Yang Tak Terduga

Yang Tak Terduga
menyadari rasa


__ADS_3

Setelah membaca surat itu Bagas pun memutuskan untuk pulang ke rumah nya .


Di dalam kamar nya ia terus teringat akan isi surat itu , entah kenapa dadanya berdenyut sakit saat melihat wajah sedih Tasya .


"Sya....maafin gue ,gue bodoh kenapa gue gak nyadar kalo loe suka sama gue ,kenapa loe juga bisa banget nyembunyiin perasaan loe ke gue" lirih nya seraya memperhatikan foto kebersamaan nya bersama Tasya ,ada Reno dan beberapa teman nya yang lain juga di foto itu ,lebih tepat nya foto yang mereka ambil saat berada di desa K dulu .


"jadi pada saat kita ke desa itu ,loe udah punya perasaan lain ke gue , apa loe yang pintar bersembunyi dengan perasaan loe atau gue yang begitu bodoh menyadarinya "


"apa yang gue rasa ke loe gue gak terlalu ngeh Sya , apalagi saat gue kembali bertemu dengan Novi , entah kenapa gue malah tertarik dengan Novi ,tapi rasa sakit di hati gue saat tahu Novi menerima Bima ,tak sesakit saat loe ingin pergi jauh dari gue "


Apa yang Bagas ucapkan memang benar , ia menyukai Novi tapi saat tahu Novi bersama Bima ,ia tak begitu sakit ,ia bisa merelakan nya ,namun saat membayangkan Tasya akan pergi dan mungkin mereka tak akan bertemu lagi entah kenapa tiba-tiba Bagas merasa takut kehilangan Tasya .


Tiba-tiba ponsel nya berbunyi ,ada sebuah pesan masuk ke ponsel nya


"kejar Tasya bukan malah ngomong sendiri ,dia gak akan bisa denger suara loe "


"eh ...kenapa si Vano ngirim pesan ginian ke gue ,kenapa juga dia bisa tahu gue ngomong sendiri " Bagas merasa bingung


"loe ngintipin gue ?" Bagas membalas pesan nya


"kalau cinta kejar ,nanti keduluan bule Jerman loe nangis kejer entar " gantian Elsa yang membalas pesan yang dikirim kan ke Vano


"ini ...dua orang ini kenapa seolah-olah mereka berada dekat dengan gue , masa sih mereka di sini" Bagas pun melihat ke luar lewat jendela kamar nya hingga ia keluar menuju balkon namun tak menemukan pasangan pasutri itu


"aneh" gumam nya


"cepet pergi daripada menyesal " kali ini bukan pesan lagi yang ia terima melainkan sebuah suara yang terngiang di telinga nya


mendadak Bagas pun merasa merinding dan cepat-cepat masuk lalu menutup pintu balkon nya rapat .

__ADS_1


"mungkin benar gue juga cinta sama Tasya ,makanya gue rasanya sakit banget Tasya pergi, ya gue harus susul dia " batin Bagas lalu bergegas pergi meninggalkan rumah nya dengan mobil yang ia kemudikan dengan brutal


Sementara itu


"sayang ,pulang yuk ...udah biarin aja si Bagas ngejar Tasya , lagian siapa suruh hatinya bercabang , biar dia rasakan bagaimana sakit nya Tasya " ucap Vano pada Elsa yang kini tengah memperhatikan mobil Bagas melaju kencang di kegelapan malam menuju arah bandara ,untung saja jalanan lengang jadi memudahkan nya untuk main kebut-kebutan.


"tapi kalau nanti dia nabrak orang gimana , kan sayang mobil nya pasti rusak " ucap Elsa yang masih betah duduk di batang pohon yang bercabang


"astaga Elsa ...kamu tuh ya " Vano geleng-geleng kepala melihat tingkah Elsa yang semakin hari semakin unik


"kita pastikan tuh kadal buntung sampai di bandara dengan selamat ,setelah itu terserahlah ,aku juga sudah ngantuk ini.... hoooaammmm....." jawab Elsa lagi


"sayang ,makin hari kamu makin gemesin ya , jadi suka celetak-celetuk alias ceplas-ceplos " Vano merasa gemas dan mencubit hidung mancung Elsa


"hehe.... aku juga gak tahu , kayanya semua ucapan itu keluar begitu saja dari mulut ku " Elsa tersenyum kikuk


"ya udah gak apa-apa,asal kamu tetap mencintaiku , aku pun akan semakin mencintai mu" ucap Vano kemudian


Vano pun mau tidak mau menuruti keinginan istrinya itu . Sebenarnya Vano juga merasa heran dengan perubahan sikap Elsa yang tadinya dingin sedingin es balok namun kini berubah menjadi sehangat matahari pagi ,apalagi di tambah celotehan dan suka ceplas-ceplos, Vano pun pernah berfikir apa mungkin perubahan sikap Elsa itu terpengaruh dari perubahan hormon nya atau mungkin juga bawaan bayi dalam perut , begitupun dengan Elsa ,ia merasa dirinya seolah dikendalikan hingga suka berbicara tanpa ia inginkan kan .


