
"Gue ke tempat daddy ya," pamit kemudian menatap ke arah dokter Verli yang membuatnya ilfeel sama seperti Agmes.
"Kamu ke tempat teman teman kamu aja," sambungnya tanpa menunggu jawaban siapa pun termasuk dokter Verli yang sempat dia suka. Dokter Verli tercekat melihat sikap Rakha yang jadi datar.
Rakha pun melangkah pergi. Tapi belum dua langkah dia jalan, Rakha membalikkan tubuhnya
"Kalian berdua, terutama Lo Agnes, ngga ada apa apanya dibanding Khanza," sentak Rakha sambil mengacungkan tangannya pada Verli dan Agnes.
Kedua gadis itu terkejut, ngga menyangkan reaksi frontal dari Rakha.
Apa maksudnya? batin Verli deg degan.
Cih, kebalik kali, cibir Agnes dalam hati setelah kekagetannya hilang.
Aqil dan Kenan juga berlalu pergi. Juga Kalil. Tanpa mengatakan apa pun.
Agnes yang ditinggal begitu saja nampak shock. Merasa disingkirkan dengan kejam.
Bibirnya pun tak sanggup memanggil nama Kalil.
"Kamu mau ikut aku ke tempat teman teman aku?" tawar Verli merasa kasian.
Masih mending dirinya, Rakha masih pamit padanya.
"Ngga perlu," tolaknya judes. Dengan mendongakkan kepalanya dia pun pergi begitu saja meninggalkan Verli yang menurutnya ngga sederajat dengannya.
Dia berbaik baik karena dokter itu digandeng Rakha, salah satu anggota circle dengan kualitas nomer satu.
Dokter Verli ngga menjawab. Dia menatap sebentar ke arah punggung yang meninggalkannya. Kemudian berbalik menatap ke arah Rakha yang sudah bergabung dengan keluarganya. Begitu juga laki laki yang lain.
Mata Verli menyipit melihat Khanza yang sangat akrab dengan keluarga Dhafi.
Khanza sangat beruntung, batinnya iri. Dia pun melangkah ke arah rekan rekan dokternya berada.
*
*
*
Khanza paling ngga suka situasi ini. Daddynya mulai mengajakmya bergabung dengan klan keluarga mereka. Bahkan Kalil cs juga sedang menuju ke tempatnya berada. Kini mereka sudah bersama lagi dalam circle mereka. Terlalu rame. Mana dia masih kesal dengan kelakuan si kembar kemarin.
Matanya melirik pada rekannya Verli dan pacar Kalil, Agnes. Dia merasa aneh karena Rakha dan Kalil ngga membawa kedua perempuan itu. Malah mereka memisahkan diri.
"Khanza honey, kamu kemana aja. Tadi teman teman daddy nanyain loh dimana putri pertama daddy yang jadi dokter," panggil Glen dengan senyum lebarnya begitu melihat kehadiran Khanza.
Istrinya dan juga sahabat sahabat mereka yang lain jadi tergelak mendengar ucapannya yang sarat rayuan. Apalagi melhat wajah manyun Khanza. Mereka sudah paham dengan kebiasaan Glen yang suka merayu putri kesayangannya.
Kekesalan Khanza makin menjadi melihat kehadiran Kalil cs. Apalagi melihat senyum nakal dari Kalil untuknya. Rasanya Khanza ingin menonjok perut laki laki itu lagi biar ngga bisa tersenyum lagi.
"Pacarnya mana ini. Kok, sepi," sarkas Reno.
__ADS_1
"Nanti Dad mau nyarinya," sahut Rakha yang membuat teman temannya tertawa mendengarnya.
"Khanza, minta alamat apartemennya, dong," kata Aqil yang pengen kepoin apartemen standar Khanza
"Buat apa?" tanya Khanza judes
"Jangan, Kak. Apartemennya ngga bisa muat banyak orang," sahut Shakila dengan cengiran mengejeknya pada kakaknya yang hanya menataonya datar.
"Masa?" timpal Axel-putra pertama Riko ngga percaya. Apalagi dia sering maen ke apartemen mewah Dhafi. Tepatnya penthouse Dhafi.
"Kok, bisa?" pancing Rakha juga jadi kepo. Sejak dengar Khanza punya apartemen yang biasa saja, jiwa penasaran Rakha meronta ronta. Ingin tau alasannya. Gila aja, Khanza sangat menjiwai peran hidup miskinnya.
"Apartemennya yang standar benget pokoknya. Gue aja ngga betah," komen Dhafi juga dengan senyum mengejeknya. Memanas manasi suasana. Tapi jadi kircep ketika melihat tatapan ngga suka Salma padanya.
"Standar Kak Dhafi beda sama Kak Khanza," bela Diandra, adik Axel. Dia pun kurang suka gaya hedon kakaknya-Axel yang super banget.
"Kan papi udah kasih. Manfaatin, dong," bantah Axel enteng.
"Setuju," balas Shakila yang juga di oke in Kalil cs.
Mereka ngga minta, tapi orang tua mereka yang membanjiri mereka dengan barang mewah. Masa ditolak?
"Glen, miskin amat lo beliin Khanza apartemen yang murah," cemooh Alva.
