
happy reading 😘
.
.
.
.
Elsa jatuh pingsan sesaat setelah Aryopati meregang nyawa ,wujud ular yang tak lazim itu pun berubah menghitam hingga menjadi debu.
"Elsa ..."
Vano memburu Elsa yang sudah terkapar di lantai
"astaga " Vano terperanjat saat melihat ada darah segar keluar dari kedua lubang hidung Elsa
" Vano....cepatlah bawa Puteri ke rumah sakit ,Puteri kehilangan banyak tenaganya " seru Shema
tanpa berlama-lama Vano pun langsung membawa Elsa ke rumah sakit , jika saja Elsa tak diberi suntikan pelemah otot dan syaraf mungkin Elsa akan sadar dengan sendirinya,makanya Shema meminta Elsa di bawa ke rumah sakit agar dia segera dapat diberikan pertolongan ,mengingat dosis yang di berikan nya itu sangat tinggi.
Dalam sekejap Vano sudah berada di depan rumah sakit berkat bantuan Shema ,beruntung kemunculan Vano yang tiba-tiba tidak di ketahui siapapun .
"dokter ....suster.... tolooooong...!" seru Vano berteriak ,dan dengan sigap para perawat di sana langsung mendorong blankar, Vano pun segera meletakan Elsa di atas blankar itu.
Sebelum nya Vano sudah terlebih dahulu membenarkan kancing baju Elsa yang dari tadi terbuka
"bertahanlah ...gue mohon " bisik Vano sebelum Elsa di bawa ke dalam ruang UGD
Vano menatap nanar pintu yang tertutup itu ,perasaan nya pun gelisah
" dokter tolong kekasih saya ,lakukan apapun yang terbaik untuk nya " ucap Vano saat seorang dokter hendak masuk
"saya akan melakukan yang terbaik , anda tenang saja ,apa anda sudah mengisi data pasien?" tanya dokter nya
"aahh.... saya lupa dokter,baiklah saya akan mengisi data nya dulu sekalian administrasi nya ,tolong ya dokter" ucap Vano menatap penuh harap pada dokter itu
"iya silahkan ,saya masuk" dokter itu pun segera memasuki ruang UGD itu sedangkan Vano beranjak ke bagian administrasi
Saat hendak kembali Vano tak sengaja bertemu dengan Bima ,ia berjalan sedikit terpincang karena tekanan pada kaki nya saat berjalan membuat betis yang terluka akibat tembakan nya pun terasa linu.
" anda yang tadi menolong saya kan ?" tanya Bima
__ADS_1
" ya ,bagaimana kondisi anda sekarang pak polisi ?"tanya Vano berbasa-basi padahal saat ini ia sedang tak ingin berbicara pada siapapun,karena ia sangat mengkhawatirkan keadaan Elsa
" saya baik-baik saja , sekali lagi terima kasih atas bantuan nya " ucap Bima lagi
" ah tidak ko, saya tidak membantu banyak ,ya sudah saya tinggal gak apa-apa, saya harus kembali ke ruang UGD " pamit Vano
" oh ya silahkan " ucap Bima tanpa ingin bertanya lebih ,padahal ia sangat penasaran siapa yang tengah di tunggui nya di UGD itu ,kemuadian ingatan nya kembali lagi pada Elsa ,ia sangat mengkhawatirkan gadis itu saat ini .
"bagaimana keadaan dia saat ini , sebenarnya apa yang terjadi ,apa yang baru saja aku lihat tadi ,mana mungkin mereka menghilang secara tiba-tiba" otak nya berfikir keras memikirkan hal yang terjadi di taman siang tadi
"kenapa aku gak menanyakan nya tadi ,apa dia langsung pergi mencari dokter Elsa , atau jangan-jangan dokter Elsa yang berada di ruang UGD saat ini " gumam nya
Tanpa berfikir lama Bima akhir nya memutuskan untuk melihat ke sana , setelah berada di depan ruang UGD Bima tertegun melihat Vano yang nampak gelisah ,terlihat beberapa kali Vano mengusap wajah dan mengacak rambut nya .
Saat Bima hendak mendekat pintu terbuka ,Vano pun langsung mencecar beberapa pertanyaan pada dokter hingga membuat nya kesusahan menjawab
"dokter ...bagaimana keadaan nya , apa dia baik-baik saja, apa tidak terjadi hal buruk pada nya ,apa dia sudah sadar ....apa....." ucapan Vano terhenti saat dokter menyela
"maaf "
Vano terkesiap mendengar kata maaf yang keluar dari mulut dokter itu , Vano yang terlanjur terkejut mendengar kata maaf pun mendadak berfikiran buruk ia tak dapat berfikir jernih dan langsung menerobos masuk tanpa mendengarkan kata-kata dokter terlebih dahulu .
