
"Aryan." Tuan Abraham memanggil lirih, ia menoleh kearah putranya yang duduk disebelah kirinya.
Kini mereka duduk dimeja makan, hanya ada Aryan, Abraham dan Gena. Udayana tidak terlihat karena sedang berada dikamar Berlian.
"Apa yang terjadi?"
"Apanya Pa?" menoleh sekilas lalu kembali menatap piringnya yang hampir kosong.
"Berlian ditemukan Pak Hendra tergeletak dirooftop dia semalam kehujanan disana, sekarang dia demam tinggi." Aryan menoleh lagi lalu menggeser piringnya yang sudah kotor.
"Kenapa Papa tanya sama Aryan, memangnya Aryan harus berada didekat Berlian selama dua puluh empat jam?" Abraham memundurkan badannya sampai bersandar.
"Kamu Aryan kan?"
Aryan bangkit. "Pa, Aryan berangkat. Gena berangkat bareng Papa ya?"
"Iya." Gena dan Abraham sama-sama menatap kepergian Aryan, pria itu tampak berbeda dari biasanya. Aryan satu-satunya orang yang akan panik dengan keadaan Berlian, namun kini sikapnya menunjukkan tidak perduli pada Berlian.
"Pa, kayaknya ada yang aneh sama Mas Aryan." Abraham mengangguk.
"Papa juga ngerasa gitu sayang. Nanti kita cari tahu, kamu cepat selesain sarapannya." mendapat perintah Abraham membuat Gena cepat-cepat melahap makanannya.
Sebelum berangkat, Abraham dan Gena memutuskan melihat Berlian, Dokter sudah keluar setelah memeriksa Berlian tadi.
"Berlian gak kenapa-kenapa kan Ma?" menghampiri Udayana yang duduk ditepi ranjang Berlian.
Terlihat Berlian memejamkan matanya, tapi masih sesegukan karena sehabis menangis.
"Gak apa-apa Pa, Berlian diem aja dari tadi Mama tanyain. Loh Aryan mana?" mencari sosok Aryan.
"Mas Aryan udah berangkat. Mah ada yang aneh sama Mas Aryan." Udayana mengerutkan dahinya.
"Aneh? aneh gimana maksud kamu?"
"Ngomongnya kasar banget, kayak orang abis dikecewain."
"Stt..." Abraham menyikut Gena, semua menoleh ketika Berlian kembali menangis tapi tidak membuka matanya.
"Berlian, sayang kamu kenapa sih? Aryan nyakitin kamu ya? kalian berantem?" pertanyaan itu semakin membuatnya menangis dan menutupi seluruh tubuhnya.
"Berlian mau sendirian." ucapnya diiringi sesenggukan.
Mendengar itu, Udayana mendorong Abraham dan Gena untuk keluar kamar, mendorong sampai kepelataran rumah.
"Sudah sana berangkat, nanti kalian telat. Urusan Berlian serahin sama Mama, dia cuma butuh sendiri aja kan?"
Abraham mengangguk. "Iya, Papa setuju. Berlian memang butuh sendiri, jangan ditanya ini itu Ma, kalau sampai dia merasa stres dan langsung lapor kepada Samuel, bisa bahanya."
"Iya Pa." melambaikan tangan kearah mobil.
********
__ADS_1
Zaskia berjalan cepat menyusuri kantor Aryan. Benar-benar pria itu sangat menjengkelkan.
"Aryaaaannn...." ia setengah berteriak sembari membuka pintu lalu terdiam. "Vano. Gue kok jadi ngerasa selalu lihat lo disini ya?"
"Terserah gue dong."
Zaskia memutar mata malas. "Ar, apa yang kamu lakuin sama Berlian? dia sampai gak mau keluar kamar dan terus nangis."
Devan berdiri. "Lo udah kasih tahu sama Berlian?"
"Belum. Kalian bisa pergi? gue sibuk."
"Jawab kampret??" menendang meja kerja Aryan. "Gue gak ngerti sama pembicaraan kalian berdua soal kasih tahu kasih tahuan, yang jelas lo ngapain Berlian?"
Aryan masih diam, pria itu sibuk membolak-balikkan berkas ditangannya.
"Lo gak perkosa Berlian kan Ar?" Devan melotot.
"Lo perkosa Berlian Ar?"
"Gak." mendorong wajah Devan menggunakan Map. "Gue gak segila itu."
"Terus kenapa Berlian kelihatan stres?" Zaskia mulai mendesak Aryan lagi.
"Bukan urusan kalian."
"Jujur, lo udah kasih tahu dia soal itu kan?"
Mendorong Devan lagi. "Belum."
"Lo yang diem. Bohong kan lo Ar, pasti lo udah kasih tahu Berlian."
Braakkkk....
"Bisa diem gak kalian *******!!!" Devan dan Zaskia sama-sama melotot kaget.
"Lo kenapa Ar?" Devan maju mendekati Aryan.
Aryan membuang nafas pelan, sampai tiga kali Aryan melakukan buang nafas. Mungkin karena hatinya terlalu sakit dengan sikap Berlian yang tidak pernah merasakan keberadaanya atau karena ia melihat Berlian terlalu mencuntai Farrel. Aryan tidak tahu, yang jelas kini ia sedang sakit.
"Gue keluarin semua rasa sakit gue, unek-unek gue. Siang kemarin dia jelasin sama gue kalau dia gak mau nikah, tapi malamnya dia ngajak gue nikah, dengan alasan ingin bebas mencari Farrel. Dia gak tahu kalau gue sakit denger itu."
