After The Heartbreak

After The Heartbreak
Cerita Rakha


__ADS_3

Kevin


Salma pulang sama Dhafi, Dad.


Aris terdiam setelah membaca pesannya.


"Ada apa?" tanya Kiano heran. Mereka sedang menunggu papi Kiano-Dika di ruangannnya.


Walaupun Aris sudah menjadi menantu konglomerat, tetap saja dia membantu urusan keluarga Om Dika Artha Mahendra. Baginya keluarga Artha Mahendra adalah keluarganya, dan yang paling dia prioritaskan.


"Salma di antar pulang Dhafi," katanya penuh arti. Beliau sudah lama tau hubungan putus nyambung keduanya. Tapi masih merahasiakannya.


"Hemm.... Aku rasa mereka berdua ada apa apa," senyum Kiano.


"Apa mau tetap dibiarkan saja?" pancing Aris.


"Menurutmu?"


"Mungkin bisa dibantu sedikit," kekeh Aris.


Kiano pun terkekeh.


Ya, mungkin Glen perlu tau.


*


*


*


"Rakha, tinggal kita bertiga yang belum ketemu jodoh," kata Aqil sambil membaringkan tubuhnya di kap mobilnya.


Rakha yang duduk di sampingnya hanya tertawa. Juga ikut membaringkan tubuhnya ngga jauh dari Aqil.


"Lo pernah nongkrong di manajemen?" tanya Aqil lagi. Mengingat perkataan Shania.


"Hemm...."


"Siapa yang lo taksir?" tanya Aqil sambil memiringkan tubuh menattap Rakha serius.


"Lo percaya, kalo yang masuk di kampus ini orang berduit semua?" Rakha balik bertanya dengan topik yang aneh bagi Aqil.


"Tentu."


"Katanya ada yang orang miskin juga. Lewat jalur beasiswa," gumamnya sambil berpikir.


"Ada sih, gue dengar. Emang kenapa? Pertanyaan lo aneh."


"Kalo orang miskin, mungkin yang dia punya hanya harga diri, ya," gumam Rakha lagi.


"May be. Apa lagi coba yang dia punya," tawa Aqil meremehkan.


Rakha tertawa garing, mengingat Fika, anak manajemen yang satu fakultas dengan Evelin dan Shania.


"Ngga nyangka mantan Kalil ada di sini," kekeh Aqil mengganti topik.


"Dia memang master," kekeh Rakha.


"Ceweknya cantik juga. Cuma satu kekurangannya. Dia ngga bisa galak sama Kalil," kekeh Aqil lagi.


"Kalil rupanya suka yang mirip maminya," gelak Rakha.


*


*


*


Rakha melihat lagi gadis itu di depan ruang TU. Sudah tiga hari ini. Dia sudah pernah bertanya dengan petugas di sana. Katanya gadis itu menunggu uang beasiswanya yang belum cair.


Dia mendapatkan lebih dari satu beasiswa. Mungkin beasiswa ini untuk makannya selama satu semester.


Apa dia semiskin itu? batin Rakha mengejek.


Gadis sombong, makinya lagi dalam hati


Flashback


Tiga Minggu yang lalu

__ADS_1


Rakha yang sedang mengendarai mobilnya di malam hari itu terkejut melihat seorang gadis yang sedang ditarik dengan kasar oleh dua orang laki laki bertampang preman. Memang jalan itu agak sepi, jarang ada yang lewat, karena itu adalah jalan pintas tapi cukup lebar karena masih bisa dilewati dua mobil.


Naluri heronya muncul. Dia pun keluar dari mobil mewahnya dan menendang salah satu preman itu hingga pegangan mereka terlepas. Yang ditendang jatuh tersungkur, yang satu lagi reflek melepaskan pegangannya karena terkejut.


Rakha menarik gadis itu yang wajahnya masih terlihat sangat pucat dan penuh rasa takut di belakang punggungnya.


"Siapa kau hah! Sok jagoan," sentak preman yang tadi terjatuh.


Rakha diam ngga menjawab.


Tapi kemudian tawa mereka terdengar membahana karena melihat mobil mewah yang terparkir.


"Tangkapan besar," seru salah satunya amat sangat bahagia.


