
Dengan kepala yang masih pusing Kalil pulang ke rumahnya.
Mamanya tentu saja heran melihat kepulangannya yang tiba tiba tanpa pemberitahuan.
"Kenan ngga pulang sama kamu?" tanya Tamara sambil memeluk putra manjanya.
Tadi Khanza, sekarang mamanya.
"Kenapa, sih, mam, selalu ada aja yang nyangkutin Kalil sama Kenan," sungut Kalil membuat Tamara terkekeh.
"Kamu ngga bawa koper?" tanya Tamara sambil menatap aneh putranya. Kalil hanya menyelempangkan tas kecil yang pastinya hanya berisi dompet dan dokumen penting saja.
"Kalil cuma pulang sebentar, Mam. Besok Kalil berangkat lagi," jawabnya sambil memijat kepalanya yang masih sangat pusing.
"Haaah?! Kamu kira Jakarta Inggris sama seperti Jakarta Bogor?!" seru Tamara kaget campur kesal.
Suara teriakan mamanya yang melengking terasa berdenging di dalam gendang telingamya.
"Jangan teriak teriak mami sayang. Suara mami ngalahin kontestan idol," kekeh Kalil sambil menutup kedua telinganya.
Tamara mendengus kesal.
Watak menyebalkanmu sudah turunan daddy. Dasar, maki Tamara dalam hati. Kemudian menggandeng putra manjanya ke kamarnya.
"Istirahat sana. Mau mami masakin apa?" tanya Tamara begitu putranya sudah berbaring di ranjangnya.
"Sup Janda boleh mam," sahutnya dengan cengiran nakalnya.
BUG
Kalil membiarkan bantal yang dilempar maminya mengenai telak wajahnya. Tawa tergelaknya pun terdengar keras.
"Mami masakin kamu sop duda," dengus Tamara sambil keluar dari kamar putranya
Tawa Kalil langsung lenyap setelah maminya meninggalkan kamarnya.
Terasa sepi lagi.
"Khanza, aku kangen," gumamnya sambil memejamkan matanya dan memeluk gulingnya. Berusaha melupakan bayangan wajah datar Khanza di rumah sakit tadi. Tapi tetap saja ngga bisa.
*
*
*
"Di mana Kalil?" tanya Alva sambil melonggarkan dasinya. Dia segera pulang begitu Tamara menelponnya. Mengabari tentang kepulangan Kalil putra yang kata semua sahabatnya adalah titisannya seratus persen.
"Di kamar. Lagi tidur," jawab Tamara sambil membantu melepaskan jas Alva.
"Besok dia serius mau berangkat?" tanya Alva sambil berjalan ke arah kamar Kalil. Membuka sedikit pintu dan melihat wajah tanpa dosanya yang memang sedang tertidur pulas.
Kemudiaan Alva menutup pintu dengan perlahan dan menghampiri istrinya.
"Dia sudah pesan tiket katanya buat besok," jelas Tamara sambil mengaduk teh buat suaminya.
Alva menghela nafas panjang.
"Anak itu kenapa lagi," keluh Alva sambil memijat keningnya.
Dulu katanya mau kuliah magister di sini aja. Tapi mendadak mau ikut Kenan kuliah magister di Inggris. Sekarang malah tiba tiba pulang, tapi besok berangkat lagi. Apa dia punya masalah? Benak Alva dipenuhi banyak tanda tanya.
"Minum dulu," ucap Tamara yang hanya bisa tersenyum melihat kepusingan Alva yang nampak sangat jelas
"Jangan mengejekku," tukas Alva setelah menyesap tehnya. Dia melihat senyum jahil istrinya dan sangat tau maknanya.
"Biarkan saja. Asalkan ngga terjerumus obat obat terlarang, dia masih baik baik saja," kata Tamara bijak.
Alva kembali menghela nafas panjang, kemudian menyesap tehnya lagi.
"Aku jadi ngga enak sama Glen. Padahal aku mau lamar Khanza, tapi Kalil malah swafoto dengan bule," keluhnya lagi.
Iya, sih, batin Tamara menyetujui.
