
Khanza dan orang tuanya ikut berfoto bersama mempelai. Begitu juga sahabat sahabatnya yang lain. Bahkan juga tamu tamu.
Saat Khanza dan orang tua beserta adik adiknya memberikan kesempatan pada keluarga Arga, tatap mata Khanza bertemu dengan Keluarga dokter Fadli.
Anehnya Khanza mendapati tatapan canggung dan sungkan dari Mama dokter Fadli. Padahal tadi saja selalu terlihat sinis.
Dalam hati dokter Fadli ada yang luruh menyaksikan kedekatan Khanza dengan keluarga Dhafi. Ngga disangka, pilihan Khanza sangat TOP. Ngga mungkin ada yang bisa menyaingi dari mereka yang dari kalangan dokter.
"Hai, Khanza," sapa dokter Fadli tetap dengan senyum ramahnya
Glen dan istrinya saling pandang, tapi Glen tersenyum melihat papa dokter Fadli, karena salah satu dari kesekian rekan bisnisnya yang diundang Kiano pada pernikahan putranya.
Khanza hanya tersenyum tanpa menyahuti. Mendadak Khanza teringat kalo mama Fadli ingin bertemu orang tuanya.
Mungkin ini saatnya, batin Khanza terpaksa harus membuka jati dirinya di depan dokter Fadli dan rekan rekannya yang berada di dekat mereka.
"Tante, Om, kenalkan, ini orang tua saya," ucap Khanza sangat ramah.
Mama Fadli terlihat banget sangat kikuk, ngga menyangka Khanza akan mengabulkan permintaannya tadi. Sedangkan dokter Fadli sangat kaget. Setaunya, kan, itu adalah keluarga Dhafi.
Dokter Verli, dokter Mutia, dokter Niko, dan dokter Hari menatap ngga percaya pada Khanza. Rahang mereka seakan mau jatuh ke lantai. Kejutan kejjutan tentang dokter Khanza sudah sangat keterlaluan mengganggu interval jantung mereka.
Ternyata dokter Khanza bukan orang biasa seperti mereka.
Apalagi Verli, dia merasa pipinya seperti ditampar dengan sangat keras, berulang kali. Sakit sekali sampai ke dalam hati. Juga malu yang tak tertahankan. Teringat lagi akan kemarahan Rakha. Memang benar, dia ngga ada apa apanya di banding dokter Khanza. Hanya debu saja yang jika diberi sedikit tiupan akan langsung terbang dan lenyap, tanpa bekas.
"Siapa sayang?" tanya mami Khanza heran. Belum pernah Khanza mengenalkan teman temannya oada dia dan Glen.
"Ini keluarga dokter Fadli, mam. Dokter Fadli beberapa hari lagi akan berangkat ke Jerman, kuliah spesialis," jelas Khanza yang hanya diangguki maminya. Benak maminya masih penasaran akan sikap aneh Khanza.
"Pak Glen," sapa papa Fadli berusaha tetap tenang, padahal pompaan jantungnya sangat cepat. Beliau mengulurkan tangannya yang dibalas Glen dengan senyum ramahnya.
"Putri pertama ya, pak, dokter Khanza? Kami sering bertemu di rumah sakit, tapi saya ngga tau kalo dokter Khanza putri anda," sambung papa Fadli lagi.
Dalam hati menyesalkan tindakan ceroboh istrinya. Jika Pak Glen tau akan sikap jahat istrinya pada dokter Khanza, tentu bisa berpengaruh buruk pada hubungan bisnis dan kerja sama mereka.
"Oooh, begitu. Putri saya memang terlalu sederhana," kekeh Glen santai. Dia menangkap kegugupan keduanya.
Apa mereka yang menghina kemiskinan putrinya? batinnya teringat perkataan ketiga anak sahabatnya.
"Iya, tapi sangat cantik dan pintar " puji Papa Fadli tulus.
"Iya. Khanza memang sangat cantik," respon Glen cepat, berusaha membuang perasaan curiganya.
__ADS_1
Mama Fadli sendiri mengulurkan tangannya dengan sedikit gemetar.
Mama Khanza walau bingung melihat wajah takut takut mama Fadli, menyambut uluran tangannya dengan ramah.
"Apa kabar, bu?" tanya mama Fadli dengan suara agak tercekat.
Sangat sopan sekali, dalam hati Khanza tertawa. Teringat betapa sinisnya tadi beliau padanya.
Ternyata benar kalo orang orang lebih suka menilai penampilan luar saja. Bersikap palsu.
"Saya sehat. Tapi anda agak pucat," ucap Armita penuh perhatian.
"Sedikit kurang enak badan, bu," ralat Mama Fadli dengan suara bergetar. Tungkai kakinya sangat lemas. Dia beruntung karena suaminya menahan tubuhnya agar ngga jatuh.
Dokter Fadli menatap kagum pada Khanza. Ngga disangka Khanza menyembunyikan identitasnya dengan sangat baik sebagai putri sulung keluarga konglomerat.
"Khanza, ayo kita foto bersama," seru Aqil yang sudah berada di dekat Kendra dan Zayra.
Khanza hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar.
"Saya tinggal dulu, ya, Om, Tante, dokter," pamit Khanza ramah.
"Iya, Khanza," papa dan mama dokter Fadli menjawab berbarengan. Mama Fadli bisa bernafas lega karena ngga perlu lama lama menghadapi Khanza. Beliau sedang menahan tubuhnya yang sudah hampir pingsan. Malu dan takut bercampur jadi satu.
