
Malam Sebelumnya
TOK TOK TOK
"Masuk."
Atifa pun membuka pintu kamar kerja papanya
"Papa belum tidur?" tanya Atifa dengan bibir penuh senyun sambil berjalan menghampiri sofa di samping papanya.yang berada di meja kerjamya.
"Belum," kata papanya-Alvaro Antares Smith sambil bangkit menuju sofa tempat putri tunggalnya berada.
"Persiapan kamu buat malam besok gimana?" tanya papanya lembut.
"Udah mantap banget, pa," kata Atifa sambil menunjukkan dua jari jempol tangannya dengan wajah ceria
Alvaro tersenyum sambil membelai kepala anaknya penuh sayang.
"Emmm... Ada yang mau papa bicarakan dengan kamu," katanya sambil menatap putrinya dengan sangat serius.
"Apa pa?" Atifa juga kini mulai mengubah posisi duduknya yang tadi menyandar di sandaran sofa kini sudah dia tegakkan.
Alvaro menghembuskan nafas pelan sambil terus menatap pewarisnya satu satunya.
"Papa ingin menjodohkan kamu dengan seseorang."
DEG
"De dengan siapa, Pa?" tanya Atifa gugup. Dia ingin menolak tapi takut. Di hatinya sudah ada seseorang yang belum bisa dia lupakan.
"Anak relasi papa. Namanya Kendra Artha Mahendra." Tangan Alvaro mengambil ponsel di mejanya dan mulai membuka galerynya tadi. Tadi siang mereka sempat berfoto bersama.
DEG
Kendra?
Apakah sama? batinnya ngga sabar.
"Papa punya fotonya," ucap Alvaro sambil mengulurkan ponselnya yang sudah menampilkan foto Kendra yang berdiri bersama rekan bisnisnya yang lain. Termasuk dirinya.
DEG DEG DEG
Bahkan di foto itu juga ada Aqil, Kalil dan Kenan.
Rasanya debaran jantungnya sudah memgobrak abrik seluruh isi di dalam rongga dadanya.
"Yang ini. Gimana? Kamu mau?" tunjuknya sambil membesarkan layar ponselnya di wajah Kendra.
Papanya menatap lekat pada anaknya yang belum.juga menjawab. Tapi dari rona merah di pipi dan senyum yang terbit di bibirnya membuat Alvaro yakin kalo putrinya tidak akan menolak.
"Mereka teman SMA aku, Pa," ungkapnya jujur.
"Kendra, udah aku suka sejak SMA," sambungnya lagi.
"Benarkah? Ternyata feeling papa nyambung ke kamu ya," ujarnya senang. Sesuai dengan harapannya.
Tapi kemudian wajah senangnya memudar saat menyadari putrinya kini berubah murung.
"Kendra sudah suka sama temanku, Pa. Katanya mereka akan bertunangan," adunya dengan suara lirih.
"Berarti belum tunangan, kan?" tanya Alvaro memastikan.
Lagi pula kalo sudah tunangan, Kiano pasti mengundangnya, kan? asumsi Alvaro dalam hati.
"Tapi, aku sudah lama ngga bertemu dengannya, Pa," bantah Atifa ragu
"Kita buat besok pertemuan yang menyenangkan buatnya," kata Alvaro berjanji.
"Terima kasih, Pa," ucap Atifa samgat senang. Papanya akan membantunya mendapatkan Kendra.
"Pa, aku masih punya video kami yang viral dulu," kata Atifa sambil menunjukkan dua video yang sempat viral dua tahun yang lalu itu.
Alvaro menatap putrinya dengan tatapan heran.
"Kalo nurut papa, ngga salah, kan, kalo aku berharap Kendra juga menyukaiku?" tanya Atifa minta pendapat.
Alvaro terdiam. Dia teringat anaknya begitu terkenal enam tahun yang lalu. Tapi waktu itu karena kesibukannya, juga putrinya ngga pernah membahasnya, dia sempat melupakannya.
Apalagi kata istrinya, lali laki yang viral itu hanya anak dokter di sebuah rumah sakit. Dia sedikit meremehkan dan berpikir ngga perlulah dilanjutkan.
Baginya putrinya harus mendapat calon suami yang setara kekayaannya dengan keluarganya. Kalo dari keluarga dokter, Alvaro sama sekali ngga tertarik.
Tapi ternyata istrinya ngga sepenuhnya salah. Ibunya memang dokter terkenal spesialis jantung, tapi papanya anak konglomerat yang disegani sampai di negara Amerika dan Eropa. Bahkan kakek sampai buyutnya juga sangat kaya raya.