__ADS_1
"Apa.nanti kita bakal.punya dua menantu bule? Kenan pun juga sama," lanjut Alva lagi dengan nada ngga abis pikir.
Tamara jadi tersenyum mendengarnya.
"Kamu senyum senyum aja. Kamu mau punya mantu bule yang wara wiri di dalam rumah hanya pake bikini?" omel Alva tapi ngga lama terdengar ringisannya
TUK!
"Aduh! Sakit, Tamara. Aku, kan, bicara yang sebenarnya," protes Alva ngga terima.
Alva merengut sambil mengelus kepalanya yang baru saja dipukul Tamara dengan sendok untuk membuat teh tadi.
"Omongan itu do'a. Kamu.udah jadi orang tua. Ngerem dikit tuh mulut," kecam Tamara galak, sedikitpun ngga ada rasa kasian.
"Hemm...." sungut Alva kesal. Tapi dalam hati dia mengakui kebenaran kata kata Tamara. Mulutmya dari dulu memang ngga ada saringannya.
*
*
*
Malam ini Khanza dan dokter Niko masih berada di rumah sakit. Ini persalinan ketiga yang mereka lakukan bersama dokter Muluk. Ketiganya operasi caesar.
Jam delapan malam selesai sudah. Tumben operasi ini memakan waktu yang cukup lama. Hampir satu jan setengah.
Untunglah ibu dan bayinya selamat dan baik baik saja. Walau ibunya sempat mengalami hipertensi tadi.
"Kamu mau langsung pulang atau kita ngopi sebentar?" tanya dokter Niko saat keduanya sudah siap meninggalkan rumah sakit.
"Mungkin ngopi juga boleh," sahut Khanza. Rasanya dia bitih kafein untuk sedikit meringankan otaknya yang terasa penuh.
"Oke," sahut dokter Niko senang.
Setelah lebih dari dua minggu selalu bersama Khanza, sikap sungkannya mencair. Apalagi Khanza juga bersikap sama seperti dulu. Tetap santai dan low profile.
Teman teman mereka yang lain pun sudah mulai ngga menjaga jarak lagi. Hanya dokter Verli saja yang benar benar memghindar dan dokter Niko ngga tau apa alasannya.
"Apa dokter Fadli mengirim kabar?" tanyanya ingin tau.
"Iya, mungkin dia sibuk."
Khanza ngga menyahut. Mereka kini melangkah ke kantin dalam diam.
"Hari ini samgat melelahkan, ya," ujar dokter Niko membuka obrolan lagi. Mereka sedang menunggu kopi pesanan mereka.
"Iya," sahut Khanza sambil menghembuskan nafas panjang. Memang sangat melelahkan.
Khanza pun masih kepikiran Kalil yang sama.sekali ngga menghubunginya sampai sekarang.
Apa dia pulang ke rumah? batin Khanza menebak.
Mungkin dia sekarang tidur. Paling besok dia maen ke rumah sakit, batinnya sedikit mencibir.
Harumnya aroma kopi membuat ambyar lamunan Khanza.
Keduanya pun menyesap kopi panas itu perlahan.
"Em... Khanza," panggil dokter Niko agak ragu. Suasana di sekitar mereka terasa hening.
Tumben juga di kantin hanya terisi beberapa orang saja. Ada suster dan keluarga pasien.
"Apa Nik?" tanya Khanza heran. Hari ini sikap partmernya sedikit beda.
"Kamu ngambil magisternya di mana? Apa di luar negeri?"
"Aku di sini aja. Kamu di mana?" Khanza balik bertanya.
"Aku di Singapur," jawabnya agak kecewa. Kalo tau Khanza akan kuliah spesialisnya di sini, dia pasti juga akan menolak keinginan orang tuanya. Dia akan memilih kuliah di sini saja bersama Khanza.
"Keren, dong," puji Khanza tulus.
Dokter Niko tersenyum getir.
__ADS_1
"Biasa aja."
Khanza kembali menyesap kopinya.
"Kamu ngga ingin lanjut ke luar negeri aja?" tanya dokter Niko heran. Padahal orang tua Khanza lebih dari mampu melakukannya.
