
Kalil sudah siap siap akan meninggalkan ruangannya. Kembarannya pun sudah mengabarkannya kalo acara makan siang akan mengalami sedikit perubahan. Mereka akan makan siang di kamar perawatan Kendra. Kendra sudah memesan pizza saja karena setelah itu baru pulang ke rumah. Bahkan Kendra sudah memhooking satu resto pizza terkenal untuk mengirimkan semua.pizza untuk tenaga medis di rumah sakit.
Oke, ngga masalah, batin Kalil enteng.
CEKLEK
"Kamu mau pergi?" tanya Agnes yang barusan membuka pintu ruangannya. Tangannya membawa paper bag.
"Iya," jawab Kalil sambil berjalan ke arahnya. Walau bibir Kalil tersenyum, Perasaannya mulai ngga enak.
"Padahal aku mau ngajak kamu makan bareng," ucap Agnes agak kecewa sambil menunjukkan paper bagnya.
"Kamu beli dimana?" tanya Kalil mulai goyah. Ngga tega melihat raut kecewa Agnes.
"Aku masak buat kamu."
NYESS!
Kalil tambah merasa bersalah.
"Ya udah, kita makan sekarang, ya," kata Kalil sambil mengambil paper bag itu dan menggandeng tangan Agnes, berjalan menuju sofa tamu.
Wajah kecewa Agnes langsung lenyap. Berganti dengan semyum manis yang tersungging di bibirnya.
Dia pun membuka mangkok bekal.itu satu persatu, dan menatanya di atas meja Kalil.
Ternyata nasi ayam hainam. Kalil cukup menyukainya. Dalam hati bingung juga, kenapa Agnes bisa tau kesukaannya.
"Kamu suka? Aku sempat bertemu mama kamu beberapa hari yang lalu di supermarket. Katanya mau masakin kesukaan kamu, nasi ayam hainam," jelas Agnes membuat Kalil langsung paham.
"Jadi kamu udah suka sama aku sejak lama, ya," pancing Kalil setelah menelan makanannya.
"Ya, gitu, deh," tawa Agnes berderai derai. Tapi tetap terlihat anggun dan sopan.
Agnes lebih mudah tertawa dibandingkan seseorang yang selalu saja jutek dan judes.
SERR!
Kalil teringat pesan Khanza. Seketika dia merasa kenyang. Padahal baru dua sendok yang masuk ke dalam lambungnya.
"Kok, berhenti. Ngga enak, ya?" tanya Agnes heran melihat Kalil yang sudah menutup mangkok bekalnya.
"Buat nanti," kata Kalil agak ngga enak. Tapi dia lebih seram kalo ingat ancaman Khanza. Dulu aja waktu dia ngasih ide asal asalan ke Kendra yang menyebabkan Zayra pergi, dia dimusuhin cukup lama hampir setengah tahun, walaupun Khanza sudah tau kebenrannya. Tetap aja dia selalu disinisin.
Dan sekarang, entah berapa lama lagi dia akan dimusuhin Khanza. Bisa bertahun tahun. Karena sudah menolak permintaan sang putri.
"Aku mau pergi nengokin sahabat aku di rumah sakit. Kamu mau ikut?" tanya Kalil menawarkan.
"Sahabat kamu?" Tiba tiba Agnes teringat perempuan yang diakui Kalil sebagai teman sejak kecilnya tadi malam.
"Iya, Dia juga mau nikah. Selain itu aku akan kenalkan kamu dengan sahabat aku yang lainnya. Kebetulan mereka juga lagi ngumpul," jelas Kalil panjang lebar.
__ADS_1
"Termasuk dengan yang tadi malam?" tanya Agnes agak cemburu. Wajar, karena Agnes merasakan kejanggalan sikap Kalil setelah bertemu dengan teman sejak kecilnya itu.
"Dia juga ada," jawab Kalil ringan tanpa beban. Dia pun melihat jam tangannya. Ponselnya bergetar di saku jasnya.
"Ya, Kenan?" sapa Kalil langsung ketika melihat nama Kenan di layar panggilan telponnya.
"...................................."
"Aku baru mau berangkat. Aku agak terlambat. Bilang Khanza, aku pasti datang."
DEG
Agnes langsung merasa mgga suka mendengarnya.
Siapa, sih, gadis itu? Hanya teman sejak kecil saja, kan? Kok, Kalil kelihatan takut dan ngga mau mengecewakannya? batin Agnes sebel.
Setelah mendengar jawaban Kenan, Kalil segera menyimpan ponselnya.
"Kita pergi, ya," kata Kalil sambil menatap Agnes yang sedang memasukkan mangkok bekal itu ke dalam paper bag.
"Ngga apa apa kalo aku ikut?" tanya Agnes lembut, meredam kemarahannya dalam dalam.
