
"Sikapmu ngga seperti laki laki yang patah hati," sindir Khanza saat sedang memasang seatbeltnya.
Kalil hanya tertawa mendengarnya. Dia pun sedang memaang seatbelmya juga.
Khanza meliriknya sinis. Ingat tadi malam Kalil yang mendapatkan tamparan sangat keras dari Agnes.
Apa dia sudah lupa? batin Khanza kesal.
Masih tersamar sedikit warna merah tamparan itu pipinya.
"Kita makan seafood, ya," ajak Kalil sambil fokus menyetir. Seolah olah apa yang dikatakan Khanza ngga penting.
"Aqil, Kenan sama Rakha ikut, kan?" Khanza mengalihkan topik karena sepertinya sia sia menyindr player ini.
"Ngga. Mereka sudah punya acara sendiri."
"Apa? Jadi kita hanya berdua?" kaget Khanza sambil memutar arah tubuhnya menghadap Kalil.
"Iya. Masalah buat kamu?" tanya Kalil dengan senyum miringnya.
"Huuuh."
Khanza menghembuskan nafas kesal.
Kenapa dia berada di posisi ini?
Yang lainnya benar benar kurang ajar, batinnya bersungut.
Khanza malas membalas sikap dan perhatian Kalil yang ngga jelas. Terlihat mesra, tapi nanti nanti gandeng cewe yang diakuinya sebagai pacar.
Maka itu Khanza berkeras dengan hatinya untuk menolak Kalil. Sementara laki laki yang mendekatinya, belum ada yang bisa menancapkan panah cupidnya dengan tepat di hatinya. Selalu meleng.
Bukan masalah kalah kaya, bahkan beberapa kali Khanza pernah ditembak anak relasi daddynya yang kekayaannya setara. Tapi tetap itu saja masalahnya. Panah cupid nya ngga nancap ke hatinya.
Tapi Kalil dengan gampangnya berhasil menancapkan panah cupidnya. Entah sejak kapan, Khanza pun ngga tau waktu tepatnya dia mulai merasakan cemburu melihat kedekatan Kalil dengan para perempuannya.
Dia pun lupa. Tapi seiring dengan kepergian Zayra, perasaan terabaikan mulai kerap dirasakannya.
Walaupun mereka tetap masih menyediakan waktu untuknya, tapi tetap ngga seintens dulu. Apalagi mereka pun kuliah dengan jurusan yang berbeda.
Mereka juga lebih sering dengan perempuan perempuannya. Kecuali Kenan, mungkin. Karena otak encernya sejak sma dia pun sudah sibuk membantu daddynya mengurus perusahaan.
Begitu juga Kendra. Dia lebih parah, karena patah hati ditinggal Zayra, dia jadi pelajar dan pekerja yang ngga kenal waktu istirahat
Ngga lama kemudian mereka pun sampai di restoran seafood di pinggir laut.
"Kamu.bisa pesan kepiting sepuasnya," kata Kalil sambil membuka seatbeltnya.
Khanza hanya mengangguk saja.
Kalil kembali merengkuh bahunya saat keduanya memasuki restoran seafood yang cukup rame ini.
Ternyata Kalil sengaja memesan tempat di bibir pantai.
Angin yang berhembus kencang samgat menyegarkan.
__ADS_1
Lagi lagi Kalil membukakan camgkang kepiting untuknya.
"Nanti kalo aku udah berangkat, hati hati kalo buka cangkang kepitingnya," pesan Kalil yang hanya dibalas Khanza dengan senyum malu.
Teringat saat pertama menggunakan gunting seafood, jarinya pernah terluka. Karena itu tiap ada Kalil kalo Khanza makan kepiting, pasti Kalil yang akan menyibukkan dirinya membukakan cangkang kepiting untuknya.
Seperti daddynya. Daddynya pasti yang akan selalu membukakan cangkang kepiting untuknya.
Walaupun sudah ada dadynya, Kalil pasti tetap melakukannya untuk Khanza jika keluarga besar mereka berkumpul.
Karena sikap Kalil itulah yang sering menuai prasangka dari yang lain. Termasuk orang tua mereka.
"Akan aku suruh Rakha atau Aqil yang membukakan cangkang ini kalo ngga ada Om Glen," katanya lagi sambil menyerahkan isi kepiting ke piring Khanza.
Khanza semakin melebarkan senyumnya.
Ya, nanti dia akan merasa kehilangan jika makan kepiting saat Kalil sedang berada di Inggris.
"Sudah cukup, Kalil," tawa Khanza melihat tumpukan isi kepiting yang memggunung di piringnya.
Kalil tertawa lepas. Dari tadi dia hanya memberikan isi kepiting buat Khanza, belum buat dirinya. Jadinya sekarang dia membuka cangkang itu buat dirinya sendiri.
"Apa aja yang nantinya mau kamu beli?"
"Pastinya sweater yang tebal tebal. Di sana kan nanti aku ngelewatin musim dingin."
"Masa kamu ngga punya stok sweater?"
"Kan, udah lama Khanza."
