
Zayra menjauhkan wajahnya dari Kendra.
"Maaf," kata Kendra cepat. Dia kebablasan. Ngga bisa berhenti. Untunglah Zayra menyadarkannya.
Dua minggu lagi, batinnya memarahinya.
"Tolong jangan menghindar seperti dulu," pinta Kendra sambil menatap wajah Zayra yang tertunduk semakin dalam
DEG
Tentu saja Zayra nggga bisa melupakan ciuman pertamanya yang sudah diambil Kendra.
Kenangan itu yang membuatnya berat melupaka Kendra.
"Zay," panggil Kendra resah, dia agak takut dengan reaksi Zayra nantinya.
"Ya," jawab Zayra lirih, tetap menunduk.
Kendra tersenyum kemudian melihat jam tangannya.
"Sudah waktunya makan siang," katanya sambil menshutdown laptopnya.
Dengan kikuk Zayra membantu Kendra merapikan berkas berkasnya.
DEG DEG DEG
Zayra tanpa sengaja menyentuh tangan Kemdra hingga berkas yang dipegangnya jatuh ke lantai.
"Maaf," ucapnya semakin grogi sambil menundukkan tubuhnya untuk mengambil berkas itu.
"Ngga apa," senyum Kendra yang secara reflek juga mengambil berkas itu membuat tangan mereka lagi lagi bersentuhan
Kendra tertawa pelan ketika Zayra kembali melepaskan berkas itu dan menarik tangannya.
"Sudah, biar aku saja," ucap Kendra dalam tawanya.
Dia senang melihat Zayra yang semakin gugup dan tangannya yang terlihat agak gemetar.
Zayra ngga menyahut karena merasa semakin salah tingkah akibat Kendra yang terus saja memperhatikannya sambil mengambil berkas berkas yang jatuh.
Untuk menghilangkan perasaan grogi yang selalu muncul, Zayra pun merapikan berkas berkas yang ada di atas meja.
TOK TOK TOK!
Kendra dan Zayra saling pandang
CEKLEK
Ana, sang sekertaris sempat bingung karena ngga melihat bosnya di meja kerjanya.
"Ada apa?" tanya Kendra menyadarkannya.
Dengan agak tersenyum malu, Ana mengangguk segan pada Zayra.
Terlihat jelas perbedaannya. Dia dan para staf perempuan sangat bangga dengan rok.di atas lutut mereka, ternyata idaman bos ganteng mereka seorang perempuan berpakaian tertutup tapi tetap.
modis dan ngga kalah cantiknya dengan mereka.
__ADS_1
"Pak Kendra dan ibu mau saya pesankan makan siang?' tanya Ana sopan.
"Kami makan di luar," jawab Kendra tanpa memperhatikan Ana.
"Baik, Pak, Bu. Saya permisi," pamitnya.
"Hemm," dengus Kendra tetap ngga memperhatikan Ana.
Ana denga rikuh pun berjalan keluar dari ruangan Kendra
Soal sambutan datar dan dingin Kendra sudah biasa dia terima. Hanya saja dia mencoba sedikit peruntungan, mungkin jika bosnya sedang bersama kekasihnya, bisa sedikit ramah.
Tapi ternyata sama saja. Si bos hanya bisa lembut dan romantis dengan kekasihnya saja.
"Kita makan apa?"
Ana sempat mendemgar ucapan si bos sebelum menutup pintu.
Dia hanya bisa iri dan mengurut dada saja.
Sementara itu Kendra menatap Zayra, menunggu jawabannya.
"Apa saja."
"Makan kamu boleh?" canda Kendra sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Apa, sih," manyun Zayra kesal campur malu.
Kendra malah tertawa.
Keduanya pun berjalan santai meninggalka ruangan dan melewati para staf yang menatap iri.
Kekasih bosnya sangat beruntung. Bosnya selalu menatap kekasihnya demgan hangat.
Padahal mereka sudah berusaha menarik perhatian si bos dengan penanpilan seksi. Tapi bosnya tetap ngga mengacuhkannya. Malah tau tau sudah punya tunangan.
Memang mereka bagai buih di lautan jika disandingkan dengan tunangan si bos. Mereka adalah pencari sesuap nasi. Sedangkan tunangan si bos anak tunggal salah satu konglo. Sangat jauh sekali jika dibanding bandingkan.
Sedangkan ada juga yang juga anak konglo yang ditolak bosnya terang terangan.
Para staf tentu saja mengikuti gosip viral tentang asmara bosnya akhir akhir ini.