"Ya, ngga pa pa," jawab Kalil ringan padahal dalam hati ngga tenang.
Ngga tau kenapa dia takut dengan reaksi Khanza kali ini. Padahal selama ini biasa saja kalo dia mengenalkan teman perempuannya. Reaksi jutek Khanza malah membuatnya senang.
Aku kenapa? hati Kalil bingung.
*
*
*
Zayra dengan malu malu menerima suapan pizza dari Kendra.
Yang lain pun tergelak termasuk Khanza
Senang hatinya melihat kebahagiaan Zayra.
"Sabar, Ken. Dua hari lagi wooi," kekeh Rakha.
"Jangan ganas lo nanti. Punggung lo pasti ngga akan kuat kalo lama," sambung Aqil mengejek dalam tawanya.
"Kalo udah nikah ya, santai. Emang lo, belum nikah udah grasa grusu?" bela Kenan membuat suasana tambah heboh.
Aqil yang disindir pun malah lebih keras tawanya.
"Ssssttttt, ini rumah sakit. Ngga kedap suara," kata Khanza memarahi.
"Iya, iya, bu dokter cantik," sahut Rakha merayu. Senyumnya terlihat lebar menyisakan tawanya tadi.
__ADS_1
Khanza hanya menyeringai sinis.
"Kalil kebagian kotak pizzanya aja," celutuk Aqil mulai menghidupkan kompor setelah tawa mereka mereda.
"Salahnya," sarkas Rakha sambil melirik Khanza yang tetap terlihat cuek dengan potongan pizza di tangannya.
"Kata sekertarisnya, pacarnya datang bawa paper bag gitu. Mereka mungkin lagi makan bersama," jelas Kenan apa adanya.
"Ciih, ngga pake waktu lama ya," decih Rakha mengejek.
"Lah elu, dokternya lama banget ditaklukin," sindir Kenan membuat Rakha nyengir.
"Gue mau nunggu Khanza dapat laki dulu. Baru gue sikat dokternya," kekehnya santai.
"Alasan. Khanza bodoh amat dilangkahi. Ya, kan ,Za," ejek Aqil sambil minta dukungan Khanza.
"Hemmm," dengus Khanza malas.
Bukan dia ngga tau kalo tadi sebelum ke sini, bibir Rakha sudah nyosor ke pipi dokter Verli di dekat lorong toilet.
Sangat berbahaya si Rakha. Diam diam mematikan.
Lagian mau mau aja si Verli disosor di tempat yang ngga higienis.
"Nih, makan lagi," kata Kendra kembali menyuapkan Zayra yang masih juga malu malu menerimanya.
"Makan yang banyak, Zay, biar ngga lemas," goda Aqil lagi.
"Ngga mungkin lemaslah. Aku pasti akan nguatin Zayra terus," canda Kendra yang langsung mengaduh karena lengannya di cubit Zayra cukuo dalam.
'Rasain," ejek Khanza senang.
Bagus, Zay, hajar aja Kendra, batinnya penuh syukur.
CEKLEK
Perhatian Kendra dan yang lainnya langsung tertuju pada pintu yang dibuka dari luar.
"Gue udah telat, ya," sapa Kalil super ramah ketika melihat kotak kotak pizza yang sudah hampir ludes. Dia melangkahkan kakinya dengan santai saat memasuki ruangan perawatan Kendra bersama Agnes di sisinya.
"Telat banget," sambut Aqil yang melirik Khanza, tapi gadis itu tetap cuek saja melihat kedatamgan Kalil yang membawa kekasihnya. Jangan lupakan tangan Kalil yang digenggam perempuan cantik itu, seakan takut ditinggalkan Kalil. Sepertinya Khanza ngga terganggu. Mungkin ini juga bukan pertama kalinya Kalil membawa gebetannya.di hadapan mereka.
Yang lainnya hanya tersenyum senyum saja. Sudah biasa melihat Kalil membawa perempuan cantik dan seksi.
Show off lo, cibir Rakha mengejek dalam hati.
Agnes menutupi kekagetannya melihat ada beberapa laki laki tampan yang beberapa diantaranya cukup dikenalnya. Dia pun ngga menyangka teman sejak kecil Kalil seorang dokter.
Keningnya agak mengeryit melihat pasangan yang sempat viral beberapa minggu kemarin. Ngga nyangka, mereka sahabatnya Kalil juga.
Yang Agnes sudah cukup kenal hanyalah Kenan. Sedangkan Aqil dan Rakha hanya pernah bertemu beberapa kali tanpa pernah berkenalan. Ternyata sahabat sahabat Kalil bukan orang sembarangan. Bahkan ruangan perawatannya sangat mewah.
__ADS_1