"Tuan putri, ayo," ajak Kalil sambil mengulurkan tangannya, yang dengan agak malu disambut Khanza. Kalil tergelak melihat wajah manyun yang merona itu.
Glen dan Armita tertawa melihatnya. Sedangkan dokter Fadli tersenyum getir. Dia tau ada sesuatu diantara keduanya.
Mama dokter Fadli memandang punggung Khanza dengan penuh rasa penyesalan dan sedikit lega karena sepertinya Khanza belum mengatakan apa apa pada orang tuanya.
Dia melirik kasian pada Fadli yang terus saja menatap kepergian Khanza.
Jika dia ngga bersikeras menolak keinginan Fadli, bukan hanya kebahagiaan Fadli yang dia peroleh, tapi status sosialnya akan meroket. Tapi nasi sudah jadi bubur. Mama Fadli yakin pasti saat ini Khanza sudah sangat ilfeel dengannya.
Sementara itu Agnes dan orang tuanya bersama rekan rekan bisnisnya, terpecah perhatiannya pada panggung pelaminan yang sedang melakukan foto foto dalam suasana yang sangat ceria.
"Bukannya Kalil pacar kamu? Apa kalian sudah putus?" tanya Baskara, papa Agnes sambil menatap putrinya heran.
Kenapa putrinya ngga berada di sana?
Agnes tertegun dan menatap marah saat menyadari betapa mesra Kalil menggandeng Khanza. Sementara itu para pria yang tadi meninggalkannya sedang menunggu mereka di dekat pengantin.
"Dari orang tua sampai ke anak anaknya tetap menjadi sahabat. Hebat ya, bisa mengekalkan hubungan sampai pada keturunannya juga," puji salah satu teman Baskoro kagum.
__ADS_1
"Betul. Malah ada yang nikah," kekeh teman Baskoro yang lainnya lagi.
"Tadi bukannya Agnes bergabung bersama mereka?" tanya istri teman Baskoro yang baru saja berbicara.
"Iya. Gosipnya kalian dekat," timbrung istri yang lainnya juga ingin tau.
Sementara itu anak anak mereka yang sebaya dengan Agnes juga memfokuskan perhatiannya pada Agnes. Ingin tau jawaban Agnes akan gosip yang beredar beberapa hari ini.
Bahkan Agnes sudah memasang fotonya berdua Kalil sebagai foto profilnya di akun akun media sosialnya. Seakan memproklamirkan hubungan mereka.
"Kita pacaran," sahut Agnes pe de.
"Oooh, selamat kalo.gitu," ucap istri istri teman papanya dengan senyum sarat makna.
"Cewe yang digandeng itu siapa," tanya istri teman papanya yang lain. Tapi terdiam mendapat isyarat dari suaminya.
"Katanya sahabatnya," jawab Agnes sambil menahan kesal. Dokter itu sudah mempermalukannya.
"Bukannya itu Khanza, ya, putri pertama Pak Glen Adyswara?" tukas Mama Agnes membuat putrinya sangat terkejut.
"Mama tau dari mana? Dia cuma dokter biasa," koreksi Agnes ngga terima.
Ngga mungkin dokter itu anak konglomerat ternama. Secara penampilannya sangat biasa saja. Profesi dokter cuma untuk menunjang kebutuhan hidupnya saja. Agnes menyeringai sinis. Masih meremehkan.
"Iya, dia memang dokter biasa, sayang. Katanya setahun lagi baru bisa kuliah spesialis," jelas Baskoro. Beliau tau dari pembicaraan orang orang tentang putri sulung Glen Adyswara yang ngga begitu diexpose.
"Masa, sih, pa? Penampilannya selain hari ini biasa saja," protesnya ngga terima dengan firasar buruk yang mulai mengganggu pikirannya. Teringat akan kata kata marah Rakha kalo dirinya ngga ada apa apanya dibanding Khanza.
Ngga mungkin, bantahnya dalam hati. Masih ngga mau percaya.
Beberapa orang teman papanya tertawa. Dan putra putri teman papa mamanya, ada yang menatapnya sinis dan meremehkannya.
"Putrinya memang sederhana. Kalo saja Om ngga pernah dikenalin, Om juga ngga akan tau kalo itu putri sulungnya," jelas salah satu teman papanya setelah deraian tawanya usai.
Agnes terdiam. Otaknya buntu. Ngga bisa lagi buat berpikir.
Yang ada hanya perasaan takut telah membuat Kalil marah dan bisa bisa dia akan ditinggalkan Kalil lagi seperti tadi. Bahkan selamanya.
"Kalo kamu pacaran dengan Kalil, harap genggam.dia dengan erat. Setau tante, mamanya sangat ingin menjodohkan Kalil dengan Khanza," info istri teman papanya serius.
Agnes tercekat. Seakan ada yang mengganjal tenggorokannya. Dia sama sekali ngga bisa berkata apa apa.
"Aku juga dengar begitu," tambah istri yang lainnya lagi.
__ADS_1
"Tenang, sayang. Mama rasa mereka hanya bersahabat," kata mamanya lembut seolah memberi dukungan. Siapa yang ngga mau berbesan dengan keluarga Kalil. Hanya tinggal selangkah lagi saja. Bukannya putrinya sudah menjadi kekasih putra konglomerat itu? Senyum penuh percaya diri terpancar di bibir mama Agnes.