, bukan perlindungan yang seperti itu maksudku" ia mengurunkan niatnya melepas pelukan itu, karena Zivana sudah menyesap bibirnya.


Zivana perlahan melepaskan ciuman itu. "Kamu bisa, kamu juga terlibat kan? Kamu punya hak untuk melindungi Berlian, Van" Devan tidak menjawab, ia melepaskan pelukan Zivana. Lalu ia berjalan menghampiri mejanya.


"Pulanglah, kamu butuh istirahat" Zivana melempar setumpuk foto dimeja Devan. Pria itu melirik, setumpuk foto Aryan dan Berlian sedang berpelukan mesra sembari berdansa. "Kamu terlalu berlebihan, jangan suruh siapapun untuk membuntuti mereka lagi Zee"


"Kamu gak lihat, mereka yang berlebihan? Berusaha seperti pasangan yang saling mencintai"


"Mereka memang saling mencintai, kamu saja yang tidak tahu" membuang setumpuk foto itu kedalam tong sampah didekat kakinya.


"Van!!" mengambil lagi foto yang sudah didalam tong sampah. "Aryan, cuma mau buat aku cemburu aja. Aku tahu pasti, dia masih mencintai aku" menatap Devan menahan air matanya.


"Ayolah Zee, apa yang kamu kejar dari Aryan? Pria itu sudah membuangmu sejak lama. Kamu tahu? Papa sudah mengatakan kita harus cepat menikah, tinggal menunggu persetujuanmu"


"Aryan tidak membuangku" sembari menggebrak meja. "Bilang, kalau kita tidak akan menikah"


"Tanpa kamu perintah, aku sudah lebih dulu bilang" melirik tajam.


"Itu bagus" ucapnya tanpa merasa bersalah. Walaupun tanpa saling mencintai. Setidaknya, hargai kebersamaan mereka kan? Tapi, sepertinya hanya Zivana yang tidak punya rasa menghargai itu.


"Aku juga tidak mau, menikah dengan perempuan yang selalu berusaha merebut kebahagiaan orang lain"


"Pulang, Zee. Aku sibuk" fokusnya hilang setelah Zivana menutup laptopnya dengan paksa. "Zee, astaga. Pengganggu"


"Berikan aku cara agar Aryan melepaskan Berlian, Dia tidak perlu bertanggung jawab sampai membawa-bawa hatinya"


"Dia sudah mencintai Berlian, sebelum pertemuan mereka"


"Bagaimana bisa seseorang mencintai hanya dengan menatap fotonya" Zivana tertawa remeh.


"Karena kamu belum pernah merasakan cinta" mulai membuka laptopnya kembali,


"Kasih aku cara" teriaknya..


"Cukup Zee, pulanglah. Kalau kamu lelah, tidurlah disini. Jangan isi otakmu dengan pikiran-pikiran yang salah"


"Aku akan memberi tahu Berlian tentang semuanya. Itu cara terbaik yang pernah ada diotakku" Devan menatap Zivana dengan tatapan serius. "Aku tidak bohong. Aku akan melakukan apa saja demi mendapatkan Aryan kembali"


"Cukup, pulanglah. Jangan lakukan apapun, kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan pria itu, jangan melawan kata-kataku Zee. kalau sampai membuatku jengah, aku akan menarik semua kehidupanmu" ancam Devan lagi, berusaha menghentikan perbuatan gila Zivana.


"Aku tidak perdu....." tiba-tiba Zivana tidak bisa bernafas, tangan menahan tangan Devan yang sudah mencekam lehernya.

__ADS_1


"Aku sudah bilang jangan melebihi batas, Zee" dengan tangan masih mencekam leher Zivana, tidak perduli walaupun wanita itu sudah menggebrak-gebrakkan pintu, tidak perduli walaupun wajah wanita itu sudah memerah karena tidak bisa nafas.


Tok.... Tok.... Tok....


