
"Sa, aku melihat pria itu semalam."
"Dia datang lagi?" Aryan mengangguk. "Setelah beberapa tahun dia muncul lagi?" Aryan mengangguk lagi.
"Siapa yang muncul?" Raisa mendelik menatap adik sepupunya ini.
"Bisa diam tidak? aku sedang bekerja."
"Sudah tolong jangan berantem," Aryan terlalu pusing mendengar Raisa dan Jen ribut karena masalah sepele, dan ini terjadi pada beberapa tahun yang lalu saat Aryan sedang berkonsultasi.
"Kamu masih belum memberitahu Berlian tentang semuanya?" Raisa mulai
"Belum,"
"Ah, soal kecelakan itu."
"Jeeeennnnnn......." Raisa melotot menatap Jen. "Kecilkan suaramu," Jen malah menjulurkan lidahnya.
"Jadi itu rahasia Aryan? kalau soal kecelakaan itu aku juga tahu." Jen meringis dan mengelus puncak kepalanya. "Sakit Raisa, kenapa sih kamu selalu mukul kepalaku?" matanya berkaca-kaca.
"Tutup mulut mu Jen, Arrggg kesal aku. Kebodohanmu itu bisa mengundang malapetaka, kalau tidak karena Aryan, pasti gosip seorang Dokter muda yang mabuk karena menangkap basah suaminya berselingkuh tersebar luas," Jen menunduk. "Seharusnya kamu lebih berhati-hati, karena Aryan muncul semua orang jadi berpusat padanya, selamatlah hidupmu."
"Kenapa kamu menyinggung soal ituu." Jen tidak terima bahwa Raisa membahas masalah rumah tangganya.
"Makanya diam, dan jangan sok tahu." lalu menatap Aryan lagi. "Kenapa lengan mu." menyentuh lengan Aryan yang tergores dan mengeluarkan darah.
"Ah ini tadi karena terburu-buru, aku gak sengaja nyenggol Pak Hendra yang lagi bawa alat pemotong rumput." Jen meringis, mendengar cerita Aryan. Pasti itu sangat sakit.
"Tidak sakit waktu pakai Jaket? ambilkan aku kotak P3K itu," menunjuk kotak P3K disebelah Jen.
"Tadi gak terasa, waktu kamu bilang jadi kerasa sakit." Raisa mulai mengobati luka Aryan. "Kalau aku boleh kasih saran, beri tahu Berlian dengan cepat. Bayangan itu muncul karena kamu merasa bersalah pada Berlian. Apa yang kamu lakukan?"
"Memang malam itu aku adu mulut sama Berlian, aku sempat membentak dan membiarkan Berlian kehujanan semalaman diRooftop." Raisa melotot.
"Kamu melakukan hal yang salah Aryan," Aryan menghela nafas, ia tahu dan juga sudah meminta maaf pada Berlian. "Sudah begini saja, ceritakan itu pada Berlian."
"Soal kecelakaan itu?"
"Jeenn, jangan mengatakan itu dengan secara gamblang." Jen melotot sebal.
"Tidak akan ada yang tahu."
"Mulutmu memang minta dirobek Jen, orang yang mendengar akan salah paham. Banyak yang menginginkan mereka berpisah, dan menginginkan keluarga Mahesvara bangkrut. Jadi, berhenti mengatakan hal konyol. Urus saja pernikahanmu yang tidak masuk akal itu." lalu fokus kembali pada luka Aryan.
"Kamu belum mengurus cerai Jen?" tanya Aryan.
"Sudah, tapi pria bodoh itu meminta harta gono gini pada Jen, konyol." Aryan tertawa. Memangnya ada seorang pria meminta harta gono gini pada perempuan.
"Menurunkan harga diri laki-laki saja." ucap Aryan.
"Memang. Sudah sana pergi, bodoh." menendang kaki Jen, bukannya pergi dan sakit hati, tapi dia malah tetap bertahan duduk disitu. "Kenapa? mau marah?"
"Engga, memangnya aku kamu. Mencintai pria yang tidak mencintaimu dan tetap bertahan menunggu pria itu." Raisa memukul Jen lagi.
"Itu kamu bodoh. Mempunyai rencana menikah muda dengan orang yang dicintai lalu hidup bahagia, tidak tahunya cerai muda." Aryan menghela nafas, kenapa jadi begini.
__ADS_1
Deringan ponsel Aryan membuat semuanya terdiam. Aryan menerima panggilan dari Berlian.
"Halo, ada apa Berlian?"
"Kamu masih sibuk?"
"Engga kok, kenapa?" menutup mulut Raisa, karena sepertinya wanita itu ingin mengatakan sesuatu.
"Ada pameran buku ditaman waktu itu, mau kesana?"
"Boleh, nanti kita ketemu disana aja, baru pulangnya bareng. Oke?" setelah mendengar Berlian mengiyakan, Aryan langsung menutup teleponnya.
"Berlian ngajak ketemu?" tanya Jen.
Aryan mengangguk. "Dia suka buku, jadi ngajak ketemu ditaman pusat kota. Ada pameran buku disana."
"Tolong Aryan. Ceritakan semuanya pada Berlian," Aryan diam, ia sedang menimang permohonan Raisa. "Kenapa? kamu takut Berlian akan meninggalkanmu?"
"Iya. Aku takut dia ninggalin aku setelah tahu kebenarannya."
"Lalu kamu mau apa kesini kalau nasehatku tidak didengar." menatap Aryan kesal.
