Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (24)


__ADS_3

Zaskia berlari tergesa-gesa ketika melihat Aryan dan Udayana keluar dari rumah Wijaya, lamanya menunggu mereka menjadi pertanyaan besar bagi para tamu undangan. "Dimana Berlian?"


Aryan hanya menepuk tangan Zaskia yang melingkar dilengannya.


"Aryan, mama mohon. Pikirkan baik-baik sayang, ini untuk masa depanmu, pikirkan tentang keluarga kita juga," Udayana berusaha mengambil alih pikiran Aryan untuk tidak bertindak gegabah.


"Mama, ada apa?" Udayana menggeleng. tidak ingin bercerita ataupun menjawab Zaskia.


Ada apa dengan mereka, dimana Berlian? Kenapa Mama mengatakan itu. Pikirannya penuh dengan dimana keberadaan Berlian?


"Kia, tolong bantu. Bilang sama semua wartawan disana, untuk mendekat kemari," Zaskia mengangguk dan berjalan mendekati para wartawan. Mereka mengiyakan dan mengikuti arahan Zaskia untuk menemui Aryan yang berdiri jauh dari para tamu, takut para tamu akan mendengar percakapan mereka.


"Ada apa Aryan? Kenapa lama sekali?" Pertanyaan itu keluar dari mulut salah satu wartawan yang akrab dengannya.


"Apa ada masalah, Tuan Aryan?" Aryan tidak menjawab itu.


"Tuan Aryan, kenapa tidak menjawab kami."


Zaskia langsung mendekat. "Hei, matikan kamera itu dulu. Baru kami akan menjelaskan situasinya," mereka semua langsung mengangguk menurut, setelah memastikan para wartawan menon-aktifkan kamera ditangan mereka, Aryan mulai membuka suara.


"Saya mohon bantuannya, sementara kalian tidak bisa mengambil gambar apapun disini,"


"Kenapa?"


"Tolong, kalian fokus saja pada pintu rumah keluarga Wijaya, jika pintu itu terbuka dan keluar seluruh keluarga Wijaya serta calon tunangan saya. Kalian boleh mengaktifkan seluruh kamera kalian," Mereka mendengarkan dengan cermat. "Jika tidak ada yang keluar dari sana, jangan mengambil gambar apapun, memposting apapun. Bahkan artikel sekalipun kalian tidak boleh,"


"Ada apa Aryan?"


"Reno, mohon bantuannya, saya akan membayar kalian untuk masalah ini, Tapi jika kalian kedapatan membuat Artikel atau memposting gambar apapun, kalian akan tahu akibatnya bukan?" Mereka langsung mengangguk cepat, mengerti maksud dari pria didepan mereka. "Atasan kalian akan menghubungi kalian sebentar lagi, mereka akan memberi tahu langkah apa yang harus kalian lakukan disini, mengerti." Mereka mengangguk lagi. Setelah ucapan Aryan beberapa wartawan langsung mendapatkan pesan dari masing-masing Atasan.


"Kami menerima pesannya, tuan." Aryan mengangguk.


"Bagus, Terima kasih dan mohon bantuannya," mereka mengangguk lagi. "Ingat, hanya pintu itu," kali ini Aryan menunjuknya dengan tegas membuat para wartawan mengangguk cepat, mereka tahu diri untuk tidak berurusan dengan pria di depan mereka.


Aryan dan Zaskia berjalan beriringan menuju panggung, beberapa dari para tamu menyapa mereka, Aryan hanya membalas tersenyum.


"Aryan, ada apa sebenarnya?" Aryan hanya menghentikan langkahnya untuk menatap Zaskia sebentar, lalu dia kembali naik tanpa menjawab pertanyaan Zaskia. Membuat perempuan berwajah tembam itu merengut kesal.


"Dimana tunangannya? kenapa lama sekali"


"Apa ini benar-benar sebuah acara tunangan? Dimana keluarga Wijaya"


"Dimana Tuan Timo, kenapa aku tidak melihatnya sedari tadi"


"Kenapa lama sekali, Bukankah ini sudah waktunya?" Beberapa dari para tamu sudah mengeluh karena mereka terlalu lama menunggu, sudah melewati batas yang tertera di Undangan.