"Nggak lah. Di kampus itu juga bagus."
"Oooh."
"Kalo tau kamu di sini aja kuliah spesialisnya, aku pasti akan di sini juga."
Khanza tersenyum mendengarnya
"Nanti aja kita dinasnya bareng lagi setelah dapat gelar spesialis," usul Khanza terkikik.
Doktef Niko pun terkekeh.
"Khanza, emm... aku boleh ngga berharap sama kamu?" tanya dokter Niko dengan sangat serius campur gugup.
"Maksudnya?" Khanza mulai tau arah pembicaraan dokter Niko.
Dia mulai bosan. Baru beberapa hari yang lalu dia menolak dokter Hari.
Khanza merasa heran, kenapa mereka baru menyatakan perasaanya sekarang?
"Boleh nggak, nanti setelah aku cukup pantas dengan kamu, hubungan kita juga berubah?"
"NGGAK BOLEH!"
Keduanya sama terkejut mendengar suara lantang yang muncul tiba tiba.
"Kalil, kamu ngapain di sini?" sergah Khanza senang campur kesal.
Syukurlah dia ngga apa apa.
Dokter Niko ingat, laki laki ini yang membuat dokter Fadli patah hati.
Tapi mereka hanya sahabat, kan? Hati dokter Niko menerka. Tapi memang menurutnya sikap laki laki ini terlalu posesif jika mereka hanya bersahabat saja.
"Aku antar pulang. Udah malam malah ngopi," ketus Kalil sambil menarik Khanza untuk segera pergi meninggalkan dokter yang membuat perasaan Kalil geram.
"Hemm...' dengus Khanza kesal. Kemudian dia berpaling pada dokter Niko dan menatapnya dengan tatapan ngga enak hati.
"Maaf, aku duluan," pamitnya dan tanpa menunggu jawaban dokter Niko, Khanza terpaksa langsung pergi. Kalil benar benar ngga sabar sampai menarik narik tangannya agar cepat cepat mengikutinya.
Ketika sampai di.parkiran Khanza menghempaskan tangan Kalil.
"Apa, sih, yang ada di pikiran kamu!" geram Khanza menahan marah.
Untung ngga ada orang lewat di sini.
"Kamu itu! Apa sebenarnya yang ada di pikiranmu!" Kalil ngga kalah ketusnya membalas.
Khanza mengerutkan alisnya, wajahnya bingung.
"Kamu aneh!" katanya setelah beberapa saat terdiam. Khanza membalikkan tubuhnya, dia memilih pergi ke arah mobilnya dari pada melayani Kalil yang lagi ngga normal.
Terdengar suara tawa Kalil. Agak sumbang.
"Kamu mau punya php in tiga laki laki?" ejek Kalil membuat telinga Khanza panas.
Dia segera berbalik dan berjalan mendekati Kalil. Kini hanya selangkah saja jarak mereka yang tersisa.
"Apa maksud kamu?" ketus Khanza mulai naik darah.
"Pertama kamu nangis nangis waktu lihat aku ciuman sama Agnes. Kemudian janjian sama laki laki di kampus Aqil kalo nanti kamu mau kuliah spesialis di sana. Trus dokter lugu itu juga yang hampir masuk perangkap kamu!"
Tubuh Khanza bergetar saking marahnya atas penghinaan Kalil padanya. Tangannya pun sangat rimgan melayang di pipi Kalil, kiri dan kanan.
PLAK! PLAK!
"Kita ngga perlu kenal lagi!" suara Khanza bergetar kali ini menahan tangis dan marah. Dia pun berbalik dan langsung berlari meninggalkan Kalil yang berdiri termangu. Kaget akan reaksi Khanza. Jantung Kalil serasa berhenti berdetak mendengar ucapan Khanza.
__ADS_1
Kalil baru tersadar ketika mobil Khanza meraung pergi.
"KHANZA!" serunya khawatir dan cepat memasuki mobilnya dan mengejar mobil Khanza yang sudah lenyap tak terlihat.