
Kalil tersenyum senyun melihat rekaman cctv di lift saat Khanza menangis. Dia tampak sangat menggemaskan
"Puas Lo?" hardik Kenan kesal melihat wajah sumringah Kalil.
Kalil ngga mempedulikannya.
Setelah meminta Agnes pulang, Kalil dipapah Kenan ke ruangannya. Kemudian dia meminta Kenan meminta rekaman cctv di lift pada sekuriti perusahaan.
Awalnya Kenan berat melakukannya. Tapi dia tau, kalo dia ngga melakukannya, pasti Kalil yang akan melakukannya sendiri.
Dan hasilnya sungguh mengejutkan. Kenan semakin merasa bersalah dengan Khanza karena membuka aib Khanza yang sedang menangis pada buaya yang sekarang sangat senang menikmatinya.
Kenan ngga nyangka kalo Khanza sudah menangis sejak di lift.
Apa yang sudah Kalil lakukan? batinnya sambil menatap ngga suka ke arah kembarannya.
Wajahn pucatnya berangsur berkurang. Pukulan dan tendangan Khanza benar benar sepenuh hati dilakukannya.
Harusnya lo tendang pelornya. Za! Biar dia jadi impoten, batin Kenan kesal.
"Setelah ini apa yang akan lo lakuim?"
"Sudah jelas, kan," sahut Kalil cuek.
"Nggak!" bantah Kenan sewot.
Kalil hanya tertawa tapi kemudian meringis. Sakit diperutnya terasa lagi.
"Hemmm.... mau dipanggilin dokter?" tanya Kenan masih sabar, padahal dalam hati mensyukuri keadaan Kalil.
"Dokternya, kan, lagi ngambek," kekeh Kalil dengan raut senang.
"Terserah lo," ketus Kenan kemudian ke luar dari ruangan pribadi Kalil. Bisa dicekek lama lama kembarannya itu kalo dia tetap bertahan di sampingnya.
Dia pun membaringkan tubuhnya pada sofa di ruang kerja Kalil.
Matanya terpejam dengan hati penuh banyak tanya.
Siapa yang akan Kalil pilih, Khanza atau Agnes? batinnya penasaran.
Sungguh di luar dugaan. Yang disuka Khanza ternyata Kalil, bukan Rakha.
Rakha kecewa ngga ya? batin Kenan lagi.
Dia memilih memejamkan mata karena ntar sore dia ingin melihat persiapan nikahnya Kendra dam Zayra.
"Kenan? Kenapa kamu masih di sini?" tanya Alva yang tiba tiba muncul. Dia langsung masuk karena heran melihat pintu ruangan salah satu putranya setengah terbuka.
"Daddy?" Kenan membuka matanya dengan malas. Baru aja dia mau terlelap.
Ngapain juga daddy ke sini, omelnya dalam hati.
"Iya, kamu pikir siapa? Hantu?" Alva menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Kenan. Anaknya itu masih betah berbaring sambil memijat keningnya.
"Kalil mana?' tanya Alva sambil duduk di ujung sepatu Kenan.
Ini, kan, ruangannya Kalil, sambung Alva dalam hati.
"Di dalam ruangannya. Lagi tiduran. Dia lagi sakit, dad."
__ADS_1
"Sakit apa?" tanya Alva heran dan agak cemas. Perasaannya tadi pagi semua anggota keluarganya sehat sehat semua.
"Perutnya abis dihajar Khanza," jelas Kenan kalem.
Sedetik.
Dua detik.
Tiga detik.
Keadaan hening.
Tapi di detik keempat pecah tawa keras yang keluar dari mulut Alva. Laki laki paruh baya yang masih tampan itu bahkan sampai memegang perutnya dan tubuhnya terguncang guncang.
Karena terganggu dan kaget, Kenan bangun dari posisi tidurnya. Duduk di samping daddynya, menatap daddynya demgan tatapan aneh.
"Daddy malah tertawa?"
Sama sekali daddynya ngga ngerasa khawatir. Kalo menurut Kenan, omongannya tadi dianggap lelucon stad up comedy bagi daddynya.
"Baguslah kalo Kalil dihajar Khanza. Adikmu itu sesekali harus bisa dihajar perempuan," katanya di sela tawanya yang mulai berusaha dia redam.
Dalam hati dia setuju dengan penilaian Tamara. Khanza cocok buat Kalil.
Seperti dirimya yang memiliki pawang yang tepat, batinnya meneruskan tawanya lagi.
Kenan jadi tertawa mendengarnya. Daddynya memang benar, sih. Tadi pun dia tertawa melihat kesakitan Kalil, bahkan mendukung apa yang sudah dilakukan Khanza. Bahkan menurutnya masih kurang yang sudah Khanza lakukan.
