
happy reading 😘
.
.
.
Elsa berteriak histeris saat melihat Kenan tergeletak tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir dari dada nya , ya Kenan terkena tembakan itu
"Kenaaaannn......" ibu Sri berteriak histeris saat melihat anak nya tergeletak tak sadarkan diri
Elsa langsung berlari dan langsung memeluk Kenan dengan terus berteriak
"tidak ....Kenan ....Kenan bangun ...banguuuun....."
" kenaaaannn......."
Kepanikan tercipta saat itu , hingga Bagas juga Reno yang tadi memegangi Riska pun langsung melepaskan pegangan tangan mereka ,dan itu digunakan Riska sebagai kesempatan untuk melarikan diri ,tadinya ia hanya berniat untuk menggertak saja ,ia juga mengira pistol itu tidak ada peluru nya karena Riska yang asal mengambil senjata api itu di meja kerja Darwin yang tak sengaja ia lihat .
namun baru saja ia melangkahkan kakinya Elsa berseru
"mau kemana loe ?" teriak Elsa dengan menatap tajam Riska ,iris mata nya kini sudah berubah ,mereka yang di sana tak memperhatikan Elsa karena mereka tengah panik dengan keadaan Kenan yang bersimbah darah
"tenangkan dirimu " ucap Vano menyentuh bahu Elsa
"mana bisa aku tenang " sahut Elsa
"apa yang sudah loe lakuin hah?" Elsa bergerak cepat ke hadapan Riska, gadis itu pun tersentak
"gu....gue ....gak tahu ....kalau .....
Elsa yang sudah di selimuti amarah pun tak mampu lagi mengendalikan dirinya , dia menyeret Riska dan melempar nya hingga mengenai meja sampai meja itu hancur , Riska yang shock juga merasa kesakitan di sejujur tubuh nya pun langsung pingsan seketika, hal itu membuat mereka yang di sana merasa terkejut dan tak menyangka jika Elsa bisa melakukan hal itu ,untuk mengangkat tubuh manusia apalagi seorang perempuan adalah hal yang sulit ,namun Elsa dengan mudah nya mengangkat hingga melempar nya .
Elsa hendak mendekati Riska namun Vano menarik nya ke dalam pelukan nya
"tenang kan diri mu , sebaiknya kita segera bawa Kenan ke rumah sakit , darah nya sudah berhasil aku hentikan ,tapi itu tidak bisa berlangsung lama ,biarkan Riska di tangani polisi ,Daddy udah menelpon polisi baru saja " ucap Vano seraya mengusap-ngusap punggung nya
tanpa menyahut Elsa pun berjalan dengan Vano mengikuti Bagas yang menggendong Kenan
Di perjalanan Elsa juga ibu Sri tak henti menangis ,mereka takut sesuatu terjadi pada Kenan ,sampai hal terburuk pun kini sudah terlintas di benak keduanya .
..........
Kini Kenan sudah di masukan ke ruangan operasi ,setelah sebelum nya di bawa ke ruang Instalasi Gawat Darurat atau IGD , Elsa yang merasa takut akan kemungkinan yang akan terjadi pun hanya duduk bersandar di pintu dengan wajah yang di tutupi kedua tangan nya sambil menunduk.
"kamu yang kuat nak, kita doakan yang terbaik buat adik mu ,Daddy yakin adik mu akan baik-baik saja" ucap Jay mencoba menguatkan menantu nya
"terima kasih Dad" Elsa menunduk , meskipun kedua tangan nya sudah tak menutupi wajah nya lagi ,namun kornea mata nya belum kembali normal ,hingga ia tak ingin mendongak dan menatap orang yang mengajak nya bicara
"ini di minum dulu" Vano memberikan sebotol air mineral pada Elsa , Elsa pun menyambut nya dan langsung menenggak air mineral tanpa membuka mata nya
Setelah itu Vano langsung mendekap Elsa di pelukan nya ,berharap Elsa akan lebih sedikit tenang .
__ADS_1
"gue gak akan lepasin loe jika terjadi sesuatu pada nya " batin Elsa yang masih di selimuti amarah
Tak ada yang bisa ucapkan saat ini ,karena akan sia-sia saja jika Elsa yang masih dalam keadaan marah, Vano membiarkan Elsa tenang dengan sendirinya , yang bisa ia lakukan saat ini adalah selalu ada di sisi nya ,menenangkan dengan cara seperti itu menjadi cara tersendiri bagi nya .
Hari dimana harus nya kini mereka merasakan kebahagiaan ,kini malah berakhir di rumah sakit
dengan segudang kecemasan pada mereka , kedatangan Riska memang sudah di prediksi kan oleh Elsa maupun Vano , namun mereka tak pernah menyangka jika hal ini akan terjadi .
Kedua nya pun masih mengenakan baju pengantin yang sudah terkena bercak darah.
Perasaan Elsa benar-benar kalut saat ini ,ia gelisah ,takut juga amarah yang tak juga meredup ,membuat nya kesusahan untuk menormalkan kornea mata nya .
