
Khanza merasa aneh dan heran melihat sikap rekan rekan dokternya yang terlihat lebih sungkan padanya sekarang. Dokter Hari, dokter Mutia, dokter Niko, dan dokter Verli sekarang seperti menjaga jarak dengannya.
Khanza teringat kalo mereka sudah tau siapa dia yang sebenarnya. Tapi kenapa harus berubah begini. Khanza jadi kesal sendri.
Bahkan dokter Verli terkesan lebih menghindarinya.
Tapi Khanza cuek saja. Selama ini dia pun ngga terlalu dekat dengan mereka. Hanya sekedar teman makan siang, teman nonton dan teman jalan saja. Itu pun kalo mereka mengajaknya dengan sedikit memaksa.
Dia sudah lelah karena lebih sering pergi dengan sahabat sahabat sejak kecilnya yang selalu saja merecoki jam istirahatnya.
Hanya saja dia merasa kehilangan keakraban yang sempat terjalin dulu sebelum mereka tau siapa dia.
Kalo mereka ngga mau berteman, ya sudah. Masih banyak dokter dan juga para suster lainnya, batinnya enteng.
"Emm... Khanza, dokter Muluk manggil kita," panggil dokter Niko saat melihatnya yang baru keluar dari ruang pasien.
"Oke," sahutnya singkat, kemudian mengikuti lamgkah Niko dalam diam.
Beberapa kali Khanza mendengar Niko menghela nafas.
Tapi Khanza cuek aja, seolah ngga mendengar.
Sebenarnya dokter Niko ingin bertanya, kenapa Khanza betah menyembunyikan identitasnya. Dia merasa dibohongi walaupun Khanza ngga salah apa apa.
Mengetahui derajat Khanza yang sangat tinggi, rasanya sungkan untuk bisa bersikap sepeti dulu. Selain dokter Fadli yang cukup terang terangan menunjukkan rasa sukanya pada Khanza, dokter Niko pun termasuk salah satu pengagum rahasianya.
Rencananya setelah kepergian dokter Fadli sebagai seniornya, maka dia akan menunjukkan perasaannya, kalo perlu menyatakannya langsung.
Dokter Niko ngga bisa melakukannya saat dokter Fadli masih ada karena cukup menghormarti seniornya.
Tapi harapannya pupus sejak tau siapa Khanza. Kekayaan orang tuanya saja masih cukup jauh dari dokter Fadli. Apalagi dibandingkan dengan Khanza. Selain egonya sebagai laki laki, juga dia tau salah satu laki laki yang diakui Khanza sebagai sahabatnya, sepertinya menyukainya. Dan laki laki itu juga konglomerat yang sejajar dengan Khanza. Dokter Niko seperti dilempar ke.dalam jurang yang sangat dalam dan penuh batu batu yang besar dan tajam.
Apalagi sikap dokter Khanza juga dingin dan cuek. Belum tentu juga dia diterima.
Karena itulah dokter Niko selalu menghela nafas panjang.
Mereka bertemu dengan dokter Verli. Tapi gadis itu nampak muram. Dia hanya tersenyum tipis.
Sejak kejadian semalam, sikap Rakha benar benar berubah. Sama sekali ngga menganggap kehadirannya lagi. Rakha pun ngga berkata sepatah kata malam itu ketika dia sengaja menghampirinya saat akan pulang. Bahkan laki laki tampan itu langsung pergi ketika dia mendekat.
Verli merasa kemarahan Rakha malan itu juga ditujukan padanya. Jika dia ngga terlalu ember bercerita tentang dokter Khanza, pasti laki lakli itu masih akan memberikan perhatiannya padanya.
Padahal hubungannya sudah cukup jauh. Dia pun sudah menyerakan kevirginannya pada Rakha. Mereka sudah berulang kali melakukannya. Tapi laki laki itu sudah ngga ingin mengenalnya lagi.
__ADS_1
Jauh di lubuk hatinya, Verli merasa sakit. Dia merasa dicampakkan setelah semua miliknya diambil. Tepatnya setelah dia serahkan dengan suka rela.
Dimana salahnya saat dia bercerita tentang kehidupan dokter Khanza yang biasa saja. Sesuai yang dia lihat selama ini. Dimana juga salahnya saat dia bercerita tentang ketaksukaan mamanya dokter Fadli pada dokter Khanza karena ngga sebanding dengan putranya.
Mana Verli tau kalo ternyata keluarga dokter Khanza memiliki kekayaan yang jauh dari itu. Konglomerat.
Dia hanya bercerita apa adanya, kenapa laki laki itu marah?
Ngga mungkin, kan, Rakha menyukai dokter Khanza lebih dari sekedar sahabat?
Verli hanya meyakinkan dirinya kalo laki laki itu marah karena tanpa disadari, dia pun telah menjelek jelekkan sahabanya.
Salah siapa kalo begini? Pastinya salah dokter Khanza, kan, yang ngga mau mengungkapkan jati dirinya dengan jelas.
