After The Heartbreak

After The Heartbreak
Tentang Khanza


__ADS_3

"Khanza, bisa ngobrol bentar?" tanya Fadli sambil menjejeri langkah Khanza. Khanza tadi pergi begitu saja meninggalkan mereka.


"Iya, kak?" tanya Khanza sambil menatap Fadli bingung. Tumben dokter Fadli ngajak dia bicara. Dia pun melihat jam tangannya. Hampir jam8 delapan malam.


"Besok katanya kamu cuti, ya?" tanya sang dokter sambil menyanderkan tubuhnya di badan mobil Khanza.


"Iya. Sahabatku yang tadi di rumah sakit, mau nikah dua hari lagi."


"Ooh, aku diundang, ngga?" pancing Fadli dengan senyum simpatiknya.


"Emangnya belum berangkat? Kalo belum datang aja. Verli sama Mutia juga diundang."


"Keberangkatannya diundur minggu depan. Biasa, mami masih berat melepas aku pergi," kekeh Fadli.


Khanza pun tertawa.


Dia tau maminya dokter Fadli lah penyebab dokter muda itu ngga jadi berangkat ngambil spesialis tahun kemarin.


"Oke, oke. Aku akan datang kalo gitu," sambung Fadli dengan sisa tawa di bibirnya.


"By the way, mami ngundang kamu sama anak anak yang lain ke rumah," sambungnya sambil menaruh dua tangannya di saku jas dokternya.


"Kapan?"


"Besok, sih. Pas jam makan siang."


Khanza terdiam. Bingung. Besok acaranya pasti bakalan padat banget dengan Zayra.


"Kayaknya ngga bisa, ya?" tanya Fadli berusaha mengerti.


"iya. Besok sama besoknya lagi sibuk, kak," tolaknya ngga enak hati.


"Ya udah kalo gitu. Tapi undangan nikah sahabat kamu tetep dapat, kan?" canda Fadli tapi juga berharap.


Khanza tertawa kecil.


"Iya, dong. Besok aku kirim, ya," sahutnya sambil mengeluarkan kunci mobilnya.


"Sip," sahut Fadli juga tertawa.


"Aku pulang dulu, kak," pamit Khanza sambil menekan remote kunci mobilnya.


"Oke. Hati hati," balas Fadli yang terus saja menegakkan tubuhnya, berdiri sampai Khanza dan mobilnya berlalu dari hadapannya.


Setelahnya dia menghela nafas berat. Ingat wanti wanti mamanya.


Calon kamu sudah ada, sayang. Dia pewaris tunggal. Mami ngga mau kamu nikah hanya sama dokter biasa. Kalo cuma teman ngga pa pa.


Khanza terlalu sederhana. Dia pun menyewa apartemen yang biasa saja. Verli dan Mutia sudah mengkonfirmasi padanya. Karena keduanya pernah beberapa kali main di apartemen Khanza. Mobilnya juga biasa saja.


Sebenarnya ngga masalah buat Fadli. Cuma karena dia anak tunggal, dia terpaksa harus menuruti keinginan orang tuanya.


Nanti pun sambil kuliah spesialis, Fadli juga ngambil master bisnisnya di Jerman. Karena dia harus membantu dan nantinya akan menggantikan papinya di perusahaan.


Dokter hanya jadi profesi sampingan buatnya. Padahal itu cita citanya sejak kecil. Kehadiran Khanza pun menyemangatinya, membuatnya sedikit melupakan kekecewaannya.


*


*


*


Paginya.


"Khanza, audi kamu kapan dipake? Nanti malah jadi milik Dhafi karena keseringan dia yang pake," tegur mami Armita saat melihat Khanza akan memasuki mobil honda CRV warna milo sepuluh tahun yang lalu, tapi masih tetap setia selalu menemaninya.


"Biar aja, mam. Dhafi, kan, butuh buat gaet cewe cabe cabeannya," sahut Khanza dengan senyum manisnya.


Dhafi yang sudah memegang kunci audi milik kakaknya tertawa mendengar sindirannya.


