
Dengan tergesa Bagas mengikuti blankar yang membawa Tasya ke ruang IGD karena suhu tubuh Tasya yang sangat tinggi,saat tiba di depan ruang IGD seorang suster menghentikan langkah Bagas .
"maaf mas nya tunggu saja di luar ,lebih baik mas nya segera daftarkan pasien serta di segerakan membayar administrasi nya agar pasien segera di beri tindakan " ucap suster nya , tanpa mendengar sahutan Bagas ,suster itu pun masuk ke dalam ruang IGD dan langsung menutup rapat pintu nya
"huh....kalau belum bayar emangnya gak akan cepat di tangani seenak nya aja suster itu ngomong , padahal nyawa itu lebih penting daripada uang " Bagas pun segera ke bagian administrasi dengan terus menggerutu
setelah selesai dengan admistrasi Bagas pun segera kembali ke ruang IGD ,di sana sudah ada Vina ,Novi dan Bima .
"ngapain dia ada di sini?" batin nya melihat Bima
"kalian tahu dari mana kalau Tasya di sini?" tanya Bagas
"pak Bima yang memberi tahu saat kami kembali ,katanya pak Bima melihat kamu membopong mbak Tasya yang pingsan ,dan di bawa ke rumah sakit " saut Novi
"oh ...iya aku lupa tadi dia juga ada di hotel" ucap Bagas pelan
"kenapa lama sekali ?" tanya Vina
"semoga saja tidak terjadi sesuatu yang buruk pada mbak Tasya" lirih Novi menatap pintu yang tertutup
"Sya .....ayolah ....loe pasti hanya demam biasa " batin Bagas tak tenang
Ia duduk di lantai bersandar pada pintu dengan mengusap wajahnya kasar ia beberapa kali menghela nafas ,sungguh perasaan nya saat ini sangat gusar ,ia sangat mengkhawatirkan kondisi Tasya .
Novi dapat melihat kekhawatiran di wajah Bagas pun hanya meringis menahan sesak,ia tak menyangka Bagas akan se khawatir itu pada Tasya
mungkin karena mereka sudah berteman lama begitu fikir nya menepis semua perasaan tak enak nya
"tapi seperti nya hubungan mereka lebih dari sekedar teman atau sahabat dan mungkin mereka tak menyadari perasaan mereka satu sama lain ,apa aku harus membantu mereka biar bersama,tapi aku juga menyukai nya ,Ya Tuhan kenapa aku harus di hadapkan dengan situasi seperti ini " Novi membatin seraya memperhatikan gerak gerik Bagas
"kamu tenang kan hati kamu Gas, Tante juga sama khawatir pada Tasya ,tapi Tante yakin Tasya tidak apa-apa,mungkin benar jika Tasya hanya kelelahan saja " hibur Vina saat melihat Bagas tidak tenang ,kadang ia duduk dan menunduk ,kadang ia berdiri dan mengintip meski ia tak bisa melihat apapun karena gorden di pintu yang berkaca itu tertutup rapat ,kadang ia juga berjalan mondar-mandir dengan mulut yang tak henti-hentinya merapalkan doa
"kamu sudah hubungi keluarga nya ?" tanya Bima ,Bagas menggeleng
Ia pun segera merogoh saku celananya ,dan menghubungi seseorang dari ponsel nya
"halo bi.... ini aku Bagas , bi tolong sampaikan pada tante dan om kalau Tasya pingsan dan masuk rumah sakit , saat ini masih di periksa di ruang IGD" ucap Bagas
"innalilahi.....Ya Allah.....non Tasya ....baik bibi akan segera ke sana, tuan dan nyonya berada di luar negeri nanti bibi sampaikan "
telpon pun terputus
"gimana ?" tanya Novi
"orangtuanya gak ada lagi di luar negeri kata nya ,tapi art nya akan ke sini " sahut Bagas
pintu pun terbuka namun
bruk
Bagas terjengkang karena posisi nya saat ini tengah duduk bersandar di pintu,al hasil ketika pintu terbuka Bagas pun terjengkang ke belakang .
"eh ...maaf mas ....saya tidak sengaja " ucap dokter nya membantu Bagas berdiri
"iya tidak apa-apa, bagaimana keadaan nya dok ?" tanya Bagas
terdengar helaan nafas nya sebelum dokter itu berbicara
"gimana dok?" tanya Bagas lagi
__ADS_1
"anda siapa nya pasien ?" tanya dokter itu
"saya teman nya ,keluarga nya sedang berada di luar negeri dok " sahut Bagas membuat dokter itu mengangguk
"baiklah saya sampai kan saja pada anda , bisa anda ikut saya keruangan saya " pinta dokter bernama Harun itu .
"bisa ,mari dok " sahut Bagas
"semoga saja kondisi Tasya tidak fatal " batin nya
"sementara saya berbicara dengan anda, pasien akan dipindahkan ke ruang rawat " ujar dokter itu
"iya dok " sahut Vina
" jadi bagaimana dokter keadaan teman saya ?" tanya Bagas tak sabar setelah kedua nya sudah sampai di ruangan sang dokter
"kondisi pasien sangat lemah sekali ,seperti nya sudah beberapa hari ini pola makan nya tidak benar , pasien juga seperti nya tidak pernah tidur dengan baik ,seperti begadang tiap malam , itu terlihat dari kantung mata yang menghitam, tekanan darah nya pun sangat rendah hingga kami harus melakukan transfusi darah,beruntung syok darah di bank darah masih tersedia , dan lagi seperti nya psikis nya sedang tidak baik ,apa pasien sedang dalam masalah keluarga atau masalah dengan kekasih nya ?" tanya dokter itu membuat Bagas yang tengah mencerna ucapan dokter itu mendongak
"saya kurang tahu dok , tapi setahu saya teman saya tidak punya kekasih dok" jawab Bagas
"begitu ya ,...saya sarankan pasien harus dirawat dulu sampai benar-benar pulih" tutur dokter Harun
"iya dok , tapi apa tidak ada hal yang lain lagi ,hanya itu saja ?" tanya Bagas memastikan
"iya hanya itu "
Setelah dokter menjelaskan kondisi Tasya Bagas pun pamit undur diri untuk segera menuju kamar dimana tempat Tasya di rawat .
