After The Heartbreak

After The Heartbreak
Ulah Atifa


__ADS_3

Kendra jadi kesal karena laporan Khanza atas ketaknyamanan yang mereka dapatkan saat makan siang tadi.


Cukup lama Khanza mengomel sampai Kendra mendengar namanya dipanggil, hingga Khanza memutuskan sendiri sambungan telponnya.


"Ada apa?" tanya Kalil sambil mengenakan topi proyeknya.


"Khanza ngasih tau, tadi banyak yang jepret Zayra diam diam waktu mereka makan siang ."


"Kurang ajar banget," cetus Aqil geram.


"Kayaknya udah ngga bisa kita biarkan begini terus, Ken," kesal Kalil. Pasti menyebalkan sekali dalam situasi seperti itu.


"Zayra makan siang di resto dekat rumah sakit? Jauh amat," celutuk Rakha heran karena mengingat kebiasaan Khanza yang hanya mau makan di situ aja jika mereka mengajaknya makan siang di luar.


"Katanya makan di resto dekat perusahaan Zayra," jelas Kendra.


"Oooh." Rakha manggut manggut


"Bahas yang ini dulu, itu ngga penting," tukas Kenan sambil decak.


"Sorry," jawab Rakha tersadar.


"Kalo kita ngadain konferensi pers gimana?" usul Aqil.


"Kita, kan, bukan artis," tolak Kendra. Dia dan keluarga juga kurang suka tampil di muka publik.


"Sesekali ngga apa, kali, jadi artis," kekeh Kalil diikuti Aqil.


"Eh, video pertunangan lo masih ada, kan? Di share aja di grup band kita yang udah lama vakum," cetus Rakha.


Kendra terdiam. Lagi mikir mana yang lebih baik dia lakukan untuk menjernihkan kesalahpahaman ini.


"Nanti aja dipikir. Udah jam kerja," kata Kenan mengingatkan teman temannya.


"Oke," sahut Kendra. Kemudian mereka pun kembali ke kerjaan masing masing. Kali ini Rakha juga menemani Kenan mengawal Kendra. Kebetulan slot kerjaan mereka sama.


"Kendra, kita bisa bicara bentar," panggil Atifa yang sudah mendekat seorang diri tanpa ditemani pengawalnya.


Selalu begitu pergerakannya. Diam diam dan tau tau sudah ada di dekat Kendra.


Mungkin karena.Kendra yang terlalu fokus dengan kerjaannya dan menganggap kehadiran Atifa ngga penting.


"Aku lagi kerja," tolak Kendra sambil berlalu begitu saja.


"Sebentar saja," pinta Atifa memohon.


Kendra mengacuhkannya, terus berjalan bersama Kenan dan Rakha. Ketiganya beneran mengacuhkan Atifa sampai gadis itu tiba tiba menjerit keras.

__ADS_1


"AWAAASS!!"


**BRAKK!!


DUNG**!!


Kendra langsung waspada melihat ke atas. Sebuah pipa ukuran cukup besar lepas dari cengkeraman salah satu crane. Rupanya salah satu operator crane itu sepertinya kurang konsolidasi dengan operaror crane lainnya hingga pipa ukuran cukup besar dan berat itu menggelinding cepat ke arah Kendra dan teman temannya.


Kendra dan teman temannya berlompatan sangat cepat menghindar dan apesnya pipa itu meluncur ke arah Atifa.


Gadis itu ternganga melihatnya, ngga menyangka sama sekali.


Tapi saat Kendra akan bergerak menahan pipa yang melaju cukup kencang itu, Rakha menahan tangannya. Begitu juga Kenan.


Kendra yang akan protes jadi terdiam ketika melihat Om Aries tiba tiba muncul bersama dua orang temannya dan menahan laju pipa itu hingga berhenti.


Rakha sengaja menahan Kendra karena melihat kedatangan Om Aries dan kedua temannya dan juga melihat dua pengawal Atifa yang mendekati Atifa.


Rakha ngga mau niat balik Kendra yang ingin menolong kembali disalah artikan lagi. Apalagi jika ini merupakan kesengajaan.


"Kenapa bisa seceroboh ini, sih," sentak Om Aries sambil menggelengkan kepalanya.


Dia dan dua teman yang sebaya dengannya mengibaskan jas mereka yang kotor karena debu akibat luncuran pipa itu.


"Kok, Om bisa ke sini?" tanya Kendra yang langsung menghampiri Aries bersama Kenan dan Rakha.


