After The Heartbreak

After The Heartbreak
Barbeque lagi


__ADS_3

Zayra hamil. Tentu kabar ini sangat membahagiakan. Saat ini mereka pun berkumpul di rumah Regan.


Mereka kembali mengadakan pesta barbeque. Merayakan kehamilan Zayra dan meresmikan hubungan pasangan baru.


"Nggak lama lagi aku jadi kakek dan kamu jadi nenek Aruna," kekeh Kiano sambil membolak balikkan daging di atas pemanggangan.


Aruna juga tertawa senang mendengarrnya.


"Rasanya terlalu cepat, ya," sela Aruna dalam tawanya.


"Jangan khawatir, kita tetap akan jadi kakek nenek paling keren," gelak Kiano ditimpali.Aruna.


"Kendra, gimana perasaan kamu?" tanya Glen yang juga membantu Kiano membakar daging.


"Bahagia dan bersyukur Om," jawab Kendra sambil membelai pumcak kepala Zayra.


Mereka berdua diminta hanya menonton saja.


"Tapi nanti Zayra makan daging yang dibakar di teflon aja ya. Tapi jangan terlalu banyak. Ngga baik buat wanita hamil," kata Aruna mengingatkan.


"Ya, benar sekali," timbrung Regan. Dia yang bertugas memanggang daging daging itu di atas teflon. Tentunya harus dipastikan matang.


"Zayra makan semur ayam aja. Kan sama sama warnanya hitam," canda Dinda sambil membawa satu piring besar yang berisi semur ayam.


"Iya, abi, umi, " jawab Zayra patuh dengab bibir penuh senyum.


Zayra tentu akan memperhatikan keselamatan janin yang ada dalam rahimnya. Dia beruntung karena mama mertua dan sahabatnya Khanza seorang dokter. Mereka akan selalu memperhatikan kesehatannya dan calon bayinya.


"Nanti kalo kamu udah lahiran, kamu bebas makan daging panggangnya, sayang. Aku yang akan memanggangnya khu sus buat kamu," ucap Kendra lembut dengan sebelah tangannya mengusap perut Zayra yang berlapiskan gamisnya dengan penuh kasih sayang.


Zayra mengangguk malu.


Kentara sekali cinta dan sayang Kendra pada Zayra. Kiano dan Aruna saling pandang setelah mengamati keduanya dengan sisa tawa di wajah mereka.


Regan, Dinda, Glen dan Armita tersenyum bahagia melihatnya.


Alva dan Tamara, juga Reno dan Rain, serta Arga dan Qonita juga menatap pasangan bucin ini dengan mengembangkan senyum lebarnya.


"Kalil, kapan kamu nikahi putri, Om?" seru Glen pada Kalil yang sedang bersama Rakha dan Aqil. Mereka sedang membantu Khanza, ada yang memotong buah, menata piring piring dan gelas, serta menata daging yang sudah di panggang.


"Aku, sih, maunya secepatnya, Om," jawab Kalil dengan cengiran di wajahnya. Rakha dan Aqil juga nyengir. Berbeda dengan Khanza yang pipimya yang sudah merona merah.


"Gimana Khanza? Setuju sama Kalil? Om sama daddymu setuju aja," goda Alva membuat yang lain terkekeh geli


"Mami sama Tante Tamara juga sudah setuju," tawa Armita.


Senang melihat Khanza tersipu malu begitu. Karena anak gadis pertamanya selalu saja suka menampilkan wajah juteknya.

__ADS_1


"Khanza juga beberapa bulan lagi selesai ko-asnya," timbrung Aruna.


"Apa nikahnya setelah selesai Khanza ko-as, ya, karena setelah itu mereka bisa berangkat ke Jerman sebagai suami istri," tanya Armita seolah sedang meminta persetujuan sahabat sahabat suaminya.


"Gue setuju," jawab Alva cepat, kemudian menatap Kalil lekat.


"Cepatlah hadirkan cucu buat daddy," sambung Alva kemudian. Tamara terkekeh mendengarnya.


"Siap, dad," sahut Kalil cepat. Kemudian dia menatap Khanza dengan tatapan jahilnya.


"Mau, ya, Khanza?" sambung Kalil membuat Khanza salting. Hampir saja piring yang penuh berisi buah buahan jatuh dari tangannya.


Untung Kalil dengan sigap menahan tangan dan piring yang dipegang Khanza.


"Hati hati, sayang," ucapnya lembut, tambah membuat Khanza malu. Apa lagi diucapkan dengan sangat jelas. Yang mendengar pun langsung tersenyum senyum.


Khanza menghela nafas panjang. Tapi susah juga untuk tetap tenang. Jangan tanya lagi tentang jantungnya. Rasanya sudah sprint aja mendengar kata sayang dari Kalil.


"Ehem... Ehem.... Masih banyak orang di sini, Kalil," ledek Glen mengingatkan


GGGRRRRRR


Tawa pun langsung pecah.