Saat di lorong rumah sakit Bagas bertemu dengan bi Siti
"bi....."
"den Bagas , gimana keadaan non Tasya ?" tanya bi Siti cemas
"bagaimana kata dokter non Tasya sakit apa ?" tanya Bu Siti lagi
"kata dokter tekanan darah nya rendah ,sampai harus menerima transfusi darah , apa Tasya sedang dalam masalah bi ,maaf... tapi tadi kata dokter Tasya kurang tidur dan pola makan nya juga buruk hingga daya tahan tubuh nya lemah" tanya Bagas hati-hati
bi Siti menghela nafas ,ia terlihat sedih mendengar penuturan Bagas
"bisa bibi melihat non Tasya dulu , nanti bibi cerita kan " ucap bi Siti
"baiklah " Bagas pun akhirnya mengantar bi Siti ke kamar rawat Tasya ,tak jauh memang hanya berjalan lurus dan belok kiri lalu sampai di depan kamar bertuliskan Bougenville 02
cklek
Bagas membuka pintu ,di dalam nampak Vina dan Novi tengah duduk di dekat ranjang Tasya , sedangkan Bima sudah pergi setelah mendapat panggilan telpon tadi .
"non Tasya " lirih bi Siti menghampiri , di raih nya jari Tasya lalu di genggam nya
air mata nya luruh melihat mata Tasya terpejam dengan wajah yang pucat
"cepat sembuh non , bibi sangat menyayangi non Tasya " ucap nya terisak
"bagaimana kata dokter Gas ?" tanya Vina
"kita bicara di luar saja " ucap Bagas dan di angguki Vina , Novi pun ikut keluar
Bagas menceritakan apa yang tadi dokter ucap kan pada nya
__ADS_1
"Masya Allah..... sebenarnya apa yang terjadi pada nya " lirih Vina,kemudian ia teringat sejak beberapa hari yang lalu Tasya memang sering terlihat melamun dan selalu terlambat makan siang ,kadang ia tak makan hanya kopi hitam tanpa gula yang selalu ada di meja nya
saat ketiga nya tengah berbicara ,Vano dan Elsa pun datang
"bagaimana keadaan Tasya ?" tanya Elsa
"masih belum siuman " jawab Bagas
"kasihan Tasya semoga dia bisa melewati nya , apa yang ia rasakan sama seperti apa yang aku rasakan dulu,hanya beda nya selalu kematian yang membayangi setiap langkah ku " lirih Elsa hingga semua mata tertuju pada nya
"maksud kamu ?" tanya Vina
"eh ...enggak kok ma, tidak apa-apa ,aku hanya salah bicara " sahut Elsa meringis senyum
Vano menatap nya dan merangkul Elsa
"kita mau lihat Tasya dulu " ucap Vano ingin menghindari pertanyaan yang akan di lontarkan Vina lagi
"ya " Bagas mempersilahkan mereka berdua masuk
"Tante ,Novi ....jika kalian lelah pulang saja ,biar Tasya aku yang jaga sampai kedua orangtuanya datang " ucap Bagas ,ia tahu jika Novi memang tidak nyaman berlama-lama di rumah sakit
"nanti saja setelah Tasya siuman ,Tante ingin memastikan kalau dia baik-baik saja ,apalagi keluarga nya tak ada " tutur Vina menolak untuk pulang
"aku juga ingin di sini dulu" timpal Novi
"ya sudah " Bagas akhirnya tidak berbicara lagi , laki-laki itu melihat ke dalam ruangan dari kaca di pintu
tak lama Vano dan Elsa keluar
"kami harus pergi karena kondisi Elsa juga yang tak memungkin kan berlama-lama di rumah sakit ,loe gak usah khawatir Tasya baik-baik saja , sebentar lagi dia pasti akan bangun " ucap Vano
"lu tahu dari mana ?" tanya Bagas
"loe lupa gini-gini gue sarjana kedokteran ya gue pasti tahu lah meski gue gak pernah praktek jadi dokter sekalipun " sahut Vano
"iya ya, ya udah hati-hati kalian " ucap Bagas menepuk bahu Vano
"ma, kami pulang ,mama gak pulang sekalian ?" tanya Elsa meski ia sudah tahu jika Vina akan pulang nanti
"mama nanti pulang nya setelah Tasya sadar " ucap nya
"ya sudah kami pamit "
Elsa dan Vano pun meninggalkan rumah sakit itu
"aku ke dalam dulu" ucap Bagas
cklek
"belum bangun juga bi?" tanya Bagas ,bi Siti menggeleng
Bagas duduk di kursi samping ranjang ,tangan nya terulur meraih jemari Tasya
"cepatlah bangun , jangan bikin gue khawatir " lirih nya ,tanpa sadar Bagas mengecup punggung tangan Tasya lalu menggenggam dengan ke dua tangan nya
di luar Novi melihat dari kaca pada pintu
Bagas terkesiap saat merasakan jemari yang ia genggam itu bergerak meski mata nya masih tertutup
__ADS_1
"Sya ....kamu bangun " seru Bagas ,ia lalu memencet tombol di samping ranjang
***