
Sinar matahari pagi yang terik menyelinap menerobos jendela ruangan tanpa izin, membuat mata seseorang yang masih terlelap silau terkena pancaran cahaya, membuatnya terpaksa bangun.
Berlian membuka mata perlahan, matanya masih berat untuk di buka, kepalanya juga masih terasa sangat pusing. Berlian celingak celinguk melihat seluruh ruangan yang terasa asing baginya. Berlian melihat jaket yang semalam ia kenakan tidak lagi menyelimuti tubuhnya.
Ia tidak perduli. Rasanya Berlian ingin menggeliat untuk menikmati nyamannya ranjang ini. Tapi, tunggu sebentar, Berlian tersadar ketika merasakan kepala seseorang menindihi perutnya, membuatnya mengurunkan niat untuk menggeliat.
Tunggu, Siapa ini?
Mata Berlian membulat, ketika melihat seorang laki-laki tidur satu ranjang dengannya, tanpa membuat laki-laki ini terbangun, Berlian mencoba perlahan bergerak untuk melihat. Setelah puas melihat, ia ternganga ketika tahu laki-laki yang tertidur pulas sembari memeluk dirinya adalah Aryan. Mata Berlian semakin melotot ketika laki-laki itu menggeliat manja memeluk tubuhnya semakin erat, membuat sebuah guncangan tubuh Berlian semakin menempel pada Aryan.
What?
Berlian mematung, kenapa ia dan Aryan bisa tidur bersama. Tidak terjadi apa-apa kan? Aah, memikirkan untuk lari dari kenyataan ini saja Berlian tidak bisa, bagaimana untuk memikirkan kejadian semalam.
Ayoo Berlian, cari cara.
Menghembuskan nafas pelan. Berlian bergerak dengan hati-hati, mencoba melepaskan pelukan Aryan yang sangat erat.
Wait,
Aryan terlalu kencang memeluknya. Kenapa ia harus terbangun dengan keadaan seperti ini sih??
Berlian terdiam sejenak, tidak mungkinkan ia membangunkan Aryan dan menyuruh laki-laki ini melepaskan pelukkannya? Apa yang harus ia katakan kalau memang benar ia membangunkan Aryan?
Aryan menggeliat lagi, sampai membuat Berlian merasa pelukan Aryan semakin merenggang, Berlian mengangkat pelan tangan yang melingkar di perutnya. Berlian menahan nafasnya ketika Aryan bergerak dan berbalik, mungkin laki-laki itu masih belum sadar.
********
Ting... Tong....
"Chachaaaaa, tolong bukakan pintu sayang..."
"Maleeesss mi, Chacha lagi rebahaan," balasnya berteriak.
"Hadeeh, kapan si itu anak mau bergerak," Basagita keluar dari dapur dan melihat putri bungsunya berbaring di ruang TV sembari bermain ponsel. "Astaga, Chacha sampai kapan kamu mau tidur disitu nak? Ayo bangun, waktunya mandi."
"Sebentar ya mami sayang, tanggung banget ini," menunjuk drama korea yang sedang ia tonton. Basagita hanya menggeleng heran. Kenapa sih, putri bungsunya ini sangat bertolak belakang dengan putri sulungnya? Mereka ini benar-benar berbeda sekali.
Kadang Basagita sendiri merasa bimbang, harus senang memiliki anak seperti Berlian yang pendiam dan tidak banyak menuntut namun tidak bisa diajak bergurau karena Berlian memang tipe orang yang menganggap semuanya itu dengan lurus atau anak seperti Chacha yang cerewet dan selalu memiliki pendapat sendiri namun tidak pernah bisa diajak serius karena menurut Chacha, seseorang yang terlalu serius itu akan selalu ditinggalkan seperti Berlian katanya.
Yah, untuk sekarang ini. Basagita sangat bahagia memiliki keduanya. Toh, seperti apapun sifat keduanya, setidaknya mereka selalu memberikan dukungan dan kasih sayang lewat tindakan yang berbeda.
Basagita berjalan melewati Chacha tanpa terdengar suara protesan lagi dari mulutnya. Tidak lagi terdengar suara bel pintu berbunyi, tapi ia tetap berjalan menuju pintu untuk melihat siapa tamunya.
"Siapaaa? Ehh ganteng...."
"Selamat pagi tante,"
"Pagi, kata Berlian kamu ada urusan mendesak makanya Berlian pulang duluan?"
"Iya tante,"
__ADS_1
"Urusan apa? Ayo masuk."
"Enggak sengaja ketemu teman lama tante," jawab Aryan asal, ia juga tidak mungkin menceritakan kejadian yang sebenarnya bukan?
"Oalah. Tante buatin teh hangat ya?" Aryan mengangguk.
Membawa langkah kakinya masuk ke dalam rumah, tujuan utama dia adalah Berlian, Basagita tadi mengatakan bahwa tunangannya itu sedang membaca buku diruang tengah lantai atas.