Tapi untunglah dia belum terlambat. Ngga sengaja mereka terlibat kerja sama dan ngga sengaja pula, laki laki yang ingin dijodohkan dengan putrinya adalah idaman putrinya sejak lama.
Alvaro kembali melihat dua video itu. Pada kedua video memang anaknya terlihat yang mulai aktif pada Kendra. Tapi tidak ada penolakan dari laki laki itu atas sentuhan putrinya.
Malahan terkesan laki laki itu sedikit menyambut perhatiannya.
"Karena Kendra kamu jadi pianis?" tebak papanya membuat rona merah semakin menjalari pipi putrinya.
Atifa hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab. Perasaan malu dan berbunga tumpah ruah di hatinya.
"Besok papa akan buat dia ngga bisa menolak kamu," janji Alvaro membuat senyum bahagia tersungging di bibir Atifa.
"Makasih, Pa."
*
*
*
Malam ini akhirnya Kendra dan Salma ikut bersama kedua orang tuanya.
__ADS_1
Pesta itu dilakukan di hotel bintang lima yang super megah. Disinyalir hotel ini milik penyelenggara pesta. Alvaro Antares Smith, pemilik grup Eleven yang sudah memiliki perusahaan bahkan sampai di benua Eropa dan Amerika.
Saat Kiano dan keluargnya datang, Alvaro Antares Smith langsung menyambut sendiri tamu tamunya.
Katanya istrinya sedang membantu persiapan putrinya.
Kiano dan Aruna pun bersama anak anak mereka berkumpul dengan teman teman mereka yang sudah datang.
Ada Glen dan Almira, Alva dan Tamara, Reno dan Rain juga Riko dan Meti.
"Arga sama Regan ngga datang?" tanya Kendra yang ngga melihat kehadiran keduanya.
"Kalo Arga katanya, maminya Qonita mendadak berkunjung," jelas Glen
"Ooo."
"Kak Regan minta saya ngewakilinya, Kak Kiano," jelas Riko membuat Kiano manggut manggut.
"Reval ngga ikut?" tanya Kiano lagi.
"Ikutlah. Dia lagi nyari jodoh," kekeh Riko. Yang lain pun ikut terkekeh.
"Eh, Tamara, bulu matamu hampir lepas," bisik Aruna sangat pelan.
"Haaa... Waduuuh. Alva yang minta aku make ini. Katanya dia sengaja beli limited edition. Tapi dari rumah aku udah ngga sreg," omel Tamara agak panik.
Aruna tersenyum.
"Ayo, aku antar ke toilet buat bantu kamu benerin dulu," ucap Aruna yang langsung diangguki Tamara
"Mau kemana? Bentar lagi acaranya mau dimulai," tahan Kiano ketika melihat Aruna dan Tamara akan pergi
"Iya, mau kemana?" tanya Alva juga heran.
"Ke toilet bentar," pamit Aruna. Sedangkan Tamara ngga menjawab, dia masih sebal karena Alva memaksakan bulu mata palsu itu padanya.
Sesampainya di toilet, Aruna langsung sregep membetulkan bulu mata itu hingga melekat dengan sempurna.
"Kamu tambah cantik, Tamara," puji Aruna membuat wajah cemberut Tamara pudar dan berganti dengan senyuman.
"Makasih, Runa."
"Sama sama. Ayo kita balik ke sana lagi. Tadi Kiano mengatakan acaranya akan segera dimulai."
"Oke." Mereka harus cepat cepat kembali kalo gitu atau Alva suami nya akan mengomel.
Tapi ketika mereka akan keluar, tatapan Aruna bersirobok dengan salah satu pasien songongnya.
"Lhoo... dokter dengan siapa ke sini?" sapa Syarifa ramah tapi terkesan bingung. Setaunya acara ini dikhususkan pada pengusaha pengusaha yang sukses minimal tingkat Asia. Tapi kalo untuk yang berprofesi sesama dokter, ngga mungkin mendapatkan undangan ekslusif ini.
Tapi Syarifa tetap menjaga nada ramahnya sebagai tuan rumah.
Tamara melayangkan tatapan sinisnya pada wanita yang seakan toko branded berjalan ini.
"Anak anda juga datang?" tanya Syarifa mengganti topik karena merasakan ngga nyaman dengan tatapan sinis Tamara.
"Datang," sahut Aruna pelan.
"Di mana dia? Nanti akan saya kenalkan pada suami saya. Suami saya sangat menyukai anak muda yang pintar," jawabnya excited.