Arga hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Aku bisa lihat cinta di mata Kalil buat Khanza," jawab Arga dengan wajah full senyum.


"Iya," balas Qonita setuju.


"Sama seperti kamu dulu. Galaknya minta ampun, padahal udah suka," ledek Arga dengan senyum jahil.


Tapi ngga lama kemudian dia meringis pelan karena Qonita mencubit keras lengannya. Antara gemas dan senang.


Qonita akui, melihat Khanza, seperti melihat dirinya yang dulu. Suka tapi jadi kesal karena yang disuka ngga ngerti dan selalu bertingkah nyebelin.


Kalo Khanza cemburu karena Kalil punya banyak pacar, tapi kalo Qonita harus cemburu sama satu satunya pacar Arga yang sudah tiada.


Aqil hanya melirik kedua orang tuanya yang suka lebay menurutnya.


"Lo udah punya pacar?" tanyanya pada adiknya yang kalem.


Qabil yang selisih umur empat tahun darinya hanya menggelengkan kepalanya. Dia malas mikir perempuan. Kalo pun ada, paling Shakila adik Kak Khanza yang lebih tua setahun darinya.


Ngga tau kenapa dia suka melihat gadis tomboy itu yang kemana mana selalu menenteng kamera super canggihnya. Maklum anak fotografi.


"Cari pacar sana, jangan belajar terus," nasihat Aqil lagi pada adiknya yang sudah berkaca mata. Maklum kuliah di jurusan Astronomi. Kebetulan dia lagi pulang ke rumah jadi bisa ikut acara ini.

__ADS_1


Qabil hanya mengangguk saja agar kakaknya berhenti bicara. Seharusnya dia juga menasehati kakaknya jangan pacaran terus, kerja yang benar.


"Reval, kapan lo ngenalin pacar lo?" tanya Regan saat Reval menggantikan posisi Glen memanggang daging barbeque.


"Kenalin dong, kak, sama temannya," canda Reval membuat Regan mendengus


Adik beda ibunya lebih memilih bekerja tanpa kenal waktu dari pada mengenal perempuan.


Reval lebih minat dengan pekerjaannya. Usianya pun hanya beda empat tahunan lebih tua dari Zayra. Mereka besar bersama. Kecuali saat Zayra pindah ke Turki. Reval ikut dengan Riko.


Ngga kehitung perempuan cantik yang di rekomendasikan Regan padanya.Tapi belum ada yang membuatnya tertarik.


Reval benci mamimya. Memang Reval waktu itu masih kecil dan belum tau apa yang terjadi di antara kedua orang tuanya. Tapi semakin bertambah usia, Regan jadi tau apa yang sudah dilakukan maminya. Itu yang membuatnya trauma.


Makanya terhadap seketaris dan para pegawainya yang selalu bersikap mengundang, selalu dia abaikan.


"Biar aja, Regan. Dia juga baik baik aja," timbrung Kiano pelan.


Reval tersenyum mendengar pembelaan Kak Kiano untuknya. Dalam hati dia pun mengucapkan terima kasih.


Hatinya memang belum tergerak untuk punya pacar.


"Kalo udah ada, aku kenalin, Kak," pungkas Reval. Lagi lagi Regan hanya mendengus sebagai jawaban.


Kiano dan Aruna saling pandang penuh arti, dan ngga lama kemudian keduamya ngga bisa lagi menyembunyikan senyum lebarnya.


Sekarang mereka akan sangat sibuk mengurus pernikahan Kalil dan Khanza yang ngga akan nyampe sebulan lagi dipestakan.


Khanza melirik Kail. Mengamati mamtan sahabatnya yang ngga lama lagi akan berubah menjadi calon suaminya lewat kedua sudut matanya.


Apa dia sungguh ngga menyesal? batin Khanza ingin tau.


Teringat kata kata Kalil yang mengajaknya menikah. Saat itu mata Kalil terlihat penuh cahaya pengharapan.


Tanpa sadar Khanza tersenyum sambil mengalihkan tatapannya ke.arah lain.


Saat itulah Kalil.ganti menatapnya. Dia tersenyum melihat senyum Khanza.


Masih terasa debaran di dadanya ketika Khanza menerima lamarannya.


Ngga disangka dia masih bernasib baik. Kalil mengira dia sudah ditendang dari hati Khanza. Tapi nyatanya tidak.


"Kita tetap awasin lo," kata Rakha dengan senyum miringnya.


"Lo tau, kan, konsekuensi kalo selingkuh," bisik Aqil setengah mengancam. Walau Aqil dapat merasakan keseriusan Kalil waktu menonjoknya.


"Hemm," dengus Kalil agak kesal. Dia ngga perlu diingatkan lagi.

__ADS_1


Dia sudah memutuskan untuk secepatnya menikahi Khanza karena dia sudah sangat tau apa yang di mau hatinya.


__ADS_2