Sedangkan Berlian sendiri merasakan gugup, sangat. Berlian tidak asing dengan ketukan suara dari sepatu Alpha Black dari laki-laki itu terdengar jelas di iringi detakan jatung Berlian yang semakin memburu ketika suara sepatu itu mulai mendekat.
"Pulang jam berapa?" Aryan berdiri didekat kaki Berlian yang diluruskan pada sofa kecil.
"Hah, um gak inget," masih mencoba fokus untuk membaca, tidak ingin menatap Aryan. "Ini jaket kamu?" Menyerahkan jaket levisnya.
"Ooh, taruh situ aja," Aryan meletakkan jaket di atas meja kecil di dekat Berlian.
"Aryan......."
"Iya ma," Basagita melebarkan penglihatannya menatap Aryan. Seperti mendapat hadiah besar di siang bolong. Apa dia tidak salah mendengar tadi?
Aryan memejamkan matanya, kenapa juga ia harus salah panggil. Basagita berjalan mendekat, "tadi kamu panggil apa?"
"Umm, ma..." Ucap Aryan menggantung.
Basagita menutup mulutnya dengan takjub dan malu. "Astaga Aryan..... Aaaaaa..." seketika Basagita memeluk Aryan dengan penuh rasa bahagia.
"Kenapa tante? Maaf"
"Tapi tante, tadi itu Aryan..."
"Eitt, gak ada tapi-tapian....."
"Masalahnya....."
Basagita menutup mulut Aryan, "kamu panggil Samuel saja Daddy, kenapa tidak dengan mami?"
"Oke deh, mami." Basagita memeluk Aryan lagi dengan erat.
"Ada drama apa nih siang-siang?" Chacha mentap Berlian yang berjalan keluar dari ruang tengah.
Berlian mengangkat bahunya. "Jangan tanya gue, gue ngantuk,"
Dih,
"Kenapa Mi?" Basagita melepaskan pelukannya.
"Aryan tadi panggil mami,"
"Hah? Terus?"
"Iihhh, panggil mami dengan sebutan Ma... Aaaa seneng banget " Sembari meremat-remat lengan Aryan, tampak wajah laki-laki itu tersenyum kikuk.
__ADS_1
********
"Hahahahaaaa...." Belum juga gadis kecil ini berhenti tertawa setelah Aryan menceritakan yang sebenarnya. "Pasti mami sekarang lagi ngabarin seluruh keluarga kalau lo panggil mami dengan sebutan Ma,"
"Segitunya?"
"Hu'um,," Menjilat ice cream yang baru dibelikan Aryan. "Gue gak bisa ngebayangin kalau mami tau, lo itu salah panggil,"
"Ya jangan kasih tau,"
"Amaan,," Dia benar-benar menikmati ice cream itu, "What happen?" Matanya masih menatap kendaraan berlalu lalang.
"Soal?"
"Lo sama Berlian?" Aryan tidak menjawab, pandangannya beralih menatap kedepan.
"Tidak ada sesuatu yang terjadi kok,"
"Pasti ada," Aryan masih mencerna apa yang dimaksud calon adik iparnya ini. "Pikiran lo masih berkutat sama masa lalu lo?"
"Hmmm..."
"Sekali lagi gue udah ingetin, jangan sakitin Berlian,," Chacha tidak terdengar seperti gadis kecil yang ia kenal. "Lupain masa lalu lo, hidup bahagialah bersama Berlian," Aryan tidak bisa menjawab itu, kalau soal membahagiakan, Aryan bisa. Tapi untuk melupakan masa lalu, Aryan tidak bisa.
"Cha?"
"Hmm.."
"Apa yang terjadi, kalau aku ngelukai hati Berlian?"
"Berlian bakal ninggalin lo, tanpa ampun,"
Tidak, Aryan belum siap itu terjadi. "Bukan Berlian aja sih, semua orang kalau sudah percaya. Satu kali dikecewain dia bakal kecewa terus kan?"
"Hemm,,"
"Jangan buat Berlian kecewa?" Aryan mengangguk. Ia akan membuat Berlian tetap berada disisihnya, ia akan terus mempertahankan Berliannya agar tidak hilang. "Jangan sembunyiin sesuatu dari Berlian," pikiran Aryan buyar, jika ia terus sembunyikan sesuatu dari Berlian, ia pasti akan merasakan ditinggalkan oleh Berlian.
"Udah malem, yuk pulang..."
"Tunggu, gue abisin dulu nih ice creamnya," Menunjuk ice cream rasa jagung ditangannya.
Sembari menunggu Chacha menghabiskan ice creamnya, Aryan kembali termenung menatap kendaraan yang melintas pelan. Taman yang kini mereka berdua singgahin juga semakin malam semakin ramai, terlihat seorang perempuan tengah duduk di peluncuran dan seorang laki-laki berlutu dihadapannya sembari melepaskan sosis dari tangkainya, menjadi pusat perhatian Aryan.
Disitu ya tempat pertama kalinya? lihat, taman ini semakin berubah menjadi lebih besar dan indah.
...☘️☘️...
ARYAN TARA MAHESVARA
__ADS_1