Dia beruntung, tiap papi dan maminya menghadiahkan kakaknya mobil, selalu dianggurin. Jadinya Dhafi sama Shakila yang bergantian memakainya.


Bagi Khanza, kedua adiknya cukup (sangat?) hedon. Tapi sebaliknya bagi keduanya, mubazir fasilitas orang tua mereka ngga digunain. Bisa berkarat, kan?

__ADS_1


"Makasih, ya, kakakku sayang," jawab Dhafi masih terkekeh senang dan cuek saja dengan sindirrannya.


"Iya, sama sama," sahut Khanza kemudian mencium pipi maminya sebelum naik ke mobilnya.


Dia suka mobilnya, terlihat kokoh walaupun sudah merupakan tahun yang cukup lama. Daddynya sering menawarkan tipe terbaru padanya, tapi selalu ditolak.


Buat apa beli lagi? Mubazir, tolak Khanza begitu berkali kali.


Lagi pula dia kan berdinas sebagai dokter. Menurut Khanza, penampilan mewahnya ngga penting penting amat. Yang terbaik yang harus dia berikan adalah dedikasi tinggi untuk pasien pasiennya.


Beda dengan Dhafi yang sekarang membantu daddy mengurus perusahaan. Penampilan sangat berpengaruh dalam bisnis dan dipercaya rekan kerja. Semakin hedon kualitas mereka, akan semakin tinggi aura mereka terpancar.


Kalo naek sedan, kesannya dia menjadi anak manja. Dandanan tomboynya pun ngga akan pas dengan keadaan mobilnya. Beda dengan kedua adiknya yang selalu berkelas sekali.


Karena itu Khanza cuma merasa cocok bergaul dengan Zayra. Keduanya sama sederhananya. Ngga terlihat sisi konglo dari mereka.


Kedatangan mobilnya bersamaan dengan mobil Kendra. Mereka janjian di rumah Zayra.


"Hai, kak," sapa Salma yang langsung turun dari mobil ketika melihat Khanza yang juga sudah turun dari mobilnya.


Khanza tersenyum menatap sosok gadis jangkung yang menghampirinya.


Kalah banget dia, tinggimya hanya setelinga Salma.


"Ngga latihan atau kuliah?"


"Lagi malas, kak," sahutnya santai.


Khanza terkekeh mendengarnya.


Kendra langsung melangkahkan kakinya mendekati Zayra mana kalia mleihat laki laki yang selalu membuatnya kesal ada di dekat calon istrinya itu.


"Kak Kendra cemburu," tawa Salma lagi agak perlahan.


Khanza tertawa mendengarnya.


Emang lo.aja, Ken, yang paling ganteng? cibirnya dalam hati.


Hafi tersenyum kecut melihat kehadiran Kendra.


Dia hanya menganggukkan kepalanya pada Hafi dan tersenyum samar, yang dibalas sama oleh Hafi.


"Iya. Kak Hafi, kita berangkat dulu, ya," pamit Zayra. Tadi dia sudah pamit pada uminya yang sedang mengobrol dengan umi Hafi di dalam.


Hafi hanya menemaninya keluar.


"Oke, hati hati," balas Hafi lembut.


Walau kesal mendengarnya Kendra tetap menanpilkan senyum ramahnya.


"Lo ngga ikut?" tanya Kendra berbasa basi.


"Emang boleh?" tanya Hafi dengan nada bercanda. Dia dapat merasakan ada kecemburuan dari sikap tunangan Kendra. Walaupun dia sempat ngga rela Zayra bersama laki laki ini. Tapi gimana lagi, Zayra terlihat menyukasi Kendra dari pada dirinya.


Kendra menaikkan satu alisnya dan bersikap siaga.


"Nanti tante pulang dengan siapa?" lerai Zayra yang ngga ingin membuat Kendra semakin kesal


Hafi tertawa renyah.


"Ya, ya."


Kendra pun meraih tangan Zayra dan mengajaknya segera meninggalkan laki laki menyebalkan itu.


Khanza dan Salma terkikik melihatnya. Sangat jelas terlihat kecemburuan di wajah Kendra.


