Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (22)


__ADS_3

Zoya valfredo. Wanita yang sangat tangguh, mandiri dan kuat, ia memiliki beberapa usaha di Jerman, memiliki butik cukup ternama diJerman, ia juga memulai usaha Rumah makan di Indonesia baru-baru ini.


Dipuncak kesuksesan yang ia miliki, ia mendapatkan Anugrah indah dari Tuhan. melahirkan seorang anak laki-laki, bernama Andronico Valfredo. Ia sangat mencintai anaknya, anak yang ia lahirkan tanpa sebuah pernikahan.


Namun, itu tidak menjadi sebuah penghalang untuk kebahagiaannya. Mencurahkan seluruh cintanya untuk anak semata wayangnya. Apapun yang Andro inginkan akan Zoya wujudkan.


Saat Andro mulai beranjak dewasa, ia bertemu dengan seorang sahabat asal Indonesia, bernama Samuel Bramantio. Menceritakan betapa indahnya Negara Indonesia, dengan berjuta-juta rakyat ramah dan rasa peduli yang tinggi. membuat Andro penasaran seperti apa Indonesia itu.


Saat ia berniat meminta izin untuk pergi. "Tidak Andro, Mama tidak mengizinkannya. Mama tidak mau berpisah denganmu, tidak bisa menjagamu, tidak bisa memantau dengan siapa kamu berteman, Mama sangat mengkhawatirkan dirimu"


"Mama, Andro sudah dewasa. Andro punya teman disana. Dan juga, Andro ingin melanjutkan pendidikan disana" Zoya menghela nafas berat, ia sangat tidak siap berpisah dengan putranya sematawayangnya.


"Banyak di Jerman Universitas yang bagus Andro, kenapa memilih diIndonesia yang jauh" Mencoba membuat putranya mengurungkan niat.


"Selain ingin menempuh pendidikan disana. Andro ingin mencoba mempelajari adat Indonesia, Andro janji akan pulang setiap ada waktu libur" Dengan berat hati, terpaksa Zoya mengizinkan, Apalagi ini menyangkut pendidikan Andronico.


Selama menempuh pendidikan di Indonesia, Andro banyak mendapatkan pelajaran tentang Indonesia.


Menceritakan bagaimana Indonesia dengan Mamanya yang berada di Jerman, mereka tidak pernah lepas kontak.


Saat asik mengerjakan tugas dikantin kampus, Samuel datang bersama seorang wanita disampingnya.


"Wih, Rajin" Andro membalas tersenyum. "Andro, She is my friend"


"Hallo, Basagita Putri Wijaya" Menampilkan senyum yang sangat indah. Wanita ini mempunyai ciri khas wajah Indonesia.


"Hallo, Aku Andronico Valfredo. Salam kenal" Mereka bersalaman dan saling melemparkan senyuman.


"Kamu bisa bahasa Indonesia?? aku tadi ragu mau pakai bahasa apa" Andro tertawa.


"Aku sudah mempelajari bahas Indonesia Jauh sebelum aku mencintai Indonesia" Basagita tertawa kecil mendengar itu, terdengar seperti sebuah gombalan. "Samuel, apa dia pacarmu?" Membuat Samuel langsung menggeleng cepat.


"Enak saja, dia sahabatku sejak SMA, dia ingin sekali berkenalan denganmu" Mendapat pukulan kecil dari Basagita, tampak wanita itu tersenyum malu-malu.


Semula Andronico membuat sebuah prinsip saat akan menempuh pendidikan di Indonesia, Selesaikan cepat dan pulang ke Jerman. Tapi setelah menjalin hubungan bersama Basagita untuk beberapa bulan. Prinsipnya berubah, Selesaikan cepat, Mencari pekerjaan dan membawa Basagita ke Jerman mengenalkan pada Zoya sebagai calon istrinya.


Karena Zoya yang terlalu mencintai dan menyayangi putranya sampai membuatnya tidak terima putranya beranjak dewasa apalagi sampai berpikiran untuk menikah, dengan gadis asal Indonesia pula.


