Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (84)


__ADS_3

Basagita memperhatikan Berlian, putrinya belum memejamkan mata. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 23:30 pm.


"Kamu belum ngantuk?"


Berlian menoleh, merubah posisi tidurnya menghadap sang Mama.


"Belum Mi."


"Kamu sering bergadang ya? lihat nih lingkar mata kamu hitam parah banget."


"Masa?" mengikuti araham tangan Mamanya mengusap matanya. "Padahal Berlian udah pake eye cream lo Mi."


"Besok pulang ke Jakarta ya? kita perawatan."


Berlian dengan cepat menggeleng. Enak saja pulang, Berlian sudah merasa betah disini.


"Eh. Kenapa? jelek tahu, matanya hitam gitu."


"Bukan, Tante Yana kasih recomend salon bagus disini Mi, langganan Tante."


"Oh ya??" melihat Berlian mengangguk, Basagita tersenyum. "Kamu betah disini?"


"Um, lumayan Mi."


"Disini emang tempatnya nyaman banget, apalagi keluarga yang bener-bener harmonis, Mami suka." Berlian bergerak memeluk dan bersandar didada Mamanya.


"Mi, Berlian boleh cerita sesuatu?"


"Iih boleh dong. Masa gak boleh." melihat Berlian sebentar, lalu kembali memeluknya erat, ini kali pertamanya Berlian ingin membuka cerita.


Maklum, mau sebesar apapun cara Basagita memaksa Berlian untuk menceritakan masalah keseharian atau kegundahan hati, Berlian tetap tidak akan membuka mulutnya, putrinya ini lebih memilih membungkam mulutnya rapat-rapat. Mungkin karena sudah terbiasa sejak kecil, memendam semuanya sendiri.


"Mau cerita apa?"


"Menurut Mami, Aryan itu gimana?"


Udayana tertawa kecil. "Katanya mau cerita, kalau ucapan kamu itu pertanyaan sayang."


"Ini nanya dulu, Mami."


"Hem. Aryan ya, apa ya? Mami suka sih, anak yang bertanggung jawab, berwibawa, dan juga dia ganteng."


"Hah, Mami, kenapa yang dinilai Mami cuma gantengnya doang."


"Iya, maaf. Apa lagi dong, semua yang ada padanya itu Mami suka, dan dia bisa membimbing kamu kejalan yang benar." Berlian cekikikan.


"Memangnya Berlian lagi tersesat."


"Iya dong. Tersesat pada Farrel, kamu stuck dihati pria itu. Mami gak suka, dia gak tulus sama kamu."


Mendongak melihat kearah Basagita. "Tapi Berlian sayang sama dia."

__ADS_1


Basagita terdiam, sayang. Hm, Basagita terlalu tua untuk tahu arti dari kata sayang.


"Mami."


Basagita terkejut. "Iya sayang."


"Aryan janji sama Berlian, kalau Farrel dateng dia bakal lepasin Berlian."


Kali ini Basagita yang menunduk melihat putrinya masih mengikis kukunya dengan kuku yang lain.


"Betulkan, dia pria yang bertanggung jawab. Semua tinggal pilihan kamu Berlian, mau bertahan mencintai Farrel atau bertahan dengan Aryan yang mencintai kamu." Berlian menahan tawanya. "Hei, kenapa? kalau mau ketawa ya ketawa aja, kenapa musti ditahan."


"Dari mana Mami tahu kalau Aryan cinta sama Berlian? Mi, kita ketemu Aryan baru beberapa kali loh."


"Ketemu beberapa kali gak jadi masalah buat Mami tahu dia suka kamu atau engga."


Berlian diam. Ada benarnya ucapan Mamanya, karena Berlian selalu merasa special setiap kali bertemu dengan pria bertubuh tinggi itu.


"Dari dia tatap kamu, dari dia tiba-tiba nyibakkin rambut kamu kebelakang, geser poni yang nutupin mata kamu, tersenyum waktu lihat kamu ketawa sama Chacha." ucapnya sembari memperagakan.


Berlian menunduk tidak berani menatap mata Mamanya, ia kini tersipu malu. Memangnya itu yang dinamakan rasa suka.


Tersenyum simpul mengingat ucapan Mamanya.


"Kenapa? perlakuan itu wajar kok buat orang yang sayang sama kita. Berlian, dengerin Mami ya. Kenapa Mami nikah sama Papi kamu? karena Mami merasa menjadi orang yang special. Mami juga ngerasain perlakuan yang berbeda dari Papi kamu, makanya Mami bertahan walaupun Zoya dulu tidak setuju. Dan kenapa Mami gak mau nikah secara sah sama Daddy kamu? Kami itu cuma Gimik. Terlihat romantis didepan banyak orang, padahal kami menikah untuk mengambil hak Mami, dan Daddy mu. Cih, dia tidak seromantis Papi kamu, Mami gak pernah ngerasa berbeda waktu sama Daddy kamu, makanya Mami biasa aja."


"Gimik."