"Uang ngga dibawa mati," sambung Reno juga mengejek. Heran dengan sikap Glen. Seperti bukan Glen yang royal aja.
Glen menghela nafas panjang.
"Hemm..." guman Khanza kesal.
Mulai drama, kan, batin Khanza sewot.
Armita jadi tertawa renyah diikuti tatapan heran yang lain walaupun tampang mereka tetap tersenyum.
"Khanza maunya yang biasa aja. Dia selalu nolak pemberian kita yang mahal mahal," jelas Armita.
"Oooo....." Mereka menyahut serentak.
"Kenapa Khanza. Uang daddymu ngga bakal abis," tawa Arga sangat lepas.
"Betul," sambung Reno dan Alva berbarengan. Kemudian kompak tergelak. Sedangkan para istri hanya tersenyum saja.
"Nanti kamu dikirain anak orang miskin lo, Za," ejek Aqil sambil melirik Kalil kesal, ingat perkataan perkataan pedas Agnes, pacar Kalil yang membuatnya ingin memplester mulut lemesnya.
Aqil sama sekali ngga nyangka, dibalik wajah Agnes yang cantik banget, anggun, lembut dan terpelajar, ternyata bibirnya lihai sekali menjelek jelekkan orang lain. Apalagi ini Khanza, yang dia ngga tau sama sekai. Tapi mulutnya ringan sekali mengeluarkan kata kata pedas.
"Dihina hina lagi," tambah Kalil seakan tau maksud Aqil.
"Dikiranya kamu parasit yang nempel sama pohon inang yang gendut gendut," Kenan pun ikut berkomentar.
"Apa separah itu?" tanya Rain ngga percaya. Menurutnya terserah sikap hidup yang diambil Khanza. Mau hedon atau standar orang biasa.
__ADS_1
"Siapa yang berani ngehina kamu, sayang?" tanya Glen terpancing. Ngga terima dia putri tercintanya dihina gara gara memilih selera hidup miskin.
Khanza agak terhenyak dan langsung mengirimkan tatapan apinya pada para laki laki yang membangkitkan kemarahan daddynya.
Hening
"Bisa aja, kan,Om," cetus Rakha membuat keheningan sakral itu menghilang dan mengalihkan kemarahan Daddy Khanza.
"Iya, sih," jawab Glen setuju. Melupakan perkataan ketiga anak sahabat sahabatnya yang sempat mencubit hatinya.
"Biar aja orang ngomong apa. Ngapain dipedulikan," tukas Tamara. Dia jadi ingat dirinya dulu. Rasanya hampir sama dengan Khanza. Ngga ada yang tau siapa orang tuanya sebelum dia menikah dengan Alva.
"Betul," dukung Armita. Dia ngga masalah dengan apa pun yang dilakukan Khanza. Asal ngga merugikan orang lain.
Khanza tersenyum mendengarnya, merasa dibela. Hatinya yang panas pun karena perkataan Mama Fadli sudah mendingin.
"Malah menguntungkan," respon Alva tergelak.
"Awet hartamu, Glen," sambung Reno ngakak.
Yang lain juga ikut tertawa termasuk Glen.
Kehebohan circle ini mengundang banyak perhatian dan decak kagum.
"Cantik banget putri pertamanya Glen Adyswara," ujar papa Irena sambil menatap ke arah circle yang berada ngga jauh di depannya.
"Yang mana putrinya?" kepo Mama Fadli penasaran.
"Masa belun tau? Kan putrinya kerja di rumah sakit yang sama bareng Fadli," jawab mama Irena heran.
DEG
Teman teman satu circlenya menatap Mama Fadli aneh dan bingung.
"Bener saya belum tau," ucap mama Fadli dengan jantung berdebar keras. Hatinya mendadak terasa ngga enak. Seakan ada yang mengganjal.
"Dokter Khanza, ya, pi. Tadi Pak Glen bilang gitu, ya, nama putrinya," ujar Mami Irena minta dukungan.
"Iya," sahut para istri itu berbarengan.
DUAARR!
Tubuh Mama Fadli sempoyongan seperti mau jatuh, untung suaminya cepat menahannya sehingga ngga menarik perhatian teman temannya.
"Kamu ngga apa apa?" bisik suaminya cemas ketika melihat wajah istrinya menjadi sangat pucat dan tangan yang digenggamnya terasa dingin.
"Iya, dokter Khanza namanya. Pasti yang duduk di sebelah Pak Glen. Waduh, cantik banget. Sayang putraku sudah menikah," timpal istti temannya lagi sambil tertawa renyah.
Rasanya jantung Mama Fadli mau copot dan tubuhnya hampir ngga berdarah lagi. Untung ada suaminya yang dijadikannya tempat bersandar.
Dalam hatinya Mama Fadli sangat menyesali apa yang sudah diperbuatnya beberapa hari ini terhadap Khanza.
__ADS_1
Ada ketakutan dalam hatinya jika Khanza akan melaporkan sikap menyeballannya pada papinya-Pak Glen. Pasti saham mereka akan meluncur bebas, dan banyak kerja sama akan dibatalkan secara sepihak.