Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (57)


__ADS_3

Kata menyesal mungkin pantas untuk Berlian yakini saat ini, kenapa ia harus menolak ajakan Aryan untuk duduk di tempat yang lebih private saja? diakan tidak tahu kalau akan jadi seperti ini. Berlian menghela napas saat melihat ke arah kanannya, Reza begitu memburu menyerang Zaskia yang berada di bawahnya.


Tadinya dia ingin berbincang dengan Zaskia entah membahas apapun, tapi, bisakah mereka saja yang mencari tempat private?


Berlian menepuk punggung Reza, "sumpah, gue tau kalau kalian itu sudah menikah, tapi bukan berarti seenaknya kalian berbuat hal semacam itu di depan umum."


Sebelum menjawab ucapan Berlian, Reza mengecup bibir Zaskia sembari tertawa kecil menatapnya, "gak asik dong kalau mainnya sembunyi-sembunyi," memutar bola matanya dengan kalimat singkat Reza saat laki-laki itu sudah kembali menghajar Zaskia dengan cumbuan memburu.


Merasa di perhatikan, Aryan mendongak melihat Berlian, dia mengajak perempuan itu makan dengan bahasa tubuh. Berlian membalas dengan menggelengkan kepalanya, dia tidak pernah berselera untuk menyantap makanan ringan di tempat seperti ini. Berlian hanya menegak minuman yang tersedia.


Namun tiba-tiba Aryan duduk disampingnya dan menatapnya dengan tatapan menghunus, sontak saja membuatnya menahan napas saat Aryan mendekatkan wajahnya, Berlian bersandar pada sandaran sofa dengan dorongan Aryan pada bahunya.


"Yah, gak berani nempel beneran," Zaskia kembali memeluk Reza saat tatapan Aryan menajam padanya.


Tatapannya kembali menatap Berlian, "maaf Berlian.."


"For what?" Aryan tidak menjawab.


"Jangan mikir macem-macem?" Berlian mengangkat satu alisnya.


"Maksudnya?" Aryan tersenyum.


"Aku gak akan berani macem-macem sama kamu?" Berlian tersenyum sinis.


"Terus bagimana sama malam itu?" Aryan menatap Berlian dengan wajah bertanya.


"Malam yang mana?"


"Konser Bmth?" Aryan melebarkan matanya. "Kamu ingat malam itu?" Berlian mengangguk.


"Waktu malam itu lo mabuk masuk kamar gue, terus meluk gue. Gue ngerasa Dejavu sama itu,"


"Maaf Berlian, aku gak bermaksud ambil kesempatan." Berlian tersenyum miring.


"Oh yaa? Kok gue ngerasa gitu ya?"


"Demi apapun malam itu aku... "


"Iya gue percaya aja," Berlian memotong. "Asal lo tau, itu ciuman pertama gue?" Aryan tidak terkejut, karena ia sudah tau sewaktu Zaskia bertanya tentang ciuman pertama di malam konser itu juga.


"Sekali lagi aku minta maaf,"


"It's Ok,"


"Farrel?" Berlian tertawa kecil.


"Sejauh ini sih, gue sama dia cuma pegangan tangan,"


"Jadi, kamu berbohong soal itu? aku kira hubungan kalian sudah jauh karena kamu begitu mencintainya," ucapnya semakin mengikis jarak.


"Kami memang saling mencintai, itulah kenapa gue selalu ingin lari dari lo."


Aryan tersenyum, "aku maafkan,"


"Tapi gue enggak lagi meminta maaf, Aryan."


"Janji untuk tidak berbohong lagi padaku, dan untuk malam itu aku meminta maaf sudah berbuat tidak sopan padamu."


"Iyaa, santai..."


"Mau aku kembalikan ciuman pertama itu?" Berlian memudarkan tawanya menatap Aryan dengan tatapan heran.


Mengembalikan ciuman? itu bagaimana caranya?


"Caranya?" Berlian terkejut ketika Aryan mendekatkan bibirnya mencium lembut bibir Berlian.


