
"Dia sepupu lo?" tanya Cyra kaget. Kini keduanya sudah duduk di taman kampus. Cyra tadi menyeret cepat Lala ke sana.
"Iya. Lo, kok, bisa kenal? Dia itu monster," tukas Lala sambil menatap Cyra tajam.
Cyra menghela nafas panjang.
"Dia ngancam lo, ya?" tuduh Lala lagi sangat yakin dengan kelakuan sepupunya.
Cyra hanya mengangguk.
"Kok, bisa lo sepupuan sama dia, sih," keluh Cyra kemudian menghembuskan nafas kesal.
Lala tertawa lepas.
"Dia tau kerjaan sampingan lo," ledek Lala dalam tawanya yang berderai derai. Dia dapat melihat betapa terobsesinya Aqil pada sahabatnya yang memang cantik dan seksi itu. Apalagi kalo Aqil sempat melihatnya lagi dinas malam.
Tawa Lala makin berderai derai.
Cyra menghembuskan nafas panjang.
"Ketawa aja terus," omelnya tambah membuat Lala semakin sulit menghentikan tawanya
Tiga puluh menit kemudian.
"Gue ngga sengaja nendang itunya dia," aku Cyra dengan wajah memerah.
"What's?" Dan tawa Lala kembali meledak. Bahkan sampai memegang perutnya saking ngga bisa menahan efek bahagianya yang sangat luar biasa.
"Lala! Jangan ketawa terus," sergah Cyra mulai kesal.
"Bentar, bentar," tukasnya masih dengan mimik bahagianya. Seakan akan dia diberikan uang yang sangat melimpah demi mendukung cita citanya tanpa syarat oleh papanya.
Pasti itu sangat sakit, batin Lala membayangkan betapa keras tendangan Cyra pada sepupunya.
Gimana, ya, kalo om dan tantenya tau nasib junior anak kurang ajarnya? Atau papanya saja yang dia beritahu?
Pikiran pikiran pembalasan dendam berseliweran di kepalanya.
Ngga disangka, sahabatnya bisa juga mengkick si cassanova yang dulu selalu mengatainya kucel.
Hari ini sangat membahagiakan untuknya.
Lima belas menit kemudian.
"Lala, gue pergi, nih, kalo lo masih aja ketawa ketiwi," ancam Cyra mengomel.
Perasaannya sedang kalut, bingung, dan takut berkumpul jadi satu, memikirkan kalo kedoknya akan kebongkar. Tapi Sahabatnya malah menangggapinya dengan sangat santai. Malah terkesan senang dan bahagia sampai ngga berhenti hentinya tertawa.
"Oke, oke," sahut Lala mulai mengerti akan kekalutan sahabatnya dan mulai bisa meredakan tawanya.
__ADS_1
Siapa suruh lo punya side job aneh, batinnya mengejek.
Tapi Lala bersyukur juga karena kejadian ini sahabatmya sudah ngga melakoni side jobnya lagi.
Padahal apa yang dia ingin lagi? Uang udah ngga perlu dia pusingkan. Mengalir bagai air, tanpa hambatan. Ngga seperti dirinya yang masih suka ditarik ulur papanya. Cyra mah bebas. Entah apa yang dicari dari side jobnya ini. Perhatian papanya mungkin. Lala ngga begitu memahaminya, karena ada privasi sebagai sahabat yang ngga bisa dia langgar.
"Gimana cara gue nge larang dia agar ngga nyebarin kelakuan gila gue," ungkap Cyra frustasi setelah tawa Lala mulai reda.
"Nyadar kelakuan lo emang gila?" sarkas Lala.
Cyra mendengus kesal.
"Dia minta apa agar lo mau nurut?"
"Engga tau, dia belum ngomong karena gue udah takut aja ketemu dia tadi."
Akhirnya Cyra menceritakan kejadian malam itu. Lala mendengarnya dengan serius dan menahan keinginannya untuk tertawa.
Lala tau apa yang diinginkan cassanova itu. Cyra juga. Maka nya dia ogah nurutin kehendak Aqil.
"Apa gue pindah kuliah aja ya. Biar ngga ketemu dia lagi," keluh Cyra. Mungkin alternatif itu yang akan diambilnya nanti kalo udah ngga ada jalan keluar lagi. Toh, papinya paling akan menginterogasinya sebentar, setelah itu akan sibuk dengan pekerjaannya lagi.
"Tenang, gue ada di belakang lo. Gue akan ngomong ke dia," janji Lala serius.