"Bawalah mobil itu, dan jangan ganggu gadis ini," kata Rakha tenang.


Gadis itu menatap ngga percaya dibalik punggung Rakha.


Laki laki ini ngga masalah mobilnya diambil demi menolongnya?


"Kamu ngga sayang? Mobil itu sangat mahal," bisik gadis itu ngga enak hati


"Kamu mau ikut mereka?" Rakha balik bertanya.


Gadis itu cepat menggelengkan kepalanya


"Aku punya banyak mobil itu di rumah," jawab Rakha dengan senyum miringnya. Terkesan sombong.


Gadis itu ngga menyahut lagi karena ngga tau harus menanggapi bagaimana.


Dia senang sudah ditolong, tapi kalo caranya begini, bagaimana nantinya dia akan membalas budi.


Kedua preman itu sempat terkejut dan terdiam sesaat setelah mendengar kata kata pemuda itu. Tapi kemudian tertawa terbahak bahak sampai memegang perutnya.


"Kamu murah hati sekali anak muda."


"Tapi kami tetap menginginkan gadis itu."


Keduanya pun mendekati Rakha.


"Ini bahaya," bisik gadis itu sambil mengeratkan genggamannya.


Kedua preman itu terperangah dan tawa mereka langsung terhenti


Gadis itu reflek melepaskan pegangannya dan memukul punggung Rakha.


"Kamu sama brengseknya dengan mereka," marahnya karena bibirnya sudah ngga suci lagi.


Rakha tertawa.


"Pilihlah, aku, atau mereka," ujarnya cukup kencang hingga dia preman itu mendengus.


Gadis itu menatap Rakha ngga percaya. Laki laki ini pun menginginkan tubuhnya. Dia benar benar dalam masalah besar.


"Kami ngga butuh pilihannya anak muda. Kau sudah mengganggu kesenangan kami. Pergilah! Kau masih kuampuni!" bentak preman yang jatuh tadi.


"Terima kasih," sahut Rakha sambil menarik gadis itu.


"Tinggalkan gadis itu dan mobilmu. Kalau kau ingin selamat!" sentak salah satu preman itu menggelegar.


"Aku berubah pikiran. Aku juga ingin menidurinya," tukas Rakha dengan senyum lebarnya.


Gadis itu merinding mendengarnya.


Dia menangisi nasib buruknya.


"Baji*ngan kecil! Mati kau tukang ikut campur!" seru preman itu dan keduanya langsung menyerang Rakha.


BUGH BUGH BUGH


Rakha dan para sahabatnya sejak kecil sudah dibekali ilmu bela diri, karena mereka beresiko untuk diculik. Walau bukan tukang berantem, tapi dia dan sahabat sahabatnya rutin latihan tinju dan karate.


Menghadapi preman kelas teri begini saat mudah baginya.


Tubuh gadis yang berada didekatnya dibuatnya seolah menari saat mengelak dan membalas pukulan maupun tendangan preman itu.


Kadang sambil memeluk erat, dengan sebelah tangan, sedangkan tangan yang lain melancarkan pukulan. Kadang pula sambil mengangkat pinggangnya ke atas dan menendang kedua preman ity.


Bibir dan tangan nakal Rakha pun ngga henti hentinya beraksi. Gadis ini ngga merasa ditolong, tapi sudah dilecehkan Rakha berkali kali.

__ADS_1


Tapi debaran jantung dan sensasinya membuat gairahnya terbakar. Laki laki muda ini sangat tampan. Juga harum.


Ngga memakan waktu lama kedua preman itu takluk dan terkapar minta ampun.


"Pergilah," kata Rakha yang kini memanggul gadis itu dibahunya.


"Terima kasih, tuan, maafkan kami," kata keduanya sambil bangkit dengan terbungkuk bungkuk.


"Sebemtar," tahan Rakha ketika keduanya akan pergi.


Kedua preman itu langsung ciut, karena mengira Rakha akan mengeluarkan pistol.


"Ampun tuan. Jangan tembak kami." keduanya langsung bersujud dan menangis seperti anak kecil saking takutnya akan mati.


"Tembak?" Rakha menatapnya bingung. Padahal dia mengeluarkan dompetnya.