Udayana berusaha menenangkan Aryan yang terus menghela nafas tidak tenang. "Aryan, Mama yakin Berlian bisa mengambil tindakan yang tepat"


Abraham yang sudah diberitahukan tentang situasi ini mengerti dan berusaha tetap tenang. Walaupun dihati kecilnya, penasaran. Ada apa dengan mereka???


"Aryan, Papa mengerti situasi yang kamu hadapi, Papa tidak akan menghalangi kamu memutuskan sesuatu, apapun itu. Sekalipun kita harus menanggung malu"


"Papa, Berlian pasti datang. Mama yakin itu," Udayana merengek tidak terima mendengar suaminya mendukung keputusan putranya untuk membatalkan. padahal keluarga mereka bisa saja untuk memaksa keluarga Wijaya tetap melaksanakan ini. Tapi...


Kenapa aku memiliki anak dan suami sangat baik hati, mereka selalu suka menutupi kesalahan orang lain. Bagaimana kalau aku saja yang masuk kesana dan memaksa mereka tetap melanjutkan ini. Sedikit ancaman tidak akan menjadi masalahkan? Udayana menghentakkan kakinya kesal, ia tidak punya keberanian penuh untuk menentang keputusan dari suaminya.


Para tamu menatap kearah Aryan yang berada didepan, tidak sedikit dari mereka mengungkapkan kekaguman terhadap Aryan, memiliki postur tinggi tegap, dan memiliki wajah tampan.


Semua terkejut saat mendengar pengusaha muda sukses didepan mereka ini mengundang untuk acara pertunangannya. Bahkan mereka tahu bahwa Aryan adalah pria yang tidak pernah dekat dengan seorang wanita kecuali sekertarisnya.


"Hah, beruntungnya wanita yang akan bertunangan dengan Aryan. Awas saja kalau wanita itu tidak pantas disandingkan dengan Aryan. aku akan menghancurkan pesta pertunangan ini" Ucap seorang wanita yang sedari dulu mengaggumi kharisma dari Aryan. Zaskia yang mendengar ini tersenyum licik.


Mereka tidak tahu saja, kalau Berlian cantiknya seperti seorang Dewi. Hah, aku tidak sabar melihat Berlian. Mana sih dia, kenapa lama banget? Zaskia menggerutu didalam hatinya.


Tetapi berbeda dengan pria yang mereka kagumi, karena terlalu berusaha menguasai hatinya yang terus berdetak takut. Ia tidak menanggapi tatapan dari para tamu didepannya, pria itu terlalu resah. Matanya selalu menatap kearah pintu, berharap Berlian keluar.


Aryan menjadi takut sendiri, mengingat ucapannya kepada Berlian tadi.


Waktu udah berjalan dua puluh menit, ayo keluar Berlian, aku mohon. Aryan terus Berdo'a memohon agar Berlian keluar, Karena dirinya sudah menaruh hati kepada wanita itu, Aryan tidak ingin kecewa malam ini. . . . . . . Dan untuk seterusnya.


Aryan kembali melihat jam tangan yang sudah berjalan tiga puluh menit dari waktu yang dijanjikannya,

__ADS_1


Aryan melihat kearah orang tuanya disisi kirinya, Udayana menatap lesu, "pikirkan matang-matang," Aryan sudah memikirkan matang-matang untuk hal ini, menarik nafas panjang, menghembuskan dengan tenang.


Aryan mulai berjalan kesisi kanan untuk mengambil microphone. Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan dari salah satu tamunya.


"Apa itu, calon tunangannya, Wah cantik ya"


Aryan tersenyum melihat kearah pintu. Berlian keluar, Akhirnya. . . Berlian berjalan dengan melingkarkan tangannya dilengan Samuel, anggota keluarga Wijaya juga berjalan dibelakangnya.


Aryan merubah ekspresi wajahnya, seluruh ketakutannya hilang, seluruh deguban jantungnya yang menyimpan rasa takut hilang, wajahnya lebih terlihat berseri.


"Aku baru tahu, ada anak dari keluarga wijaya yang cantik begitu"


"Apa benar dia keluarga Wijaya, aku belum pernah melihat dia sebelumnya"


"Cantiknya" Berlian sama sekali tidak ingin menatap kesana, takut. . Sangat takut.