"Uhhh Aryan berani cuy." Ledek Reza. Karena tidak mendengar balasan Aryan, ia memutuskan kembali bersenang-senang dengan sang istri.

__ADS_1


"Yah Zee, kayaknya kak Aryan lagi gak bisa diganggu deh." Berlian tidak dapat melihat suara seorang perempuan yang sempat menyebut nama Aryan, perempuan itu berdiri tepat di depannya namun terhalang oleh Aryan. Tunggu, apa mungkin Aryan melakukan hal seperti ini karena ingin terlihat sedang bermesraan dengan Berlian.


"Kak Aryan?" Aryan berhenti ******* bibir Berlian dan menatap mata Berlian, dia sama sekali tidak menikmatinya. "Kak Aryan, bisa bicara sebentar tidak?" Aryan mengecup bibir Berlian dan kembali ******* bibir lembut itu.


Tiba-tiba terlintas di pikiran Berlian, bahwa Aryan sedang menggunakan dirinya untuk membuat perempuan yang sibuk memanggil Aryan itu cemburu. Berlian mendorong tubuh Aryan.


"Gue haus," Berlian langsung berdiri, ternyata perempuan itu adalah Zivana dan teman-teman yang Berlian sendiri tidak kenali. Pantas saja Aryan tiba-tiba bersikap aneh, Berlian berjalan melewati Zivana yang tersenyum tanpa merasa telah mengganggu.


********


Berlian menghentakan kaki dilantai.


Semua orang tengah tertawa karena merasa malam ini terlalu menyenangkan, beberapa pengunjung adalah tamu Angga yang menyapanya dan memberi selamat atas pertunangannya dan ada juga tamu yang memang sering mampir di club ini. Berlian berjalan menemui Angga yang sedang asik berjoged mengikuti musik remix yang berdentum keras,


"Anggaaaaa......" Laki-laki itu berbalik menatapnya yang terlihat sangat kesal.


"Kenapa lo By?" menatap telunjuk Berlian yang mengarah pada Aryan tengah berbicara pada seseorang yang tidak terlihat oleh matanya. "Siapa tuh?" Menyipitkan matanya, pandangannya mulai kabur akibat pengaruh minuman.


"ZEE nya Aryan!!!" Angga mengangguk mengerti, dan kembali berjoget. "Anggaaaa,,," sahabatnya itu kembali berbalik menatap Berlian. "Tadi Aryan nyium gue?" Angga sedikit terkejut.


"Bagus dong. Berarti lo udah jadi penting bagi dia," Angga kembali berjoget ria.


"Angggaaaa," Berlian memukul punggung Angga kesal. Angga kembali berbalik. "Nyiumnya depan tuh perempuan,"


"Berarti dia manfaatin lo doang?"


Mendengar kalimat Angga, membuatnya menghentakkan kaki dilantai, kalimat simple itu sangat membuatnya kesal, untuk alasannya Berlian tidak tahu. Dimanfaatkan oleh Aryan untuk membuat Zivana cemburu? benarkah Aryan melakukan hal semacam itu? kekesalannya bertambah saat melihat Aryan dan Zivana dibiarkan mengobrol berdua, raut wajah Zivana terlihat ceria dan tetap santai mengajak Aryan bercanda. Berbeda dengan laki-laki itu, dia terlihat tenang dan hanya sesekali mengangguk, namun tetap saja tidak dianggap baik oleh pikiran Berlian.


Beberapa teman Zivana sudah tidak terlihat dan sepasang suami istri itu juga sudah menghilang, berani-beraninya mereka berdua membiarkan Aryan duduk bersama Zivana.


Angga menatap heran, sahabatnya itu diam tidak bergeming dan matanya lurus hanya menatap Aryan, untuk apa Berlian kesal, padahal terlihat jelas Aryan tidak nyaman mengobrol disana, laki-laki itu hanya merespon dengan tersenyum tipis lalu menatap kearah lain sembari sesekali menegak minuman ditangannya. "Nih gue kasih tau satu hal ya..." Berlian menoleh, "kalau lo merasa gak nyaman lihat Aryan ada yanh deketin, sebaiknya lo cepat-cepat ambil hati dia, sebelum hatinya berbalik lagi ke perempuan yang lo bilang menyebalkan itu."