"Bener, ya," respon Cyra lega.
Lala kepikiran akan membuat kesepakatan dengan sepupunya.
Apalagi di belakangnya ada Rakha, Kalil dan Kendra. Mereka pasti akan mendukung sahabat geblegnya itu.
Lala ngga mungkin minta bantuan Khanza dan Zayra. Keduanya pasti akan shock berat kalo tau side job sahabatnya.
"Tapi setelah ini gue harap lo ngga ngambil side job aneh aneh lagi," tukas Lala sedikit kesal.
Cyra melebarkan cengirannya.
"Sebenarnya gue suka lihat muka pengen mereka. Gue ada kelainan, 'kali, ya," kilahnya antusias
Lala mendengus kesal.
Memang! batin Lala sebal.
"Ya udah, La, gue mau pulang dulu. Tuh, pengawal papi gue udah nongol," kata Cyra sambil menunjukkan dua orang berjas yang ngga jauh dari tempat mereka berada.
Dia pun bangkit dan merapikan dresnya.
"Oke."
Setelah melambaikan tangannya Cyra pun melangkah pergi ke.arah para pengawalnya.
__ADS_1
Setelah kejadian itu, Damar-sepupunya lebih protektif padanya. Demi keselamatannya.
Setelah Cyra menjauh, dia pun berjalan dengan satu tujuan. Lapangan basket.
Lala pun melihat sepupunya sedang bermain basket bersama Rakha dan Kendra dan beberapa mahasiswa lain yang ngga dikenalnya. Tapi dia ngga melihat Zayra.
Dia ngga kuliah? Tumben, batin Lala heran. Pantasan saja Kendra ikut bermain basket. Biasanya kalo ngga ada yang menenami Zayra, suami siaga itu ngga bakalan mau turun main bersama yang lain. Dia akan bersikap layaknya penonton dan berdiri protektif di samping Zayra.
Dan yang membuat.Lala alergi untuk menonton, karena seruan histeris para mahasiswi yang menonton permainan basket mereka. Penonton memang didominasi para kaum hawa.
SANGAT HEBOH.
Lala kadang malu sebagai perempuan kalo melihat ke agresifan mereka.
Aqil yang sudah melihat Lala, menghentikan permainanya. Kemudian mengambil tasnya sebelum menghampiri Lala.
Tatapan iri dan kesal langsung dilayangkan pada Lala.
Lala mengikuti Aqil yang berjalan duluan tanpa kata ke arah bangku bangku yang ada di dekat lapangan basket. Banyak pohon rindang yang menaunginya di sana.
"Lo harus bantu gue," todongnya langsung setelah mereka sama sama duduk.
"Kalo gue nolak?"
"Gue akan umumkan ke kampus tentang kerjain menyimpang lo dan teman lo," ancam Aqil galak.
"Kenapa gue dibawa bawa?" ketus Lala ngga terima.
"Lo, kan, mucikarinya," ejek Aqil dan dia kembali merasakan ketukan penggaris di kepalanya.
"Gue serius, La."
"Dia juga bisa lapor kalo lo udah melakukan pelecehan," gertak Lala ngga mau kalah.
"Pelecehan gimana? Kan dia yang ngundang," ngeles Aqil.
"Lo yang maksa. Lo lupa sampai lo....," sampai di sini Lala ngga bisa melanjutkan. Dia langsung tergelak sampai tubuhnya terguncang guncang.
Aqil menatapnya kesal.
Lala ngga peduli. Baru kali ini dia sebahagia ini berkomunikasi dengan Aqil. Biasanya di setiap pertemuan mereka akan menghasilkan tensinya yang semakin meninggi.
Tanpa keduanya sadari, Boby mengawasi Aqil sesekali sambil bermain. Dia heran melihat Aqil yang langsung pergi melihat perempuan itu datang dan menghampirinya.
Boby sempat terpana melihat perempuan itu yang sedang tertawa lepas. Saking lepasnya bahkan dia sampai memukul mukul bahu Aqil yang hanya diam saja.
"Itu sepupunya," kata Rakha yang melihat kemana arah Boby melihat.
Dan Rakha pun dengan cepat berhasil mengambil bola dari tangan Boby, kemudian berlari meninggalkannya.
__ADS_1
Sudut bibirnya tertarik sedikit ke atas menyadari keteledorannya, kemudian mengejar Rakha yang sudah berhasil memanfaatkan keterpanaannya sesaat tadi.