
Khanza kaget melihat adiknya Dhafi pagi pagi sudah berada di dalam ruangan perpustakaannya. Padahal dia punya ruangan perpustakaannya sendiri. Begitu juga Shakila.
*Aneh, apa yang sedang dicari*nya? batinnya heran. Karena perpustakaannya berisi buku buku tentang ilmu kedoteran. Bukan buku bisnis, ekonomi atau sejenisnya.
"Untuk apa buku buku itu? Kamu ngga akan ngerti," heran Khanza ketika melihat Dhafi membawa dua buah buku tebal yang berbahasa Inggris.
Khanza memang menyukai literatur berbahasa inggris. Lebih lengkap menurutnya. Sepemikiran dengan Tante Aruna, Mama Kendra.
"Apa, sih, yang aku ngga ngerti," kilah Dhafi sombong.
"Pinjam dulu, ya," sambungnya lagi.
Tapi saat akan pergi Khanza menghalangi jalannya.
"Kamu pacaran sama Salma?" tebaknya terkejut setelah berbagai analisa mampir di kepalanya.
Siapa lagi yang butuh buku buku tebal itu kalo bukan Salma?
Pacar pacar bodohnya ngga mungkin akan sampai otaknya mikir njelimet kayak gitu. Karena pikiran mereka hanya penuh dengan lipstik, pelembab, bedak, juga tas dan sepatu branded.
BUK
Buku yang dipegang Dhafi pun berjatuhan saking groginya atas respon cepat kakaknya.
"Eh, maaf," katanya sambil berjongkok mengambil buku buku yang sudah tergeletak di lantai.
Khanza tetap berdiri sambil berkacak pinggang. Karena kesibukannya di rumah sakit dan mengurus pernikahannya yang ngga lama lagi akan digelar, dia lupa dengan kecurigaannya akan hubungan adiknya dengan Salma.
Matanya menyorot tajam ke arah adiknya yang pura pura sibuk dengan mengambil buku buku itu.
Jelas sudah, adiknya sedang menghindar.
Ingin rasanya menghakimi Dhafi yang sebelas dua belas dengan Kalil. Menceramahinya.
"Dhafi, kakak cuma berharap kamu ngga mainin Salma," kata Khanza akhirnya. Kalo itu terjadi pasti adiknya akan bonyok dihajar Kendra. Dia dan Kalil pasti ngga akan bisa banyak menolong Dhafi dari kemarahan Kendra.
"Kakak ngga usah khawatir. Aku pasti bisa setia seperti Bang Kalil," tukas Dhafi sambil balas menatapnya.
Khanza terdiam. Sampai sekarang pun dia ngga yakin kalo Kalil setia. Dhafi pun sebelas dua belas dengan Kalil.
Hanya saja Khanza merasa kalo Salma terlalu lembut. Kasian kalo nanti Dhafi menyakitinya.
"Kamu tau konsekuensinya, kan, kalo menyakiti Salma," kata Khanza sambil pergi.
Dhafi diam. Dia tentu tau siapa yang akan memberikannya bogem mentah. Sudah pasti kakak Salma, Kendra. Selain itu kakaknya sendiri pun juga akan turut menghajarnya.
Tapi Dhafi sekarang udah beda dengan yang dulu.Sekarang dia mantap untuk konsekuen pada tekadnya. Dia akan mengambil hati Salma dengan membantunya menyusun skripsi, seperti janjinya. Karena itu dia ke perpustakaan kakaknya. Sebenarnya udah beberapa hari yang lalu Dhafi bolak balik ke sini. Sekarang aja baru ketahuan Khanza.
__ADS_1
Dhafi pun udah beberapa hari ini kurang tidur karena menyusun skripsi Salma di samping tugas tugas yang diberikan daddynya yang sudah sangat menumpuk.
Hampir dua minggu ini dia hanya tidur dua jam saja. Siangnya saat ingin terlelap, semangatnya bangkit lagi saat Salma datang mengunjunginya dengan laptopnya
Skripsi Salma sudah di acc untuk pengajuan judul, bab satu dan bab dua. Sekarang dia sedang membantu Salma untuk pengajuan bab tiga. Bab paling sulit. Karena membutuhkan banyak informasi yang berkorelasi dengan data data yang telah mereka miliki.
Bahkan Dhafi ikut terjun menemani Salma melakukan penyelidikan. Dhafi melakukannya dengan sangat total untuk mengambil hati Salma.
