After The Heartbreak

After The Heartbreak
Akhir yang manis


__ADS_3

Kalil duduk dengan posisi ngga tenang. Kadang sebelah kaki kanannya dia timpakan ke kaki sebelah kirinya. Ngga lama kemudian dia ganti lagi kaki kirinya yang kini menimpa paha kanannya. Kadang kadang dia selonjorkan keduanya. Benar benar ngga bisa diam.


Pesawat yang akan membawanya baru saja datang. Rasanya kakinya sangat berat untuk melangkah meninggalkan boarding room.


Bukan kakinya saja. Tapi juga hatinya. Mengingat wajah Khanza yang kemerahan dan berkeringat, membuatnya merasa sudah mengecewakan Khanza dengan pergi begitu saja.


Rahang Kalil mengeras ketika mengingat kebersamaan Khanza dengan laki laki yang dijodohkan Aqil.


Ada rasa ngga rela melepaskan Khanza untuk laki laki itu. Dia memang brengsek. Tapi ngga ada jaminan kalo laki laki itu ngga lebih brengseknya darinya, kan. Benaknya mencoba mencari pembenaran.


Dia sudah sangat mengenal Khanza. Tau semua makanan kesukaannya. Mengerti hal hal yang dibencinya. Sedangkan laki laki itu baru tau satu saja. Sup kimlo yang disukai Khanza. Kalil masih menang banyak.


Apalagi Khanza sudah tau kebrengsekannya. Tapi dia juga bisa berubah menjadi laki laki setiia yang hanya akan melihat Khanza saja. Rasanya ngga sulit untuk berhenti. Tergantung niatnya saja. Hatinya memberikan dukungan untuk keinginannya yang muncul tiba tiba.


"Kamu kenapa?" tanya Alva yang sudah berdiri bersama Tamara. Keduanya menatap Kalil penuh selidik. Sikap Kalil sangat aneh.


Raut wajah dan sikap Kalil sangat terlihat gelisah dan ngga nyaman.


Padahal sudah saatnya mereka berjalan ke arah pesawat, seperti penumpang penumpang yang lain. Pesawat akan lepas landas. Tapi keduanya merasa Kalil terlihat enggan untuk pergi.


Secuil harapan hadir di hati Tamara.


Kalil sudah sadar?


"Dad, mam. Boleh nggak kalo aku ngga jadi berangkat?" Akhirnya Kalil mengungkapkan juga isi hatinya.


"Hah? Kamu serius?" kaget Alva menatap putranya ngga percaya.


Tamara kini mengembangkan senyum senangnya.


"Pergilah," usir Tamara penuh arti.


Semoga Khanza belum pulang.


"Makasih, mam," seru Kalil senang, dia tau maminya yang sangat mengerti dirinya.


"Eh, Khalil," panggil Alva heran yang melihat anaknya pergi.


"Sudah, biar aja," cegah Tamara ketika melihat Alva akan menyusul Khalil.


Kalil terus melarikan kakinya tanpa menunggu persetujuan daddynya. Dia tau, maminya bisa mengatasi daddymya.


"Sayang, kita bisa ketinggalan pesawat," protes Alva ketika melihat kepergian Kalil dan mulai kesal karena istrinya menahan tangannya saat dia akan pergi.


"Kamu bilang kita jangan seperti orang miskin," kesal Tamara mengingatkan prinsip hidup suaminya.


"Hemmm.... " gumam Alva masih ngga ngerti.


"Bisa telpon Glen agar ngga pergi dulu?" pinta Khanza membuat kening Alva tambah mengernyit bingung.


"Kalil sedang menyusul Khanza," sambung Tamara lagi.


Sedetik


Dua detik


Tiga detik.


"Kamu serius?" senyum Alva terkembang lebar, mulai mengerti.


"Udah, cepat telpon," titah Tamara ngga sabar.


"Ya, sayang." Kini senyum Alva tambah lebar. Dia pun meraih ponselnya dan langsung memilih Glen dari kontak telpon.


"Kita ngga jadi berangkat saja," putus Alva sambil menunggu panggilan telponnya diangkat Glen.


"Mungkin nanti kita akan menyuruh Kenan pulang," senyum Tamara sambil mengikuti langkah suaminya meninggalkan boarding room.


