
Selama proses persiapan pernikahan mereka, Kalil kembali membantu Daddynya mengurus perusahaan. Khanza serius menjalani ko-asnya yang tinggal berapa bulan lagi.
"Dokter Khanza, calon suaminya menunggu di ruangan dokter," ujar salah seorang perawat dengan nafas ngos ngosan ketika sudah sampai di depan Khanza dan dokter Niko yang baru saja keluar dari ruang operasi. Bahkan dokter Muluk juga ada di sana dengan beberapa suster lainnya.
Khanza mengumpat Kalil dalam hati. Pasti kata kata ini darinya. Dokter Muluk, dokter Niko dan beberapa suster menampilkan ekspresi terkejut mendengar kabar panas ini.
Bahkan dokter Niko yang beberapa malam yang lalu baru menyampaikan niatnya untuk serius dengan Khanza sampai terhenyak, ngga bisa berkata kata.
Tapi tatapan yang dia pancarkan sangat menuntut jawaban dari Khanza.
"Kamu mau menikah?" tanya dokter Muluk kaget ngga percaya. Setaunya dokter Khanza masih single. Bahkan dokter Aruna, rekan seperjuangannya belum mengatakan apa apa.
Dalam hati suster itu sibuk berceloteh, kalo gosip dokter Khanza yang akan menikah sudah tersebar cepat.Tentunya yang menyebarkannya adalah para perawat di ruangan pribadi Khanza.
Beberapa menit yang lalu seorang laki laki yang sangat tampan memikat datang menenuinya dan dua temannya yang sedang beristirahat. Bahkan mereka sedang bersiap untuk makan siang di kantin.
"Bisa bertemu dokter Khanza?" tanya laki laki itu sopan.
Ketiga suster itu terpesona dengan ketampanannya sampai ngga bisa langsung menjawab. Tapi rasa rasanya mereka dulu pernah melihatnya. Dokter Khanza memang selalu di kelilingi laki laki tampan mempesona. Juga tajir melintir. Baru baru ini ada laki laki yang juga sangat tampan menemani dokter Khanza makan di taman. Daya tarik dokter Khanza memang luar biasa. Dia ngga perlu berdandan menor atau pun berpakaian seksi, atau melembut lembutkan suaranya
Dokter Khanza sangat apa adanya. Apalagi kabar tergres, ternyata dokter Khanza anak konglomerat sahabat dokter Aruna, pimpiman rumah sakit. Padahal selama ini mereka mengira dokter Khanza dari kalangan biasa aja, sama seperti mereka. Dokter Khanza pun selalu menampilkan wajah datar dan irit senyum. Kata kata yang keluar dari mulutnya jauh dari kesan lembut. Malah terkesan tegas dan sedikit judes.
Tapi laki laki yang mendekatimya ngga kaleng kaleng. High quality semua.
'Ehem," batuk Kalil membuatnya tersipu malu.
Kalil malah melemparkan senyum hangatnya. Dia tau para suster itu memujanya.
Hanya Khanza yang selalu menampilkan tatapan malasnya jika bertemu dengannya. Padahal sesekali Kalil ingin Khanza menatapnya bengong karena terpesona dengan ketampanannya.
"Dokter Khanza bersama dokter Niko sedang membantu dokter Muluk di ruang operasi, mas," jelas salah seorang suster.
Walau tetap mempertahankan senyumnya, sejatinya Kalil sangat kesal mendengar nama dokter Niko. Laki laki yang sempat mengungkapkan perasaan sukanya di kantin pada malam yang ngga mau diingat Kalil lagi.
"Oooh. Bisa katakan pada dokter Khanza, kalo calon suaminya sedang menunggu di ruangannya?" tanya Kalil dengan senyum mautnya yang ngga mungkin bisa ditolak siapapun. Kecuali Khanza.
Hening sesaat. Ketiganya saling pandang dengan perasaan shock yang amat sangat.
Calon suami?
Ketiganya saling pandang.
Dokter Khanza sangat beruntung.
Laki laki ini sangat tampan.Pasti juga kaya raya.
__ADS_1
"Baiklah. Kita pergi dulu," pamit ketiganya serentak seraya kabur dari Kalil dengan langkah cepat.
Dua orang suster tadi mampir ke tempat para tenaga medis berkumpul. Tentu saja ini menjadi berita yang menghebohkan.
Dan yang satunya mengabarkan pada dokter Khanza di ruang operasi.
Sementara itu Khanza menghembuskan nafas panjang sebelum menjawab.
"Iya, dokter."
Ada yang luruh di hati dokter Niko. Kenapa bisa secepat ini. Hatinya menduga dengan sangat yakin kalo dokter Khanza dijodohkan demi bisnis keluarga.