"Sekarang anak manja itu lagi di kamar?" tanya Alva setelah tawanya reda
"Iya, dad."
Ada meeting yang harus dia lakukan sebentar lagi. Setelah itu Alva pun akan ke rumah Kiano-papinya Kendra.
Setelah beberapa langkah dan hampir mendekati pintu, Alva berbalik dan menatap putranya yang baru mau berbaring.
"Kenan."
"Ya, dad?" Kenan ngga jadi berbaring, kini menatap daddynya yang menyorotnya serius.
"Menurutmu, kalo Kalil dijodohkan dengan Khanza, gimana?"
"Kalil udah punya pacar, dad," koreksi Kenan. Tapi dalam hati dia setuju banget. Apalagi setelah melihat kejadian tadi.
Alva terdiam seakan tengah berpikir.
"Anaknya Baskoro?" katanya meminta Kenan membenarkan pendapatnya. Beberapa hari yang lalu Alva sempat melihat keduanya makan siang di ruang Kalil setelah selesai meeting.
"Siapa?" tanya Alva waktu itu. Agak berbisik di telinga Kalil.
"Kenalkan Dad. Agnes, anaknya Om Baskoro," jelas Kalil.
Alva akui perempuan itu sangat cantik. Wajar saja Kalil menjadikannya pacarnya. Putranya memiliki standar yang terlalu tinggi untuk perempuan yang menjadi koleksi pacarnya. Mungkin mirip dirinya waktu dulu sebelum ketemu Tamara.
"Iya."
"Paling ngga serius," tukas Alva kemudian melangkah pergi.
Kenan hanya mengedikkan bahunya ngga peduli, sebelum meneruskan niat awalnya untuk berbaring di sofa.
__ADS_1
*
*
*
"Glen, kalo Kalil dijodohkan dengan Khanza, kamu setuju?" tanya Alva ketika hanya berdua saja dengan Glen.
Keduanya sedang berada di halaman belakang, mengamati proses siraman Kendra.
"Ngga salah?" Glen balik bertanya.
"Maksud lo?" Alva menatap ya ngga ngerti.
"Apa Kalil mau? Anak lo banyak pacarnya," decih Glen mencemooh.
Alva langsung melebarkan cengirannya.
"Siapa tau bisa tobat kalo sama Khanza," jawabnya ringan
"Seperti lo?" ejek Glen dengan cemgiran khasnya
"Iya. Anak, kan, turunan dari bapaknya," jawab Alva sombong.
"Ngga tau gue. Ngga yakin." Glen tertawa berderai derai.
"Dicoba dulu," tukas Alva pantang menyerah.
"Yah, lihat nanti saja," jawab Glen belum mau memutuskan. Masa depan Khanza masih agak jauh. Putri pertamanya mau menjadi dokter spesialis dulu baru mikir nikah. Itu jawabnya tiap Glen menanyakan soal pacar.
Berarti Khanza masih akan menempuh pendidikan dua tahun lagi. Masih cukup lama memikirkan jodohnya sekarang.
Khanza pun lebih sering bersama anak anak sahabatnya. Dan memang dia sudah cukup curiga dengan tingkah putrinya dengan Kalil. Sejak masih kecil lagi mereka berdua sudah aneh di matanya.
Kalil selalu memberikan porsi perhatian yang lebih pada Khanza dibanding yang lain. Tapi Kalil juga sering gonta ganti pacar. Sejak SMP, Kalil bahkan sudah pernah mengenalkan pacar pacarnya.
Gimana perasaan istrinya jika dia menjodohkan Khanza yang murni dengan Kalil yang sudah sangat tercemar.
"Oke, oke," jawab Alva mengerti.
"Khanza mau ambil spesialis dulu. Apa Kalil mau nunggu?" tanya Glen beralasan.
"Dua tahun ya?"
"Lebih kurang begitu."
Alva tersenyum.
"Oke, kita lihat nanti saja," putus Alva sambil menepuk pelan bahu sahabatnya.
"Kalil ngga niat ambil master?"
"Gue kurang tau juga. Tapi Kenan katanya udah dapat beasiswa di Inggris."
"Oooh. Aqil sama Rakha juga mau lanjut, tapi katanya di Jakarta aja. Sekalian ngurus perusahaan," sambung Glen.
"Oooh, ya ya."
Keduanya sambil melempar senyum dan kembali memfokuskan tatapan pada Kiano dan Aruna yang sibuk mengurus prosesi Kendra.
__ADS_1