After The Heartbreak

After The Heartbreak
Perasaan aneh Khanza


__ADS_3

Rekannya sesama dokter mengajaknya makan malam di sebuah restoran root top di salah satu hotel bintang lima. Mereka akan merayakan ulang tahun dokter Fadli sekaligus perpisahannya. Dokter Fadli akan kuliah lagi untuk mengambil spesialis bedah. Sehingga dia akan mengundurkan diri dari rumah sakit.


Khanza baru bisa menyusul setelah setahun lagi. Begitu juga beberapa rekan kerja mereka yang lain.


Sebelumnya rekan seangkatan dokter Fadli udah lebih dulu melanjutkan pendidikan spesialis.


Selagi menikmati makanannya, tiba tiba dokter Verli menyenggol lengannya.


"Bukannya itu teman kamu?" tanya dokter Verli sambil menunjuk pada pasangan yang baru datang dan memilih meja ngga jauh dari tempatnya berada.


Khanza mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjukkan Verli.


Ternyata Kalil yang dimaksud Verli, datang bersama dengan pasangannya. Seorang perempuan cantik yang sangat anggun. Gadis itu terlihat sangat mempesona. Khanza yang menatapnya juga kagum.


"Itu, kan salah satu dari si kembar ya," bisik dokter Mutia sedikit patah hati.


Ternyata babang tampan sudah punya pacar, batinnya kecewa.


Selama ini kalo teman teman laki laki dokter Khanza yang berkunjung ke rumah sakit, ngga pernah membawa perempuan.


Dokter Mutia pun ngga pernah melihatnya kalo dia lagi di luar jam kerja.


Ternyata tongkrongannya di tempat mewah begini, batinnya lagi.


Selama ini karena kesibukannya di rumah sakit, tempat yang sering dia datangi hanya kafe atau resto, bahkan supermarket di dekat rumah sakit.


Kalo sudah pulang ke kostnya, dia sudah sangat lelah dan selalu menghabiskannya dengan tidur.


"Pacarnya, ya, Za?" bisik Verli kepo.


Yang satu ini akan diblacklistnya karena sudah punya pacar. Selain yang itu akan dia amati agar ngga kecolongan lagi.


Naksir pacar orang. Amit amit.


"Mungkin," jawab Khanza ngga acuh.


Gercep juga dia, dengus Khanza membatin.


Tapi melihat perempuan yang bersama Kalil kali ini, Khanza akui agak berbeda dari yang lainnya. Walau tetap saja cantik dan seksi adalah poin tertingginya.


Siapa, ya, dia? batin Khanza entah mengapa jadi ingin tau. Padahal biasanya dia malas kepo in pacar pacar sementara para sahabat playersnya.


"Cantik banget," suara Verli terdengar lagi.


"Iya."


Verli yang sudah tinggi, putih, anggun dan cantik itu saja menatap kagum pada perempuan itu. Sama seperti dirinya.


"Apa sahabat kamu yang lainnya sudah punya pacar juga?" tanya Verli mengantisipasi agar ngga patah hati.


"Mereka semua players," jelas Khanza mengalihkan tatapannya pada makanannya.


Rasanya agak aneh karena sekarang naf*su makannya jadi hilang. Padahal sebelum tau keberadaan Kalil, Khanza lapar sekali.

__ADS_1


Aku kenapa? batinnya merasa aneh


Dengan perasaan kesal yang muncul tiba tiba Khanza lebih memilih menghabiskan lemon teanya dari pada melihat kemesraan Kalil pada perempuan itu.


"Sahabat sahabat kamu tampan tampan dan kaya raya. Wajar mereka player," sahut Mutia memahami.


"Betul," sambung Verli seakan ngga mempermasalahkannya.


Khanza melirik kesal pada kedua.


"Maksudnya kalian lebih suka dengan laki laki players begitu dari pada yang hidupnya lurus lurus saja," ketus Khanza. Dia ngga abis pikir dengan otak mereka. Padahal mereka termasuk dokter dokter yang hebat dan berkualitas mumpuni. Kenapa mau saja memberikan hati mereka untuk para players itu?


Khanza menghembuskan nafas kasar.


"Aku ke toilet bentar," ucapnya sambil memundurkan kursinya pelan.


"Perlu ditemani?" tawar Verli.


"Nggak," tolaknya sambil pergi.


"Khanza mau kemana?" tanya dokter Fadli heran. Begitu juga ketiga teman laki lakinya.


"Ke toilet," sahut Mutia.


"Ooo."


*


*


*


Khanza heran mengapa jiwanya jadi melankolis begini gara gara melihat Kalil bersama pasangannya. Seingatnya baru tiga hari ngga bertemu Kalil. Karena laki laki tengil itu lebih memilih makan siang bersama dengan gebetan barunya.