Sebetulnya Zoya begitu Anti dengan Negara itu, mengingat seseorang yang darahnya mengalir dalam diri Andronico.


"Kenapa harus wanita yang berasal dari Indonesia Andro, Mama bisa mencarikan wanita asal negara sendiri. Putuskan dia" Kalimat itu sangat menyakiti Andro, untung saja Basagita tidak mengerti Bahasa Jerman. Membuatnya diam saja, yang ia tahu dari tatapan Zoya adalah wanita itu tidak menyukai dirinya.


"Dia gadis yang baik Mama, cobalah untuk mengenalnya" Zoya menggeleng.


"Setelah kamu menikah dengannya, kamu akan semakin menjauhi Mama, Andro. Mama hanya punya kamu" Mata Zoya mulai berkaca-kaca.


********


Basagita mendekati Andro yang sedang duduk termenung, sejak pertemuan dengan Zoya tadi. Andro belum mengajaknya bicara.


"Ada apa Andro?" Mendengar Basagita mendekat, Andro berdiri memeluknya.


"Tidak ada" Semakin mengeratkan pelukannya.


"Mamamu mengatakan apa?" Andro diam seribu bahasa.


Tidak mendapatkan jawaban dari Andro, Basagita memutuskan untuk menemui Zoya dengan nyali kuat.


"Nyonya" Panggilnya lirih. Basagita memberanikan diri untuk mendekat. "Maaf Nyonya, aku berbicara lancang. Aku sangat tulus mencintai putramu" Setidaknya wanita itu tahu Bahasa Inggriskan?


"Basagita, kamu tahu? Aku sangat menyayangi Andro, dia satu-satunya yang kumiliki. Aku tidak ingin berpisah darinya" Menjawab tanpa mau menatap Basagita, wanita itu sedikit tersentak ketika Zoya menjawab dengan Bahasa Indonesia yang sangat lancar.


Tidak terlalu memusingkan hal itu, Basagita mulai menjawab. "Kenapa kalian harus berpisah? Aku tidak akan membiarkanmu sendirian lagi? Orang tuaku mengizinkan aku tinggal disini, Anda tidak akan sendirian lagi" Zoya menatap Basagita.


"Benarkah?" Basagita mengaggukkan kepalanya, tentu berita itu membuat Zoya senang bukan main, ia langsung memeluk Basagita erat. Membuat Basagita bahagia, bahwa cintanya tidak lagi terhalang oleh restu.


Setelah dua tahun pernikahan, Basagita melahirkan seorang putri cantik bernama Berlian Wijaya Valfredo. Semula berjalan sangat sempurna, hingga ketika Andro begitu mencurahkan perhatiannya kepada Berlian dan Basagita membuatnya iri dan berkecil hati.


Membuatnya semakin hari semakin membenci Basagita, kehadiran Samuel yang setiap hari selalu berkunjung membuatnya mendapatkan ide buruk.


"Apa yang Mama katakan?? itu tidak masuk akal Ma. Tidak mungkin Gita dan Sam berhubungan" Mencela ucapan mamanya.


"Mama melihatnya sendiri Andro, Samuel mencium. . . "


"Mencium Berlian??" Celah Andro. Beberapa kali sudah Mamanya memfitnah istri dan sahabatnya tanpa bukti, membuatnya sangat jengah terhadap Mamanya sendiri. Dengan pilihan terakhir Andro berpura-pura percaya dan membawa Basagita kembali ke Indonesia.


Saat mengetahui bahwa Andro masih bersama Basagita. Membuatnya murka dan langsung pergi menemui Basagita. Lalu, merebut buah hati mereka, Berlian.


"Jika kalian tidak ingin berpisah biarkan aku yang merawat Berlian" Andro mengehela nafas dan menatap Basagita yang terus menangis, tidak ingin Berlian dibawa pergi.

