
Kendra mengantar Zayra pulang ke rumahnya.
Khanza dan Salma sengaja menunggu di mobil, memberikan kesempatan pada bucin Kendra mengobrol sebelum nantinya berpisah satu hari dengan Zayra.
"Aku ngga nyangka kalo kakakku akan secinta itu sama Kak Zayra," senyum Salma sambil sesekali melirik keduanya yang kini berada di teras.
Khanza pun tersenyum. Dia juga ngga nyangka Kendra bisa sebucin itu.
"Kalo Kak Khanza sama Kak Kalil gimana?" tanya Salma memberanikan diri.
"Haa? Aku sama Kalil teman aja. Dia juga sekarang sudah punya pacar," kaget Khanza ngga nyangka kalo ucapan itu akan keluar dari bibir Salma.
"Oooh.... Aku lihatnya kalo Kak Kalil perhatian banget sama Kak Khanza."
Khanza tersenyum lebar menutupi perasaannya yang tiba tiba gundah.
"Kalo punya pacar kayak Kalil bisa makan hati tiap hari," senyum Khanza lagi. Tapi dia merasa senyumnya hambar. Sehambar hatinya.
"Mungkin kalo sama Kak Khanza, Kak Kalil akan tobat," tawa Salma mencoba memberikan motivasi walau ngga yakin.
Dulu Dhafi juga sempat meyakinkannya kalo dialah cinta terakhirnya.
Tapi nyatanya apa, Dhafi ngga pernah puas dengan satu perempuan saja di sisinya.
Sudah berkali kali Salma memaafkannya. Tapi Dhafi ngga berubah. Malah permainan volinya jadi ngga stabil. Karena itu setelah memergoki untuk yang kesekian kalinya Dhafi mencium perempuan lain di depan matanya, Salma langsung menutup pintu maafnya.
Saat ini Salma hanya ingin serius dalam karir volil dan sekolahnya. Pacaran udah ngga ada dalam kamus hidupnya lagi.
Buat apa punya pacar, tapi hatinya dibuat sakit melulu. Makanya Salma cari mujur aja, siapa tau ntar ada laki laki yang berkualitas dan ngga player bisa tertarik dengannya ntar di pesta kakaknya.
Tapi kalo ngga dapat, dia akan kembali fokus pada tujuan awalnya putus dari Dhafi, belajar dan latihan voli yang serius.
Khanza pun ikut tertawa.
Ilmu dari mana itu? Apa pengalaman? Sarkas Khanza dalam hati.
"Salma, kamu sendiri sama Dhafi gimana?" Karena tadi Salma udah berani mancing dia dengan Kalil, sekarang ganti Salma yang ingin ngulik hubungan Salma dengan Dhafi.
"Haa... ngg... aku temernan aja, kak," sahut Salma gugup
"Temen apa temen?" goda Khanza kemudian terkikik.
"Temen, kaaak," sahut Salma agak grogi. Maklum ditodong sama mantan kakak ipar yang gagal.
__ADS_1
Khanza makin terkikik. Melihat reaksi Salma, Khanza yakin kalo adik Kendra itu pernah berhubungan lebih dari hanya teman dengan Dhafi. Mungkin aja sekarang lagi break atau putus permanen. Khanza menebak dalam hatinya.
Khanza merutuki hatinya. Dia lumayan pintar mmbaca karakter orang lain. Tapi tentang dirinya dan Kalil, dia malah ngga ngerti
Dan lagi lagi Khanza benci kenpa harus Kalil lagi
"Dhafi tuh mirip Kalil."
Eh, kok, Kalil lagi, batin Khanza protes. Sekarang isi pikiranya hanya Kalil saja.
"Ngga bisa setia sama satu wanita," tambah Khanza lagi.
Salma terdiam. Ucapan Khanza terasa menusuk sangat dalam di relung hatinya.
Salma setuju. Sudah berapa kali Dhafi dimaafkan olehnya, tapi tingkahnya tetap sama. Ngga ada perubahan.
Walau Salma tau banyak perempuan yang selalu menyodorkan tubuh dan cintanya, harusnya Dhafi bisa menolaknya.
Seperti Kak Kendra, yang setia selama enam tahun menunggu Kak Zayra. Padahal bukan satu dua perempuan mendekat. Tapi Kak Kendra selalu menolaknya.