Padahal selama tiga hari ini dia dan yang lainnya lebih rutin makan di kafe depan rumah sakit, kemudian melihat keadaan Zayra dan Kendra.


"Bunganya cantik cantik, ya," puji seseorang yang ada di dekatnya.


Khanza menoleh dan menyadari ternyata pasangannya Kalil.


"Ya," jawab Khanza singkat dan mengalihkan tatapannya pada bunga bunga itu lagi. Ada mawar, krisan dan anggrek. Semuanya indah dengan lebih dari dua warna.


Kenapa, sih, dia di sini, batin khanza jadi bete.


Kenikmatannya memandang bunga bunga itu jadi terganggu.


Padahal tadi Khanza sengaja menghindari topik pembicaraan tentang pacar Kalil.


Eh, di sini malah ketemu langsung dengan pacarnya. Malah menegurnya duluan. Gimana hati Khanza ngga tambah gedek.


"Kamu di sini, honey?"


Sumpah, rasanya Khanza ingin muntah mendengar suara laki laki yang menegur kekasihnya dengan suara merayu.

__ADS_1


"Iya, honey. Bunga bunganya sangat indah."


Khanza harus cepat pergi sebelum mendengar obrolan receh yang akan membuat perutnya mual.


Sepertinya Kalil sudah berhasil menaklukannya. Hebat juga, batinnya sinis.


"Khanza, katanya ke toilet, malah di sini."


Suara dokter Fadli seakan jadi penyelamatnya.


"Sudah mau pulang?" sapa Khanza yang seolah ngga tau kalo ada Kalil yang kini terkejut melihat kehadirannya.


"Khanza," panggil Kalil setengah berseru.


Khanza hanya tersenyum, mengabaikan keheranan pasangan Kalil dan dokter Fadli mendengar panggilan Khanza.


"Kalian kenal?" tanya dokter Fadli dan pacar Kalil bersamaan.


"Dia sahabatku," jelas Kalil pada pacarnya.


Hati Khanza agak mencelos mendengarnya. Padahal kata kata Kalil benar adanya.


"Kita teman dari kecil," kata Khanza sedikit mengoreksi.


Itulah kenyataannya. Lagian kenapa dia harus sedih melihat Kalil yang nampak bucin dengan perempuan ini. Bukannya sudah biasa melihat Kalil bermesraan dengan para perempuan seksi lainnya. Bahkan bukan Kalil aja. Rakha dan Aqil juga. Hanya Kenan yang jarang. Karena Kenan lebih mirip dengan Kendra yang jarang menggunakan kelebihan mereka untuk menarik perhatian para perempuan.


Di sini Khanza agak merasa aneh dengan dirinya. Perasaannya ngga suka melihat Kalil lebih memperhatikan pasangannya dari pada dirinya. Khanza tiba tiba merindukan kata kata Kalil yang patah hati jika dia menolaknya dengan judes.


Walau mungkin hanya candaan pada saat itu, tapi sekarang kata kata itu malah berbalik padanya.


Nggaj mungkin!


Rasanya otaknya sudah ngga waras, umpat Khanza kesal dalam hati.


"Ooo. Kita kembali ke meja kita, ya," ajak Fadli yang diangguki Khanza.


Tapi demi kesopanan, Khanza menatap Kalil dan pacarnya terlebih dulu.


"Aku tinggal, ya," pamit Khanza kemudian tersenyum. Dan tanpa menunggu jawaban Kalil dan pacarnya, Khanza pergi mengikuti langkah Fadli.


"Bener cuma teman sejak kecil?" goda Fadli bercanda.


"Iya! Tanya aja sama Verli sama Mutia. Lagi pula, bukan dia aja, masih ada yang lain, kok," kilah Khanza ngga terima.


"Iya, iya, percaya," tawa Fadli renyah. Tentu saja Fadli tau karena sering melihat Khanza dengan beberapa teman laki lakinya di kafe depan rumah sakit tempat mereka bekerja. Bahkan akhir akhir ini mereka sering kumpul di dua kamar vvip. Katanya dua sahabatnya sedang sakit cukup parah. Hanya saja Fadli ngga terlaku memperhatikan. Dia bukan jeruk makan jeruk.


Tanpa setahu Khanza, Kalil menatap kepergian Khanza dengan pikiran yang dipenuhi rasa curiga.


Pacar Khanza?


Kalil teringat akan kata kata Khanza kalo dokter dokter di rumah sakit itu ganteng ganteng.


Yang tadi dokter?

__ADS_1


__ADS_2