"Papa mertua Om pemilik saham terbesar PT ini. Jadi Om diminta datang mengawasinya secara langsung," kata Aries tanpa bermaksud sombong. Dia melirik pada wajah Atifa yang masih pucat.


"Panggil petugas crane itu," perintahnya pada dua orang yang tadi ikut membantunya menahan pipia tadi hingga ngga mengenai Atifa.


"Siap, tuan," sahut keduanya langsung pergi ke arah operator Crane.


Kendra saling pandang dengan Rakha dan Kenan mendengar perintah Aries.


"Nona, sebaiknya besok anda tidak perlu memantau kondisi di lapangan," ucap Aries datar.


Atifa terdiam. Dia melirik kesal pada dua pengawalnya yang hampir saja telat menyelamatkannya.


"Maaf nona muda," ucap keduanya serentak sambil menundukkan wajahnya. Merasa sangat bersalah. Jika nona mudanya sampai terluka, keduanya ngga bakal selamat dari hukuman.


Gagal, batin Atifa kesal. Harusnya tadi Kendra berlari ke arahnya, menyelamatkannya lebih dulu baru menyelamatkan dirinya sendiri.


Tetapi yang membuatnya salit hati, Kendra dan juga Kenan serta Rakha sama sekali ngga mempedulikan keselamatan dirinya. Hanya fokus ke diri mereka sendiri.


Hampir saja dia terkena pipa berat yang meluncur cepat itu.


Atifa menatap tajam pada laki laki yang katanya punya mertua yang memiliki saham yang lebih besar dari milik omnya. Dia baru tau kenyataan ini. Karena setaunya PT ini milik omnya, sehingga dia bisa bebas menjalankan rencananya.

__ADS_1


Atifa merasa dari ucapan laki laki itu, seperti tau kalo yang terjadi adalah karena ulahnya. Tapi Atifa merasa tenang saja, karena dua operator itu sudah dijanjikan bekerja dengan gaji dua kali lipat di perusahaan lain milik keluarganya. Mereka ngga akan mengaku.


Kendra menatap Om Aries lekat. Ucapan mantan pengawal papinya seperti mengandung maksud tertentu.


"Kalian ngga apa apa?" tanya Om Aries beralih pada ketiganya.


"Ngga apa apa, Om," ucapnya Kendra dan Kenan bersamaan.


"Aku juga baik baik aja, Om," sambung Rakha.


"Syukurlah," katanya kemudian menepuk bahu ketiganya.


"Ayo," sambungnya sambil mengajak ketiganya menjauh dari tempat itu.


Atifa dan dua pengawalnya juga sudah pergi lebih dulu. Aries hanya meliriknya.


Dalam hati Aries bersyukur karena ketiganya baik baik saja.


Terutama Kendra. Dia tetap merasa punya tanggung jawab lebih untuk melindungi cucu kesayangan mantan bosnya.


Aries sangat berhutang budi pada keluarga Kiano. Karena papi Kianolah dia bisa menikah dengan putri konglomerat teman beliau dan menikmati hidup yang sangat kaya raya.


*


*


*


"Papi tau kamu patah hati. Tapi ini terlalu bahaya buat kamu. Papi ngga bisa memaafkan diri papi jika tadi kamu sampai terluka," kata Alvaro yang langsung menelpon putrinya setelah salah satu pengawalnya menceritakan kejadian tadi padanya.


"Ini cuma salah prosedur, pi. Besok aku akan lebih hati hati," sahut Atifa ngeyel.


Terdengar helaan nafas berat papinya.


"Kamu sudah ngga bisa lagi ke lokasi, sayang. Papi ngga memberi kamu ijin," tolak Alvaro tegas.


"Tapi, pi ---."


"Mereka sudah curiga kalo kejadian ini direkayasa. Sebelum kamu ketahuan, kamu harus berhenti," tegas Alvaro lagi memotong ucapan putrinya.


Tentu saja Alvaro ngga mau putrinya bernasib seperti Claudya, berakhir di penjara dan bunuh diri.


Walaupu kedua operator itu ngga mengaku, tapi putrinya tetap dicurigai sebagai dalang kejadian tadi. Mereka bukan orang orang bodoh.


Atifa terdiam. Padahal tadi adalah momen yang pasti sangat bisa membuat Zayra langsung melepaskan Kendra.


Skenarionya, saat Kendra menyelamatkannya, tim fotografernya akan mengabadikan kejadian itu. Selanjutnya foto foto itu akan diupload di semua sosial media. Foto foto yang sangat romantis, dengan dirinya berada dalam pelukan Kendra.

__ADS_1


Sayang itu semua ngga terjadi tadi.


__ADS_2