"Belum juga sebulan kamu ke Eropa," sarkas Khanza ketus.
Padahal Khanza selalu jutek dan judes padanya. Jarang tertawa. Karena itu Kalil sangat suka melihat Khanza tertawa. Terpesona. Karena tawa Khanza begitu tulus di dengar di gendang telinganya.
Sekarang mereka sudah berada di dalam mobil lagi. Keduanya melaju ke sebuah mall yang menjual barang barang yang sudah terkenal branded dan mahalnya.
Kembali Kalil merangkul bahu Khanza saat melangkahkan kaki mereka di lantai mall.
"Khanza, pilihkan ya, yang kamu suka," pinta Kalil menggoda saat mereka berada di bagian underwear.
Mata Khanza melotot horor.
"Pilih sendiri," marah Khanza sambil beranjak pergi ke arah kaos *tuttle nec*k diiringi derai tawa Kalil.
"Kalil."
Tawa Kalil terhenti begitu mendengar suara yang menyapanya. Khanza juga sampai menoleh.
Agnes mematung menatap Kalil dan Khanza. Bahkan Kalil ngga tampak sedih setelah diputuskan olehnya.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Agnes menebalkan wajahnya, kemudian berpaling dari Khanza ke Kalil.
"Berdua saja," sambungnya lagi.
Jelas Khanza sangar mengerti.
__ADS_1
"Kalian bicaralah. Biar aku yang memilih buat kamu dan Kenan," ucapnya sambil kembali konsen pada tuttle neck lengan panjang yang ada di depannya.
"No, Khanza. Buat aku aja," tegas Kalil ngga terima nama Kenan di sebut.
Khanza ngga menpedulikan. Dia pun mulai memilih.
Bodoh amat dengan kehadiran Agnes.
"Kalil," panggil Agnes lagi sambil meraih tangan Kalil yang akan mendekati Khanza.
"Ngga ada yang perlu kita bicarakan," tegas Kalil sambil meletakkkan dua tangannya di saku celananya. menjauhkannya dari tangan Agnes. Cara berdirinya nampak sudah ngga respect lagi terhadap Agnes.
Agnes terdiam. Hatinya kembali sakit. Tapi dia sudah bertekad ngga akan melepas Kalil. Dia sudah menyerahkan semua yang dia punya walaupun Kalil bukan yang pertama buatnya.
"Aku dengar kamu akan ke Inggris," lembut Agnes menata suaranya.
"Hemm...."
"Aku juga akan ke Inggris. Mungkin... emm... kita bisa memperbaiki hubungan kita di sana," ucapnya pelan tapi sangat terdengar jelas oleh Kalil dan Khanza yang jadinya malah nguping.
Khanza tau maksud ucapan Agnes. Hubungan mereka akan mulus kembali karena ngga ada dirinya. Karena memang, hubungan keduanya mulai tersendat sejak Kalil mengenalkan Agnes padanya.
Kalil ngga menyahut, dia menatap Agnes lekat.
"Aku ngga bisa," tolak Kalil setelah beberapa saat kemudian.
"Kenapa?" sahut Agnes dengan hati yang kembali patah.
"Ngga bisa aja," sahut Kalil tenang.
"Awalnya kita baik baik saja." Suara Agnes mulai bergetar. Matanya mulai memanas.
Beberapa orang mulai memperhatikan mereka berdua. Kalil mulai gerah.
'Khanza, kita pulang," tukas Kalil sambil menarik tangan khanza yang masih menilih milih tuttle neck.
"Aku belum selesai milihmya," protes Khanza kaget. Karena dia cukup tersentuh mendengar suara Agnes jadi perhatiannya sempat oleng dan ngga bisa berkonsetrasi.
Dalam hati Kalil tertawa karena belum ada satu pun yang diambil Khanza.
"Kalil," panggil Agnes lagi dengan suara bergetar menahan tangis.
"Keputusanku ngga akan berubah," kata Kalil ketika melewati Agnes. Dia cuma berhenti sebentar. Kemudian melajukan kakinya meninggalkan Agnes bersama Khanza yang berada dalam rengkuhannya.
Sungguh saat ini Khanza merasa jadi perempuan paling kejam yang sudah berada dalam pelukan laki laki paling brengsek.
Apalagi saat melihat air mata Agnes yang tumpah sangat deras. Khanza sempat melihat teman teman Agnes mendekatinya. Seperti membujuknya.
"Kalil, aku bisa pulang sendiri," ucap Khanza sambil melihat mata Kalil.
"Jangan bawel. Tugas kamu belum selesai, manis," larang Kalil dengan suara merayu.
"Kamu hibur Agnes sana," usir Khanza kesal karena ngga tega. Dia merasa sudah jadi penyebab putusnya hubungan keduanya.
"Ngapain," jawab Kalil santai.
__ADS_1
Dan Kalil terus melangkah pergi seakan ngga terjadi sesuatu yang ******* di belakangnya.
Khanza menghela nafas kasar melihat sikap ngga peduli Kalil. Gimana Khanza bisa menyerahkan hati pada orang yang sangat kejam begini.