Para tamu wanita muda yang semula akan mencibir jika wanita yang akan menjadi tunangan Aryan tidak seperti ekspektasi mereka terdiam ketika Berlian keluar, kenyataannya Berlian adalah wanita dengan kecantikan yang benar-benar cantik. Walaupun kali ini Berlian memasang wajang masam. Entah kenapa itu tetap terlihat cantik, tidak sedikit dari para tamu wanita memuji kecantikan Berlian. mereka benar-benar dibuat takjub dengan Berlian.


"Berlian," Zaskia memanggil Berlian, ketika jarak mereka sangat dekat, Berlian membalas tersenyum, matanya menangkap sosok tamu yang sangat ia kenali.


Seorang pria berjalan mendekati Berlian, dia sangat mengenali pria itu. "Farrel" Samuel beralih menggenggam tangan putrinya.


Berlian tidak lepas pandang dari Farrel yang kini berdiri disamping Aryan, pria itu terus tersenyum lebar menatap Berlian.


Saat seorang wanita datang membawa dua kotak cincin di atas nampan kecil, Berlian tersentak mundur. Bibirnya tipisnya tersenyum ketika Farrel bergerak meraih tangannya dan mengecup punghung tangannya.


Para tamu bertepuk tangan ketika melihat Aryan melingkarkan cincin di jari manis Berlian.


Berlian semakin melebarkan senyumannya saat melihat Farrel bertepuk tangan gembira menatapnya.


"Berlian,,,"


Berlian tersadar ketika Samuel memanggilnya lirih, dia mencari sosok Farrel yang sejak tadi berdiri dihadapannya, menghilang??


"Sayang, cincinnya...." Samuel berbisik lagi, membuat Berlian bergegas mengambil cincin dan memakaikan dijari manis Aryan.


Saat tepuk tangan meriah kembali terdengar, Berlian menoleh disisi kanan Aryan, Farrel tengah berdiri bertepuk tangan menatapnya, membuatnya tersenyum lagi.


Kenapa Berlian tersenyum kearah lain?Harus bahagia atau tidak tapi hati Aryan benar-benar teriris melihat itu.


Kedua tangan Aryan bergerak menyentuh bibir Berlian, menggerakkan bibir Berlian agar naik, seperti mengukir sebuah senyuman dibibir Berlian. Berlian yang sadar melepaskan tangan Aryan, lalu merangkul lengan Aryan dan menatap beberapa kamera didepan, Berlian tahu situasinya.


Berlian memasang wajah tersenyum, berusaha menampilkan senyuman manis disana,


"Aku tahu, ini gak ada yang beres, tapi Demi apapun, Senyum Berlian kelihatan manis banget," Zaskia cemberut melihat kearah sepasang yang baru sah bertunangan itu.


********


"Berlian," Zaskia berjalan mendekat. "Hei cari siapa? Aryan lagi sama temen-temennya," Zaskia menunjuk kearah Aryan yang tengah asik mengobrol.


"Engga kok, lo apa kabar ki?" Berlian menepuk bangku kosong disebelahnya menyuruh Zaskia untuk duduk.


"Baik dong, parah sih, lo dandan semakin kelihatan cantik banget tau gak? pantes aja tadi lama keluar, dandannya pasti ribet ya?" Berlian menggeleng, Zaskia terlalu banyak bertanya.


"Engga kok. Ehh Kia, temenin gue kedeket panggung band yuk?" Zaskia meneguk jus yang dipegang.


"Hah ngapain? Boleh deh!" Zaskia berhenti dimeja dekat dengan panggung dan membiarkan Berlian menaiki panggung sendiri, mengobrol kepada para anggota band yang sedang beristirahat. Berlian tahu, mereka adalah band terkenal di Indonesia.


Berlian mengambil gitar dan duduk dibelakang mic, "Tes.. Tes.. Ehem," Berlian menarik nafasnya, ia sedikit gugup dan melihat kearah Samuel yang tersenyum.


Pagi itu saat dirinya dan Samuel berjanji untuk tidak memperdulikan Zoya, Samuel meminta kepada Berlian.


"Setelah pertunangan, Daddy mau dong kamu nyanyi didepan para tamu," Berlian menolak pada saat itu, tapi entah mengapa kali ini Berlian sendiri yang mau melakukannya tanpa diminta.


