
Seluruh mata memandangi pria yang berdiri dengan kemeja polos berwarna biru terang, Pria itu menatap jengkel kepada wanita yang tadi mengundang dadakan untuk dansa.
Terlihat kekesalan dalam raut wajah pria itu. "Tolong hentikan drama ini Jen, jangan membuat malu" ucapnya lagi untuk memperjelas.
Perempuan bergaun hitam itu tersenyum lebar. "Siapa yang mempermalukan siapa?" tanyanya kepada pria itu. "Aku? mempermalukanmu? Atau kamu yang mempermalukanku?" ia menatap pria itu dengan tatapan yang berbeda, sulit diartikan.
"Jen" terdengar memohon.
"Siapa yang sedang membuat drama? malam ini memang malam kedua kita setelah menjadi suami istri bukan?" senyuman wanita itu penuh dengan kebencian, itu yang dilihat dari Aryan.
Aryan menangkap tubuh wanita itu ketika baru saja melewatinya ia hampir terjatuh, wanita itu mabuk. Dia berjalan dengan sempoyongan. "Hati-hati" wanita itu melepaskan tangan Aryan dengan kasar.
Wanita dengan panggilan Jen itu berjalan kearah piano dan mengambil buket bunga mawar hitam, ia memberikan kepada para tamu yang ikut berdansa dan tidak lupa ia berterima kasih dengan menundukkan punggungnya. Terakhir ia berikan kepada Berlian. "Terima kasih Nona, semoga kalian selalu dalam lindungan Tuhan. Selalu diberikan kebahagiaan yang abadi" ucapnya ngawur.
"Terima kasih" Berlian menerima setangkai mawar Hitam itu. "Semoga Tuhan juga senantaiasa memberikanmu kebahagiaan" wanita itu tertawa keras, pengunjung sudah masuk dalam drama wanita itu.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Aryan. Takut kalau trauma Berlian kambuh disini. Karena sekarang semua mata sedang menatap kedepan. Tempat mereka kini berdiri.
"Gak papa, kayaknya dia butuh bantuan kita" ucapnya melihat wanita itu, Dia masih tertawa keras mendengar ucapan Berlian tadi.
Jen, wanita itu. Melangkah maju sedikit, lalu melempar setangkai bunga mawar hitam terakhir kearah pria yang berusaha menghentikannya tadi. "Untukmu, SA-YANG" menekan nada dalam panggilan sayang.
"Jen, tolong"
"Apa?" pria itu tidak bergeming, benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Entah karena sudah malu, atau bagaimana? Pria itu sama sekali tidak menghentikan perbuatan istrinya.
Tiba-tiba Jen menggerakkan tubuhnya, Berlenggok kesana dan kemari, berputar sempoyongan. "Mana musiknya?" pianis muda itu tidak berani memainkan permainan pianonya, karena Aryan mencegahnya bermain.
"Hels sialan" ucapnya ketika hanpir keseleo, dia melepas sendal berhak tinggi dan melempar dengan asal menggunakan kakinya. "Ini sepertimu, sialan" ucapnya sembari menunjuk kearah wanita yang duduk disebelah suaminya. Sedari tadi wanita itu hanya menunduk.
"Jaga ucapanmu Jen!!!" karena sudah tidak sanggup menahan amarah, pria itu bekata setengah berteriak.
__ADS_1
"Berani kamu membentakku, kamu tahu? kamu satu-satunya pria bodoh yang menyia-nyiakan aku. Haha, aku memberikanmu segalanya Rey. Dan dimalam pertama kita kamu tidur sama wanita j*l*ng itu" menunjuk wanita yang hampir menangis dengan jari tengahnya.
"Turunkan tanganmu!!!! Beraninya kamu menyebut Keyra wanita j*l*ng?" pria itu sudah melotot menahan emosi.
"Seorang wanita yang tidur bersama suami orang harus kusebut apa Rey? p*r*k? atau p*l*c*r? Ah, jangan. Sebutan itu terlalu terhormat untuk dia. Ah, ya Bitchi?? pantaskan?"
"Sialan kau?" pria itu membanting gelas kelantai, serpihan kaca sudah menjalar kemana-mana.
Jen, panggilannya bukan? Wanita itu berlari menghampiri hels yang tergeletak disebelah kaki Aryan. Menghapus air matanya sebentar, lalu mengambil hels tersebut.
Aryan menggenggam tangan Jen yang melayang diudara, tangannya masih mengepal hels tinggi-tinggi diudara.
Suasana semakin tegang, tidak ada yang berani mengambil alih untuk menenangkan. Manager gedung sudah tampak maju mundur untuk menghentikan, para petugas juga sudah siaga. Takut terjadi kekerasan disini.
"Lepas" Aryan tidak bergerak. "Lepas kubilang"
"Jangan kotori tangan anda Nona" Berlian melihat kearah Aryan, ia kira Aryan akan diam saja seperti biasa.
"Setelah anda mengundang kami untuk merasakan kebahagiaan anda sesaat, sekarang anda mengatakan jangan ikut campur?" ucap Aryan menyadarkan, dengan pelan melepaskan genggaman tangannya. "Anda sudah mengganggu acara pribadi kami dengan mengundang kami untuk maju kesini, Anda sudah membuat semua orang beralih menjadi perhatian kearah sini, anda sudah menyeret kami semua kedalam masalah anda. Semua, berarti saya juga termasuk. Dan sekarang anda mengatakan kepada saya untuk tidak ikut campur?" menatap kasihan kepada wanita itu. "Seharusnya sedari awal jangan ajak kami" Aryan berusaha mengalihkan perhatian wanita itu, ia juga merasa waswas dengan keadaan sekitar. Berliannya tidak bisa dilihat oleh banyak orang.