Selama ini dia belum mengungkapkan lagi keinginannya untuk bersama seperti dulu. Perasaan takut ditolak membuat dia ragu. Sekarang yang Dhafi lakukan hanyalah agar Salma bisa melihat usahanya.
*
*
*
"Kenapa diam aja?" tanya Kalil heran, karena sepanjang perjalanan Khanza hanya diam saja. Kalil tau kalo Khanza sedang menikirkan hal lain. Sekarang ini Kalil sedang memarkirkan mobilnya di pelataran rumah sakit.
"Dhafi."
"Kenapa Dhafi?" tanya Kalil sambil melihat ke spion untuk memastikan jaraknya dengan mobil di sampingnya agar mendapat tempat parkir yang pas.
"Dia pacaran sama Salma."
"Trus kenapa?" tanya Kalil sambil menatap Khanza dengan senyum menggoda di bibirnya. Dia sudah berhasil parkir.
Wajah Khanza terlihat manyun.
Kalil tau makna sindiran Khanza, karena memang Dhafi hampir sama seperti dia dan yang lainnya. Laki laki yang belum bisa setia dengan satu perempuan.
Tapi itu dulu, ralatnya dalam hati.
Kalil udah lama curiga dengan hubungan keduanya. Tapi dia ngga mau ikut campur. Lagian Kalil melihat Kendra juga terkesan membiarkan.
"Kata Dhafi, dia akan setia kayak kamu. Apa kamu udah setia?" sarkas Khanza semakin membuat Kalil tambah tergelak.
Memang bakal susah meyakinkan orang lain kalo seseorang yang brengsek sudah jadi orang yang baik, batinnya ngakak.
Kalil yakin itu yang dialami Dhafi sekarang. Apalagi kelihatannya Dhafi sudah serius dengan Salma.
Khanza aja ngga yakin, padahal Dhafi adiknya. Apalagi Kendra yang jelas jelas sudah tau boroknya Dhafi.
Agak berat perjuangan lo, Dhaf.
"Aku setia Khanza. Setia," kekeh Kalil berusaha meyakinkan. Tapi Khanza malah makin ngga percaya
Tapi sudahlah, Khanza ngga mau terlalu memikirkannya. Dia yakin manusia pasti akan berubah. Karena itulah dia mau menerima Kalil walaupun sudah tau track record buruknya.
__ADS_1
Kalil pun mengusap lembut rambut Khanza sebelum membiarkan gadis itu keluar dari mobil.
"Ingat, jangan kasih harapan sama dokter dokter lagi," tegas Kalil membuat Khanza tersenyum.
"Kalo sama pasien muda dan ganteng boleh?" ganti Khanza menggoda.
"Awas aja kalo berani. Malam pertama dipercepat," ancam Kalil galak.
"Huuuh," decih Khanza kemudian tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Kalil balas melambai sampai bayangan gadis itu lenyap setelah melewati belokan dinding rumah sakit
Kalil menghela nafas panjang. Dia harus menemui Kendra. Sekarang Dhafi juga tanggyng jawabnya.
*
*
*
"Apa? Lo serius?" tanya Kendra sambil bersidekap.
Ternyata Kalil pagi pagi menemuinya untuk menyampaikan berita sensitif ini
Kendra belum mau membicarakannya, karena dia sekarang sedang fokus dengan kehamilan Zayra. Takutnya moodnya berubah.
"Khanza bilang, Dhafi akan setia seperti gue yang sekarang. Tapi itu makin membuatnya ngga percaya," dengusnya sebelum kemudian terkekeh.
Kendra pun tergelak.
Ya, ya, Kendra pun sangat paham kenapa Khanza ngga percaya. Dia sendiri aja merasa seakan akan masih seperti berada dalam alam mimpi melihat persiapan pernikahan Kalil dengan Khanza.
Lima belas menit kemudian.
"Jadi lo mau gue ngapain?" tanya Kendra setelah puas tertawa.
"Kasih Dhafi kesempatan. Kalo dia meleng, gue yang akan hajar dia," kata Kalil sungguh sungguh.
"Hemm...." gumam Kendra sambil menatap ke arah langit dari balik kaca ruangannya.
"Gimana?" tanya Kalil ngga sabar.
"Oke."
Kalil tersenyum. Setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua, kan, jika mau berubah?
Dalam hati Kendra ada satu keyakinan jika papinya dan Om Glen tau soal ini.
__ADS_1
Ngga mungkin papi akan membiarkan adik perempuannya mandi air mata.
Om Glen pasti sekarang juga sedang mengawasi tindak tanduk Dhafi. Begitu juga papinya