"astaga ....padahal aku belum menjelaskan apapun " gumam dokter itu seraya menghembuskan nafas nya ,ia pun kembali masuk mengikuti Vano
"apa maksud loe ngomong gitu ? gue gak apa-apa hanya lemes " Elsa berucap dengan mata tertutup
Sontak saja Vano terperanjat ,ia mengerjap-ngerjapkan mata nya
"Elsa ....loe beneran gak apa-apa?" tanya Vano meraih jemari tangan Elsa
"hm....emang loe fikir gue kenapa" sahut nya masih dengan mata tertutup
"ya Tuhan...syukurlah " Vano langsung menghambur memeluk tubuh lemah Elsa
"apa sih jangan peluk-peluk, gue sesak nafas" seru Elsa para perawat yang berada di sana pun di buat gemas dengan pasangan itu ,yang cewek nya terlihat sok jaim sedangkan cowok nya terlihat sangat sweet.
"khemm....." dokter berdehem sehingga Vano melepaskannya pelukan nya
"dokter ,kenapa tadi dokter bilang maaf ,aku fikir terjadi sesuatu pada nya " kesal Vano karena merasa di bohongi
"maaf ,tapi tadi anda bertanya banyak sekali ,saya jadi tak bisa menjawab pertanyaannya " sahut dokter itu
"terus maksud dari kata maaf itu apa ?" tanya Vano
__ADS_1
Elsa yang mendengar pun membuka sedikit mata nya untuk mengintip
"tadi saya mau bilang begini ....maaf bisa tanya nya satu-satu saya pusing " jawab dokter itu
"aku fikir apa an " ucap Vano merasa lega
"lalu bagaimana keadaan nya dok?" tanya Vano lagi
"bisa bicara di ruangan saya saja ,biar pasien bisa dipindahkan ke ruang rawat dan beristirahat " ajak dokter itu
"gak apa dok di sini saja , saya juga ingin mendengar " ucap Elsa menyela
"baiklah..." dokter akhir nya mau menjelaskan kondisi Elsa saat ini
"sebenarnya tidak ada yang fatal ,hanya saja mungkin efek obat itu masih ada jadi meskipun sudah diberi penguat syaraf tubuh nya akan tetap lemas seperti itu dalam jangka waktu beberapa hari bahkan Minggu,soal nya dari hasil pemeriksaan ternyata dosis nya yang masuk ke dalam tubuh nya itu tak main-main, beruntung daya tahan tubuh nya sangat baik jadi tidak terlalu memperparah keadaan , karena bisa jadi efek nya bisa sampai permanen" jelas si dokter itu
"separah itukah dok?" tanya Vano,ia tak bisa membayangkan jika efek nya akan sampai permanen ,ia melirik pada Elsa ,ada sedikit senyuman di bibir nya ,ia merasa bersyukur karena efek nya tidak sampai permanen atau selamanya
"baiklah kalau begitu pasien harus segera di bawa ke ruang rawat ,permisi " dokter itu pun keluar
di susul dengan blankar Elsa yang di dorong beberapa perawat ,Vano pun turut serta di samping blankar dengan terus menggenggam tangan Elsa
tak jauh nampak Bima memperhatikan ,mata nya tertuju pada genggaman tangan itu .
"jadi benar dokter Elsa di dalam ruang UGD itu ,tapi siapa laki-laki itu,ah kenapa aku tak menanyakan nama nya sih , kenapa juga dia terus menggenggam tangan dokter Elsa, apa hubungan mereka ?" hati nya bertanya-tanya
Ada keterkejutan dan ke lega an di hati nya saat ini, terkejut saat ia melihat Elsa yang baru saja keluar dari ruang UGD , lega karena melihat Elsa kini sudah baik-baik saja , karena awal nya ia merasa khawatir saat melihat Elsa tiba-tiba hilang bersama dokter Arya .
Sebenarnya Bima sudah menaruh hati pada Elsa saat pertama kali bertemu hanya saja ia tak berani mengungkap kan perasaan nya , karena melihat Elsa yang selalu bersikap biasa dan terkadang sangat dingin ,itu membuat nya ragu pada diri nya .
Dan setelah melihat ada laki-laki lain yang menggenggam tangan nya membuat dada nya terasa sesak .
.
.
.
.
.
to be continued
__ADS_1