After The Heartbreak

After The Heartbreak
Saling Mengobati


__ADS_3

Kalil pun bergegas menghampiri Khanza yang kini sedang menatapnya. Juga dokter yang Kalil ngga suka itu.


"Ayo, pulang," katanya sambil meraih tangan Khanza.


Khanza ingin menolak. Tapi Khanza tau sekarang bukan waktunya untuk mendebat Kalil. Apalagi Khanza melihat cap lima jari yang sangat merah di pipi Kalil. Juga sudut bibirnya yang terluka.


"Kak, aku pulang dulu, ya," pamitnya sambil tersenyum.


Kalil mendengus kesal mendengarnya.


Tanpa.menunggu jawaban dokter yang kini mulai dibenci Kalil, dia pun menarik paksa tangan Khanza agar mengikutinya.


"Hati hati, Khanza," seru doktee Fadli sambil melambaikan tangannya.


Hatinya cukup kesal melihat betapa posesifnya laki laki yang baru saja ditampar perempuan yang mungkin kekasihnya itu pada Khanza.


Tapi dokter Fadli kembali melebarkan senyumnya melihat Khanza yang membalas lambaiannya sambil tersenyum.


"Kakak?" sarkas Kalil mengejek. Hatinya tambah panas aja.


Khanza diam saja sambil menatap kesal pada Khalil. Apa dia ngga tau, sangat susah bagi Khanza berjalan cepat dengan heels setinggi dua belas senti ini.


Mereka pun tiba di depan mobil mewah Kalil.


"Masuklah," katanya mulai lembut saat membuka pintu mobil. Kemarahannya mulai mereda. Malah dia jadi takut melihat Khanza yang hanya diam saja.


Khanza mengambil tisu basahnya, dan langsung menempelkannya pada sudut bibir Kalil yang terluka saat laki laki itu akan memasang seatbealtmya.


"Perih, Khanza," ringisnya, tapi tetap membiarkan saja Khanza melakukannya. Dia suka dengan perhatian Khanza. Dalam hati bersyukur ternyata Khanza ngga marah atas sikapnya tadi.


"Manja," sinis Khanza sambil menekan perlahan sudut bibir yang mengeluarkan sedikit darah.


Khanza membuang tisu bekas darah itu dan mengambil tisu lagi. Kemudian menempelkannya di pipi Kalil.


"Harusnya dikompres agar warna merahnya cepat pudar."


Kalil terdiam. Ada yang berdesir di hatinya. Seingatnya sudah lama Khanza ngga merawat dirinya. Terakhir jaman SMA. Karena hobinya berkelahi, Khanza sampai punya stok plester di tasnya. Kening, pipi, hidung, selalu saja ada plester yang melekat di sana.


"Ke apartemen kamu, ya. Aku ingin dirawat secara pribadi dengan dokter Khanza," kata Kalil sambil menghidupkan mesin mobilnya.


"No!.Kamu rawat sendiri aja," tolak Khanza cepat. Tangannya masih menekan pelan tisu di pipi Kalil.


"Kamu tega membiarkan aku mengompres sendiri?" rajuknya sambil fokus ke depan. Mobilnya kini melaju pelan ke luar dari parkiran hotel.


"Suruh Agnes aja," jawab Khanza cuek.


"Bukan dikompres, malah aku bakalan ditampar bolak balik," gerutu Kalil yang langsung ditertawakan Khanza.


Kalil melirik Khanza yang tampak senang mendengar penderitaannya. Tapi entah kenapa, Khalil senang melihatnya. Apa mungkin karena Khanza terlalu sering berwajah datar dan cenderung jutek.


"Kita kemana sekarang? Apartemenku?" pancing Kalil bertanya.


"Ngapain ke apatemen kamu. Udah tercemar sama pacar kamu juga. Aku mau pulang ke rumah," cerocos Khanza kesal.


"Aku ngga pernah bawa perempuan ke apartemenku. Kecuali kamu," sangkal Kalil cepat.


Memang kenyataan. Dia lebih suka maen di hotel atau apartemen apartemen kekasih kekasihnya.

__ADS_1


Kalil juga ngga pernah membawa perempuan perempuannya ke apartemennya. Khanza pun kalo ke apartemennya selalu dengan sahabat sahabat mereka yang lainnya. Ngga pernah sendirian.


"Masa?" sinis Khanza ngga percaya.


Ngga mungkin, batin Khanza mengejek.


"Tanya aja sama Kenan," ngeyel Kalil berusaha agar Khanza percaya.


Tapi Khanza tetap tertawa penuh ejekan ngga percaya, membuat Kalil hanya bisa menghela nafas panjang.


Mobil pun melaju ke rumah Khanza.


Kalil heran melihat Khanza melepas heelsnya saat turun dari mobilnya.


"Kenapa?"


"Aku ngga bisa lama lama pake ini," tunjuk Khanza pada heelsnya yang cukup tinggi.