Berlian tertawa nyaring, "maksud lo gue cemburu? yang bener aja, Angga. Kenapa gue harus susah susah buat ambil hati dia, gue sama dia itu cuma urusan bisnis semata, mau dia diambil siapa gue gak perduli."


Angga diam. Dia tidak ingin memberitahu kenyatannya bahwa Berlian sudah tertarik pada Aryan. "Oke, maaf kalau gue salah ngomong, kalau menurut lo begitu, kenapa lo gak pergi aja dari sini, malam ini gue bener-bener sibuk dan gak punya waktu untuk memberi saran yang gak diterima baik sama pemikiran dangkal lo."


"Unfortunately it will come in handy. udah minggir.." Bahu Berlian oleng saat Angga mendorongnya pelan, laki-laki itu sudah sibuk berjoget sembari memeluk seorang perempuan dalam pelukannya.


"Iya, lo boleh seneng-seneng tapi gak Salsa anak didik gue yang polos juga lo embat, Angaa..."


"Berisik loo......" Angga mendorong lagi hingga Berlian terguncang dab terhuyung kebelakang.


"Eitss,, hati-hati," mendengus kesal ketika Reza yang menangkap punggungnya, "kenapa sih, kelihatan kesel gitu, have fun dong, kan ini........Woy,,," Reza terdiam ketika Berlian merampanh minumannya dan menegak habis. "Kenapa diminum, itu minuman gue."


"Nyicip..."


"Parahhh,, itu gak boleh lo minum..." Berlian berjalan melewatinya tanpa merasa bersalah telah menghabiskan minumannya.


"Kenapa Za?"


Reza menggeleng pelan, "Berlian nyerobot minuman gue.."


"Ambil lagi sana, tenang, gue yang bayar,"


Reza menggeleng. "Itu minuman udah gue campur--Ah gatau ahhh," Reza terlihat kesal dan kembali mengambil minuman lain.


********


Berlian berjalan ke arah toilet dan melototi gerombolan laki-laki yang terus menggodanya. Itulah alasan kenapa ia tidak suka pergi ke tempat seperti ini.


Memasuki salah satu toilet kosong, Berlian mendaratkan pantatnya di closet duduk, seluruh tubuhnya menggigil. Berlian merasa bingung, hawa disini terasa sangat panas, beberapa kali mengipas lehernya menggunakan tangan, melepas jaket tapi tubuhnya menggigil, memakai jaket tapi tubuhnya kepanasan. Jalan tengahnya adalah Berlian melepaskan jaketnya, Berlian tidak bisa lagi mengontrol nafas, atau ini gejala demam.


Atau jangan-jangan hiperpnea Berlian kambuh, tapi Berlian tidak merasakan tertekan dan juga setres akhir-akhir ini. "Gue mau pulang,,,,," Berlian mengurungkan niatnya ketika ia mendengar suara lemparan benda di lantai.


"Dari dulu, Aryan masih gak bisa di goda aja ya Zee," perempuan itu menendang tas yang ia lempar tadi.


"Gak tau," menatap pantulan dirinya dicermin jengah. "Kemungkinan gue kurang cantik dari tunangannya itu,"

__ADS_1


"Siapa namanya, gue lupa..."


"Berlian,"


"Nah iya, Berlian, setelah dilihat dari dekat biasa aja tuh, masih cantikan lo lah." Berlian memejamkan, ini yang di katakan Zaskia bahwa Berlian harus berhati-hati dengan perempuan bernama Zivana.


"Gue kurang sexy?" Melihat kedua temannya yang menggeleng.


"Zivana? Lo tu udah sempurna, itu tadi cuma taktik mereka aja biar buat lo cemburu, cuma pura-pura. Mending lo usaha lagi," Zivana mengangguk meyakinkan dirinya untuk berjuang lebih kuat lagi.


