
"Dhafi dan Salma?" kening Glen berkerut. Keduanya jauh dari pantauan radarnya.
Tapi Alva terlihat tenang.
"Lo serius?" tanya Glen lagi sambil menatap Kiano. Mereka bertiga baru saja melihat lihat dekorasi hotel untuk pernikahan putrinya dan putra Alva.
Mereka sudah merasa cukup puas dengan tampilannya.
"Lo kaget, ya?"kekeh Kiano.
"Sama," lanjutnya lagi.
"Gue engga. Kedekatan mereka agak aneh," kilah Alva meyakinkan.
"Gue memang awal awalnya curiga. Tapi lama lama mereka terlihat biasa aja," imbuh Kiano.
Memang keduanya selalu berangkat bareng waktu SMA atau pun ke kampus. Hanya saja setelah Dhafi lulus, dia terlihat sangat sibuk bekerja di perusahaan daddynya. Hubungan mereka menjadi renggang.
Salma pun sibuk dengan jadwal latihan dan pertandingannya.
Dia sungguh bego karena ngga bisa mendeteksi apa yang sedang terjadi pada Dhafi dan Salma. Glen terus memaki dalam hati.
Glen kemudian melirik Alva yang mematung kesal.
Tumben lo peka, sindirnya membatin. Tapi setelahnya, B Glen memaki dirinya dan sama sekali ngga tau pergerakan Dhafi pada Salma.
"Apa sebaiknya kita nikahkan keduanya bareng dengan Kalil Khanza?" usul Glen sambil menatap keduanya tajam.
"Tapi Salma katanya mau ngambil skripsi. Katanya Dhafi mau bantuin," sambar Kiano kemudian dia mulai mengerti.
Padahal putrinya keukeh ingin mengambil cuti semester ini, tapi mendadak merubah keputusannya.
"Anak Teknik bisa bantu anak Kedokteran?" sangsi Alva ngga percaya.
"Kecuali anak Teknik itu punya maksud tersembunyi," kekeh Glen. Alva dan Kiano tersenyum miring
"Setidaknya gue harus berterima kasih sama anak lo karena membatalkan niat Salma buat cuti," tandas Glen pada Alva.
"Gue dengar dari Tamara juga begitu. Katanya Salma mau cuti. Aruna pusing katanya," kekeh Alva.
'Makanya Aruna senang banget karena Salma ngga jadi cuti," tambah Kiano juga terkekeh.
"Karena janji Dhafi mau bantuin?" kekeh Glen lagi. Yakin sekarang Glen kalo putra tengil dan playernya itu punya maksud terselubung.
"Begitulah," sahut Kiano dalam kekehannya.
"Mau nunggu Salma selesai skripsi atau selesai ko-as?" pancing Alva setelah cukup lama mereka tertawa.
'Tergantung mereka sajalah," jawab Gle cuek.
"Gue setuju," sambut Kiano.
__ADS_1
"Salma itu terlalu kekanakan. Kendra biasa memanjakannya," sambung Kiano.lagi.
Mungkin Salma sekarang kesepian, karena Kendra sudah menikah dan tinggal jauh dari mereka.
"Iya, Kendra sudah menikah," sahut Glen.
"Gue juga bakal kehilangan putri manja gue," sambungnya lagi dengan raut kehilangan yang sangat jelas.
"Lo pikir gue ngga akan merasa sedih juga? Kloning gue," imbuh Alva.
Suasana haru berubah jadi decihan mendengar kata kata Alva.
"Seengganya Kalil ngga buat drama sampai masuk rumah sakit sepeti daddynya," sarkas Glen membuat Alva tergelak.
Hering
Ya, syukurlah, percintaan anak anak mereka termasuk cukup mulus. Ngga sepertinya dulu ada adu tembak segala. Alva bahkan dirawat di rumah sakit karenanya.
"Kenan ngga pulang?" tanya Kiano karena kembaran Kalil masih di Inggris.
"Katanya tiga hari sebelum Kalil nikah, Kenan akan pulang."
"Anak itu terlalu serius belajar," komen Glen.
"Betul. Tapi sekarang gue menyangsikannya," cibir Alva.
"Kenapa?" Glen dan Kiano menatap Alva yang terlihat agak pusing. Tadi sebelum menyebut nama Kenan, dia nampak baik baik saja.
"Tamara ngga mau punya mantu bule?" kekeh Glen bersama Kiano.