__ADS_1


"Baiklah, dengan syarat tetap ada perawat yang menjaga" Zoya mengiyakan syarat dari Andro, dan membawa Berlian ke Jerman.


Fakta yang nyata, Zoya tidak pernah merawat Berlian dengan benar. Setiap Berlian menangis, Zoya langsung membawa Berlian dan mengurungnya di basement.


"Tangisan anak cengeng itu membuat kupingku panas dan pengang"


"Nyonya kasihan Nona Berlian" Ucap perawat ketika ia tidak berdaya mendengar Berlian kecil berteriak semakin keras.


"Diam, jika tidak ingin kupecat"


Itu berlangsung setiap hari, jika Zoya tidak mengurungnya pasti ia memukul Berlian.


Saat Berlian menginjak umur 10 tahun. Andro baru mengetahui dari perawat, bahwa Zoya selalu memukul Berlian dan melarang Berlian keluar rumah. Entah itu perawat keberapa yang Andro bayar, karena selebihnya selalu berhenti dengan alasan Berlian anak yang nakal.


Tapi setelah mendengar laporan dari perawat yang sekarang, sebenarnya Berlian adalah anak yang baik dan penurut hanya saja Zoya yang selalu membuat Berlian menangis dan tertekan. Perawat yang dulu-dulu tidak tega melihat perlakuan Zoya kepada Berlian dan tidak berani melaporkan kepada Andronico dan lebih memilih berhenti bekerja.


Andronico langsung terbang ke Jerman dan mengambil Berlian kembali. Andronico semakin murka ketika tahu bahwa Zoya tidak menyekolahkan Berlian.


"Mama, aku tahu kau tidak menyayangi Berlian. Tapi, setidaknya hargai Berlian sebagai anakku. Dia darah dagingku. Apa yang kau lakukan semakin membuatku ingin menjauhimu" Zoya yang ketakutan mendengar ucapan Andro langsung berlutut memohon ampun, karena masih tersulut emosi Andro mengelak membuat Zoya jatuh tersungkur. Tamparan mendarat dipipi Andro. Plakkk . . .


"Maafkan aku menampar anakmu Nyonya" Samuel memeluk Zoya dan menepuk punggungnya menenangkan. "Dulu aku menyayangi Nyonya Zoya seperti ibu keduaku diJerman. Aku membencinya karena dia menuduhku berselingkuh dengan istrimu dan memiliki Berlian hasil perselingkuhan kami" zoya menitihkan air mata. "Tapi aku tidak akan membuat ibumu menangis karena penyesalannya, dan mendorong ibumu hingga tersungkur"


"Aku tidak membuatnya tersungkur Sam, aku hanya mengelak. Dia sudah membuat putriku menderita selama ini, aku tidak ingin berita ini membuat istriku shock dan membuat anak kedua kami tertekan?" Nafas Andro memburu karena menahan amarah. "Dia sudah menuduhmu bercinta dengan istriku, kau adalah sahabatku Sam. kau tidak mungkin seperti itukan??"


"Cukup Nic, bagaimanapun dia ibumu. Aku sudah meminta maaf padanya walaupun aku tau tuduhannya salah, biarkan dia membenciku. Aku tidak ingin dia membenci Berlian"


"Dia masih membencimu, dan dia juga semakin membenci anakku. Dia membuat Berlianku menderita" Andro berteriak karena kesal. "Aahhhh bangsatt!!!" Mengutuk dirinya, karena Andro merasa dirinya yang pantas disalahkan, teriakan itu membuat Berlian menangis dalam pelukan perawat. Zoya berlari mendekati Berlian dan memeluk serta mencium Berlian berulang-ulang.


"Maafkan Oma Berlian, maafkan Oma" Menangis dalam pelukan Berlian, Zoya mendekati Samuel dan memohon ampun dengan apa yang dirinya tuduhkan. Sudah pasti Samuel memaafkan bukan?


Setelah beranjak remaja Berlian menjadi gadis yang penakut terhadap orang banyak. Apalagi setelah kehilangan Andronico membuatnya benar-benar frustasi.