*
*
*
"Sebentar Zay," tahan Kendra ketika merasakan getaaran ponselnya.
Mereka sudah sampai di depan mobil Kendra.
Ternyata mamanya mengirim pesan agar mereka siang ini fitting gaun pengatin di butiknya mama Zayra.
Cepat sekali, batin Kendra senang.
"Ada apa?" tanya Zayra curiga karena melihat senyum tipis di bibir Kendra.
__ADS_1
"Mama meminta kita fitting baju baju pengantin di butik umi kamu," jawab Kendra tenang sambil memyimpan ponselnya
Apa? batin Zayra terkejut.
Ngga mungkin uminya sudah punya desain untuk gaun gaunnya saat nikah nanti, kan?
Kepala Zayra agak berdenyut memikirkannya.
"Sepertinya orang tua kita sudah mempersiapkannya sejak lama," tebak Kendra yakin.
"Sepertinya." Zayra setuju dengan pemikiran yang sama.
"Mereka yang paling ngga sabar melihat kita menikah," tukas Kendra penuh makna.
Zayra terdiam, ngga berani membalas ucapan Kendra yang lagi lagi dirasakan benar oleh Zayra
"Kita makan di dekat butik umi kamu aja," kata Kendra sambil membuka pintu nobilnya untuk Zayra.
Zayra tersenyum setuju. Banyak kafe yang menyajikan menu yang enak enak di dekat butik uminya.
Ngga lama kemudian mereka sudah berada di dalam butik. Umimya menyambutnya dengan sangat ramah. Yang mencengangkan, juga ada mamanya-Aruna, tante Tamara, Tante Qonita, dan Tante Rain.
Para wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu sangat bersemangat sekali memberikan gaun pilihan mereka untuk dicoba Zayra. Bahkan Kendra ngga mencoba satu jas pun seolah lupa kalo Kendra adq di sana. Mereka lebih memfokuskan pada Zayra.
Gaun pertama, kedua, ketiga sampai keenam sudah dicoba Zayra atas keinginan para wanita cantik itu.
Kendra sampai ngga bisa berkedip melihatnya. Cantik sekali saat tunangannya memperagakan semua gaun gaun itu di depannya. Tapi sebaliknya yang dirasakan Zayra. Dia semakin gugup saja mendapat tikaman netra yang tajam penuh kagun dari Kendra.
"Jangan lupa, Din, mereka juga butuh lingerie," canda tante Rain yamg langsung mendapat senyum lebar dari para mama mama muda.
"Warna hitam banyakin," lanjut tante Qonita heboh.
Wajah Zayra semakin memerah mendengarnya.
Lingerie?
Zayra ngga mungkin bisa membayangkan dirinya mengenakan lingerie yang tipis di depan Kendra. Apalagi warna hitam. Sangar kontras sekali dengan warna kulitnya yang putih bening.
"Satu lusinlah. Siapa.tau Kendra ntar maennya kasar," gelak tante Tamara diikuti mereka. Mengingat kelakuan suami suami mereka yang selalu saja merusak lingerie lingerie yang selalu mereka kenakan.
Kendra hanya mesem mesem mendengarnya.
Kenapa mama mama sahabatnya tidak menyaring ucapan mereka? Malah terlihat senang. Seakan akan menggora Zayra adalah tujuan utama mereka.
Kendra dapat melihat rona merah yang amat sangat di wajah Zayra. Apalagi saat mereka sempat bertatapan, sebelum gadis itu mengalihkannya.
Tanpa setau Zayra, Kendra ikut memilih lingerie untuk Zayra nanti.
Lingerie yang sangat tipis dan seharusnya Zayra ngga perlu mengenakannya. Karena sudah menampilkan semuanya di depan Kendra.
Kendra juga belum bisa membayangkan Zayra seutuhnya. Bahkan warna dan panjang rambutnya pun Kendra belum pernah lihat.
Apalagi bentuk tubuh Zayra. Hanya saja karena pernah memeluk Zayra, Kendra yakin tubuh tunangannya sangat ramping.
Zayra selalu mengenakan pakaian yang longgar selama ini. Tidak seperti para perempuan di perusahaannya. Mengumbar aurat mereka dimana mana.
Sejak berpisah dengan Zayra dan bekerja di perusahaan keluarganya, Kendra ngga pernah memperhatikan keseksian para stafnya. Di pikirannya yang ada selalu rasa penyesalan karena sudah menyakiti Zayra hingga gadis itu memilih pergi darinya.
__ADS_1