Tamara lagi lagi menatap wanita didepannya dengan tatapan meremehkan.
Dia ini siapa, sih? Apa dia beneran ngga tau siapa Aruna dan keluarganya? decih Tamara ngga suka.
"Ngga perlu. Anak saya sekarang sudah bekeja," jawab Aruna sambil ingin pergi. Dia kurang suka membahasnya. Pasiennya pun sudah beberapa tahun terakhir ini ngga mendatangi dirinya di.rumah sakit. Kabarnya sudah pindah ke luar negeri. Tapi kenapa kembali lagi? batin Aruan ngga bisa diam.
"Di rumah sakit?" tanyanya agak merendahkan.
"Tapi sepertinya saya pernah melihatnya beberapa waktu yang lalu. Sepertinya anak anda hanya menjadi karyawan biasa saja," sambungnya lagi.
Aruna ngga menyahut. Sementara Tamara makin merasa aneh mendengarnya.
"Maaf dokter. Saya ngga bermaksud sombong. Putri saya hanya satu. Dia pewaris grup ini. Lebih baik anak dokter bekerja dengan suami saya, jadi nanti ngga canggung jika hubungan mereka tambah dekat," jelasnya saat Aruna sudah menghentikan langkahnya.
Rahang Tamara hampir lepas mendengarnya. Dia speechless.
Maksudnya apa Aruna? Kendra?
Tamara mulai yakin kalo wanita di depannya menginginkan Kendra. Sepertinya wanita ini salah mengira tentang status sosial Aruna.
"Saya sengaja menunggu putra anda lulus dari kuliahnya. Putri saya juga sudah menyelesaikan kuliahnya. Saya rasa mungkin sekarang waktunya untuk membicarakan hubungan anak anak kita untuk ke depannya."
Aruna merasa ngga nyaman membicarakan masalah sepenting ini di dekat pintu masuk toilet.
Tapi biarlah, harus segera dia selesaikan, sebelum pasien ini semakin halu.
"Anda salah paham. Anak saya Kendra sudah bertunangan dengan anak sahabat saya. Baru aja beberapa hari yang lalu."
"Oooh, begitu?" jawabnya temang, sama sekali ngga tersinggung telah ditolak.
"Padahal saya dulu pernah meminta anda mempertimbangkan bibit, bebet dan bobot dalam mencari calon istri. Kenapa anda memilih Kendra berjodoh dengan orang biasa, padahal jika dengan putri saya akan dapat menaikkan derajat putra anda. Dia akan menjadi pewaris kami."
Tamara ingin sekali ketawa terbahak bahak mendengar kata katanya. Tahulah Tamara sekarang, kalo wanita di depannya ini ngga mengenal betul siapa sebenarnya Aruna dan Kendra. Mungkin hanya sekedar tau kalo Kendra hanyalah anak dokter yang biasa saja.
"Kami ngga membutuhkannya. Pemisi," jawab Aruna udah jengah dan malas untuk melayani pasiennya lagi.
Sebelum membalikkan tubuhnya, Tamara mengulaskan senyum mengejek untuk wanita itu yang membalasnya dengan kerutan keningnya.
Mereka siapa? Kenapa bisa diundang? batinnya lagi. Karena ngga pernah melihat dokter Aruna dan temannya di acara kumpulan sosialitanya.
"Dia itu pede sekali," tawa Tamara mulai ngga bisa ditahan lagi.
Aruna juga ikut tertawa walau masih sedikit dongkol.
"Harusnya Regan dan Dinda datang ke sini bersama Zayra. Biar dia bisa menarik lagi ucapan sombongnya," sela Tamara lagi masih dengan tawa yang berderai derai.
__ADS_1
"Iya, tadi harusnya kami menjemput Zayra," tukas Aruna agak menyesal.
"Lama sekali," ucap Alva ketika melihat Tamara dan Aruna baru kembali.
"Ngga apa, acaranya baru saja dimulai," bela Kiano sambil menarik Aruna dalam rengkuhannya.
Sementara itu setelah mamanya dan mama si kembar pergi, Kendra menghampiri si kembar dan Rakha.
"Aqil ngga datang?" tanya Kendra heran ngga melihatnya. Dia juga ngga mendengar pembicaraan orang tuanya karena tadi mengirim pesan ke Zayra.
^^^Kendra^^^
^^^Aku udah sampai di tempat acaranya^^^
Kendra menunggu balasan itu sampai beberapa saat kemudian. Bibirnya tersenyum seolah melihat Zayra sedang mengetik pesannya.
