Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (7)


__ADS_3

Setelah seminggu kepergian keluarga Mahesvara, Timo terus mendesak Berlian untuk memberikan jawaban kenapa keluarga Mahesvara memutuskan untuk pulang lebih awal dari yang di janjikan. Karena dia yakin, Berlianlah alasan utamanya.


"Ayo jawab??" Sembari melotot memandang Berlian.


"Mana Berlian tau sih pakde, kan bukan urusan Berlian." Membantah dengan nada sedikit kesal.


"Pakde yakin, kalau mereka pergi akibat perbuatan kamu." Timo lagi-lagi menuduh dengan fakta yang memang dibenarkan oleh hati Berlian.


Iya, emang kenapa kalo Berlian yang buat mereka pergi? Gerutu Berlian, tapi tidak berani dia ucapkan.


"Engga Pakde, suer. Berlian gak tau apa-apa." Berlian berusaha menepisnya, segala hal tentang kenyataan yang membenarkan dirinya lah yang menjadi alasan utama mereka pergi mendadak.


"Kamu tu......" Timo berhenti bicara ketika Chacha memukul tangannya.


"Pakdeee...." Chacha menatap cemberut ke arahnya. "Please ya jangan fitnes kakaknya Chacha, Berlian itu orang yang jujur seratus persen." Berlian mengacungkan jempol kearah Chacha.


"Sok tau kamu." Kembali ingin melontarkan tuduhan kepada Berlian, tapi Chacha lebih dulu menerobos.


"Pakde yang sok tau, dasar tukang fitnes." Bahkan Chacha sudah berani melototi Timo.


"Fitnah maemunah, dasar buaya betina." Ucap Timo mengejek.


"Apaaaaaa!!!???" Teriakan Chacha memekik. Yaahh sudah tahu endingnya, mereka bertengkar sampai Timo mengalah atau Chacha yang akan menangis keras.


Setelah kepergian keluarga Mahesvara, Berlian sedikit tenang menikmati harinya. Tidak ada gangguan dari Udayana.


Malam ini semua anggota Wijaya berkumpul diruang tengah kecuali Alicia, dari siang memang sudah izin pergi bersama tunangannya. mbok Jem menyediakan dua box berisi salad buah diatas meja.


Sarah sedang diet, sudah sejak lama dia anti dengan makanan yang akan membuat badannya gemuk. Dan dia selalu meminta mbok Jem untuk membuatkan cemilan sehat. "Pa, salad buahnya." Sarah memberikan salad buah kepada suaminya yang sedang memejamkan mata menikmati terapi kursi pijat.


Lalu dia mengambil majalah dan membacanya. Sesekali melerai Chacha dan Denada yang ribut akibat memperebutkan aktor korea yang sedang mereka tonton.


Basagita datang membawa nampan berisi minuman sirup. "Minumannya," membuat Denada dan Chacha berhenti menonton drama korea dan beranjak dari tempat duduknya meraih minuman.


"Makasih Tantee cantik." Puji Denada.


"Sama-sama Dena sayang," Denada tersenyum dibalik gelas yang sedang menempel pada bibirnya.


Ting... Tong...


Bell rumah berbunyi. Membuat penghuni rumah terkejut, bahkan Berlian yang sedang menggunakan earphone pun mendengar.


"Biar mba aja Git." Sarah beranjak dari tempat duduknya untuk membukakan pintu, mbok Jem yang sudah berlari menuju pintu juga ia cegah.


"Gakpapa mbok, biar saya aja." Mbok Jem mengangguk dan kembali ke dapur.


Saat membuka pintu, Sarah terpekik sempat menutup mulut dengan kedua tanggannya. "Papa Lihat siapa yang datang?"


Berlian, Chacha, dan Denada terlihat penasaran dan melihat, sama terkejutnya mereka dengan tamu yang datang.


"WHAT THE F*CK" Chacha meringis karena mulutnya mendapat tepukan ringan dari Basaguta. "Sakit Mi."

__ADS_1


"Dijaga omongannya." Basagita beranjak dari tempat duduk dan berjalan anggun ke ruang tamu di ikuti Timo dan Berlian dibelakangnya. Mereka sedang berpelukan seperti kerabat yang sudah lama berpisah.


"Hallo Berlian. Ahh, tante kangen banget sama kamu." Berlian membalas pelukan erat Udayana.


"Iya Tante, Berlian juga." ingat! Itu hanya ucapan penuh kebohongan.


Berlian mendongak ketika kepalanya di usap lembut. "Hai," Sapa Aryan, Berlian hanya tersenyum singkat lalu pergi ke dapur membantu mbok Jem membuatkan minuman.


"Wahh,, ada apa nih? kenapa malam-malam datangnya?" Ucap Timo.


"Haha, maaf mas kami mengganggu." Jawab Abraham.


"Haha ya enggak toh." Sembari menepuk bahu Abraham yang duduk didekatnya.


Berlian datang lagi membawa minuman diatas nampan, menaruh satu persatu gelas di hadapan tamu, mereka masih bercengkerama.


"Ada apa nih?" Ucap Timo penasaran.


"Ternyata kemarin Aryan bohong, dia ingin menolak perjodohan ini." Ucapan Abraham membuat semuanya terkejut, "namun setelah dia pikirkan lagi, akhirnya dia menyetujuinya dan menginginkan untuk tetap lanjut." Benturan antar gelas dan meja kaca yang keras membuat para tamu sempat terkejut lagi bersamaan.


"Hati-hati sayang." Berlian hanya mengangguk menatap Udayana dan pamit pergi, tidak ingin mendengar kelanjutannya.


Basaguta menatap Aryan. "Apa terjadi sesuatu? kenapa tiba-tiba kamu ragu dengan perjodohan ini?"