"Farrel...." Devan menahan Zaskia untuk bertanya.
"Yang dia tahu, gue nerima dia karena gue pengen lari dari Zee. Padahal gue udah jatuh cinta sejak fotonya ada ditangan gue. Gue udah pelajarin apapun yang dia suka dan dia gak suka, Musik, makanan, sampai omongan yang gak boleh bertele-tele. Gue pelajari semua itu." menatap Devan. "Gue udah jatuh cinta sama dia sebelum kami bertemu, karena terlalu sakit dan gak kekontrol semalam gue sampai bentak dia."
"Ar, apapun yang lo rasain. Gak seharusnya lo bentak dia. Gue yakin, seenggak sukanya dia sama lo pasti dia tetep ada rasa nyaman sama lo. Hati perempuan itu lembut, lo salah kalau ngomong sama dia pake otot." Devan memberi nasehat.
"Gue ngomong kayak gitu karena dia gak ngerti soal perasaan gue, lagian gue juga kebawa emosi."
"Ya lo kasih pengertian lah. Kan bisa bicara baik-baik, kenapa musti pake teriak Aryan." Zaskia mencela. "Gue gak ngerti siapa Farrel dan gue gak perduli soal apapun masalah kalian. Yang jelas lo salah kalau bentak dia, kan lo sendiri tahu Berlian itu gimana. Dia bisa semakin stres kalo lo nambahin beban dia."
"Kecuali lo berhadapan sama perempuan model Zivana." ucap Devan. "Kalau sama dia emang harus pake kekerasan baru dia ngerti."
__ADS_1
********
Udayana berlari kearah pintu utama, setelah melihat mobil Aryan terparkir didepan, menjelang sore memang sudah waktunya Aryan pulang, untuk Abraham. Tuan Besar itu pasti lebih sibuk, dan lebih suka menghabiskan waktu lemburannya dikantor.
"Aryan."
"Ma, Berlian sudah keluar kamar?" Udayana menggeleng. "Sudah makan?"
"Belum, Bu Nuri udah bolak balik kekamar bawa makanan dan terus-terusan gak diterima sama dia. Kalian ada masalah?"
"Ma, siapin bubur buat Berlian, biar Aryan yang bujuk. Aryan mau ganti baju dulu." Udayana mengangguk semangat dan berlari menuju dapur, meminta Bu Nuri membuatkan bubur untuk Berlian.
Aryan membuka pintu kamar Berlian dengan pelan, Berlian masih terbaring diranjang.
Aryan kembali mengingat pesan Zaskia. "Apapun yang terjadi sekarang antara lo sama Berlian, yang wajib mengalah itu lo Aryan. Pulang ini nanti lo harus temuin Berlian dan berusaha kembali seperti semula. Itu kan yang dia mau, dia berharap malam itu gak ada."
"Dan satu hal lagi. Jangan bicarain soal malam itu kecuali dia duluan yang menyinggungnya." tambahan dari Devan.
Aryan menutup pintu kembali dan duduk disisi ranjang.
"Bu Nur, Berlian kan udah bilang. Berlian gak mau makan." masih dengan suara sumbang, ternyata Berlian tidak tidur.
"Kamu belum makan dari pagi." suara berat khas Aryan membuat Berlian menoleh kebelakang, benar saja, mata Berlian sembab dan hidungnya berwarna merah.
Melihat Aryan yang berada dikamarnya membuat Berlian menutup keseluruhan tubuhnya dengan selimut, dan kembali menangis. Mengingat kejadian semalam, Aryan yang membentaknya dan meninggalkannya diatas, kehujanan pula.
"Makan dulu."
"Gak mau." ucapnya dengan lantang. Masih tertutup selimut.
"Aku suapin." kembali terdengar Berlian menangis. "Udah dong, kamu nangisin apa sih?" pertanyaan Aryan membuatnya membuka selimut.
Berlian terdiam menatap Aryan, sepertinya Aryan melupakan kejadian semalam.
"Bubur buatan Bu Nuri itu enak banget loh." Berlian menatap mangkuk berisi bubur ditangan Aryan.
"Kedengeran gak Bu?" Bu Nuri bertanya pada Udayana, wanita itu sibuk memasang kuping didaun pintu.
"Engga Bu Nur, saya buka dikit aja kali ya ni pintu? gak bakal ketahuan kan?" Bu Nuri menggeleng karena takut ketahuan.
"Bu saya takut."
"Sssttt... Bu Nuri jangan berisik, nanti ketahuan Aryan." setelah berhasil membuka pintu dengan pelan, kepala Udayana masuk dan mengintip.
Ternyata Berlian sudah menyantap buburnya sendiri, dan Aryan duduk memperhatikan. Setelah lega melihat adegan itu, Udayana kembali menutup pintu.
"Berhasi Bu, berkat Aryan Berlian udah makan bubur buatan Bu Nur." Bu Nuri menghela nafas lega sembari mengelus dadanya.
"Alhamdulilah Bu, lega saya. Akhirnya Nona Berlian mau makan juga."
"Iya Bu. Aryan memang pahlawan pelindung Berlian." ucapnya dengan bangga.
__ADS_1
"Tahu gitu Bu, Mas Aryan kita suruh ngerayu dari pagi."
"Mana kepikiran."