"Ya," kekeh Alva setuju.


*


*

__ADS_1


*


"Cieee..... yang ngantar calon suami," ledek Aqil dengan tampang jahilnya menggoda Khanza yang sempat tertegun, padahal Kalil udah lama memasuki boarding room.


"Apa, sih," kesel Khanza sambil membalikkan tubuhnya berniat pergi. Kesal dia melihat teman temannya yang tertawa renyah menggodanya. Bahkan Kendra yang paling bijak juga ikut tertawa


Bahkan Daddynya pun bersama teman teman satu generasinya nampak melebarkan senyum mereka


"Ternyata pawangnya Kalil itu Khanza, ya," goda Reno tergelak


"Aqil sampai jadi korban, Khanza, dihajar abis abisan sama Kalil," kata Arga ikut meledek. Dia pun ngga dapat menahan tawanya lagi.


"Sudah, sudah. Nanti anak gue ngambek lagi," kekeh Glen membuat Khanza tambah kesal.


Daddynya masih betah saja mengganggunya tanpa memikirkan perasaan malu Khanza saat ini.


Tapi dengan lembut daddymya merengkuh bahu putri sulungnya dengan tawa yang masih berderai derai.


"Mau tunggu sampai pesawat Kalil berangkat?" goda Glen lagi makin membuat Khanza kesal karena malu.


"Mau pulang, daddy," seru Khanza stres menghadapi godaan dua generasi.


"Iya, iya, ayo kita pulang," tawa daddynya berderai derai sambil menggandeng Khanza pergi. Dia tau putrinya sangat malu saat ini.


"Sebentar, sayang. Teman daddy telpon," kata Glen sambil mengangkat telponnya.


"Ada apa?" Glen bertanya heran. Kemudian dia terdiam, mendengarkan apa yang Alva sampaikan.


"Oke. Kamu tenang saja,"putus Glen sambil menutup telponnya


"Sorry, ya, Aqil," kata Glen sambil menatap wajah Aqil. Kasian juga melihat wajah memar Aqil.


"Ngga apa apa, om," jawab Aqil sambil melambaikan tangannya dan setengah berlari meninggalkan Khanza dan daddynya. Dia bergabung dengan teman temannya yang lain.


"Cuma segini aja? Ngga ada kelanjutannya?" tanya Rakha kurang puas ketika Aqil mendekat.


Sama aja bo'ong kalo akhirnya hanya begini hubungan Kalil-Khanza yang tetep jalan di tempat.


Ngga ada progres, batin Rakha jengkel.


"Ya apalah. Kalo cuma segini rasanya kentang aja,' lanjut Kenan sebal.


"Nih, gue udah luka luka sama keringatan. Memang Kalil goblok," maki Aqil kesal dengan endingnya. Dikiranya ada sesuatu yang ehem ehem.


"Ya, itu gimana Kalil aja," jawab Kenan tenang. Tapi dia yakin, dengan watak Kalil, pasti akan melakukan hal gila lagi.


Mereka pun berjalan menuju mobil masing masing.


Sementara itu dalam hati Khanza sebenarnya masih kesal dengan kata kata Kalil yang ngga akan pulang setelah lulus.


Ya udah. Pindah warga negara aja, batin Khanza kesal. Tapi tetap saja ada yang nyesak dalam rongga dadanya. Khanza sedih sekaligus marah.


Teganya si brengsek itu ngga mau pulang.


"Kenapa masih cemberut aja, anak daddy?" tanya Glen yang masih menatapnya dengan mimik menggodanya. Senang melihat ekspresi putrinya yang paling gampang terbaca olehnya. Bahkan teman temannya pun bisa menduga duga apa yang ada di dalam hati Khanza. Walau putrinya itu mati matian menolakmya


"Ngga apa apa, daddy," bantah Khanza mencoba menahan diri agar ngga keceplosan.


Glen melirik putrinya, masih dengan senyum menggodanya. Kemudian dia membukakan pintu mobil untuk Khanza


"Yakin ngga mau nunggu bentar lagi. Siapa tau Kalil ke sini," pancing Glen ketika Khanza akan masuk ke dalam mobil.


Khanza yang akan memasuki mobilnya sampai membatalkannya. Dia pun menatap daddynya ngga mengerti campur kesal.