Berlian mulai memetik gitar, ia memilih lagu (Jay waetford - Shy) Aryan berhenti mengobrol dan berjalan mendekat kearah panggung. Terpukau dengan penampilan Berlian yang lihai dalam memainkan gitar.


Para tamu undangan seperti tersihir oleh suara dari petikan gitar, menghentikan seluruh obrolan gosip mereka dan melihat kearah Berlian.


Everytime you walk into the room


Got me feeling crazy

__ADS_1


Shock my heart boom boom


Any other girl would stare


But me, I look away


'Cause you making me scared


Tryin' not to breathe 1, 2, 3


Tryin' not to freak when you look at me


Gotta make a move but I freeze


You don't have a clue what you do to me


Boy, you make me shy, shy, shy


You make me run and hide, hide, hide


Feel like I get lost in time


Whenever you near me


Boy, you make me shy, shy, shy


I'm fightin' butterfli-fli-flies


Yeah, you make me lose my mind


Whenever you near me


Boy, you make me shy


Aryan tidak lagi fokus melihat Berlian melainkan dua gadis dibelakang sound yang tinggi, Denada dan Chacha. Kedua gadis itu sibuk menggerakkan kedua tangannya dan menunjuk Aryan lalu menunjuk Berlian.


Aryan mengangkat alisnya tidak mengerti, kemudian dua gadis itu berbisik dan kini Denada yang mengambil alih, menggerakan kedua jari-jarinya dan menunjuk Aryan lalu menunjuk Berlian, Aryan menggeleng tidak mengerti.


"Cha, kayaknya kakak ipar lo, pinter usaha doang, tapi gini aja gak ngerti sama sekali,"


"Lo, lagi ngejek kakak ipar gue!!"


"Enggak Cha, masalahnya dia sama sekali gak peka soal ginian,"


"Makanya kita kudu ngajarin dia," Chacha menatap Denada kesal, karena sudah menjelekkan Aryan.


Lengan Aryan disikut Zaskia yang berdiri didekatnya. "Kenapa?" Aryan menunjuk Denada dan Chacha dengan dagunya. Zaskia sepertinya mulai mengambil perantara saat Denada mencoba menjelaskan lagi.


Aryan melihat kening Zaskia berkerut, seperti sedang mencoba mengerti maksudnya, tiba-tiba bibirnya mengukir sebuah senyuman dan mengacungkan dua jempol kearah Chacha dan Denada, kedua gadis itu bersorak riang melihat Zaskia menyetujui itu.


Sahabat kecilnya itu berjinjit membisikkan perintah Denada kepada Aryan, setelah mendengar itu dengan cepat Aryan menggeleng. Zaskia melotot dengan ketidakmauan Aryan, seluruh tamu bertepuk tangan dan terdengar pujian kagum dengan suara Berlian.


"Wahh, apa ini. Aku harus mengatakan apa, Berlian yang beruntung mendapatkan Aryan atau Aryan yang beruntung mendapatkan Berlian" Suara keras itu memecahkan keheningan dan keterpanaan mereka kepada Berlian, mereka semua langsung bersorak menyetujui dengan seruan Pria paruh baya disana, mungkin beliau adalah salah satu rekan bisnis Timo.


Dengan ucapan itu tiba-tiba jantung Aryan benar-benar berdegub sangat kencang, tidak seperti saat persentase atau bertemu client dari luar nengri kali ini, ia mencoba mengatur nafasnya. Aryan memberanikan diri berjalan mendekati panggung, melihat Berlian yang sedang melepaskan tali gitar yang melingkar dibahunya.


Berlian terkejut ketika ia baru saja turun dari panggung tiba-tiba Aryan memeluk tubuhnya. "Eh, ngapa lo?" Aryan menutup matanya, berusaha tetap tenang.


"Jangan marahin aku please, ini perintah Dena sama Chacha, disana ada Zaskia juga yang maksa." Dalam pelukan Aryan, Berlian melihat Denada dan Chacha yang berpelukan bahagia.


Zaskia juga senyum-senyum malu disana.


...☘️☘️...


ARYAN TARA MAHESVARA



BERLIAN WIJAYA VALFREDO


__ADS_1


...*****...


Jangan lupa likenya ya gais....


__ADS_2