"Nyaman, aman."


Dua kata yang sangat dimengerti oleh Basagita. Ini yang dicari putrinya, seseorang yang membuatnya merasa nyaman dan aman.


"Berlian sudah buka hati untuk Aryan?"


Berlian mengangguk.


"Jalanin dulu ya sayang. Mami yakin kok kalau kamu bakal punya rasa itu."


"Mami bakal ingkar janji? Mami gak pegang janji Mami kalau Farrel kembali nanti?"


"Engga. Bukan gitu loh."


"Mi, Berlian percaya sama Mami, kalau Mami bisa jaga janji Mami, tapi satu hal. Kalau Mami ingkar Janji, Berlian akan pergi dan bahkan gak mau ketemi sama Mami."


"Ih serem." langsung memeluk Berlian erat. "Mami gak akan biarin kamu pergi. Janji."


********


"Selamat pagiiiiiiii." sapa Udayana didapur, ia sedang membantu menyiapkan piring-piring dimeja makan. "Gimana nyaman tidurnya?"


"Iya mba, nyaman banget rumahnya."

__ADS_1


"Ahh, tinggal lebih lama aja lagi Git. Aku seneng lo kalo kamu masih mau disini?"


"Haha gak usah." melambaikan tangan pada Samuel yang baru masuk. "Sam, gimana sama tidurmu? nyaman? kita beli rumah disini aja kali ya? Biar bisa deket sama Berlian nantinya."


"Gak, aku sudah mempersiapkan rumah untuk mereka." Udayana terdiam.


"E. .e. .e Tuan Sam sudah menyiapkan rumah untuk Aryan dan Berlian?" Samuel mengangguk.


"Kenapa Sam? padahal aku sudah mau membeli untuk mereka berdua." timpal Abraham.


"Aku sudah duluan. Haha, ," menyodorkan tablet. "Lihat. Pemandangan yang indah bukan?"


"OH MY GOD." Udayana menutup mulutnya. "Cantik banget Tuan." rumah megah, dengan dua lantai, bahkan itu lebih besar dari rumah miliknya, halaman yang sangat luas, dan menghadap laut.


"Aku Daddy yang sempurna bukan?" Sembari tercengang Abraham dan Udayana mengangguk.


"Kapan kamu nyiapin itu semua?" tanya Basagita sembari melirik rumah yang dipersiapkan oleh Samuel.


"Waktu aku di Kanada, Chacha telepon dan mempromosikan rumah temannya, butuh dana cepat dan dia sangat ingin membantu. Awalnya aku menolak, tapi Chacha bilang bisa untuk hadiah pernikahan Berlian. Aku langsung setuju." menjelaskan dengan gaya yang tetap sombong.


"Waw." Abraham masih tidak percaya, berbesanan dengan seorang Samuel. "Bagaimana kalau aku yang membelikan tiket bulan madu, kemana pun? keliling eropa? keliling dunia? aku mampu."


"Simpan uangmu Tuan Abraham. Zoya sudah menyiapkan tiket itu."


"Apa, Zoya?" Basagita kembali terkejut.


"Tolong sisakan aku satu hadiah." ucap Udayana memelas. Lalu menatap Berlian dan Aryan bergantian. "Kalian ingin apa? akan kami belikan?"


"Ma, makan dulu? Aryan harus kekantor."


"Oh oke." mereka kembali makan dengan fokus, tapi tetap saja Udayana masih mencela dengan mengatakan akan memberika hadian pernikahan dengan ide yang tidak masuk akal. Membelikan pulau, membelikan kapal, membelikan pesawat. Sesuatu yang akan menyaingi hadiah dari keluarga Wijaya.


Ditengah itu, semua terdiam dan melihat kearah Basagita, sewaktu wanita cantik itu mengatakan. "Sam, kamu memang suami idaman. Ayo kita nikah secara Sah."


Dan semua menoleh kearah Samuel. "Jangan konyol, kamu bukan tipeku Gita."


Dan kembali menatap Basagita dengan wajah iba dan kasihan. Ditolak.


Setelah selesai melewati sarapan pagi, semua berkumpul didepan melihat Samuel dan Basagita berpamitan pulang.


"Hati-hati yaa, main lagi kapan-kapan." teriak Udayana sembari melambaikan tangan tinggi-tinggi.


setelah itu Aryan dan Abraham berpamitan pergi ke kantor, diikuti Gena untuk pergi ke kampus.


Berlian berbalik lagi ketika Udayana memanggil.


"Kenapa Tante?" kaki kanan sudah masuk kedalam rumah, membuatnya berdiri diambang pintu.


"Kamu mau hadiah apa sayang? minta yang lebih mahal dari keluarga kamu." Berlian menghela nafas dan masuk meninggalkan Udayana, tentu saja itu bukan akhir segalanya.


Udayana mengikuti Berlian seperti tidak ada kerjaan, dan diselang dia mengikuti Berlian. Wanita itu terus bertanya Berlian ingin apa?

__ADS_1


__ADS_2