Sekarang baru Verli paham mengapa dokter Aruna sebagai kepala rumah sakit dan bahkan para donatur serta petinggi petinggi rumah sakit ini sangat mengistimewakan dokter Khanza.
Tanpa.sadar Verli menghela nafas berat.
Baginya Rakha hanya salah paham padanya. Tapi salahkah dia menuntut pertanggungjawaban laki laki itu atas perbuatannya padanya?
Kesuciamnya yang djaga selama bertahun tahun, hilang sudah karena terlalu menggantungkan harapan setinggi langit pada Rakha. Laki laki tampan dan bermasa depan sangat cerah. Juga terlahir dari keluarga yang sangat kaya raya.
Salahkan kalo.dia ingin ikut sedikit menikmati kesenangan laki laki itu?
Verli mengusap air matanya yang hendak menetes.
*
*
*
Kalil menatap tajam ketika sedang berjalan di lorong rumah sakit. Siang ini dia akan mengajak Khanza menemaninya hang out sebelum pergi ke Inggris bersama Kenan. Bahkan dia minta tolong pada maminya agar minta ijin pada tante Aruna agar membolehkan Khanza pergi saat makan siang bersamanya dan ngga kembali lagi ke rumah sakit.
Tapi yang dilihatnya sosok Khanza yang sedang berjalan bersisian dengan dokter yang lain lagi. Tapi Kalil ingat, dokter itu juga ikut ke acara tadi malam.
Memang mereka ngga terlihat akrab, tapi terkadang mereka saling memperlihatkan map map mereka hingga keduanya hampir ngga berjarak.
"EHEM!" Kalil sengaja batuk dengan keras membuat keduanya menoleh.
Dokter Niko seolah tau diri, dia pun beringsut pergi
"Sampai nanti, Khanza," pamitnya sambil tersenyum dan mengangguk kecil pada Kalil saat melewatinya. Kalil hanya meliriknya.
__ADS_1
"Sudah datang?" tanya Khanza sambil melihat jam di tangannya.
"Harusnya setengah jam lagi," responnya judes.
"Lebih cepat lebih baik," ujar Kalil dengan cengirannya kemudian merengkuh bahu Khanza yang masih mengenakan jas dokter. Tapi Khanza menepisnya.
"Banyak penyakit di sini," seru Khanza ketika menangkap protes di mata Kalil.
"Kalo sama dokter tadi ngga apa dekat dekatan," kesal Kalil merajuk.
"Kita, kan, sama sama dokter," jawab Khanza asal membuat Kalil mencibir
"Apa sekarang dia yang menurut kamu dokter ganteng," ejek Kalil menjajari langkah Khanza.
"Ya, dan masih banyak yang laennya," jawab Khanza cuek.
Kembali Kalil mencibir penuh ejekan dan mengikuti langkah Khanza sampai ke ruangannya.
Ada beberapa dokter dan perawat perempuan yang berada di sana, langsung menerbitkan senyum paling manis buat Kalil. Tentu saja Kalil membalasnya.
Khanza menuju ke lokernya seolah ngga peduli, sementara Kalil tetap setia menunggu di belakangnya.
Bahkan laki laki tampan yang memancarkan aura badboy itu menurunkan jas.dokter dari bahu Khanza. Kemudian melipatnya, menarohnya di paper bag. Seperti kebiasaan Khanza, Kalil sudah tau, karena jas ini akan dilaundrynya. Khanza membiarkan saja, karena setelahnya dia menaruh mapnya dan mengambil tasnya. Kemudian mengunci lokernya.
Perlakuan manis itu membuat para tenaga medis itu iri.
Hanya dengan senyuman tipis, Khanza melewati mereka yang mengangguk hormat padanya.
Sepertinya kabar kalo dia anak konglomerat yang pura pura miskin sudah tersebar. Ini yang Khanza ngga suka. Dia ngga suka mendaparkan perlakuan khusus.
"Sekarang udah boleh?" tanya Kalil sambil merengkuh bahunya dengan senyum senangnya.
"Kita mau kemana, sih?" Khanza belum merubah suara kesalnya. Bayangkan saja, tante Aruna tadi sengaja menelponnya hanya untuk mengatakan kalo Kalil akan mengajaknya pergi saat jam makan siang. Dia pun ngga perlu kembali ke rumah sakit. Jalan Kalil sangat dipermudah.
Untungnya tugasnya dengan dokter Niko yang diberikan oleh dokter Muluk sang spesialis obgyn sudah selesai lebih cepat. Dan Kalil ngga perlu repot repot menelpon dan mencari keberadaannya.
"Belanja, honey," tukas Kalil mesra.
"Cckk.... Aku bukan hani. Aku Khanza," ketus Khanza. Sebemarnya terbalik dengan suara debaran jantungnya yang riuh rendah.
Laki laki perayu ini minta mati.
Kalil tertawa lepas sambil mengacak acak rambut Khanza gemas seolah mendengar makian di hati Khanza.
__ADS_1