Senyum dokter Muluk sangat lebar mendengarnya. Hatinya pun senang.
"Selamat, ya, Khanza."
"Terima kasih, dokter. Maaf sebelumnya. Saya pamit duluan," ucap Khanza agak sungkan.
"Tentu tentu. Jangan sampai calon suamimu lama menunggu," jawab dokter Muluk penuh semangat.
"Duluan aja , Khanza," sambung dokter Niko dengan perasaan getir dan pahit.
Setelah tersenyum dengan raut segan, Khabza pergi bersama sang suster ke ruangannya.
Tapi baru separuh mereka berjalan, sang suster menghentikan langkahnya.
"Dokter, saya mau ke kantin," ucapnya takut takut. Padahal aslinya suster itu ingin mengatakan kalo ngga ingin mengganggu pertemuan dokter Khanza dan calon suaminya.
"Baiklah," sahut Khanza melanjutkan langkahnya. Tidak memaksa. Sekarang juga sudah waktunya sang suster beristirahat dan makan siang.
Akhirnya sampai juga Khanza di ruangannya. Saat pintu terbuka satu wajah tampan dengan senyum jahil menyapanya.
"Hai, calon istri."
Khanza yang awalnya akan mengomel jadi mengembangkan senyumnya tanpa bisa dia tahan.
Panggilan itu membuat jantungnya berdetak ngga seirama dan dadanya berdesir aneh.
"Kita makan siang atau aku makan kamu aja?" tanya Kalil sambil menarik Khanza dalam dekapannya. Sangat cepat dan membuat Khanza telat mengelak.
"Ka kalil...." Khanza beneran gugup. Status mereka.yang sudah berubah membuat suasana diantara mereka juga jadi ikut berubah.
"Grogi, hemm...?" goda Kalil. Kalil pun terkejut dengan tindakan beraninya. Untung Khanza ngga mengeluarkan kesaktiannya. Gadis itu seperti sangat shock atas sikapnya.
Adrenalin Kalil tadi meningkat jauh karena mendengar Khanzanya sedang bersama dokter sialan malam itu. Dia panas. Juga mungkin cemburu.
__ADS_1
Mereka ngga berjarak. Kalil dengan nekat menyentuhkan bibir keduanya. Tapi hanya sebentar.
Kalil melepaskan pelukannya, menatap Khanza yang terlihat linglung.
Pertama hem.... batin Kalil senang.
"Ayo kita pergi sekarang," kata Kalil sambil menjawil dagu Khanza.
"Kemana?" tanya Khanza setelah cukup berhasil menstabilkan perasaannya.
"Makan, ayang," senyum Kalil. Kemudian merangkul bahu Khanza.
Kalil pun merasa nervous yang amat sangat. Padahal dulu dulu mereka berdua melakukannya dengan santai tanpa beban. Dan Khanza dengan judes akan mengomelinya. Tapi sekarang ada yang menahan bibirnya. Sentuhan Kalil yang hanya sejenak menghadirkan sensasi aneh di seluruh tubuhnya.
Khanza ngga berkata apa apa lagi selain mengikuti Kalil dalam diam. Paru paru Khanza pun semakin butuh banyak oksigen.
Ternyata Kalil membawa motor balap kesayangannya.
"Ayo naek," kata Kalil setelah memakaikan helm di kepala Khanza.
"Kita mau kemana?" tanya Khanza akhirnya menurut
"Ke kampus Zayra."
"Ngapain?"
"Mereka sudah menunggu kita di kantin kampus," kata Kalil sambil menyalakan mesin motornya
"Ngga mau. Terlalu rame," tolak Khanza.
Sebelah tangan Kalil meraih kedua tangan Khanza agar memeluknya
"Biar ngga jatoh." Motor mulai melaju pelan keluar dari pelataran parkir rumah sakit.
"Kalil," rengek Khanza kembali dengan jantung ngga menentu karena sebelah tangan laki laki itu menggenggan kedua tanganya yang berada di pinggang Kalil.
"Aku ingin laki laki itu tau juga kalo kamu udah jadi milik aku."
Khanza terdiam. Dia mulai paham tujuan Kalil
"Ngga perlu begitu. Dia bukan siapa siapa aku. Beda dengan cewe cewe kamu," sarkas Khanza sinis.
Kalil tertawa mendengarnya.
"Aku suka kamu cemburu," ujarnya sambil mengeratkan pegangan tangan mereka.
__ADS_1
"Aku. Ngga. Cemburu," tegas Khanza galak
Tapi Kalil hanya menjawabnya dengan tawa yang sangat renyah di telinga Khanza.