"Dia udah terbang, dad." Agak ketus Khanza menjawab, moodnya langsung turun.


"Siapa tau Kalil membatalkannya. Who knows?tantang Glen santai.


"Hemm...," gumam Khanza sambil menatap daddynya aneh.


Tapi kata kata daddynya malah membuatnya sedih. Jadi tadi adalah pertemuan terakhir mereka.


Glen tersenyum maklum kemudian memeluk putrinya yang terlihat sedih. Dia harus selama mungkin menahan putrinya agar bisa bertemu Kalil.

__ADS_1


"Dad, aku benci sama Kalil," curhat Khanza akhirnya.


"Kenapa?"


Khanza menghembuskan nafas kesal.


"Dia bilang ngga akan pulang."


Glen tersenyum penuh arti. Dia sudah melihat Kalil yang sedang berlari mendekat.


"Kamu sedih kalo Kalil pergi?"


"Ngga tau, Dad."


Mungkin karena Khanza lagi galau dia ngga dengar ada suara derap sepatu yang mendekat dan kini sudah berhenti.di belakangnya.


"Kalo nanti kamu kangen sama Kalil, kita bisa nengokin dia," senyum Glen lagi sambil memberi isyarat pada Kalil yang sedang mengatur jalan nafasnya.


Ngga jauh dari situ Kendra, Rakha dan Aqil yang sudah membuka pintu mobil, reflek menutup kembali pintu mobilnya. Kini pandangan mereka terfokus pada Kalil, Om Glen dan Khanza yang masih berada dalam pelukan daddynya.


"Ngapain? Lihat dia pacaran," ketus Khanza dengan rasa sesak di dalam rongga dadanya.


"Aku ngga akan pacaran, Khanza."


Eh.


Khanza langsung menarik tubuhnya dari Glen. Dia berbalik dan terpaku melihat Kalil ada di depannya. Sedang tersenyum hangat.


"Kok, ka kamu di sini?" tanya Khanza heran dan grogi. Dia jadi gugup.


Apa tadi Kalil dengar?


Kemudian Khanza menatap daddynya kesal. Dia yakin tadi daddynya sengaja melakukannya.


"Aku bakal nunggu kamu selesai ko-as.. Ngga lama lagi, kan? Setelah itu ikut aku ke Inggris. Kamu ngambil spesialis di sana," kata Kalil dengan senyum manisnya.


Khanza terdiam, rasanya ngga percaya Kalil akan ngomong begitu. Tapi desiran di dadanya makin menjadi.


"Ngga bisa dong, cuma ikut aja tanpa status yang jelas. Om ngga akan ijinkan," tegas Glen membuat Khanza melototkan matanya.


"Daddy...," tegur Khanza penuh tekanan. Wajahnya sudah seperti kepiting yang direbus. Panas dan merah membara.


"Sebagai istri, dong, Om," kata Kalil ngga kalah tegasnya dengan mata terus menatap Khanza lekat.


**DEG


DEG**


Khanza ngga bisa mengendalikan detak jantungnya yang jadi nger rock.


"Kalo gitu, Om setuju," senyum Glen menyeruak lebar


"YESS!" seru Kalil senang.


"Selamat bro," seru Kendra, Aqil dan Rakha berbarengan. Ternyata mereka sudah mendekat.


"Tapi pacarnya banyak, dad," tolak Khanza tetap ketus dengan hati yang bergetar hebat.


"Om yang akan menghukumnya kalo dia macam macam," janji Alva yang baru sampai di belakang Kalil bersama Tamara.


"Tante jaminannya, sayang," sahut Tamara senang. Keinginannya bermantukan Khanza berhasil.


"Kita yang awasi, Khanza," timpal Rakha kemudian terkekeh bersama Kendra dan Aqil.


"Gimana? Marry me, please?" ucap Kalil dengan suara yang sangat lembut dan mata yang penuh binar.


**DEG


DEG


DEG**


Jantung Khanza rasanya mau melompat saking senangnya. Dia ngga bisa menghalangi bibirnya yang langsung mengembangkan senyum manisnya.

__ADS_1


"Terima! Terima!" kompor Reno dan Arga membuat suasana semakin rame. Senyum dan tawa menguar dengan bebasnya.


__ADS_2