"Ini ambil. Tobat, jangan ulangi lagi," kata Rakha sambil melemparkan puluhan uamg kertas berwarna merah ke hadapan keduanya yang sudah mengangkat wajahnya.


Keduanya shock. Kirain akan mati, tapi malah dikasih uang sangat banyak.


"Terima kasih, tuan. Terima kasih," sahut keduamya sambil bersujud lagi, seakan sangat menghormati Rakha.


Rakha ngga menyahut, dia malah berbalik ke.arah mobilnya.


"Turunkan aku!" seru gadis itu terdengar frustasi karena sebelah tangan Rakha menepuk nepuk bokong berlapis jeans itu tanpa henti.


Tanpa mempedulikannya, Raka membuka pintu mobil dan memasukkan gadis itu ke dalamnya.


Sesaat keduanya saling pandang. Tapi Rakha cepat memutuskannya.


Dia.pun berjalan memutari kap depan mobilnya dan membukanya.


"Gue antar lo sampai di ujung jalan ini. Lo bisa cari taksi online atau naek ojol," kata Rakha sambil menyalakan mesin mobilnya.


Kedua preman itu tampak membungkuk hormat saat mobil Rakha melewatinya.


Gadis itu terdiam. Raut ketakutannya mulai berkurang. Dia pikir laki laki ini akan menidurinya. Tapi mendengar kata katanya, hatinya jadi cukup lega. Walau tetap saja ada kemarahan dalam hatinya mengingat kekurangajarannya.


Dia merasa laki laki yang menolongnya ini sudah menang banyak. Tapi dia juga ngga bisa munafik, saat ini masih sulit bernafas karena sentuhan sentuhan laki laki itu masih terasa dan membuat suhu tubuhnya terasa panas.


Dia menatap ke arah luar jendela mobil untuk menghilangkan hawa panas dalam tubuhnya.


Rakha hanya meliriknya dengan senyum miring. Betapa beruntungnya dia malam ini. Setelah pulang dari rumah Aqil, bisa mencium dan meraba seorang gadis semaunya.


Begitu sampai di ujung jalan yang rame, Rakha menghentikan mobilnya


"Keluarlah," kata Rakha sambil menatap wajah yang masih merona itu.


Gadis itu terdiam.


"Berapa?" tanya Rakha iseng melihat keterdiaman gadis itu.


"Ap... apa?" kaget gadis itu terbata mendapat pertanyaan aneh itu.


"Mau aku tuntaskan? Aku akan bayar karena aku yakin kamu virgin," lanjut Rakha cuek.


Gadis itu terlihat menahan marah.


"Ngga akan pernah," geramnya sambil membuka pintu mobil dan membantingnya keras. Rakha tergelak. Kemudian menurunkan kaca mobilnya.


"Terima kasih gratisannya," seru Rakha sambil menjalankan mobilnya menjauh. Tentu saja dia terus saja terkekeh.


end


*


*


*


Ternyata gadis itu bernama Fika. Anak magister manajemen. Kuliah karena mendapatkan beasiswa. Hanya tinggal berdua dengan neneknya. Dia bekerja sebagai guru mapel ekonomi di salah satu SMA swasta. Ngga susah mencari informasi tentangnya.


Dua hari kemudian gadis itu kaget saat sedang menonton Rakha yang bermain basket dengan teman temannya.


Mata mereka saling bertaut. Rakha juga kaget, ngga nyangka gadis malam itu juga mahasiswa di kampusnya.


Rakha pun mengedipkan sebelah matanya pada gadis itu yang membuat ingatan gadis itu melayang pada peristiwa yang ngga ingin dia ingat.


Karena penasaran dengan sikap acuhnya, Rakha beberapa kali mendatangi fakultasnya. Dia pun kangen dengan bibir gadis itu lagi. Tapi sikap sok gadis itu membuat Rakha menyerah.

__ADS_1


Dia sama seperti Kalil yang sekarang sudah terjerumus sama Khanza. Mereka ngga akan memaksa perempuan untuk tidur dengannya. Dan Rakha belum bertemu perempuan yang bisa memaksanya untuk berjuang. Selama ini dia mendapatkannya dengan gampang.


__ADS_2