"Tidak tante, kemarin hanya bimbang. Maaf."


********


Kok bisa sih dia nerima perjodohan itu, kenapa? Bukannya kemaren mereka pergi karena mereka mutusin buat mengakhiri ini. Lah terus ini apaa. Aargghh


Sesekali menghela nafas berat sembari memandangi air mancur yang mengalir deras dan indah. "Jangan bengong nanti kesambet loh." Berlian melihat Aryan duduk disebelahnya.


Berlian hanya tersenyum kecut, dia meraih sodoran botol Cola. "Kenapa kembali? Gue kira lo gak bakal mau balik lagi."


"Cie, nunggu ya?" Goda Aryan sambil tertawa kecil.


Berlian tertawa sinis. "Dih... Ya engga lah, cuma nanya aja." Aryan tersenyum, wanita ini benar-benar dingin dan jutek.


"Kemaren ada kerjaan penting, Aku juga pergi karena aku perlu mikirin ini dan aku kembali karena sudah mendapat jawabannya." Berlian sedikit tertarik dan tatapannya tertuju pada Aryan penuh. "Aku akan tetap terima kamu. Walaupun kamu pernah membuat kesalahan dengan pasangan kamu, itu gak masalah buat aku. Karena itu hanya masa lalu." Berlian sempat takjub mendengarnya.


"Lo serius??"


Aryan mengangguk yakin. "Aku sudah berjanji untuk menjagamu." Ucap Aryan.


"Janji sama siapa? Lagian gue gak butuh penjagaan dari lo. Gue bisa jaga diri sendiri." Lagi-lagi Berlian keheranan dan mencoba menghindari.


"Berlian. Kamu perlu orang yang bisa kamu percaya, orang yang perlu mengerti keadaanmu, orang yang...."


"Pantes itu lo?" Aryan terdiam. Bukan itu lanjutan ucapannya.


"Bukan, Berlian."

__ADS_1


"Terus apaa??" Berlian meninggikan suaranya. "Lo tau kan alesan gue nolak lo itu apa?"


Aryan menghela napas. "Iya aku tau Berlian?"


"Gue juga ngasih alasan khususnya, gue kira setelah gue kasih tau itu. lo bakal berhenti, bukan itu yang lo ucapin kemaren?" Aryan baru akan mengelurkan pendapatnya. "Gimana kalo Farrel kembali?" Aryan menatap Berlian, mencerna pertanyaan dari berlian.


"Berlian---"


"Gimana kalo Farrel kembali???? Jawaab?" Aryan tidak bisa menjawab itu. "Kenapa lo diem? Jawab? Gue--"


"Kita buat kesepakatan aja."


"Maksudnya?"


"Aku capek Berlian, Mama selalu maksa aku buat cari pasangan. Mama selalu kenalin aku sama anak temen-temennya, saat Papa memberikan fotomu tanpa pikir panjang aku mengiyakan, karena aku lebih percaya sama pilihan Papa." Mwngusap wajahnya gusar.


Semoga dia percaya alasanku ini.


"Dengan alasan apapun dari gue lo tetep gak perduli karena alasan lo cuma capek?" Aryan mengangguk. "Kesepakatan apa yang lo maksud?"


"Kalo Farrel kembali aku akan lepaskan kamu?" Berlian tertawa mendengar itu.


"Ngaco lo, bohong banget." Ternyata Aryan mampu membuat lelucon, pikir Berlian.


"Aku serius!!" Jawab Aryan dengan mimik wajah yang sangat serius, tidak ada terlihat kebohongan diwajahnya.


"Lo yakin mau lepasin gue kalo gue tau keberadaan Farrel dan dia dateng ke gue lagi? bahkan bawa gue pergi?" Aryan menatap lekat. Kembali berpikir dengan ucapan Berlian.


"Aku yakin, sangat yakin. Apapun itu aku janji akan lepasin kamu. Aku cuma butuh lari dari desakan Mama." Aryan benar-benar menjawab dengan tegas tanpa berpikir.


"Lo juga harus tau kalo gue gak bakal suka sama lo apalagi jatuh cinta sama lo!!" Ucapan Berlian menusuk gendang telinga Aryan, padahal itu sangat lirih terdengar.


"Iya aku tau, apapun resikonya aku terima. Walaupun nantinya aku akan menyukaimu aku akan buang rasa itu?" Lagi-lagi Berlian terkejut, mereka saling menatap satu sama lain.


"Ini menyangkut masa depan dan lo yakin sama ucapan lo?" Aryan mengangguk yakin.


Setelah memikirkan situasi yang terjadi dengan pertimbangan penuh, akhirnya Berlian setuju dengan kesepakatan yang di buat oleh Aryan. "Janji?" Berlian mengacungkan jari kelingkingnya, Aryan berpikir sejenak dan memilih membalas perjanjian kelingking tersebut.


Setelah itu Berlian terdiam sejenak, memikirkan kesimpulan di otaknya. "Oke. In my opinion, this will be better, gue terima." Berlian berdiri dari tempatnya duduk dan mengulurkan tangan kearah Aryan. "Kita perlu ngasih kabar baik ini ke semua anggota yang bersangkutan." Aryan memperhatikan uluran tangan itu. "Biar ada feelnya kita perlu pegangan tangan gak sih atau ini terlalu lebay " Aryan berdiri lalu menggenggam tangan Berlian yang menatapnya tersenyum tulus untuk pertama kali.


"Pegangan juga gak berlebihan kok. Maaf kalo aku pegang." Mereka jalan beriringan. Aryan menahan senyumnya. Akhirnya.


...☘️☘️...


ARYAN TARA MAHESVARA



BERLIAN WIJAYA VALFREDO


__ADS_1


__ADS_2