Kalil tergelak.


Ya ya, batin Kalil ngakak.


Khanza ngga mempedulikan raut bahagia Kalil akan penderitaannya. Dengan agak terpincang dia memasuki rumahnya.


Tawa Kalil langsung lenyap ketika melihat Khanza benerran serius dengan kata katanya.


Apa sesakit itu?


Khalil pun ikut turun dan menyusul Khanza. Dia pun duduk di teras. Daddy dan maminya Khanza sepertinya belum pulang.


Ngga lama.kemudian Khanza datang bersama seorang pembantunya yang membantu membawakan sebaskom air dingin yang lengkap dengan es batu kecil kecil dan handuk buat kompres. Khanza membawa kotak p3k di tangannya.


"Sama sama non."


Pembantunya pun segera masuk ke dalam rumah.


Khanza mengambil beberapa es batu dan menyimpanya dalam lipatan handuk. Kemudian menempelkannya pada sudut bibir sebelum memindahkannya ke pipi Kalil yang masih berwarna merah.


"Apa itu sakit?" tanya Kalil sambil tangannya menunjuk ke arah kaki Khanza.


"Sedikit," senyum Khanza membuat Kalil ikut tersenyum


Keduanya saling bertatapan. Kemudian Kalil mengambil handuk di tangan Khanza.


Kemudian dia berjongkok dan meraih kaki Khanza dan ganti mengompresnya sebelah kanan dan kiri bergantian. Dengan handuk tadi.


"Kalil, ini ngga seberapa di banding pipi kamu," tukas Khanza ingin menarik kakinya, tapi Kalil menahannya.


Jantung Khanza semakin berdebar kencang.


"ini parah, Khanza. Tadi aja jalan kamu pincang," ejek Kalil sambil tetap mengompres kakinya.


DEG DEG DEG


"Terserah kamu ajalah," tukas Khanza ngga bisa menolak lagi. Membiarkan saja Kalil mengompres.kedua kakinya secara bergantian.


Tapi rasamya agak aneh aja. Jantungnya berdetak sangat kencang

__ADS_1


Hening.


"Khanza, besok temenin aku belanja, ya," ucapnya setelah cukup lama terdiam.


"Belanja buat apa?"


"Kan, aku mau ikut Kenan kuliah di Inggris."


DEG


"Kamu, kan, belum dapat kampus."


"Tinggal daftar aja. Uang Daddy banyak, aku ngga butuh beasiswa kayak Kenan," cibirnya menghina kembarannya.


Khanza terkekeh mendengarnya.


"Ya, ya," kekehnya ngga bisa berhenti.


"Sudah enakan?' tanya Kalil sambil menatap lekat mata Khanza.


"Sudah," jawab Khanza agak grogi. Dia pun mengambil handuk.dari tangan Kalil.


"Yaa, ngga mungkin, kan, buat ngompres pipi kamu. Bentar, aku ambil handuk yamg baru."


"Sudah ngga pa pa. Kamu di sini dulu aja," tahan Kalil ketika Khanza akan bangun dari.duduknya.


"Nanti kita bisa lama ngga ketemunya," keluh Khalil sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.


"Kamu beneran serius mau kuliah bareng Kenan?" tanya Khanza lagi memastikan.


Memang selama ini Kalil selalu mengekori Kenan.


Tapi katanya kemaren kemaren mau kuliah S2 di sini aja bersama Aqil dan Rakha.


"Serius Khanzaaa," kata Kalil sambil memejamkan matanya.


Dia ngga tau apa yang dia rasakan. Tapi yang jelas sangat nyaman. Apa nanti kalo jauh dari Khanza, dia juga masih bisa merasa senyaman ini?


Kalil menghembuskan nafasnya.


Karena itu Kalil ingin mencoba menjauh dari Khanza. Memastikan perasaannya dan juga Khanza.


Baginya perasaan Khanza padanya juga abu abu. Kemarin nangis, tapi tadi happy happy saja saat bersama dokter yang kini sudah dibenci Kalil.


Khanza menatap kasian pada pipi Kalil.


"Kamu ngapain sampai ditampar Agnes?" tanya Khanza ingin tau.


"Ngga ngapa ngapain. Cuma diputusin," jawab Kalil enteng. Malah kini kepalanya disandarkan di lengan Khanza.


Hampir saja Khamza menjitak kening Kalil atas jawaban seenaknya itu.


"Kamu parah," desis Khanza sambil memggelengkan kepalanya.


Harusnya Agnes menghajar kamu dengan heelsnya biar bonyok sekalian, batin Khanza gemas.


Saat Khanza akan menyingkirkan kepala Kalil, telinganya menangkap bunyi nafas yang teratur.

__ADS_1


Dia sudah tidur? Gampang banget, senyum Khanza terkembang begitu saja. Tanpa Khanza sadari Kalil meliriknya dan sedikit menarik sudut bibirnya.


__ADS_2