"Ar, kalau saran aku sih. Kasih tahu Berlian, kalau sampai dia dengar dari orang lain malah ribet, orang bisa nambah ngurangin cerita Ar. Aku udah pernah kasih saran gitu kan?" Raisa mengangguk setuju dengan pendapat Jen.
"Betul kata Jen, Aku bener-bener setuju. Kalau tiba-tiba nih aku dateng nemuin dia terus ceritain semuanya. Dia bakal sakit hati karena kamu nyembunyiin itu semua," Raisa harus bisa meyakinkan Aryan untuk menjelaskan situasi yang terjadi. "Kamu harus ceritain, jangan nunggu waktu yang tepat. Kalau sekarang bisa, itu berarti sekarang adalah waktu yang tepat."
Aryan mengangguk. "Stop skeptis, Aryan. Kamu harus yakin."
"Aku takut."
"Kayak kamu engga aja Jen." celetuk Raisa.
"Apa yang terjadi kalau Berlian malah pergi ninggalin aku." tangannya bergetar, jantungnya berdegub mulai kencang, entahlah Aryan benar-benar tidak siap.
"Kamu beritahu buktinya dong."
"Betul, Tante Yana kan ada. Beliau bisa jadi saksi." ucap Jen menyemangati.
"Aku ada, Ar. Aku saksi disana. Reza, Vano juga ada kan? kita akan bantu jelasin."
"Woo, semangat langsung ngomongin Vano."
"Diam." Raisa sedikit kesal.
"Oke, karena mendapat dukungan dari kalian, aku akan menceritakan semuanya." Aryan membalas pelukan Raisa, lalu Jen datang menghampiri lalu ikut memeluk.
"Aku akan bantu kamu Ar, walaupun aku gak tahu pasti cerita detailnya. Tapi aku tahu kamu yang terbaik." mereka semakin mempererat pelukan.
"Makasih Jen."
"Tapi hari ini firasatku buruk, Ar."
"Jaga mulutmu Jen." baru tadi Raisa mulai melunak, kini ia malah emosi lagi mendengar Jen berbicara ngawur.
"Aku cuma bercanda," menarik Raisa lagi untuk berpelukan.
__ADS_1
Untuk Aryan, ia sangat bahagia memiliki sahabat yang mengerti seperti Reza dan Zaskia. Memiliki teman baik sepeti Raisa dan Jen, padahal sewaktu sekolah dulu Aryan sama sekali tidak akrab dengan Raisa. Karena masalah trauma itu, membuat mereka menjadi akrab.
Apalagi mereka pernah satu sekolah dan itu semakin membuat mereka saling percaya untuk menjaga cerita. Dan untuk Raisa, dia benar-benar Dokter psikolog yang bisa memberikan nasihat yang baik.
********
Aryan sedikit berlari menyusuri jalan setapak taman. Belum menemukan Berlian dimanapun.
"Ck, dimana sih?" kepalanya berputar kesana kemari mencari sosok wanita yang memintanya untuk datang tadi.
"Aryaaaan. . .. . Sini," Aryan menoleh, ternyata Berlian sedang duduk dibawah pohon ceri, duduk dibangku besi bercat putih.
Aryan menghampiri. "Udah dapet bukunya?"
"Belum, nunggu kamu. Mau ngajak milih," memberikan botol air mineral.
Meneguk sampai setengah botol. "Kenapa gak milih duluan, kalau sampai aku datang telat gimana?"
"Gak masalah kok, lagian cuma bosen dirumah aja." Aryan meraih tangan Berlian.
"Yaudah yuk cari," mereka jalan beriringan, mencari buku yang Berlian mau untuk mengisi Cafe booknya.
Tangan mereka masih saling menggenggam erat, dari perjalanan Rumah Sakit menuju ke taman, Aryan terus memikirkan bagaimana caranya untuk menjelaskan.
Ada rasa takut tersemat dihati Aryan. Bagaimana kalau Berlian tetap ingin pergi walaupun Aryan yang memberi tahunya.
"Berlian," berdiri dibelakang Berlian, tidak ada jarak diantara mereka, Aryan menyentuh kedua bahu Berlian dengan lembut. "Aku ingin menceritakan sesuatu." tangan kanannya melingkar sampai menyentuh tangan kirinya, memeluk Berlian dari belakang.
"Apa?" Berlian menoleh, Aryan mengecup hidup Berlian.
"Mungkin aku emang salah, tapi percaya sama aku ya. Aku ngelakuin hal yang terbaik buat kita."
Berlian tersenyum. "Kita."
"Em, aku mau ke toilet dulu, sekalian aku beliin kamu burger ya? sama Es teh kan? kamu pilih aja, gak usah tanya aku karena semua yang kamu pilih itu bagus." Berlian mengangguk.
Berlian menatap kepergian Aryan, lalu tersenyum malu. Astaga, kenapa ucapan Aryan terdengar sangat sexy.
Oh, Shit.
Berlian menahan senyumannya. lalu mencari buku yang dicari. Mulai dari novel cinta sampai novel horor, dan tidak lupa ia mencari novel terjemahan.
Berlian menoleh ketika bahunya ditepuk, dan Es teh dalam kemasan botol berada dihadapannya. Berlian tersenyum.
Guys, tombol Suka ada disini ya
👇
👇 Kalau buat tombol favoritnya,
👇 ada disini. 👉----------👇
👇------------------------👇
__ADS_1
👇------------------------👇