Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (67)


__ADS_3

"Aduh sakit, pelan-pelan Gena" semakin menekuk wajahnya, meringis ketika Gena terlalu kasar menarik rambutnya. Sesekali jari-jarinya mengelus kepala bagian yang terasa sakit.


"Iya, tahan sebentar aja"


"Iya tapi pelan-pelan, nanti kalo rontok semua gimana?" menatap wajahnya dalam pantulan cermin, ia mulai memoles wajahnya lagi dengan make up.


Berlian jarang sekali terlihat memakai riasan wajah, karena menurutnya itu terlalu ribet dan itu juga bukan dia banget, ia hanya memakai riasan disaat-saat tertentu saja. Hadir pada sebuah acara atau seperti saat ini, Dinner bersama Aryan.


"Gena suka tahu, sama rambut Kakak. Gena pengen ganti warna kayak gini. Tapi gak dibolehin sama Ibu, padahal kata Mama gak apa-apa" meraih karet kecil untuk mengikat rambut Berlian, agar jalinannya tidak terlepas.


"Turutin aja, dari pada Gena nanti gak nyaman kan?"


"Hem iyaa" menatap jalinan rambut hasil karya tangannya sendiri. "Astaga, ini keren banget. Eeh bentar Kak" menahan bahu Berlian agar tidak bergerak. "Gena ambil foto dulu yaa?"


Cekrek...



"Gimana-gimana? Sama hasil karya tanganku?" menunjukkan foto jepretan diponselnya kepada Berlian sembari membanggakan keahlian jarinya.


"Ini gak berlebihan yaa? Gak mau ah"


"Ehh, jangan-jangan. Ini tuh bagus, udah sana ganti baju. Mas Aryan pasti udah nungguin Kakak tuh, jangan buat dia semakin lama nungguin Kakak" Berlian menatap dirinya dicermin sebentar, akhirnya ia memilih mengambil baju yang ia letakkan keatas kasur dan ia bawa kedalam ruang ganti baju.


Sembari menunggu Berlian bersiap-siap, Aryan mulai menggeser layar ipad ditangannya. Walaupun ia memilih untuk bersenang-senang bersama Berlian sekarang, ia tidak boleh lalai meninggalkan pekerjaannya kan?


Pintu kamar Berlian terbuka membuat Aryan menoleh. Berlian keluar dengan diikuti Gena dibelakangnya, sontak Aryan berdiri dan menatap langkah Berlian yang berjalan mendekat.


"Biasa aja dong lihatnya" Aryan tersenyum menanggapi cagilan dari Gena, ia berjalan mendekati Berlian dan berdiri disampingnya menyerahkan sikunya kehadapan Berlian.


"Haha Oke" Berlian melingkarkan tangannya pada lengan Aryan.


"Kami berangkat dulu ya, sayang" Gena mengangguk.


Gadis itu mengikuti Aryan dan Berlian sampai kedepan pelataran rumah, melihat keduanya masuk kedalam mobil. Gena melambaikan tangannya saat melihat mobil yang ditumpangi oleh Aryan dan Berlian keluar dari halaman rumah Mahesvara.


"Selamat bersenang-senang untuk kalian berdua, semoga kalian bisa saling terbuka ya setelah ini?" Gena berbicara sendiri sembari memandangi mobil yang sudah tidak terlihat, tangannya sendiri masih melambai diudara.


********


"Kita mau Dinner dimana sih? kenapa lo sama gue harus pakai pakaian rapi kayak gini?" menatap Aryan disebelahnya, pria itu semakin terlihat tampan memakai setelan jas berwarna senada dengan long dress miliknya.


Berlian heran, kenapa ia dan Aryan selalu memakai pakaian yang selalu senada, saat pesta pertunangan, saat pesta perkenalan, dan saat ini.


"Nanti kamu juga tahu" hanya itu jawaban dari rasa penasaran penuh Berlian.


"Lo gak bakal bawa gue keluar Negri kan cuma buat Dinner doang?" Aryan menatap Berlian.

__ADS_1


"Awalnya gitu sih?"


"Haha" Berlian tertawa.


"Tapi aku batalain, keluar negeri butuh waktu lama. Lagian beberapa jet pribadi temen-temen juga lagi pada gak nganggur, jadi aku gak bisa pinjem salah satu" Berlian tertawa kecil bahkan mungkin Aryan tidak mendengar itu.


Menjalankan sebuah Datting bersama Aryan harus semewah ini kah? Berlebihan sekali.


"Kenapa gak lo beli aja jet buat sendiri"


"Kamu mau?" Berlian menggeleng cepat.


"Gue cuma bercanda" menatap ngeri kearah Aryan, pria itu tidak akan serius kan?


Berlian celingak celinguk menatap keluar jendela, kenapa mereka masuk dalam kawasan bandara?


"Kenapa kita kesini?"


"Dinner"


"Gue gak terlalu suka makanan di Bandara"


"Siapa yang mau ngajak kamu makan disini?"


"Terus ini apa? lo bilang gak bisa buat keluar Negri?"


"Terus? kalo gak keluar Negri atau makan disini, ngapain ke Bandara?"


