
"Ya ampun, Gena. Bikin kaget aja," Berlian sempat takut jika itu Aryan atau orang lain.
"Kenapa kak?" Berlian menggeleng, dan menaruh kembali foto dirinya. Dia lupa akan melakukan apa dengan foto itu.
"Kok sudah pulang, katanya mau ada acara wisata kampus?" Mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Di batalin, katanya bakal dikasih informasi lagi, kalau jadi," mendengar jawaban itu, Berlian manggut-manggut sok mengerti, padahal ia sangat-sangat tidak perduli.
"Kamu sudah makan?" Gena mengangguk mendengar pertanyaan dari Berlian. "Ah. . . Bagus lah, aku ke kamar dulu," Berlian baru melangkahkan kakinya keluar, tangannya langsung di cekal oleh Gena.
"Kak tunggu,," mencekam lengan Berlian.
Apasih ini, aku gak mau ngomong sama kamu. Berlian memasang wajah bertanya.
"Emm. . mau pergi keluar sama aku, pergi jalan-jalan aja. Quality Time," Berlian mengangkat satu alisnya.
Quality Time. Oh jangan dong, aku gak mau main sama kamu, kamu itu membosankan tau gak?
Namun, Berlian mengangguk menyetujui.
Apa yang bisa Berlian lakukan? Tidak ada. Berlian sangat perduli dengan hati seseorang, Berlian sungguh tidak tega. Apalagi dengan orang yang baru ia kenal. Adasih untuk pengecualian.
********
Akhirnya, mereka memutuskan untuk menonton film saja. Bukan, bukan Berlian yang memutuskan tapi gadis ini. Iya, gadis yang sedari tadi menemplok kepada Berlian, menggelayut manja.
Padahal Chacha yang notabene adik kandungnya saja, untuk memutuskan memeluk dirinya harus berulang-ulang berpikir. Tapi, gadis ini malah tidak tahu diri.
"Ahh. . . sebentar kak, ponselku berdering," akhirnya, Gena melepaskan gelayutan di tangannya.
"Iya mama," telinga Berlian seakan-akan melebar.
Itu pasti telepon dari Tante Yana.
Gena menyerahkan ponselnya kepada Berlian. "Mama, mau ngomong," Berlian langsung menerima sodoran ponsel Gena.
"Iya tante, ini Berlian."
"Sayang, jangan pulang malem-malem?" Itu yang ingin diucapkan Udayana kepadanya, Berlian menggeleng kesal. Benar-benar tidak penting. "Sayang," Udayana memanggil Berlian karena tidak menjawab ucapannya.
"Iya tante, cuma mau nonton film aja kok, habis itu pulang,"
Gena langsung mendekat. "Mama. Gena gak mau pulang cepet, setelah nonton kami mau pergi ke tempat lain,"
Terdengar Udayana mendesah. "Berlian berikan ponselnya kepada Gena," Berlian langsung menyodorkan, beberapa menit Gena terdiam tiba-tiba mimik wajah gadis itu berubah murung.
"Mama. . ."
"Sayang. . ." Ucap Udayana lembut. "Kalau menolak, baiklah. Mama akan suruh Mas Aryan untuk nyamperin kalian Oke. Harus ada yang ngejaga kalian," wajah Gena semakin cemberut.
__ADS_1
"Kan ada Kak Berlian yang bakal jagain Gena,"
Berlian melirik. Memangnya aku babysistermu apa?
"Berlian saja, perlu pengawasan sayang," Gena mendesah tidak rela. "Kalau tetap menolak pulang cepat, mama langsung telepon mas Aryan buat nyamperin kalian,"
"Iya, Gena pulang cepet," sudah tidak terdengar lagi obrolan mereka, karena Gena sudah memasukkan ponselnya kedalam tasnya.
"Kenapa?" Tanya Berlian basa-basi.
"Habis nonton kita pulang, kalau engga pulang cepat. mas Aryan bakal nyamperin kita, gak asik bangetkan? padahal ini urusan cewek," Berlian melihat Gena begitu kesal.
"Sudah, lain kali, kita bisa pergi berdua," Gena melebarkan matanya, menyetujui ide dari Berlian.
Mereka berjalan mendekati gedung bioskop, dan memilih film yang dipilih oleh Gena, serunya, Gena memiliki kesukaan film horror seperti dirinya.
Jika menonton film bersama Chacha atau Denada, Berlian akan mengalah dengan film yang mereka berdua pilih, Romance.
Setelah selesai menonton dan mengisi perut, mereka memutuskan untuk pulang, sesuai janji kepada Nyonya Abraham.
********
Sesuai perintah Udayana, Aryan dengan setia menunggu di dekat pintu keluar, bersandar pada mobil yang terparkir rapi. Melihat Berlian dan Gena keluar dia berjalan mendekat, "ada tempat yang mau di tuju lagi?"
"Pulang aja, gue capek," berjalan melewati dan langsung masuk kedalam mobil.
"Memangnya itu karena mas?"
"Iyalah, masa gak sadar? jangan suka nurut sama mama, laki-laki kan selalu berpikir dengan logika, kenapa mas gak mas pakai?"
Aryan mengerutkan dahi, "maksudnya?"
"Kak Berlian juga butuh comfort yourself, menyamankan diri."
