
Kendra menatap ragu dirinya di depan cermin besarnya. Dia sudah mengenakan jasnya.
Mamanya yang sudah memilihkan jas untuknya.
Kendra menghembuskan nafas panjang.
Papinya ngga berkata apa pun saat menemuinya tadi di rumah. Padahal Kendra yakin papinya sudah bertemu dengan Om Regan.
Pasti mereka sudah membahas apa yang menjadi keluhannya tadi.
Malah papinya bersikap cuek aja padanya bikin Kendra keki.
Padahal setidaknya Kendra harus dapat informasi yang jelas tentang Zayra. Apa benar dia sudah menikah dan punya anak?
Ngga mungkin, kan, dirinya masih tetap mengharap perempuan yang sudah menjadi istri orang.
"Lama banget dandannya?" tanya Salma yang langsung masuk ke kamar kakak laki lakinya.
"Kayak perempuan aja, kak, lammmaa," cerocosnya lagi.
"Cie ciee.... yang mau ketemu calon istri," goda adiknya dengan cengiram menggodanya.
Kendra ngga mengacuhkannya.
"Teman temanku banyak yang naksir kakak loh. Tapi pada patah hati waktu aku bilang kalo kakak udah punya calon istri," celoteh Salma riang. Dia pun dengan santai mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Tuh, kan. Keluarganya sendiri yang mematikan pasarannya, cemooh Kendra dalam hati.
"Mau langsung tukar cincin? Ups....." Salma dengan gaya yang menyebalkan menutup mulutnya, seakan sudah membuka sebuah rahasia besar.
Kendra meliriknya sinis. Tapi Salma hanya tertawa.
Dia udah nikah. Juga sudah punya anak, marahnya dalam hati.
Tanpa berkata apa pun, Kendra langsung berjalan ke luar dari kamarnya.
Salma masih tertawa melihat raut kesal di wajah kakaknya.
Tiba tiba kakaknya berbalik dan menatapnya tajam.
"Jangan pacaran dengan Dhafi. Dia brengsek," katanya kemudian sambil pergi.
"Siapa yang pacaran sama dia," sungutnya jadi kesal. Tawanya hilang sudah.
Kakaknya tau? batin Salma agak tercekat. Hubungannya yang putus nyambung dengan Dhafi, adiknya Kak Khanza memang agak rumit.
Dhafi yang player, dan Salma yang kata teman temannya bodoh karena selalu memafkan kekhilafan Dhafi.
Tapi kemudian dia menyusul Kendra keluar dari kamarnya.
Kiano dan Aruna tersenyum melihat kedua anak mereka.
"Kita berangkat," ujar Kiano sambil merangkul Aruna.
*
*
*
Khanza begitu heboh dan terharu saat bertemu Zayra.
"Teganya kamu, Zayra," teriaknya sambil memeluk Zayra yang tertawa renyah.
Kenan, Kalil, Aqil, dan Rakha ikut tertawa. Hanya Kendra yang ngga menampilkan ekspresimya.
Melihat Zayra sedekat ini cukup membuat jantungnya jadi sangat ngga sopan. Zayra semakin cantik. Tapi mengingat pertemuan menyebalkan di mini market membuatnya masih kecewa pada Zayra.
"Kamu udah jadi dokter, ya?" ucap Zayra ketika pelukan mereka terurai. Sinar mata Zayra terlihat kagum menatap Khanza.
"Iya. Aku kerja di rumah sakit mama Kendra. Adik Kendra juga kuliah di kedokteran," jelas Khanza dengan mata berbinar binar.
"Salma?" kagetnya campur senang sambil melirik Kendra yang sama sekali ngga melihatnya. Malah terlihat kesal.
Dia kenapa? batin Zayra heran. Harusnya, kan, Zayra yang marah karena sikap php Kendra padanya dulu.
"Iya, Salma masih semester delapan. Tinggal bentar lagi aja, sih," jelas Khanza masih dengan matanya yang berbinar binar.
Zayra tersenyum senang. Salma ternyata mengikuti jejak mamanya.
"Kalo sakit, gampang, kita berobatnya sama Khanza atau Salma," kekeh Aqil.
