After The Heartbreak

After The Heartbreak
Kemarahan Kalil


__ADS_3

Kalil sengaja menunggu Aqil di basemen kantornya. Begitu dia melihat mobil Aqil datang, Kalil segera bersiap.


Ternyata Aqil keluar dari mobilnya bersama Rakha


Kalil yang sudah ngga peduli lagi segera keluar dan sengaja membanting keras pintu mobilnya membuat keduanya terkejut.


BRAAKK!


"Kalil!"


Kalil ngga mempedulikan seruan dua sahabatnya yang kini berdiri menatapnya ngga percaya kalo dia beneran berada di depan mereka.


BUGH


BUGH


"Kalil! STOP!" seru Rakha terkejut melihat Kalil menghantamkan tinjunya bertubi tubi pada Aqil yang belum siap menerima serangan.


Terdengar beberapa teriakan beberapa pegawai yang ada di basemen.


DUGH


'Biarkan, Rakha," seru Aqil setelah berhasil menendang perut Kalil.


Aqil menghapus darah di sudut bibirnya dengan tatapan mengejek.


"Marah, heh," kekehnya membuat Rakha menggelengkan kepala.


Kata kata Aqil tambah membuat Kalil panas. Semakin menyulut kemarahannya. Dia ngga mempedulikan sakit di perutnya dan menghampiri Aqil dengan cepat dan menghajarnya lagi.


Kali ini Aqil sudah bersiap, dia lebih bisa menahan pukulan dan tendangan Kalil yang dilanda emosi.


"Stop, Kalil! Ada apa?" tanya Rakha yang masih belum mengerti dan berusaha melerai keduanya.


Tapi keduanya ngga peduli, terus saja melakukan baku hantam.


BUGH


BUGH


BUGH


Rakha sampai memberikan isyarat pada sekuriti yang awalnya datang untuk melerai perkelahian itu, tapi kini malah meminta untuk membawa pergi para pegawai yang menonton perkelahian itu


Kini Rakha berdiri menyandar di samping mobilnya, melihat keduanya bergelut bagai bocah yang rebutan mainan.


Sekitar setengah jam keduanya masing masing dengan posisi terduduk di lantai sambil menyeka darah di bibir.


"Udah puas kalian?" tanya Rakha masih dengan mimik santainya.


Kalil menatap tajam sebelum bangkit, tanpa menjawab pertanyaan Rakha.


"Lo marah karena Khanza? Sampai pulang segala," ejek Aqil membuat tubuh Kalil yang sudah berdiri jadi mematung. Aqil memang ahlinya mengompori.


Rahang Kalil mengeras tanda kemarahan masih meluap luap di dalam rongga dadanya


Rakha baru sadar ketika mendengar perkataan Aqil.


"Lo beneran cemburu?"


Apalagi yang membuat Kalil pulang kalo dia ngga merasa cemburu?


Dia merasa teramcam?


Ngga mungkin.

__ADS_1


Kalil mengepalkan kedua tangannya, kemudian melangkah pergi tanpa merasa perlu menjawab pertanyaan Rakha.


"Lo jangan munafik, Lil. Khanza berhak memdapatkan yang lebih baik dari lo!" seru Aqil juga ikutan berdiri.


Tapi Kalil tetap ngga menjawab. Dia melangkah masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya pergi dengan raungan yang kencang.


"Lo ngga apa apa?" tanya Rakha sambil menghampiri Aqil.


"Lumayan bonyok," kekeh Aqil.


Rakha pun jadi tergelak juga.


Melihat kondisi Aqil, sepertinya Kalil sangat marah dan menghajarnya sepenuh hati.


"Nasib lo. Dendam banget dia. Ayo diobati dulu," tawa Rakha sambil bantu menepuk nepuk debu di jas Aqil.


Aqil juga tergelak, tapi dalam hatinya senang karena dia sukses membakar hati Kalil.


"Sialan Kenan! Kenapa dia ngga ngabari kita kalo kembarannya pulang," umpat Aqil dalam tawanya.yang berderai derai. Seakan akan ngga ada rasa sakit yang ditanggungnya.


"Mungkin sengaja jadiin surprise buat lo," gelak Rakha semakin keras.


"Emang sialan dia," umpat Aqil sambil menyeka sudut bibirnya lagi. Tapi sinar mata dan wajahnya terlihat sangat senang. Bahkan dia masih saja tertawa bersama Rakha walau bilur bilur di wajahnya tampak sangat jelas.


*


*


*


"Kalil!" seru Tamara kaget saat melihat anaknya pulang dalam keadaan luka memar di wajah dan sudut bibirnya.


Alva hanya menggelengkan kepalanya. Dia sudah mendapat kabar dari Arga kalo anak anak mereka saling memukul tadi siang di basemen perusahaan Arga.