"Aku ikut mobil Kak Khanza aja," ucap Salma ketika melihat isyarat kakaknya ketika sampai di mobil mewah mereka.


"Ya engga boleh lah. Mereka belum mahram," tukas Khanza dengan senyum menyebalkannya buat Kendra.


Lagian harusnya Kendra ngga boleh ketemu Zayra dulu. Tapi tetep aja mau ikut.


Zayra tertawa mendengarnya.

__ADS_1


"Iya, iya," dengus Kendra kesal. Tapi itu juga permintaan orang tua mereka.


Ya ngga apa. Besok, kan, dia sudah ngga dibolehin ketemu Zayra.


"Biar ada gregetnya bro pas nikah," tukas Kalil.


"Kan lo udah ketemu terus waktu di rumah sakit," tambah Rakha ikut mengomentari


"Cuma dua hari aja mesti dipangkas jadi satu hari," ejek Aqil dan mereka pun tergelak. Kenan yang ngga berkomentar pun ikut tertawa.


Kendra jadi teringat protes keempat temannya mengingat kekeraskepalaannya.


Besok pagi mereka akan melakukan pengajjan dan acara siraman.


Walau berat Kendra akan patuh karena daddy akan mengirim video utuh acara di rumah Zayra padanya. Mungkin daddynya juga akan melakukan live agar dia tenang.


Masalah Kendra cuma satu. Si Hafi pasti akan berada di rumah Zayra dan melihat semua prosesnya secara full. Itu yang membuat Kendra sewot.


*


*


*


Mereka pun sampaimdi toko perhiasan yang sangat terkenal. Kendra dan Zayra akan mengambil cincin pernikahan yang sudah mereka pesan. Bahkan Kendra pun sudah menempa sebuah kalung untuk calon istrinya.


"Kamu suka?" tanya Kendra sambil menunjukkan kalung pesanannya.


"Suka," jawab Zayra kagum pada untaian kalung yang sekarang sudah dipegangnya.


Tidak terlalu banyak berlian di sana, tapi tetap saja terlihat sangat indah dan pasti sangat mahal.


'Iya, bagus sekali," puji Khanza.


"Tumben Kak Kendra pintar ," puji Salma sedikit menyindir.


"Kalo muji tuh yang tulus," balas Kendra gemas sambil mengacak rambut adiknya.


"Eh, si Dhafi ngapain ke sini?" tanya Zayra membuat perhatian mereka teralih pada Dhafi yang baru masuk ke toko perhiasan ini dengan sekertarisnya yang cantik dan seksi.


Salma hanya menatap datar saat tatapan mata mereka beradu.


"Lo mau nyari perhiasan buat siapa?" sapa.Kendra kepo.


Dhafi tertawa setelah Salma mengalihkan tatapannya.


"Buat seseorang," kata Dhafi penuh makna.


"Gaya lo," ejek Khanza gemas. Apalagi melihat pakaian sekertarisnya. Roknya pendek amat.


Gimana ya, dengan sekertaris Kalil? Seseksi ini juga?


TUK!


Khanza mentowel kening adiknya untuk membuang pikiran anehnya.


Kenapa harus mikir Kalil, sih, batinnya menggerutu.


Dhafi hanya tertawa saja. Sementara sekertarisnya terlihat segan dan melirik sesekali ke arah Kendra.


Dia tentu tau dengan siapa bosnya berinteraksi.


"Ya udah, kita duluan, ya," ucap Kendra setelah Zayra membawa paper bag yang berisi perhiasan yang mereka pesan.


"Oke, oke," balas Dhafi masih tertawa.


Salma melewatinya begitu saja tanpa sapaan atau senyuman. Datar saja.


Tapi matanya menatap punggung Salma sampai gadis itu keluar dari toko.


"Masih belum dimaafin, ya, pak?" tanya sekertarisnya usil.


"Hemm...." jawab Dhafi tak acuh.

__ADS_1


Sekertarisnya tersenyun tipis. Bosnya cukup berubah setelah kekasihnya memergokinya bermesraan di ruangannya. Sudah lebih dua kali setaunya. Ini yang ketiga, dan sudah ngga ada kata maaf.


__ADS_2