"Begitulah. Nanti bulenya mau dibawa ke sini saat dia pulang. Huuuh! Anak itu ternyata lebih parah dari pada Kalil," omel Alva gemas.
"Tapi Kalil juga pernah foto beberapa dengan bule itu," todong Glen yang kepikiran gimana jadinya kalo Kalil masih berhubungan dengan bule itu.
"Hanya teman kata Kenan. Kalil bahkan sudah menghapus semua foto fotonya dengan banyak perempuan perempuan di sosmednya," jelas Alva dengan senyum lebar di bibirnya.
Glen tersenyum lega. Begitu juga Kiano.
'Mungkin Kenan sudah jadi bucin," gelak Alva penih makna, diikuti keduamya.
*
*
*
Kalil sengaja menunggu Khanza di ruangannya. Sementara Khanza meninggalkannya sendiri karena sedang ada operasi.
Telponnya bergetar. Satu nomer asing muncul di sana. Kalil merejeknya. Dia lagi ngga mau menerima telpon yang ngga dikenal.
Ribet. Pasti dari penawaran asuransi," ngerundelnya dalam hati
__ADS_1
Nomer itu ngga henti hentinya menelponnya. Dengan kesal Kalil mengangkatnya.
"Siapa!" kertaknya mulai menahan marah.
"Kalil, it 's me."
Kalil terpaku sesaat mendengar suara itu.
"Stefani," ucapnya pelan.
"Kamu masih ingat?" tanyamya dengan bahasa Indonesia yang fasih. Dulu Stefani pernah tiga tahun tinggal di Indonesia. Juga Crystal, kekasih Kenan. Mereka kadang berbahasa Inggris, kadang berbahasa Indonesia.
"What do you want?" tanya Kalil tanpa basa basi. Langsung ke topik utama.
"I want you, Kalil. Be my lover."
Kalil tersenyum miring.
"I already said no. I"ll marry. Don't disturb me, okey," tegas Kalil.
"Kalil, No!. You are mine!" suara Stefani terdengar agak keras.
"In your dream!" sentak Kalil kesal sambil menutup telponnya.
Kalil memijat keningnya. Dengan Stefani atau pun bule bule lainnya, Kalil ngga pernah meniduri mereka. Hanya icip icip sedikit saja. Agnes adalah wanita terakhir yang dia tiduri.
Kenapa bule itu masih mengejarnya, umpat Kalil dalam hati. Padahal seperti katanya ditelpon tadi, Kalil sudah sering menolaknya.
Kalil pun membuka salah satu sosial medianya. Ada satu foto Khanza yang diam diam diambilnya secara candid. Saat itu Khanza sedang serius memeriksa pasiennya. Tapi wajahnya sangat cantik menurut Kalil. Karena wajah galaknya berubah lembut.
Dia pun mempostingnya. Tak lupa kata kata yang selalu saja membuat para perempuan melayang.
My future wife. My love, forever.
Kalil berharap dengan adanya foto dan pernyataan ini, para perempuan yang masih mengharap lebih pada dirinya bisa sadar. Mereka bukan siapa siapa baginya. Hanya dokter cantik inilah permaisuri di hatinya.
Kalil pun memblokir nomer Stefani. Dia ngga ingin bule itu mengganggunya di saat dia sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Khanza. Siapa pun juga. Dia sudah tutup buku dengan mereka.
Sudah cukup waktunya bermain, sekarang dia.akan fokus ke masa depannya dengan Khanza.
Kalil menghela nafas panjang sambil melihat jam. Masih satu jam lagi Khanza kembali. Kalil memutuskan untuk tidur.
Satu jam kemudian Khanza tersenyum senang. Operasi berjalan sukses dan lancar. Keluarga pasien dokter Muluk tampak bahagia dengan bayi yang sangat menggemaskan hati mereka.
Sekarang Khanza harus bergegas menemui Kalil. Kasian, sudah lebih dari satu jam dianggurin. Khanza kembali tersenyum.
Sambil berjalan Khanza membuka sosmednya. Bibirnya tersenyum tambah lebar ketika melihat foto dirinya yang ditampilkan Kalil di akun sosmednya.
Kalimat Kalil membuat jantungnya deg degan campur senang. Langkahnya pun dipercepat menuju ruangannya untuk menemui Kalil.
Khanza ingat saat itu Kalil menemaminya memeriksa pasien. Khanza ngga sadar kalo Kalil sempat memfotonya.
__ADS_1