Kalil hanya diam sambil melangkah ke.kamarnya.


"Kamu ini, sudah besar masih seperti anak kecil saja," omel Tamara sambil mengompres luka luka di wajah putranya.


Kalil hanya diam saja. Sedikitpun dia ngga merasakan sakit pada luka luarnya.


Tapi hatinya yang masih sakit ketika mengulang memori kedekatan Khanza dan laki laki yang dijodohkan Aqil.


Melihat Khanza tertawa begitu mudah bersama laki laki itu jadi memori menyakitkan buatnya.


Dia diam saja, ngga bereaksi apa pun.


Alva mengamati wajah putranya yang nampak kosong.


"Kamu tetap ingin pulang hari ini?" tanya Alva memastikan.


Kalil hanya mengangguk dengan tatapan kosong.


Untuk apa juga dia lama lama di sini. Khanza juga sudah sangat marah dengannya.


"Kamu ingin mami telpon Khanza agar dia ke sini?" tanya Tamara lembut setelah mengoleskan obat di luka pada sudut bibir Kalil.


Kalil menoleh pada maminya sebentar sebelum menggelengkan kepalanya.


Terdengar helaan nafas panjang Tamara.


"Kamu sama Kenan jangan foto aneh aneh kayak gitu lagi. Itu bule sekadae teman atau pacar?" Tamara mulai menginterogasi.


"Teman, mam." Akhirnya Kalil bersuara juga.


Tamara mendengus sambil melirik Alva yang masih mengamati putra mereka.

__ADS_1


"Sekarang ganti baju. Kamu masih ada waktu dua jam untuk istirahat," perintah Tamara sambil beranjak ke lemari pakain putranya. Meletakkan selembar kaos dan celana pedek buat salinnya.


Kalil masih diam ngga bereaksi. Ketika Alva akan membuka mulutnya, Tamara memberi isyarat agar mereka segera keluar. Membiarkan Kalil istirahat dan memikirkan apa yang sudah dia lakukan tadi.


*


*


*


"Khanza, kamu ngga mau nemuin Kalil di bandara?" tanya Aruna. Dia sengaja mencari Khanza setelah Kiano menceritakan apa yang terjadi antara Kalil dan Aqil tadi siang.


Kini mereka berada di ruangan Aruna.


"Ngga, tante," jawab Khanza sambil menunduk.


"Kamu ada masalah dengan mereka berdua?" tanya Aruna lembut. Melihat Khanza, rasanya Aruna seperti mengenang saat dia sedang bersama Tamara dulu. Padahal Khanza bukan anak Tamara. Tapi keras kepala dan tomboynya sama persis seperti Tamara waktu masih muda.


Khanza menghela nafas panjang.


"Aqil tuh kayaknya lagi mau deketin Khanza dengan temannya, tante," jelasnya pelan.


"Oooh," senyum Aruna mulai memgerti


"Trus Kalil?" pancing Aruna, tapi sebenarnya dia mulai paham apa yang sedang terjadi.


"Kalil.... emmm...." Khanza terdiam. Terpaksa dia harus mengingat lagi ucapan Kalil yang menusuk hatinya.


"Kalil kenapa?"


Khanza menghela nafas lagi.


"Dia salah paham. Trus marah. Padahal kelakuan dia lebih parah," adu Khanza setengah mengomel.


Aruna tersenyum bijak.


Gimana ngga parah, daddynya aja gitu, batin Aruna geli. Ingat dulu sebelum Alva jadian dengan Tamara.


"Tadi Kalil berantem sama Aqi di basemen perusahaan Aqil."


"Apa tante? Kok, bisa?" kaget Khanza mendengarnya.


"Kalil kayaknya marah Aqil deketin kamu sama temannya," senyum Aruna.


Khanza mangkel dengarnya.


"Kenapa mesti marah. Kalil aja bebas peluk sama cium perempuan," marah Khanza tanpa sadar.


'Eh, maaf tante. Kelepasan," ralat Khanza malu.


Aruna tertawa kecil sambil menggenggam tangan Khanza.


"Mereka itu memang laki laki egois. Tante paham perasaan Khanza," jawab Aruna setelah tawanya reda.


Ingat kelakuan Kiano yang juga dulu pernah menyakiti hatinya. Parah banget malah.


"Mungkin kamu sama Kalil perlu bicara," kata Aruna memberikan solusi.


Khanza ngga menjawab. Apa yang mau mereka bicarakan.


"Ngga perlu tante. Lagian Khanza mau fokus buat kuliah spesialis," tolaknya pelan.


"Oke, tante dukung apa pun keputusan kamu."


Ada baiknya memberikan jeda pada suatu hubungan, pikir Aruna dalam hati.

__ADS_1


Aruna pun menepuk lembut tangan Khanza yang juga mengulaskan senyum tipisnya.


__ADS_2