"Evan, hentikan. Jangan sakiti Zee, buka Nak. Atau Papa akan dobrak pintu ini" Devan tidak mendengar apapun, ia tetap mencekik leher Zivana kuat-kuat. "Evaaan!!!! Buka tidak????"


Pintu terbuka, Zivana sudah terduduk dilantai, Tuan besar Mahaprana tidak akan melihat Zivana karena terhalang kaki Devan. "Evan tidak melukai menantu Papa, tenang saja. Jangan ganggu kami ya Pa, malam ini Zee tidur disini" Pak Mahaprana mengangguk menyetujui.


"Jangan berani menyelakai dia Van" menutup pintu kamar Devan dengan keras, membiarkan Zivana dan Devan berbicara sesuai akal sehat masing-masing.


********


Angga berjalan menaiki tangga dengan cepat, matanya terus berputar mengelilingi sudut ruangan.


"Berlian lagi dijakarta, padahal katanya dia lagi ditempat tunangannya" ucap Jenar ditengah-tengah obrolan mereka menjelang tutup Cafe.


"Tahu dari mana lo??" Jenar menyerahkan ponselnya. Terdapat foto Aryan dan Berlian tengah berdiri dengan beberapa orang.


"Katanya ada wanita yang tiba-tiba ngundang mereka gitu buat maju terus dansa. Aryan dan Berlian duluan malah yang maju, tiba-tiba ada sedikit cekcok gitu. Aryan yang nenangin" jelas Jenar.


Salsa melirik ponsel ditangan Angga, lalu meminjamnya sebentar. "Seorang pengusaha muda, Aryan Tara Mahesvara sedang melaksanakan makan romantis digedung tinggi bersama tunangannya yang cantik. Namun ditengah-tengah keromantisan mereka, seorang pria mendadak membuat sebuah keributan dan menghentikan acara. Namun, akibat keributan itu akhirnya kami menyadari bahwa Tuan Aryan berada diantara kami. Suatu keberuntungan bisa menghirup udara yang sama bersama Tuan Aryan. Tidak lupa kami mengucap syukur telah diberikan kesempatan untuk melihat tunangannya secara langsung. Waw Artikelnya gercep (gerak cepat) banget gila" menyerahkan ponselnya kepada Jenar, sang pemilik.


"Emang susah kalo udah jadi pusat perhatian" Dito menimpali dengan decak kagum.


"Jadi iri sama Berlian" dengan cepat Salsa sadar, karena mendapat pelototan dari Angga. "Eeh, gak iri deng sama Berlian"


"Yaudah, setelah tutup gue mau coba cari dia" meraih sapu yang digenggam oleh Salsa lalu ia serahkan kepada Jenar.


"Lah ngapain dicari Ngga? Berlian itu sama tunangannya bukan sama siapa-siapa, lo kayak bokap yang takut kehilangan anak perawannya tahu gak?? ini lagi, kenapa ni sapu dikasih ke gue" protes menatap sapu yang sudah ia pegang.


"Lo gak lihat? foto terakhir dia, kayak ada sesuatu yang terjadi gue gak bisa tinggal diam" membuat Jenar kembali melihat ponselnya, dalam beberapa detik ia manggut-manggut, ada benarnya?


"Enak jadi Berlian diperhatiin?"


"Kamu ikut aku Salsa"


"Dih" Dito terbatuk mendengar Angga berbicara manis kepada Salsa.


"Dih kamu kamu, lebay banget lo. Geli gue dengernya tahu gak!!" bahkan Jenar lebih dari sekedar terbatuk.


"Berisik lo." menatap Salsa sebentar. "Aku tunggu dimobil"


Jenar menghampiri Salsa. Lalu melirik Angga yang sudah terlihat keluar, bahkan Dito juga ikut menghampiri, sebelum Jenar mengeluarkan jurus QnA nya. Dito sudah lebih dulu bertanya.

__ADS_1


"Ada apa lo sama Angga, Tuh anak perhatian banget sama lo gue pikir-pikir" Salsa sendiri malah tersenyum malu-malu.


__ADS_2