"Memangnya kita gak bisa terbang didalam Negri? Ayo keluar" ajak Aryan, ketika para petugas Bandara membukakan pintu mobil mereka berdua, Berlian sedikit terkejut ketika mereka keluar dan sudah dihadapan Jet pribadi.


Embraer Legacy 500 , pesawat berukuran sedang yang dirancang untuk mengoperasikan rute yang lebih pendek.


Aryan menggerakkan tangannya menyuruh Berlian untuk mendekat, tentu saja Berlian berjalan mendekat. Aryan menggenggam tangan Berlian hati-hati dan menyuruh Berlian untuk masuk terlebih dahulu, seorang pramugari memberi salam kepada Berlian dan Aryan yang masuk.


Mereka memilih untuk duduk berhadapan dibandingan duduk bersandingan,


"Selamat sore Nona dan Tuan?" Berlian tertawa melihat siapa yang datang menyambutnya dan membawa kereta kecil berisi minuman dan cake.


"Sandra?? kamu disini?" Sekertaris Aryan itu mengangguk dengan bangga.


"Saya dimana-mana kan Nona?" Berlian tersenyum menanggapi. Setelah mengetahui kedekatan yang terjalin antara Sandra dan Aryan hanya sebatas antara Bos dan Sekertaris yang sudah bekerja sama lama ini, Berlian tidak lagi Negative thinking kepada wanita dihadapannya.


Baru Sandra akan melemparkan pertanyaan, wanita itu urungkan. Karena melihat Aryan menatapnya datar.


"Maaf Tuan" Sandra meletakkan Hot Coffe dihadapan Aryan dan menaruh Hot green tea dihadapan Berlian. Lalu menaruh cake dihadapan keduanya.


"Silahkan nikmati perjalanan anda, Tuan dan Nona" Berlian melirik Aryan yang menyunggingkan senyumannya, pria itu menatap Sandra.

__ADS_1


"Jangan bersikap seperti seorang pramugari, Sandra"


"Asal Bapak tahu, sebelum saya memutuskan untuk menjadi sekertaris pribadi dari Tuan Mahesvara. Cita-cita terbesar saya adalah menjadi seorang pramugari" Aryan hanya menggeleng, heran melihat kelakuan Sekertarisnya. "Permisi, silahkan dinikmati sajiannya" wanita itu menunduk dan berjalan beringsut mundur.


"Kenapa sandra disini?"


"Katanya, Sandra mau bayar semuanya" Berlian mengangguk sajalah.


Berlian kembali terdiam, ia melirik kearah Aryan. Pria itu sibuk dengan pekerjaannya. Entah apa yang pria itu lakukan disaat ia sedang membuat acara bersama Berlian.


Menopang dagunya menatap keluar jendela. Bosen, jangan tidur Berlian jangan. Nanti make up kamu luntur.


"Berlian?" membuat Berlian kembali menegakkan punggungnya. "Kok gak dimakan?"


"Iya, ini gue mau makan kok" meraih sendok garpu berukuran kecil.


Melihat Berlian makan kue dengan lahap Aryan meninggalkan pekerjaannya untuk sebentar. Dipandangnya Berlian dengan saksama.


"Berlian"


"Uum?" mengunyah dengan cepat ketika melihat pria dihadapannya menatap dirinya dengan serius. "Why??"


Aryan meraih tangan Berlian untuk digenggamnya, membuat wanita itu melepaskan garpu ditangannya. "Aku akan bahagiakan kamu"


"Haha, Oke. Thank you"


"Aku janji, Aku akan wujudkan semua keinginan kamu soal kecan pertama ini. Soalnya kencan ini juga yang pertama buat aku"


Berlian terdiam, ia melepaskan genggaman tangan Aryan. "Lo tahu? Dari mana ini kencan pertama gue? Chacha?"


Aryan mengangguk pelan. "Sejauh apa lo sama Chacha ngobrolin soal gue? Dari aktor kesukaan gue, Frank grillo. sampai musik kesukaan gue, The Rocky dan soal Vokalisnya yang gue sukai, Gibran"


"Aku mau jelasin"


"Dan lagi, soal kencan? Chacha kasih tahu kalo gue pengen kencan romantis" Aryan diam. "Siapapun gak pernah tahu soal Wish list for dating gue, cuma satu orang"


"Berlian aku mau jujur sama kamu"


"Stop. Gue bakal lupain soal lo tahu dari mana, gue anggep lo engga sengaja tahu. Please jangan buat gue berpikir negative sama lo. Buktiin sama gue kalo lo emang mau bahagiain gue malam ini" Aryan menarik tangan Berlian lagi, digenggamnya dengan kedua tangan Aryan.


"Maaf" didekapnya tangan Berlian kesamping pipinya, Aryan memejamkan matanya sebentar.


Iya, Aryan harus bahagiakan Berlian. Untuk apapun ia harus menahan rasa sakit yang ia tahan selama ini untuk beberapa hari. Setelah Daftar keinginan berkencan Berlian terpenuhi. Aryan akan jujur, Aryan akan memberitahu inti masalahnya.


Masalah yang membuatnya harus berbesar hati menerima konsekuensi yang diberikan oleh Berlian nantinya.


Biarkan ia bahagia bersama Berlian untuk sebentar saja.

__ADS_1


__ADS_2