"Mending sama Salma, deh. Kalo sama Khanza ngeri ngeri mantap. Tergantung mood Khanza. Jangan sampai buat Khanza marah kalo mau berobat sama dia," gelak Kalil yang langsung mengelak dari lemparan cake potong oleh Khanza.
Hampir aja jas mahalnya kena cipratan krim cake. Padahal acara utama belum digelar. Bisa habis dia dimarahi maminya ntar.
Yang lainpun tambah ngakak melihatmya.
__ADS_1
Tapi bener juga yang dibilang Kalil kalo Khanza moody banget. Bisa bisa mereka di kasih suntik bius semua biar lebih mudah di apa apain sama Khanza
"Kak Zayla," panggil seorang anak perempuan kecil yang agak gendut dan menggemaskan.
Kakak? batin Kendra agak kaget. Dia kini menatap lekat anak perempuan yang sedang menghampiri Zayra.
Sahabat sahabatnya pun sama, saling tatap, bingung. Dan mulai menduga duga.
"Adik kamu?" tebak Khanza ngga yakin. Tapi memang ada kemiripan di wajah keduanya.
"Iya," senyum Zayra melebar sambil berjongkok menyambut kedatangan adiknya.
"Kok, bisa?" balas Kalil sama ngga yakinnya dengan Khanza.
"Umurnya berapa tahun, Zay?" tanya Aqil juga sambil menatap lekat pada anak perempuan itu.
"Lima tahun lebih dikit."
Mereka sama sama kembali terdiam dan saling pandang mendengar jawaban ringan Zayra
"Maksud kamu, waktu pergi, tante Dinda eh mama kamu sedang hamil?" cetus Kenan memecahkan keheningan.
"Iya. Umi lagi hamil tiga bulanan gitu," sahut Zayla menjeda.
"Kenalin adikku, namanya shafa," lanjut Zayra sambil menurunkan Shafa.dari pangkuannya.
Shafa dengan sangat sopan sekali menyalim tangan tangan sahabat Zayra membuat mereka terkekeh.
Bodoh. Papi benar, harusnya tadi aku langsung samperin Zayra, rutuk Kendra dalam hati. Menyesali sifat cemburu ngga jelasnya.
Kini dia sadar, kenapa papinya bersikap cuek setelah menemui Om Regan. Papinya pasti sudah tau jawaban pertanyaan Kendra tadi padanya.
"Apa selain masalah video itu, karena ini juga kalian pergi?" tanya Kenan sambil memangku anak perempuan yang menggemaskan itu.
"Iya. Abi ingin umi bisa menikmati kehamilannya dengan tenang," jelas Zayra sambil menyuapkam cheese cake pada Shafa yang menerimanya dengan senang hati.
"Memang pemberitaan itu cukup heboh," kesal Khanza sambil melirik judes ke arah para laki laki menyebalkan itu.
Walaupun sudah tau cerita yang sebenarnya, tapi mengingat hal hal yang lalu itu sempat membuatnya ilfeel lagi pada mereka.
Tapi untunglah Aqil segera membubarkan band mereka dan menutup semua akun sosmed band mereka.
Bahkan guru guru dan kepala sekolah serta ketua yayasan menyayangkan keputusan Aqil yang sudah ngga mau menerima job bernyanyi lagi.
Bahkan Kendra yang sering diminta mengiringi Atifa untuk bernyanyi pun selalu menolak dengan berbagai alasan.
Karena keduanya ngga tampil berdua lagi, rumor hubungan Kendra-Atifa pun berangsur menguap.
"Iya, cukup banyak hujatan," komentar Rakha yang diam aja sejak tadi.
"Aku mengerti alasan kenapa tante Dinda pergi. Tapi kenapa kamu ngga kasih tau alasan kamu ngilang tanpa berita Zayra," ungkit Khanza mulai kesal dan juga penasaran.
"Itu, kan, demi kamu juga, Khanza," Kenan yang menyahut.
"Kok, bisa?" Mata Khanza menyorot bingung.