********


Beberapa orang menatapnya iba sekaligus risih, Berlian duduk ditempat peluncuran anak-anak ditaman. Memandang kesegala arah sembari menghisap rokok ditangannya.


"Hai??" Seorang pria berseragam sekolah mendekat dan menyapanya.


"Who Are you??? Go" Teriak Berlian ketus, sangat tidak suka ketika orang lain mendekat.


"Aku Farrel, salam kenal" Berlian tidak membalas uluran tangan pria didepannya.


"Engga, cuma mau kenalan"


"Go!!!!!" Teriak Berlian lagi. Berlian berdiri dan membuang puntung rokok sembarangan.


"Kamu harus buang sampah pada tempatnya" Tanpa bersalah Berlian melewati itu saja.


Besoknya, mereka bertemu lagi ditaman, ditempat yang sama.


"What do you want???" Tanya Berlian kesal.


"Aku kan cuma mau ngajak kenalan"


"Kayaknya dia gak bisa bahasa Indonesia deh Rell" Berlian memutar bola matanya malas.


"Berlian Wijaya Valfredo" Berlian mengulurkan tangannya. tentu saja Farrel langsung membalas itu.


"Ezra Farrel, dia Angga Mahendra" Berlian mengangguk saja. Farrel jongkok dihadapan Berlian.


"Kamu sekolah dimana?" Berlian hanya menatap Angga yang bertanya.


"Homeschooling" Jawabnya cepat. Membuat Angga langsung menceritakan tentang indahnya sekolah membuat Berlian menginginkan tempat itu.


"Berlian, rokok itu bisa membunuhmu loh" Farrel bersuara setelah lama menatap Berlian dan Angga bercerita. Berlian diam saja.


"Sayang" Berlian melotot menatap seseorang berdiri diambang pagar pintu masuk, melambaikan tangannya.


Berlian berdiri membuang rokoknya dan langsung mengambil permen tangkai yang Farrel hisap.


"Ehh... "


"Masih bau rokok gak?" Tanya Berlian kepada Angga dan Farrel bergantian. Mereka mengendus dan menggeleng bersamaan. Berlian langsung berlari meninggalkan mereka berdua ditaman.


"Daddy" Teriaknya.


"Dedi siapa?" Farrel menatap Angga.


"Daddy, Ayah maksudnya. Bukan Dedi temen kita"

__ADS_1


********


"Apa yang terjadi Gita?" Tanya Samuel penasaran dengan keadaan Berlian.


"Putrimu itu, dia mintak sekolah disekolah Negri, dia tidak mau Homeschooling. Kenapa tiba-tiba dia merengek seperti itu" Samuel melangkah menuju lantai atas. "Kamu mau kemana Sam??"


"Bicara dengan putriku"


Berlian menceritakan tentang bertemunya dirinya dengan kedua pria itu, kedua pria yang bercerita tentang indahnya masa SMA.


"Daddy, Berlian mau sekolah juga" Mendapat penolakan dari Samuel, ia takut Berlian tidak bisa berbaur dengan anak yang lain. Karena traumanya.


Setelah memohon dan banyak yang janji ia ucapkan, akhirnya Berlian diizinkan bersekolah. Dan hari-hari disekolah Berlian hanya diisi dengan Farrel dan Angga. Berlian tidak pernah berbicara kepada siapapun, Berlian hanya mau berbicara kepada kedua pemuda itu.


"Heh bocak tengik" Farrel dan Angga langsung terperangah kaget.


"Iya Daddy" Samuel langsung melotot mendengar Angga memanggilnya seperti itu.


"Beraninya kau"


"Maafkan teman saya Om" Farrel langsung membela.


"Hmm" Kembali menuju niatnya untuk bertanya. "Apa yang Berlian lakukan disekolah?"


"Seperti biasa Om, tidak ada yang berbeda" Jawab Farrel lantang.