"Aku sangat mencintai kamu Rey, semua sudah aku lakukan untukmu. Aku sudah memberikan segalanya" tubuh wanita itu beringsut terduduk dilantai. "Dengan teganya kamu bermain dibelakangku" memeluk tubuhnya sendiri dengan menangis tersedu-sedu.
Aryan mengelus dagu Berlian sebentar. "Ada yang pernah memberikan nasehat kepada saya" semua orang beralih menatap kearah Aryan, pria itu sudah menatap lurus kedepan. "Resiko terbesar jatuh cinta itu adalah rasa sakit hati, semakin besar kamu mencintai seseorang itu. Maka, kamu akan merasakan sakit lebih besar" Beberapa orang mengangguk menyetujui quote mutiara tiba-tiba dari mulut Aryan. "Tetap Cintai dia, tapi jangan miliki dia" Jen semakin meneteskan air matanya deras.
"Kehidupan baru saya, baru saja dimulai. Saya merasa sempurna telah menikah dengannya" ucap Jen lagi.
"Sempurna? Hahahahha" Berlian menggeser langkahnya kecil, ia terkejut melihat Aryan tertawa besar. Tidak hanya Berlian, Sang Manager, petugas keamanan, pria dan wanita yang menjadi dalang keributan, bahkan wanita bernama Jen itu sampai mendongak, semua orang saling pandang. Aryan tidak pernah tertawa, jangankan tertawa. Untuk tersenyum saja Berlian jarang melihat itu. "Ups Sorry. Tidak ada yang hidup sempurna didunia ini Nona? Memangnya kamu pikir, kamu sedang berada disurga?" kini beralih Jen yang tertawa keras, tawanya menggelegar kesemua penjuru ruangan.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanyanya.
"Lepaskan dia" ucap Aryan dengan tegas. Jen menatap Aryan tersenyum. Tunggu, Berlian tidak tahu arti senyum itu. Tanpa sadar ia bergerak meraih tangan Aryan, menggenggam dan menguncinya.
__ADS_1
Dia sendiri tidak tahu, tangan kanannya menggaruk kening padahal sedang tidak gatal. Berlian tidak sedang menunjukkan jari bersemat cincin pertunangan kan?
Sepertinya Aryan mengerti dengan melihat tingkah Berlian, karena ia kini tersenyum menatap Berlian.
Yang membuat Berlian melotot, Jen mengulurkan tangannya kearah Aryan. Berlian meremas tangan Aryan, ketika Pria itu menerima uluran tangan Jen, Jen berdiri dengan memegang tangan Aryan. "Maaf, tidak mengenalimu Tuan, Aryan Tara Mahesvara" seluruh orang beralih saling pandang lagi. Yaaa, tidak ada yang sadar kalau itu adalah Aryan. Putra pewaris Mahesvara, Pengusaha muda yang sukses.
"Tidak masalah" jawab Aryan.
"Saya mengenali quotes anda tadi" Berlian menggeleng kecil, hati kecilnya sedikit tidak terima melihat wanita itu menatap Aryan dengan pandangan lain.
"Nona" Berlian bersuara, ia harus bersuara untuk membuat wanita itu melepaskan pandangannya. "Anda mengatakan, bahwa anda memberikan pria itu segalanya Kan?" Jen mengangguk. "Maka, lepaskan dia?"
"Kenapa? Kenapa aku harus melepaskan dia?"
Berlian mengencangkan genggamannya. "Dia tidak akan ada artinya tanpamu?" ucapan Berlian menyambar.
"Benarkah?" tiba-tiba pria itu berlari mendekati Jen.
"Jen, Sayang maafkan aku" Jen menepis, matanya sudah memandang rendah kepada Rey, suaminya.
Tidak hanya Jen, seluruh orang juga terkejut dan memandang kasihan kepada pria itu. Dia hidup berkat wanita itu, kenapa dengan beraninya ia bermain dusta? Tidak tahu malu.
"Kamu benar Nona? Dia tidak ada artinya tanpa diriku. Lepaskan aku ********" menendang pria yang sudah berlutut menyentuh kakinya. Wanita simpanannya langsung berlari menuju lift, selain karena malu akibat perbuatannya sendiri, ia juga malu karena melihat kelakuan pria tidak tahu diri itu.
"Kenapa Berlian?" tiba-tiba Berlian bersandar pada bahunya, tangannya sudah mencekam lengan Aryan.
"Farrel" ucapnya lirih, pandangan Aryan kesana kemari. Tidak mungkin disaat seperti ini Berlian melihat Farrel?
Aryan bergegas mendekap Berlian dan ia tuntun naik keatas lantai VIP, seorang pria dengan tubuh besar menghadang ditengah tangga. "Tuan Aryan, maaf saya tidak mengenali anda tadi?" Aryan menerima jabat tangan itu lalu memeluk Berlian lagi.
"Maaf, saya naik dulu" membawa Berlian naik dengan cepat. Aryan mendudukkan Berlian ditempat sofa mereka tadi, bergegas mengeluarkan kantong kertas dari dalam kantong jasnya setelah melihat Berlian kesusahan dalam mengambil nafas.
__ADS_1
"Aryan" mendengar seseorang memanggilnya. Aryan langsung menarik Berlian dalam dekapannya. Membiarkan wanita itu mencari udara didalam pelukkannya. Aryan tidak ingin orang lain melihat kondisi Berlian seperti saat ini.