
Tiga bulan berlalu setelah kepergian Kalil dan Kenan. Khanza melakukan aktivitasnya seperti biasa dengan sahabat sahabatnya yang tersisa.
Zayra dan Kendra pun sudah sibuk dengan perusahaan masing masing. Gosip tentang mereka di masa lalu hilang sudah. Bahkan mereka juga ikut mengambil kuliah master bareng Aqil dan Rakha.
Seperti siang ini mereka sedang makan bersama di kafe depan rumah sakit.
"Khanza, harusnya kamu jangan ambil kedokteran," ganggu Aqil.
"Kenapa?"
"Kita, kan, jadi ngga bisa kuliah bareng," sahut Aqil lagi.
"Alasan. Padahal lo suka, kan, bisa bebas menggoda cewe cewe. Kalo ada Khanza, lo, kan, susah ntar," tuduh Rakha ngakak.
Aqil pun tergelak. Mengakui kebenaran tuduhan Rakha.
"Eh, banyak juga lo yang suka sama Zayra. Tapi pawangnya ngga pernah jauh," ngakak Aqil mengejek Kendra.
"Emang Kendra ngga ada yang naksir di kampus?" selidik Khanza sambil menatap Zayra.
"Wuiiih.... banyaaak," yang menjawab Aqil. Siap menyalakan api kompornya.
Zayra hanya tersenyum tipis.
"Pada patah hati, dong," tawa Khanza sambil melirik Kendra yang juga tersenyum tipis.
"Tapi Kendra yang sempat ngamuk," tawa Rakha terlihat sangat senang.
"Laki laki itu memang nekad, ya. Padahal sudah tau pake cincin," sela Aqil sambil menggelengkan kepalanya.
"Yang perempuan juga sama," decih Rakha. Mengingat kelakuan teman teman kuliah mereka.
Berani mengganggu Zayra, bakalan dihajar Kendra abis abisan.
Mereka berempat sengaja mengambil jurusan yang sama.
Kendra tentu ngga melepas kemana pun Zayra pergi. Bahkan dia rela menunggu di luar pintu toilet jika Zayra ingin ke sana.
Awal awalnya gangguan selalu ada. Tapi makin ke sini sudah mulai menjauh.
Hanya Aqil da Rakha yang senang senang saja menikmati perhatian para mahasiswi yang cantik cantik dan seksi.
"Eh, siapa ini?" kaget Aqil pura pura dan agak lebay. Matanya melirik Khanza yang masih saja menikmati sop kimlonya.
"Ada apa?" tanya Rakha terusik.
"Ini, kelakuan si kembar," tukas Aqil sambil meletakkan ponselnya di tengah meja mereka.
Nampak keduanya berpose dengan empat teman lainnya. Seperti couple.
DEG
Khanza berusaha menyimpan keterkejutannya. Dia sudah menduga, cepat atau lambat Kalil pasti akan memposting fotonya bersama bule.
Padahal selama ini komunikasi mereka lancar lancar saja. Kalil malah intens menanyakan keadaannya.
Apa dia sudah makan?
Sudah pulang?
Jangan nakal sama dokter.
Aneh, kan.
__ADS_1
Tanpa Khanza sadari keempat temannya menatapnya prihatin. Mungkin Khanza ngga sadar, biar pun dia sudah berusaha menyembunyikan ekspresinya, tetap saja bisa terbaca oleh mereka.
"Kalil malah foto berdua aja pake pakaian minim," kata Rakha sambil menggelengkan kepalanya.
Kendra sengaja ngga mau lihat foto cewe bule yang bersama Kalil yang mengenakan bikini two piece yang seksi abis. Tapi memang dia ngga minat.
Bukan hanya bule yang selalu nempel dengan Kalil yang berpenampilan seperti itu, tapi dua cewe bule lainnya juga berpenanpikan sama.
Kenan yang biasanya cuek ternyata juga menikmati pose pose intimnya dengan para bule.
Bagi bule wajar mereka berpenampilan seperti itu.
"Kenan sudah terkena virus Kalil. Tapi gue juga mau kalo begini," tawa Aqil. Rakha juga ikut ngakak.
"Aku ngga lihat, yang," kata Kendra sambil menggenggam tangan Zayra. Takut Zayra marah.
Zayra hanya berdehem pelan mengusir rasa malunya ketika melihat Aqil dan Rakha yang masih melihat foto foto seksi itu sambil haha hihi.
"Iya," jawab Zayra sambil membalas genggaman Kendra. Kalo pun Kendra ingin melihat, dia ngga bisa melarang. Apalagi dalam circle pertemanan mereka ada Aqil dan Rakha. Dan penyebab semua ini si biang onar Kalil dan Kenan.
Kalil mengeksposenya di akun sosmednya yang isinya memang foto fotonya yang sedang berdekatan mesra dan intim dengan perempuan perempuan cantik dan seksi. Koleksi berharganya. Itu dulu katanya.
"Khanza, kapan kapan ikut kita ke kampus, ya. Cowo cowo yang lebih dari Kalil banyak di sana," kata Rakha setelah puas tertawa. Memanaskan kompor Aqil.
Dia menatap wajah datar Khanza.
'Sesekali cuti, Khanza. Biar bisa lihat laki laki ganteng di luar kita," sambung Aqil yang disetujui Rakha.