Tangannya sudah meremas Handle pintu. Setelah tidak lagi terdengar suara berisik mereka, Berlian keluar. Kenapa kakinya menjadi lemas untuk berjalan menuju tempat Aryan berada, Berlian menepis tangan seorang pria yang mencoba membantunya. "Lepas.. Emosi gue lagi gak stabil,"


"Santai dong,,,,"


"Gimana gue bisa santai kalau calon suami gue mau di rebut sama orang."


Beberapa pria disana tertawa, "halah, baru juga calon mba, kalau gitu biar kita temenin aja.."


Berlian menepis lagi. "Mba mba. Sejak kapan gue nikah sama mas lo. Minggir gak!!!"


"Galak bener cantik," Berlian tidak menggubris mereka. Tapi salah satu pria yang menggoda malah menyentuh tangan Berlian.


"Temenin bentaran aja,,,"


"Jangan sentuh, awas Awas.. Parasit lo,"


"Ya elah jutek amat...."


"Minggir lo kutu."


"Eeh udah udah jangan di ganggu, galak nih kayaknya," salah satu pria berbaik hati melerai untuk tidak menggoda Berlian yang terlihat sangat kesal. Dan untungnya akibat pria baik hati itu mereka berhenti mengganggu Berlian.


Sekali lagi Berlian memfokuskan pandangannya kearah Aryan yang duduk di temani Zivana. Kini tangan wanita itu sudah melingkar di lengan Aryan.


Cih,


Berlian berhenti di hadapan Aryan. Sama sekali tidak menganggap Zivana berada disana yang wajahnya sedikit kesal. Mungkin karena kehadiran Berlian.


Aryan berdiri ketika melihat Berlian yang terlihat kurang baik. "Sayang, kamu dari mana aja?" Berlian mendorong tubuh Aryan.


"Sit down," Aryan menurut untuk duduk. Zivana melotot kaget bagaimana bisa Berlian melakukan itu. Di hadapannya, duduk di pangkuan Aryan.


Aryan sedikit tersentak dan mendorong tubuh Berlian pelan. Membuat Berlian berdecak sebal. "Berlian kamu kenapa?" Aryan meraih jaketnya dan memakaikan ketubuh Berlian.


Berlian malah sibuk memainkan rambut Aryan dan menempel manja.


Berganti Zivana yang merasa panas sekarang, semakin kesal saat meminta izin kepada Aryan untuk pergi. Aryan hanya menganggukan kepala.


"Panas?" Memeluk Aryan manja.


"Kamu sakit?" Tanya Aryan sembari menyentuh kening Berlian yang membenamkan wajahnya di dadanya. Berlian mendongak.


"Berlian sadar," Aryan menjauhkan tubuh Berlian dan menggoncangkan. "Kamu kenapa sih?"


"Gue gak suka sama tu perempuan," Aryan mengerutkan dahinya bingung.


"Siapa??? Zee maksud kamu??" Berlian mengeram kesal mendengar Aryan memanggil nama wanita itu.


"Berhenti panggil cewek itu dengan sebutan Zee, lo aja panggil gue cuma Berlian Berlian Berlian. Gue juga punya panggilan kecil, bego." Berlian bersidekap dan melihat ke arah lain. "Lo bilang sendiri mau lupain dia, tapi kenapa lo diam aja sewaktu dia deketin lo, hal itu bisa membuat lo goyah, Ar." Aryan tersenyum, ia memilih tidak menanggapi protes ucapan terakhir Berlian.


Mereka sama-sama terdiam, Aryan mengelus puncak kepala Berlian membuat perempuan itu menoleh, saat mata mereka bertemu Berlian mendekatkan bibirnya pada bibir lembut Aryan.


Pertemuan terjadi dalam waktu sekejap sebelum tiba-tiba Berlian menaruh kepalanya pada bahu laki-laki itu dan nafasnya mulai teratur.


...☘️☘️...


BERLIAN WIJAYA VALFREDO

__ADS_1



__ADS_2