"Bisalah. Kalo Atifa nyinggung tentang Zayra, kamu pasti akan marah, kan. Kamu nanti yang akan dibully," jelas Kenan sabar.
Khanza terdiam berusaha mencerna.
"Netizen taunya Kendra sama Atifa dekat. Kalo nanti tersiar kabar pertunangan Kendra sama Zayra, Zayra bisa dianggap orang ketiga. Kamu pasti akan membela Zayra, kan? Nantinya Kamu yang akan jadi sasaran kemarahan netizen," jelas Rakha mempermudah Khanza mengerti.
Kadang aneh juga melihat sahabatnya, hal sekecil ini aja kurang mengerti. Tapi nilai ipknya tinggi. Padahal susah, kan, kuliah kedokteran.
"Jadi maksudnya, karena aku juga kamu pergi?" tanya Khanza terkejut sekaligus sedih. Matanya langsung berkaca kaca.
Selama ini dia selalu menyalahkan kelima laki laki menyebalkan ini yang sudah menyebabkan Zayra pergi. Terutama Kalil si tokoh utama yang punya ide reseknya.
"Ngga gitu juga Khanza," respon Zayra sambil merangkulnya. Menenangkan Khanza.
"Penyeban awalnya ya guelah. Lo dapat akhirnya," bujuk Kalil menimbrung. Rasanya ngga nyaman melihat Khanza jadi melo. Lebih menyenangkan melihat Khanza yang galak dan suka mengomel.
"Memang lo gudangnya salah " sambung Aqil sambil mengedipkan sebelah matanya pada Kalil yang langsung mengerti.
"Kenapa teman kakak seperti mau nangis?" tanya Shafa heran sambil menatap Kenan bingung.
"Lupa dikasih permen," jawab Kenan asal, tapi membuat yang lainnya langsung nyengir termasuk Khanza.
"Loh, kalian ngapain. Ayo, Kendra, Zayra, sudah ditunggu," panggil Aruna yang heran melihat Kendra cs masih berada di tempat makanan.
Ruang meeting Hotel Regan sudah disulap menjadi tempat pertemuan keluarga besar mereka saja.
"Ditunggu siapa, mam?" tanya Kendra heran. Zayra juga ikut menatap mama Kendra heran.
Memangnya ada apa, ya? batinnya ngga tenang.
"Kalian, kan, mau tukar cincin," cetus Khanza membuat Kendra dan Zayra berjengit kaget.
__ADS_1
Ngga disangka sama sekali. Kirain acara biasa.
"Mau sampai kapan ditunda?Sampai kakek nenek?" canda Kenan sambil berdiri dengan Shafa yang sudah berdiri juga di sampingnya.
Khanza, Kalil, Aqil, Rakha tersenyum lebar. Ternyata surprisenya berhasil.
Kendra dan Zayra bergeming. Rupanya hanya mereka berdua yang belum tau rencana pertemuan malam ini.
Kendra teringat kembali ucapan adiknya yang dikiranya hanya candaan saja.
Ini serius?
"Sudah, ayo," tukas Rakha sambil mendorong Kendra. Kalil pun ikut membantunya.
"Ayo, Zayra," kata Khanza juga sambil menarik tangan sahabatnya yang mulai dingin.
"Baru tunangan, Zayra. Belum nikah," ledek Khanza membuat Zayra tambah salah tingkah.
Jantungnya berpacu semakin kencang saja mendengar ledekan Khanza. Dia aja masih terkejut mendengar akan tukar cincin.
"Baru gini aja kamu udah dingin kulitnya. Gimana kalo langsung nikah? Langsung beku jadi es balok?" ledek Khanza lagi, ngikik bersama yang lain.
"Tante, gimana kalo mereka langsung dinikahkan saja," usul Kalil terkekeh menyambuti perkataan Khanza.
"Iya, tante. Seru banget kalo langsung nikah. Terus malam pertamanya malam ini," tawa Aqil ngga reda reda. Senang, kali, dia dapat momen menggoda Kendra dan Zayra.
Teman temannya pun ngga bisa lagi menahan tawa mereka.
"Sabar, nikahnya bulan depan," sahut Aruna santai tanpa beban.