Vano yang juga tak ingin semua nya melihat keadaan Elsa saat ini,ia pun membuat Elsa untuk tak terlalu berhadapan dengan yang lain , dengan menghadap pintu yang di atas nya masih menyala lampu ,pertanda operasi nya belum selesai .
Reno dan Bagas mereka pun selalu berjalan mondar-mandir ,Nena istri dari Hadi yaitu ibu nya Bagas pun berusaha menenangkan ibu Sri yang terus terisak dengan mengusap bahu nya.
Elsa memejamkan matanya ,mencoba mencari tahu apa yang terjadi di dalam ruang operasi itu .
Elsa tersentak saat mengetahui jika di dalam para dokter tengah kesusahan mengambil peluru yang bersarang di tubuh Kenan ,karena peluru nya yang hampir mengenai jantung , tim medis nampak berhati-hati mengambil peluru itu,sebab salah sedikit saja nyawa Kenan taruhan nya , seorang suster dengan telaten menyeka keringat dari kening sang dokter yang tengah berkonsentrasi pada pengambilan peluru, dokter yang lain pun turut berkonsentrasi dan menjaga agar kondisi pasien tetap stabil .
Salah satu dokter berseru saat melihat detak jantung Kenan di layar monitor menujukan garis lurus
Hal itu menciptakan kepanikan pada mereka hingga dokter yang sudah berhasil mengambil peluru itu pun dengan sigap meraih alat pacu jantung .
Elsa yang sudah tak sanggup dengan penglihatan nya pun kembali menangis ,tangisan nya yang pilu membuat siapa saja ikut terenyuh dan tersentuh .
"Kenan pasti bisa melewati nya ,dia anak yang kuat , jangan berfikir macam-macam" ucap Vano yang tak pernah melepas pelukan nya
" Ya Tuhan bantulah Kenan melawan maut nya , jangan ambil dulu dia ,perjalanan nya masih panjang , berikan lah keajaiban Mu" lirih Vano di dalam hati nya,dan tentu saja tanpa othor harus katakan lagi para netizen sudah tahu jika Elsa juga mendengar doa Vano.
Hingga pintu pun akhirnya terbuka ,namun Elsa mengerutkan kening nya saat melihat lampu di atas pintu itu masih menyala .
Elsa pun menatap nanar dokter yang keluar dengan raut lemas
" ambil darah saya dok, golongan darah kami sama " ucap Elsa tiba-tiba
"hah.." dokter itu terperanjat saat mendengar kata-kata yang Elsa ucapkan
"da ...darimana anda tahu jika pasien membutuhkan donor darah ?" tanya dokter itu
"itu tidak penting ,sekarang juga ayo ambil darahku ,dan selamatkan adik ku" seru Elsa
"baiklah tapi anda harus diperiksa dulu apakah kondisi anda memungkinkan untuk mendonorkan darah anda" sahut dokter itu
"ayo ikut dengan saya " ajak nya dan Elsa pun mengikuti langkah sang dokter
"golongan darah mereka sama " gumam ibu Sri yang masih terisak
Beberapa saat kemudian Elsa sudah kembali bersama sang dokter dengan raut wajah nya yang murung .
kornea mata nya kini sudah kembali normal
"bagaimana ,benar kah darah kalian cocok?" tanya Jay ,Elsa mengagguk namun wajah nya semakin di tekuk, lelehan bening pun kembali meluncur
__ADS_1
"ada apa ,apa yang terjadi ?" tanya Hadi
"maaf, darah mereka memang cocok ,namun kondisi nya yang lemah tak mungkin mendonorkan kan darah nya, nona tekanan darah nya rendah ,jika memaksakan diri maka akibat nya akan berbahaya bagi si pendonor nya " tutur sang dokter
"memang nya apa golongan darah nya ,siapa tau golongan darah saya sama ?" tanya ibu Sri
"bukan nya ibu adalah ibu kandung nya , atau mungkin darah Kenan sama dengan ayah nya ?" tanya Bagas
ibu Sri menggeleng
"Kenan anak angkat saya "
"apa " semua nya nampak terkejut begitu pun Elsa
"jadi apa golongan darah nya dok ?" tanya Jay
"Rh-null " jawab dokter itu
"hah....astaga langka sekali,golongan darah itu cukup sulit di temukan " seru Bagas
"bukan cukup lagi tapi memang sangat susah di temukan " timpal Vano
"lalu bagaimana dengan adik saya dok , saya mohon dok ambil saja darah ku,tak perduli dengan kondisi ku ,ayo dok lakukan " teriak Elsa dengan memohon
"biar saya yang mendonorkan darah saya , kebetulan golong darah saya sama "
semua mata sontak melihat pada arah suara
"mama" lirih nya
Jay yang berada dekat dengan Elsa pun menoleh pada Elsa
"Vina " ucap Hadi dan Nena
Elsa menengok pada paman dan bibinya
"mereka mengenalnya " batin nya
"nyonya Vina " lirih ibu Sri
"nyonya " gumam Elsa dalam hatinya
.
.
.
.
.
to be continued
__ADS_1