Khanza pun terdiam dengan ucapannya sendiri. Seperti ditujukan buat dirinya. Seolah itu keluar dari sudut hati terdalamnya. Hanya saja Khanza merasa aneh, kenapa baru sekarang merasakannya.
Padahal dulu dulu dia ngga terpengaruh dengan perempuan perempuan yang bersama Kalil.
Khanza ingat, selama seminggu Kalil ngga hadir di makan siang mereka di kafe depan rumah sakit. Atau membatalkannya di detik detik akhir jika mengunjungi Kendea waktu sakit. Padahal mereka kumpul dalan formasi lengkap.
Alasannya lagi pedekate dengan pacar barunya.
Mungkin perasaan yang diraskan Khanza hanya tersisih saja sebagai sahabat. Ngga lebih.
Tapi Khanza memang bingung dengan dirinya akhir akhir ini. Apalagi menyangkut Kalil.
Sementara itu Kendra masih berat rasanya mau pulang.
"Kenapa lagi, Ken?" tanya Zayra heran melihat mata Kenan yang selalu melirik ke dalam rumahnya.
"Si Hafi masih di sini?" tanya Kendra berusaha sesantai mungkin. Tapi bagi Zayra, suara itu jelas sekali sangat mengandung nada curiga.
"Udah pulang dari tadi sama uminya. Beneran, aku ngga bohong," ucap Zayra meyakinkan Kendra.
Kita udah tinggal sehari lagi bakal nikah, tapi kamu masih aja curiga ngga jelas, kesal Zayra dalam hati.
'Syukurlah kalo gitu. Tapi besok dia di sini, ya?" tanya Kendra masih belum lega. Masih ada rasa cemburu yabg berkobar di hatinya.
__ADS_1
Bayangkan saja, laki laki yang sudah menemani Zayranya di Turki akan melihat prosesi siraman calon istrinya.
"Nanti malam juga. Kan dia ikut acara pengajian," ucap Zayra pelan dan dada berdesir melihat rahang Kendra yang mengeras.
"Aku ngga akan dekat dekat dengan dia. Lagian Kak Hafi sudah punya calon istri. Nanti malam juga ikut ke sini katanya," tambah Zayra lagi dengan suara yang sangat lembut. Berusaha keras agar Kendra ngga menaruh rasa curiga yang berlebihan.
"Hemm....."
Kendra masih belum puas dengan jawaban Zayra.
Kendra ngga bakal cemburu ngga jelas seperti ini kalo saja daddynya ngga keceplosan.
"Kalo kamu ngga mau sama Zayra, Hafi katanya mau nikahin putri Om Regan.
Karena itu Kendra ngga bakal tenang selagi belum menghalalkan Zayra jadi istrinya. Karena Hafi bisa saja sewaktu waktu menikungnya.
Padahal udah punya calon istri, batin Kendra mencela.
"Aku tuh cuma sayangnya sama kamu, Ken," kata Zayra akhirnya mengeluarkan bujuk rayunya. Dia malu mengatakannya, tapi dilakukannya demi melunakkan hati Kendra.
Rahang Kendra yang tadinya mengeras akhirnga mengendur. Satu senyum tipis terbit di bibirnya.
'Cuma sayang aja?" kejar Kendra dengan sinar mata menggoda.
"Emm... cinta juga," jujur Zayra sambil menundukkan wajahnya. Dia merasa wajahnya sangat panas karena menahan malu.
"Kenapa nunduk, sih. Lihat sini, dong."
Sekarang perasaan cemburu dan kesalnya sudah hilang. Menguap dan lenyap seketika. Yang ada hanyalah debaran jantungnya dan membuat hatinya merasa seperti terbang tinggi. Kini senyum Kendra sudah semakin lebar ketika meilhat wajah merona Zayra.
"Pengen cium," canda Kendra tapi dalam hatinya dia sangat serius.
"Ihhh," kesal Zayra tambah salha tingkah.
Setelah melihat kanan kiri dan di depannya sepi, dengan cepat Kendra mengecup bibir Zayra.
CUP
Cuma sekilas doang tapi rasa dentaman jantungnya sangat keras sekali memukul dadanya. Bertubi tubi tanpa jeda.
Antara senang dan takut ketahuan. Itulah yang dirasakan Kendra saat ini.
"Aku pulang ya," pamit Kendra dengan senyum sangat lebar di bibirnya. Meninggalkan Zayra yang hanya bisa mematung dengan debaran yang sangat indah di dadanya.
__ADS_1