Mami....! batin Kendra tersentak. Dia melirik Zayra yang langsung pucat.
Kenapa? Kamu lebih milih nikah sama laki laki yang kemarin? sarkas Kendra dalam hati. Dia masih penasran dengan laki laki seusianya yang bersama Zayra kemarin. Kenapa mereka terlihat akrab.
"SETUJUUU....!" bagai koor, mereka menyahut dengan serentak kemudian pecah lagi tawa mereka.
"Ayo, sini sini," panggil Dinda-mama Zayra langsung mendekat ke arah Zayra.
"Anak cantik," ucap Tamara yang juga menghampiri Zayra bersama Qonita.
"Anak ganteng papi maunya nikah atau tukar cincin dulu," gelak Kiano ketika melihat tatapan kesal Kendra padanya.
Dia tau anaknya sedari di rumah tadi pasti masih jengkel terhadapnya, yang ngga menjawab pertanyaan pertanyaan yang diajukannya dalam marahnya.
"Itu adiknya Zayra, Ken. Bukan anaknya," balas Regan meledek Kendra membuat Kendra jadi tambah malu.
Ternyata Om Regan sudah diberitau papinya. Asem, batin Kemdra menggerutu.
"Tenang, Ken. Zayra setia nunggu kamu," kekeh Alva ngga kalah jahilnya ikut membuat Kendra semakin salah tingkah dan grogi.
Kendra yakin, pasti para orang tua itu mengetawakannya saat papinya menceritakan kemarahan Kendra atas apa yang dilihatnya.
Zayra pun jadi memerah wajahnya mendengar ucapan ucapan papi papi sahabatnya.
Tapi ada sedikit heran mendengar ucapan papinya, seakan akan Kendra pernah melihatnya bersama Shafa.
"Mana cincinnya?" tanya Armita kepo.
"Ini," ucap Aruna sambil menunjukkan sebuah kotak cincin kecil yang tampak mewah.
"Ooo...bagusnya," timbrung Rain ketika melihat kotak cincin itu dibuka Aruna, hingga tampaklah cincin pertunangan keduanya.
"Kita belum terlambat, kan," suara papa Kiano, kakek Kendra-Dika Artha Mahendra terdengar cukup berwibawa membuyarkan kebisingan mereka.
"Ngga, pap," sahut Kiano yang langsung menghampiri papa dan mamanya. Bahkan kakek dan nenek Suryo yang semakin sepuh pun hadir. Mereka menggunakan kursi roda. Ada Lilo dan istrinya yang mendorongnya.
Papa dan mama Regan yang sudah sembuh juga datang. Begitu juga papa mama Aruna. Kakaknya Almira dan suaminya Attar pun datang dengan anak kedua mereka, Zira.
Orang tua Alva, Glen dan Arga juga datang. Begitu juga orang tua Tamara, Rain dan Qonita. Bahkan sepupu Qonita Arik juga datang bersama Aries.
Acara ini seakan menjadi acara reuni keluarga besar mereka.
Dengan jantung semakin berdebar ngga menentu, Kendra memasukkan cincin yang diberikan mamanya ke jari manis Zayra. Cincin itu begitu pas dan tampak indah di jari Zayra.
Kendra ngga tau kapan maminya mengukur jari tangan Zayra.
Setelahnya dengan agak gemetar Zayra pun memegang tangan Regan dan memasukkan cincin ke jari manisnya. Cincin itu juga begitu pas dan tampak menawan di jari Kendra.
"Sekarang kalian resmi tunangan," ucap Regan terharu.
"Jaga Zayra baik baik, Ken," pesan Kiano yang diangguki Kendra patuh.
Kini Kendra dan Zayra saling menatap sebelum akhirnya gadis itu menunduk membuat Kendra gemas.
Jadinya pengen cepat nikah, batin Kendra geregetan. Debaran jantungnya juga masih kencang.
Teman temannya dan para tetua yang hadir pun ngga kalah terharunya
__ADS_1
"Nikahnya kapan?" celutuk Glen membuyarkan kesyahduan acara.
"Bulan depan," sahut Reno kemudian disambut tawa bergelak berjama'ah.