Aryan menarik tangan Gena, membuatnya berhenti melankah mundur, "Kamu bisa jatuh,"
"Kan ada mas yang bakal memperhatikan langkah Gena." Tangannya bersidekap, "besok besok, kalau mama suruh jemput jangan beneran langsung jemput, tapi telepon Gena dan bilang kalau kami di bebaskan untuk berpergian tanpa dirusuhi tentang pulang. Kenapa mama harus khawatir? Gena lihat ada laki-laki berbadan tegap dan besar yang terus mengawasi kami,"
Aryan menoleh kebelakang, mencari keberadaan laki-laki yang di maksud oleh Gena, tangan adiknya meraih pipi dan memertahankan untuk fokus menatapnya, "setelah Gena perhatikan dia bukan laki-laki yang jahat, bahkan Gena dekati dan Gena tanyakan, dia bodyguard yang diperintahkan oleh Samuel Bramantio, dan katanya itu ayah kak Berlian, Gena gak boleh kasih tau hal ini sama kak Berlian."
Aryan mencubit pipi Gena, "apa yang dia katakan?"
"Dia akan berhenti mengikuti kak Berlian kalau mas Aryan tidak ada," Gena bergerak memeluk tubuh Aryan, "jadi, jangan takut kami akan kenapa-kenapa kalau mas tidak ikut."
********
Udayana sudah berdiri didepan pintu, menunggu kedatangan anak-anaknya dan calon menantunya.
Bu Nuri yang berdiri disebelah Udayana juga sedikit cemas, hampir menjelang malam mereka belum sampai juga.
__ADS_1
"Apa mereka main dulu ya bu?" menatap resah gerbang rumahnya.
"Kurang tau, bu," bu Nuri sedikit mendekat. "Maafkan Gena Bu, dia menjadi gadis yang manja dan membangkang. Saya akan..." Udayana langsung menghentikan ucapan Bu Nuri,
"Sudah sudah, Gena itu menjadi anak yang manja juga karena kami yang membuatnya begitu. Jadi saya akan maklumi,"
Bu Nuri menunduk. "Sekali lagi maaf,"
Udayana mengangguk, mempercepat drama yang telah di buat bu Nuri, "oh iya bu, sementara ada Berlian. Tolong jagakan dia ya kalau saya, Mas Abraham dan Aryan tidak ada di rumah," bu Nuri mengangguk, karena sebelum kedatangan Berlian, semua anggota di rumah sudah di beri informasi mengenai Berlian. "Dia, masih butuh pengawasan, penyakitnya masih harus di awasi."
"Baik bu,"
"Jangan buat dia setres, jangan banyak ajak dia bicara, dia tidak terlalu bisa bersosialisasi dengan banyak orang, tolong beritahu Gena juga ya bu."
"Baik bu,"
Obrolan mereka terhenti ketika mobil Aryan terlihat memasuki halaman kediaman Mahesvara. Udayana berjalan cepat, melihat Aryan keluar lebih dulu dari dalam mobil.
"Ada apa? Kenapa lama sampai rumah? Kalian pergi ketempat lain dulu?"
Aryan menggeleng. "Macet mama, di jalan ada kecelakaan tadi," Udayana mengangguk mengerti, lalu melihat Aryan menggendong Gena dari dalam mobil.
"Gak bisa di bangunin?"
"Mungkin kecapekan," Udayana sudah melihat Aryan menggendong Gena berjalan masuk kedalam rumah. Lalu, ia berjalan mendekati Berlian yang terlihat baru bangun. Membuat Berlian kaget melihat Udayana berdiri didepan pintu mobil.
"Ta-ante, ada apa??" Udayana menggeleng lalu memeluk Berlian.
"Tidak terjadi apa-apa kan sayang, waktu kalian keluar tadi?" Berlian menggeleng.
Memangnya akan terjadi apa? Berlian bingung dengan jalan pikiran Udayana ini.
"Yaudah ayok masuk, dingin." Mereka berjalan beriringan.
Aryan yang baru menuruni tangga, berjalan mendekat ke arah Berlian dan Mamanya yang masih berbincang.
"Berlian, mau tidur di kamarku lagi?" mata Berlian melebar menatap Aryan, laki-laki iti tidak tahu tempat bertanya ya? dia melirik Udayana, wanita itu hanya saling menatap dirinya dan Aryan bergantian.
Berlian menggeleng kecil.
"Kamu masih belum berani tidur sendirian ya? apa mau tante temani?" Kenapa di saat ini ucapan Udayana sungguh membuat hatinya terenyuh, bergetar karena sebuah perhatian kecil. "Eh kok nangis,"
Bukannya menjawab, ini kali pertama Berlian langsung memeluk Udayana. "Apa Berlian gak ngerepotin tante, kalau Berlian meminta tante untuk menemani Berlian tidur?"
"Kenapa tidak sayang, duh, kamu bikin khawatir saja," melepaskan pelukan, "kamu bersihkan diri dulu sana, tante akan buatkan kamu susu hangat."
"Terima kasih tante," Udayana merangkul Berlian berjalan menuju kamarnya sembari bergurau kecil, hal itu membuat Aryan terasingkan karena tidak di hiraukan oleh keduanya.
...☘️☘️...
__ADS_1