After The Heartbreak

After The Heartbreak
Andai Kendra tau


__ADS_3

Zayra memandang rumah lamanya dengan tatapan sarat rindu. Mereka baru saja sampai siang ini di rumah. Abinya sengaja berbohong pada para sahabatnya dengan mengatakan akan sampai sore harinya.


"Kak Zayra, aku mau es krim," ucap seorang anak perempuan cantik dengan tubuh agak gendut. Usiany kurang lebih lima tahun.


"Oh, ayo kita ke mini market aja," sahut Zayra dengan senyum cerahnya. Dia mengelus hijab si bungsu dengan lembut.


Abi dan uminya langsung menghampiri mereka berdua yang berada di teras rumah.


"Kamu mau beli apa, sayang?" tanya Dinda pada putri keduanya yang dilahirkannya di Turki.


"Es krim," jawab anak perempuan kecil itu sambil berlari ke arah Dinda.


"Ya udah. Beli di depan aja, Shafa. Sama Kak Zayra," ucap Regan sambil mencubit gemas pipi putri bungsunya


"Iya, abi. Horee.... Ayo, kak Zayla," sahutnya dengan lidah cadelnya. Ada kalanya Shafa kesulitan menyebut huruf R. Tapi kadang kadang huruf R bisa juga diucapkannya dengan jelas.


"Biar aku yang antar kalian," tukas Hafi, putra pertama dari Zaki yang dulu pernah dijodohkan dengan Dinda.


Hafi dan kedua orang tuanya yang menjemput keluarga Regan di bandara.


"Iya, iya," seru Shafa dengan raut wajah menggemaskan.


"Ya, udah. Kalian hati hati," tukas Zaki yang mendekat bersama istrinya.


"Iya, Om," balas Shafa masih degan raut cerianya.


"Iya, hati hati, ya," ucap Regan sambil melihat kepergian ketiganya.


"Iya abiii," seru Shafa sebelum masuk ke.dalam.mobil. Zayta melambaikan tangannya pada para oramg tua mereka.


"Beneran Zayra masih mau kamu jodohkan dengan anak teman kamu?" tanya Zaki ketika mobil yang membawa ketiganya sudah keluar dari gerbang.


"Mungkin," jawab Regan santai.


"Kalo mereka ada jodoh," sambungnya lagi.


Enam tahun bukan waktu yang sebentar untuk menguji hati mereka berdua.


Zaki tertawa kecil. Istri istri mereka hanya tersenyum.


"Hafi gimana?" tanya Dinda ingin tau.


"Katanya dia lagi dekat sama anak pesantren kakeknya. Ya, lihat aja nanti," jelas istri Zaki-Marwah dengan raut tersenyumnya.


"Jika anak anak kita gagal dengan pasangannya, gimana kalo mereka berdua kita nikah, kan, saja," canda Zaki tapi dengan nada serius. Tapi tawa kecilnya tetap terdengar.


"Boleh juga," kekeh Zaki menimpali.


Ngga ada salahnya, batin Zaki sambil saling pandang penuh makna dengan Dinda .


Dinda dan Marwah pun sama sama tertawa kecil mendengar nya.

__ADS_1


*


*


*


Kendra hampir saja menabrak papinya ketika dia berjalan sambil menunduk menuju ruangannya. Pikirannya masih tertuju pada kejadian di pelataran mini market tadi.


"Kamu kenapa? Udah ngga sabar ketemu calon istri?" senyum Kiano menggoda putranya yang terlihat seperti orang bingung.


Calon istri? batin Rayna, sekertaris Kendra yang berada ngga jauh dari anak dan papinya berada. Hatinya langsung kecut.


Pantas saja anak bos besarnya selalu terlihat dingin padanya dan juga para pegawai perempuan lainnya.


Ternyata sudah punya calon istri.


Secantik apa calon istrinya, ya?


"Papi, ada yang mau aku tanyakan," ujar Kendra sambil menarik tangan papinya agar mengikutinya masuk ke ruangannya.


Dia tau dari tadi Rayna memperhatikannya.


"Oke," sahut Kiano mengerti.


Ketika sampai di ruangannya dan sudah menutup pintunya, Kendra menatap papinya ragu.


"Ada apa?" tanya Kiano heran melihat Kendra yang tadinya ingin mengajaknya bicara malah sekarang hanya diam aja.


"Pap, mungkin ngga kalo Zayra udah punya suami dan anak?"