Zayra
Oh iya
Gitu doang? bibirnya tersenyum miring. Kemudian dia pun menyimpan ponselnya.
"Kata Aqil, neneknya mendadak datang dari Surabaya. Jadi om dan tante membatalkan kepergian mereka," jelas Kenan
"Khanza dan Zayra juga ngga datang, ya," cetus Kalil.
"Iya, kalo Khanza malas katnya, nanti dijodoh jodohin," kekeh Kalil, masih mengingat dengan jelas kata kata nyolot Khanza saat dia menelpon tadi. Menanyakan akan kehadirannya.
"Kalo Zayra, sudah diwakilkan Om Riko dan Tante Meti," jelas Kendra.
"Oooh."
"Acara utamanya sudah dimulai," tukas Kenan ketika mendengar suara denting piano.
Para. amu pun mulai bertepuk tangan ketika musik klasik itu dilantunkan.
"Seperti kenal," ucap Kalil.saat melihat gadis itu yang jari jarinya seakan menari dengan lincah memainkan tuta tuts pianonya.
"Sayang wajahnya menunduk jadi ngga terlihat," ucap Rakha penasaran.
Kendra yang sudah biasa bermain piano hanya melihatnya sekilas.
"Permainannyan memang bagus. Pantas dapat penghargaan," komen Kenan.
"Iya," sahut Kalil.
"Pesta ini katanya untuk menyambut kedatangan putrinya. Siapa, sih putrinya itu?" tanya Rakha penasaran.
Soalnya kata daddynya, putrinya sangat cantik dan bisa maen piano. Mungkin sesekali bisa gabung dengan band mereka yang sudah lama vakum.
"Gue juga ngga tau," jawab Kalil agak malas.
Tak lama permainan indah itu seleasai. Tepukan kembali bergemuruh.
Selesai tepukan bergemuruh itu, sang MC pun mulai berbicara dengan raut cerianya.
"Katanya putri Pak Alvaro sangat mengidolakan seseorang sehingga dia memutuskan untuk serius mempelajari piano," tawa sang mc yang cantik itu juga mengundang tawa para tamu.
"Dia dulunya adalah teman SMA nya yang sangat tampan. Niat putri Pak Alvaro kalo bisa ingin bermain piano berdua dengannya," jelas sang MC kemudian.tersenyum lagi.
Begitu pun para tamu. Mereka sama tersenyumnya.
"Bahkan enam tahun yang lalu mereka sempat viral dalam adegan yang sangat manis."
**DEG
DEG**
Kendra cs saling pandang. Begitu juga Kiano dan teman temannya.
Ada firasat ngga enak menyelimuti mereka.
"Manis sekali, kan, mereka," seru sang MC pada layar protektor sangat gede yang berada di atas panggung, di samping putri Alvaro dan pianonya.
Layar tadi pun yang menayangkan permainan piano putri Alvaro agar bisa ditatap seluruh para tamu.
Kini layar itu menayangkan acara pensi di SMA mereka yang sempat viral. Bahkan dua video sudah disatukan dan mulailah menampilkan bagaimana Kendra sedang memainkan piano.dengan Atifa yang berada di sampingnya.
Seruan seruan heboh langsung terdengar.
Kendra yang merasa terjebak menatap marah pada papinya
"Papi ngga tau apa apa," bantah papinya kesal.
Begitu juga Glen dan yang lainnya pun tampak kesal. Video yang membuat mereka harus ditinggalkan Regan dan keluarga tanpa kabar selama enam tahun.
"Atifa?" ucap Kalil ngga percaya.
Sejak kapan gadis ini bisa bermain piano? batinnya heran.
Kendra dan para sahabatnya saling pandang, ngga nyangka akan bertemu lagi dengan Atifa dalam momen seperti ini.
Mereka semua shock.
Ditambah tiba tiba lampu sorit kini sudah menerangi Kendra membuat tatapan para tamu beralih fokus ke arahnya.
"Dan ngga terduga, ternyata laki laki yang viral bersama putri Alvaro adalah putra dari Pak Kiano Artha Mahendra," seru sang MC sangat bersemangat.
Hampir semua tamu bertepuk tangan dengan tatapan terfokus pada Kendra.
"Benar benar ngga disangka, ya. Jodoh memang ngga kemana."
"Ayo Mas Kendra. Silakan bermain piano dengan putri Pak Alvaro, Atifa. Kalian pasangan yang sangat serasi," sambung sang MC dengan penuh semangat mengompori.
Tamu tamu pun mulai mengelu elukan nama Kendra berkali kali dengan sangat heboh.
__ADS_1