"Bagaimana dengan teman perempuan, apa bisa dia berbaur?" Sangat penasaran dengan keseharian Berlian disekolah.


"Masih belum"


"Bantu dia untuk itu?" Farrel dan Angga mengangguk setuju.


Setelah lama bersama Farrel dan Angga, membuat Berlian memiliki rasa ketertatikan kepada Farrel dan mereka menjalin asmara dipesta perpisahan sekolah.


Zoya yang mengetahui Berlian menjalin hubungan dengan seorang pria yang tidak memiliki latar belakang yang pantas membuat Zoya kembali posesif dengan Berlian. ia sangat menyayangi Berlian dan langsung datang ke Indonesia, memintanya untuk mengakhiri hubungannya.


"Putuskan dia"


"Oma, kami hanya pacaran"


"Aku tidak perduli, dia sama sekali tidak memiliki kedudukan yang sama dengan kita Berlian" Berlian menggeleng cepat.


"Tapi dia memiliki hati yang baik dan sabar"


"Itu tidak berpengaruh untukku" Berlian menolak membuat Zoya marah.


"Lihat dia Gita, kau membuatnya menjadi anak yang pembangkang" Zoya menatap Basagita sinis.


"Bukan aku yang membuat dia seperti itu, dia sepertimu. Dia tumbuh menjadi anak yang tidak perduli dengan sekitar, Egois." Bukannya mengerti, Zoya semakin marah dan membawa paksa Berlian ke Jerman, Melarang Berlian melanjutkan kuliah. Membuatnya frustasi dan terpaksa menghapus cita-cita untuk belajar dikampus yang sama dengan Farrel.


"Kamu harus punya keberanian untuk mengambil Berlian kembali Gita, bila perlu Ambil Charlotte juga" Samuel membuat jiwa lemah Basagita terbakar. ia harus bisa mengambil keputusan untuk anak-anaknya. ia yang lebih berhak atas anak-anaknya.


Mendengar Basagita akan datang, Zoya langsung kalang kabut dan membuat Berlian seperti biasa. "Ada apa? tumben berkunjung"


"Ma, aku bukan berkunjung. aku akan mengambil anak-anakku"


"Berliaaan" Panggil Zoya.


"Kenapa hanya Berlian, panggil juga Chacha. Dia anakku juga"


"Apa maksudmu"


"Chacha anakku, dia akan kubawa dan kebesarkan sendiri. Sudah cukup Mama mengasuhnya, jangan membuat Chacha menjadi anak yang egois seperti Mama. Cukup Berlian saja yang merasakannya"


"Aku tidak membuatnya seperti itu"


"Kurang puas, Mama mengasuhkan dari kecil hingga sekarang? kini Aku sudah tidak repot lagi, aku bisa mengurusnya" Kini Zoya tidak seperti dulu lagi, rasanya ia tidak mampu melawan Basagita. membiarkan Berlian dan Chacha ikut bersama Basagita.


"Tapi bolehkah aku menemui mereka lain kali??" Basagita mengangguk.


"Kenapa tidak? Mama adalah Omanya bukan" Zoya tersenyum dan memeluk Basagita, ternyata berpikir dingin membuat hati bahagia. Ia sudah tua buat apalagi berbicara menggunakan ototnya.


Basagita memasukkan Berlian kursus penerbangan dan Berlian masih berhubungan dengan Farrel kembali atas izin Basagita dengan lapang dada. Karena ia tidak pernah memilih kepada siapa anaknya berhubungan, selagi pria itu adalah pria yang baik. walaupun Farrel belum memperkenalkan diri dengan baik sebagai kekasih putrinya.


Kini, setelah mengetahui Farrel menghilang dan berpisah dengan Berlian, membuat Zoya bahagia sekali.


Apalagi mendengar dari Basagita bahwa Berlian akan bertunangan dengan Aryan seorang pria muda yang sukses.


Bahkan Aryan dikategorikan sebagai pria diatas standar calon keluarganya.

__ADS_1


...☘️☘️...


__ADS_2