Kiano yang awalnya serius saat bertanya, jadi tergelak. ketika sudah mendapatkan jawabannya.


Beliau pun melangkah menuju meja Kendra masih dengan tawanya yang berderai derai dan menyandarkan bokongnya di pinggiran meja.


"Aku serius, pi," tukas Kendra


ngga terima karena papinya malah tertawa.


"Oke oke," ujar Kiano sambil berusaha meredakan tawanya. Tapi semakin susah karena melihat wajah kesal Kendra padanya.


Kiano malah suka dan jadi ingin berlama lama membuat putranya kesal.


"Kamu punya pikiran dari mana kalo Zayra udah nikah dan punya anak? Kalo papi, sih, yakin, Zayra masih sendiri sampai sekarang," jawab Kiano setelah berhasil menghentikan tawanya beberapa saat lamanya.


Kendra terdiam.


Apa dia harus cerita, ya?


Kendra kembali melihat wajah papinya ragu.


Tadi aja diketawain, batinnya masih kesal.

__ADS_1


Papinya menyatukan alis sambil melihatnya yang artinya minta dia segera menjawab pertanyaannya tadi.


"Aku melihat Zayra di pelataran mini market dekat rumahnya tadi siang, pap," kata Kendra yang pada akhirnya memilih jujur.


Alis Kiano berkerut, dalam hati dirinya memaki Regan.


Sialan, ternyata dia sudah pulang.


Tapi Kiano kembali memusatkan perhatiannya pada Kendra.


"Terus?"


"Ada anak perempuan kecil yang akrab banget sama Zayra. Juga ada laki laki seusia aku bersama mereka, Pap," sambung Kendra yang akhirnya memilih jujur.


Kiano agak terdiam, berpikir sebentar.


"Zayra ngga lihat kamu?"


"Ngga, Pap. Aku di dalam mobil."


Papinya menggelengkan kepalanya mendengar kepasifan anak pertamanya.


"Harusnya kamu hampiri, dong, masa cuma dilihat aja," sergah Kiano ringan dan santai.


"Soalnya....." Kendra terdiam meninggalkan ucapan mengambang untuk bisa dipahami papinya.


Kiano kali ini tertawa lagi, ngga peduli lagi akan reaksi putranya yang nantinya akan merasa kesal dan marah.


"Sampai kapan kamu takut dengan rasa bersalah kamu sendiri? Laen kali hampiri dia, tanya baik baik, itu anaknya apa bukan," nasehat sekaligus saran dilontarkan Kiano sama seperti tadi. Ringan dan tanpa beban.


Kiano agak gemas melihat lambannya reaksi putranya. Beda banget dengan dirinya dulu. Padahal menurutnya kesalahannya lebih fatal dari pada yang sudah putranya lakukan. Menjadikan Aruna-istrinya dulu sebagai bahan taruhan. Bukan pura pura mesra.


Kendra terdiam lagi. Tebakan papinya selalu benar.


Memang harusnya dia menghampiri Zayra dan berbasa basi sedikit sebelum menanyakan siapa anak perempuan kecil yang menggemaskan itu. Kalo perlu bahkan menanyakan statusnya kini. Single atau udah triple. Jadi dia bisa secepatnya menentukan sikap. Bukan terombang ambing seperti ini.


Dia berdiam diri saja seperti laki laki penakut yang jadi ciut nyalinya setelah pernah melakukan kesalahan fatal.


Mulutnya agak kaku karena lamamya mereka ngga pernah bertemu. Apalagi ending hubungan mereka juga kurang mengenakkan waktu dulu.


Papinya menepuk bahunya perlahan seakan memberikannya semangat.


"Kamu harus secepatnya keluar dari zona rasa nersalah kamu," nasihat Kiano.


"Oke, papi ada urusan," kata Kiano sambil melangkah pergi diiringi tatapan penuh penyesalan Kendra.


Seandainya tadi dia ngga terlalu takut dengan dugaan dugaan buruk yang bersarang di kepalamya, urusannya dengan Zayra pasti sudah menemukan titik terang.


"Iya, pap," balas Kendra ketika papinya membuka pintu ruanganmya.


Kiano tersenyum sebelum menutup pintunya.

__ADS_1


Dia pun segera menghubungi, Alva, Glen, Reno dam Arga untuk segera ke rumah Regan. Karena orang hilang itu.sudah kembali. Senyum miring tercetak di bibirnya.


__ADS_2