"Besok kamu harus ikut kita ke kampus," ajak Aqil lagi penuh semangat.
"Ngapain. Besok aku ada operasi sama dokter Muluk," tolak Khanza. Jadwalnya memang sibuk banget. Khanza berencana akan mengambil spesialis obgyn. Karena itu Khanza lebih sering membantu dokter Muluk bersama dokter Niko.
"Khanza, kamu harus keluar dari bayang bayang kita," tegas Aqil pede.
Khanza sempat bengong sesaat dan menatap wajah Aqil sebelum kemudian tergelak gelak bersama Rakha.
"Lo kepedean," ejek Rakha dalam tawanya.
*
*
*
Malamnya Khanza tepekur sambil menatap wajah ceria Kalil saat duduk.berdekatan dengan sang bule.
Saat Khanza membuka akun si bule yang ada tagnamenya di akun Kalil, jantung Khanza kembali berdebar hebat.
Bahkan sejak dua bulan yang lalu Kalil sudah sering berfoto berdua dengan si bule itu. Nampak mesra.
Teringat nasihatnya pada Salma yang akhirnya menohok dirinya sendiri.
Khanza membuang nafas. Dia ngga mau menangis walaupun air matanya sudah mendesak ingin keluar.
Ada satu notifikasi yang masuk dalam ponselnya. Tanpa membukanya Khanxa tau dari Kalil dan apa isi pesan singkatnya.
*Sudah pulang?
Jangan capek capek*.
Air mata Khanza mengalir pelan.
Khanza memilih menarik selimurnya dan berusaha tidur.
__ADS_1
Kalil pun seperti ngga peduli apa Khanza sudah membaca pesannya atau nggak. Karena setelahnya ngga ada notifikasi lagi.
*
*
*
Empat bulan berlalu setelahnya. Foto foto Kalil bersama bule itu semakin sering diperlihatkan Aqiil.
Pesan pesan Kalil pun tetap rutin masih dikirim untuknya. Khanza membalas seperlunya. Begitu juga telponnya. Hanya sekadarnya saja.
Hari ini Khanza terpaksa ikur Zayra ke kampusnya. Sahabatnya itu memaksanya. Tante Aruna juga dengan mudahnya memberikannya ijin
Bertiga bersama Kendra, Aqil dan Rakha Khanza dan Zayra memasuki kampus sahabat sahabatnya itu.
"Banyak cowo cakep, kan," usik Aqil sambil nyengir.
Yang lainnya pun tersenyum. Khanza hanya menatap mereka dengan datar.
Khanza memang sedikir patah hati karena Kalil. Tapi dia ngga bakalan jomblo seumur hidup. Dia hanya sedang serius dengan ko-as nya yang bentar lagi selesai. Khanza nanti juga akan mendaftar di kampus sahabat sahabatnya untuk gelar spesialisnya.
Tapi ngga apa juga mereka mengajaknya ke sini. Khanza bisa sekalian melihat kampusnya yang akan dia masuki beberapa bulan lagi.
Tiba tiba ada bola basket yang melayang di depan wajah Khanza.
Rakha dengan sigap menangkisnya dan meraih bola tersebut dengan kedua tangannya.
"Hey, thank's. Lo ngga apa apa?" tanya seorang laki laki yang sebaya mereka dengan nafas cukup terengah. Dia terkejut melihat bola basket yang dilemparnya malah memantul di pinggiran ring dan terbang ke arah rombongan yang cukup dikenalnya.
"Dia ngga apa apa," jawab Aqil santai. Malah bergantian melempar dan menyambut bola dari Rakha.
"Maen bentar, yok,' ajak Rakha sambil mengoper bola pada Kendra.
"Boleh juga. Zayra, kamu di sini sama Khanza, ya," ucap Kendra sambil berpaling pada Zayra.
"Oke."
"Eh, tapi kamu beneran ngga apa apa?" tanya laki laki itu penasaran sambil melihat seksama wajah Khanza yang hanya diam aja.
"Dia ngga apa apa. Lo tenang aja," kali ini Rakha yang menjawab.
Terulas senyum tipis di wajahnya saat melihat wajah datar gadis itu.
"Oke, gue Boby. Lo Khanza, ya," katanya lagi. Wajahnya juga sangat tampan.
Aqil dan Rakha saling mengerling penuh arti.
"Ngobrolnya ntar. Ayo, maen sekarang," tukas Kendra sambil mengoper bola ke arah Boby yang dengan keren ditangkap hanya dengan satu tangan.
"Oke, oke. Nanti lanjut, ya," balasnya sambil mengedipkan sebelah matanya sebelum pergi.
Zayra tersenyum sambil melihat reaksi Khanza yang tampak cuek.
"Tuh, belum lima menit lo udah ditaksir mahasiswa tampan, Khanzaaa," ledek Aqil sebelum pergi.
Khanza hanya mencibir.
Laki laki itu memang tampan benget. Sama seperti sahabat sahabatnya. Kini semakin banyak mahasiswa yang menonton ketika Kendra, Aqil dan Rakha ikut bergabung.
"Dia anak minyak," kata Zayra memberitau.
"Hemm..."
__ADS_1
"Kelihatan anak baik baik," Zayra memberikan rekomendasi.
"Kamu mau jadi mak comblang?" ejek Khanza yang dibalas tawa berderai Zayra.