"apa jangan-jangan sifat anak kita nanti nya sangat ceriwis dan suka ceplas-ceplos,sama seperti kamu saat ini" ucap Vano


"mungkin " sahut Elsa ,kini keduanya sudah berpindah tempat , mereka pindah ke atap gedung paling tinggi,dari sana mereka dapat melihat mobil Bagas yang tengah melaju dan berbelok dan kadang mengerem menghindari tabrakan


"aku gak nyangka bisa-bisa nya aku punya sepupu telmi kaya gitu " celetuk Elsa


"ya namanya juga manusia sayang ,harus merasa kehilangan dulu agar menyadari perasaan " ucap Vano


"lagian si Bagas kalau udah di tinggal aja baru nyadar dengan perasaan nya , kemarin-kemarin kemana aja ,kasihan tahu Tasya,kalau aku bisa menghapus memori nya tentang Novi pasti sudah aku lakukan " Elsa pun turut merasa gemas dengan Bagas ,ingin rasanya ia menampol wajah nya ,namun ia tak mungkin melakukan nya .

__ADS_1


Elsa mengusap pelan perut nya ,dalam hati ia mengucap amit-amit karena ia tengah kesal dengan Bagas ,ia takut anaknya mengikuti sikap Bagas , Vano terkekeh geli mendengar nya


"gak akan sayang ,karena anak ini kan anak kita,yang pasti akan mengikuti sikap dan sifat kita sebagai orangtuanya ,apalagi aku ,aku begitu menyadari perasaan ku padamu aku langsung mengatakan nya,meskipun ada gadis lain mencoba mendekat ,tapi hati dan cinta ku teguh padamu " ucap Vano menatap lembut wajah Elsa yang merona di bawah pancaran sinar rembulan yang nampak sepotong


Perlahan Vano pun mendekatkan wajah nya ,hingga ciuman manis pun hinggap di bibir tipis Elsa


"aku mencintai mu juga calon anak kita " ucap Vano seraya menyentuh perut buncit istri nya,terasa gerakan kuat dari dalam nya hingga Vano tersenyum lebar merasakan nya


"kita pulang,biarkan Bagas mengejar Tasya ,Dede bayi pengen di tengok kata nya " ucap Vano genit


"isshh .... kamu tuh ya,...eh tapi sepertinya pesawat yang Tasya tumpangi udah take off deh " Elsa terkekeh saat membayangkan bagaimana wajah bingung Bagas di sana


"ya udah ayok pulang ,biarkan Bagas berjuang sendiri " ucap Vano lagi ,Elsa pun mengiyakan ajakan suami nya untuk pulang


Sementara itu Bagas yang terengah-engah karena berlarian dari area parkir sampai dalam bandara pun langsung melihat sekeliling ,meskipun jam masih menunjukan pukul 02:28 wib kondisi bandara cukup penuh dengan orang-orang yang berlalu lalang ,mereka itu terdiri dari para pramugari dan pramugara ,ada yang tengah menunggu penerbangan ada juga yang baru sampai ,Bagas terus mencari Tasya ,ia melihat jadwal penerbangan menuju bandar udara Jerman akan berangkat beberapa menit lagi ,ia pun berlari menuju pintu masuk keberangkatan ,namun langkah nya terhenti karena petugas yang menghadang nya .


"pak saya mohon pak ,ijin kan saya masuk ,saya mau mencari seseorang pak " ucap Bagas memelas


"memang nya orang yang tengah di cari akan melakukan penerbangan ke mana ?" tanya petugas itu


"Jerman" jawab Bagas cepat


"maaf tapi pesawat yang terbang ke Jerman sudah lepas landas sekitar lima menit yang lalu "


"alamak.....nasib ...nasib ....apa gue nyusul aja ke sana ,tapi gue gak tahu dimana alamat nya bermuara " ucap nya lirih


"mas ...mas nya sehat ?" tanya petugas itu karena Bagas terlihat seperti orang yang linglung dan putus asa


"saya sehat pak ,saking sehat nya saya mau menyusul nya ke Jerman " ucap Bagas ketus lalu ia pun berlalu dan akan menyiapkan segala sesuatu untuk bisa terbang ke Jerman, meski ia tak tahu setelah di Jerman sana ia akan mencari Tasya ke mana ,tapi untuk saat ini memang itu yang ada di fikiran Bagas

__ADS_1


"lah.... itu orang kenapa ?" bingung nya petugas itu


***


__ADS_2